Assalamu'alaikum wr wb,
Agar tidak membawa mudharat, diskusi tentang ini cukup sampai di sini. Kalau 
mau diperpanjang silahkan japri.

Sebetulnya dulu Parpol Islam hanya satu: PPP (Partai Persatuan Pembangunan). 
Entah kenapa akhirnya banyak ummat Islam yang membuat parpol Islam baru 
sehingga jadi banyak dan terpecah-belah.

Meski demikian, dalam Islam kita disuruh menjunjung Ukhuwah Islamiyah: 
Persaudaraan Islam. Bukan fanatisme golongan/ashobiyah. Siapa yang mati dalam 
keadaan ashobiyah maka dia mati dalam keadaan Jahiliyah, begitu kata Nabi.

Nabi juga memerintahkan kita menghentikan kejahatan (Nahi Munkar) dengan 
tangan, lisan, dan hati. Namun dengan hati itu adalah selemah2 iman.

Nah menyaksikan Sistem Ekonomi Kapitalis Neoliberalis yang menyengsarakan 
rakyat yang dibuat oleh Kaum Yahudi dan Nasrani karena membuat kekayaan alam 
Indonesia sebagian besar dinikmati asing/kafir harbi, adakah ummat Islam 
berdiam diri saja?

Tidak, itu adalah selemah2 iman.
Harusnya kita melawannya jika tidak dengan tangan maka dengan lisan/tulisan.

Maaf, percuma jadi anggota DPR yang makan uang rakyat 26 juta lebih per bulan 
jika tidak berani melawan Sistem Ekonomi Neoliberalis dengan mulutnya. Hanya 
membuang uang rakyat.

Bagaimana pun juga nahi munkar itu harus dilakukan oleh ummat Islam minimal 
dengan mulut jika tidak ingin disebut imannya lemah.

Sistem Ekonomi Kapitalis Neoliberalis buatan Yahudi dan Nasrani harus dilawan 
dan disingkirkan. Bukan didiamkan dan turut dinikmati.

Seperti kata satu Capres, Indonesia itu tidak pantas jadi negara miskin karena 
kaya dengan sumber daya alam. Sayang kekayaan alam itu dinikmati oleh orang2 
asing. Haruskah hal ini dibiarkan?

Bagaimana pun juga saya salut dengan pak Marwan Batubara yang berusaha membuat 
buku untuk melawan penjajahan ekonomi oleh asing, meski katanya ada 2 "Ikhwan" 
yang berusaha menyuruhnya untuk "diam".

Wassalam
===

Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490

ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900

Informasi selengkapnya ada di:

http://www.media-islam..or.id

Ingin belajar Islam?

Kirim email ke: [email protected]





Jual Rumah Baru di Otista Kampung Melayu Jakarta Timur Rp 650 juta. Info: 
http://agusnizami.wordpress.com

--- Pada Sel, 31/3/09, Sumali <[email protected]> menulis:

Dari: Sumali <[email protected]>
Topik: Re: [syiar-islam] Capres Ekonomi Rakyat -G20: Skenario Menyelamatkan 
Krisis Kapitalisme Neoliberal
Kepada: [email protected], "A Nizami" <[email protected]>, 
[email protected]
Tanggal: Selasa, 31 Maret, 2009, 7:33 PM











    
            Orang-orang yang tidak mau terlibat politik Islam, mereka hanya 
mencari 

amannya saja, namun bisanya hanya mengritik politik Islam, cobalah buat 

terobosan baru untuk mengelola bangsa dan negara ini khususnya tentang 

konsep ekonomi Islam dan kalau berhasil, ini baru hebat. Kami salut.

Jangan sebaliknya, terlibat tidak mau, namun kerjanya hanya membuat 

statement, komentar ini salah, itu salah dan hanya diam ditempat saja....



----- Original Message ----- 

From: "Angkie" <angki...@gmail. com>

To: "A Nizami" <nizam...@yahoo. com>; <syiar-islam@ yahoogroups. com>

Sent: Wednesday, April 01, 2009 8:36 AM

Subject: Re: [syiar-islam] Capres Ekonomi Rakyat -G20: Skenario 

Menyelamatkan Krisis Kapitalisme Neoliberal



Ada capres nyang menjual pertumbuhan ekonomi sampe 10%, wah itu mah 

ngebohongin rakyat lagi, krn secara itung-itungan matematiknya enggak masuk. 

Entar klu tidak tercapai alasannya karena krisis global, cape deh....

Powered by Telkomsel BlackBerry®



-----Original Message-----

From: "A Nizami" <nizam...@yahoo. com>



Date: Wed, 01 Apr 2009 01:29:20

To: <syiar-islam@ yahoogroups. com>

Subject: [syiar-islam] Capres Ekonomi Rakyat -G20: Skenario Menyelamatkan 

Krisis Kapitalisme Neoliberal



Wa'alaikum salam wr wb,



Dalam 10 tahun terakhir 2 kali Indonesia terpuruk akibat kebijakan Ekonomi 

Kapitalis Neoliberalis yang membiarkan kekayaan alam kita dinikmati oleh 

asing dan ekonomi yang bertumpu pada hutang dan investor luar negeri.



Indonesia kaya raya dan tidak pantas miskin jika para pemimpinnya tidak 

membiarkan kekayaan alam kita dirampas oleh asing (baca: kafir harbi AS).



Oleh karena itu kita harus memilih parpol dan capres yang mengusung Ekonomi 

yang pro rakyat dan Kemandirian nasional sehingga kekayaan alam bisa 

dinikmati 100% oleh rakyat Indonesia.



Sebaik apa pun capres atau parpol, jika sistem ekonomi yang diambil salah, 

maka ekonomi Indonesia akan hancur seperti sekarang ini. Ini sama dengan 

orang pintar yang mengambil bis dengan jurusan salah, ya akan nyasar.



Sebaiknya meski kualitas biasa saja, tapi jika sistem ekonomi yang diambil 

benar, insya Allah hasilnya akan lebih baik.



--- In syiar-islam@ yahoogroups. com, OK Taufik <ok.tau...@. ..> wrote:

>

> semustinya Parpol Islam itu malu kalau berkoalisi dengan PD atau 

> mencalonkan

> SBY, ini manusia begitu gigihnya berkubang dengan Kapitalisme Neoliberal!

>

> ---------- Forwarded message ----------

> From: andre andreas <mataharikusatu@ ...>

> Date: 2009/4/1

> Subject: [ekonomi-nasional] G20: Skenario Menyelamatkan Krisis Kapitalisme

> Neoliberal

> To: kerja.pembebasan@ ...

>

>

>

>

> Indonesia Kembali dalam Jebakan Utang dan Pasar Bebas

>

> Pernyataan

> Sikap

>

> Gerakan

> Rakyat Lawan Neokolonialisme- Imperialisme (GERAK LAWAN)

>

>

>

> Lampiran 1

>

> The London

> Summit :  Sebuah Rencana Kejahatan

>

> http://lenteradiata sbukit.blogspot. com/2009/ 03/gerak- lawanthe- 
> london-summit- sebuah.html

>

>

>

> Lampiran 2

>

> Pilihan Metode

> Penyelesaian Krisis

>

> http://lenteradiata sbukit.blogspot. com/2009/ 03/gerak- lawan-pilihan- 
> metode-penyelesa ian.html

>

>

>

> Pertemuan

> negara-negara G-20 dalam The London

> Summit akan segera diselenggarakan pada tanggal 1 - 2 April 2009. Tentunya

> agenda forum 20 pemimpin

> negara-negara maju dan berkembang tersebut punya banyak tawaran. Beberapa

> pihak

> pun akhirnya berharap banyak akan adanya solusi berbagai macam krisis

> melalui

> forum ini. Namun karena secara garis besar masih tetap dalam kerangka

> kebijakan

> kapitalisme- neoliberal, tawaran dan harapan sepertinya akan jauh api dari

> panggang..

>

> Hal tersebut kami tuangkan dalam pernyataan sikap kami di bawah ini:

>

> Pertama, kami menyatakan bahwa G-20 tidak memiliki

> legitimasi sebagai forum pengambilan keputusan untuk rakyat di seluruh

> dunia,

> khususnya yang berada di negara-negara miskin dan berkembang. Liberalisasi

> investasi, perdagangan dan keuangan (pasar bebas) yang menjadi agenda 

> utama

> G-20 adalah rangkaian kebijakan yang telah dan akan mendorong krisis 

> menjadi

> semakin parah.

>

> Selanjutnya

> kami mendorong suatu upaya penyelesaian krisis di tingkat global yang 

> lebih

> representatif dan sah, salah satunya melalui mekanisme PBB. Berbagai

> inisiatif

> yang sudah dilakukan dengan pembentukan High Level Task Force (HLTF), yang

> merupakan koordinasi global dalam rangka mengatasi krisis pangan. Kemudian

> ada

> pula usulan untuk pembentukan Global

> Economic Council (yang diinisiasi oleh Joseph Stiglitz), yakni sebuah

> sistem penyimpanan global yang skupnya diperluas. Cara-cara alternatif dan

> partisipatif merupakan jalan keluar yang lebih demokratis dalam mengambil

> keputusan yang dapat mempengaruhi seluruh dunia.

>

> Kedua, kami mendesak negara-negara maju untuk tidak memperalat 

> negara-negara

> berkembang dalam pertemuan G-20 untuk merevitalisasi Putaran Doha 

> Organisasi

> Perdagangan Dunia (WTO), dan pembukaan investasi dalam rangka eksploitasi

> kekayaan alam negara berkembang dan perdagangan karbon/offset dalam

> penyelesaian krisis. Sebagai bagian dari masalah

> krisis global, terutama krisis pangan, mekanisme pasar dalam WTO sudah 

> sejak

> lama diprotes oleh rakyat di seluruh dunia. Hal tersebut telah 

> menimbulkan:

> 1)

> Ketergantungan yang sangat besar terhadap pasar internasional, yang pada

> saat

> krisis ini menyebabkan pertanian di berbagai negara kolaps; 2) Eksploitasi

> secara besar-besaran sumber daya perikanan negara-negara berkembang via

> negosiasi

> NAMA (Non-Agriculture Market Access);

> 3) Subsidi domestik dan ekspor yang tidak adil dan merusak pasar domestik

> (terutama negara miskin dan berkembang); 4) Keuntungan sejumlah perusahaan

> transnasional (TNCs) besar pertanian, pemerintah negara sponsornya, serta

> spekulator di pasar internasional pangan dan pertanian..

>

> Kami juga

> mendesak sebuah strategi ekonomi domestik yang melindungi kepentingan 

> rakyat

> dari serangan utang, eksploitasi sumber daya alam dan liberalisasi pasar.

>

>

> Ketiga, Pertemuan G-20 tidak digunakan untuk

> mempromosikan utang baru bagi negara-negara berkembang melalui reformasi

> Lembaga Keuangan Internasional (IFIs). Agenda tersebut semakin menguatkan

> kembali  peran Bank Dunia dan IMF dalam penyebaran utang luar negri yang

> semakin memiskinkan negara-negara berkembang.

>

> Kami juga menolak utang baru dan

> penggunaan anggaran negara untuk restrukturisasi perbankan dan lembaga

> keuangan

> yang mengalami kebangkrutan akibat krisis.

>

> Transaksi

> utang luar negeri memaksa Indonesia

> untuk terus melaksanakan kewajiban pembayaran utang luar negerinya 

> meskipun

> sumber keuangan negara terbatas. Sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 

> 2008,

> pembayaran bunga dan cicilan pokok utang luar negeri menunjukkan tren yang

> meningkat. Sejak awal masa pemerintahan presiden SBY di tahun 2005 sampai

> dengan September 2008 total pembayaran bunga dan cicilan pokok pinjaman 

> luar

> negeri sebesar Rp 277 triliun. Sedangkan total penarikan pinjaman luar

> negeri

> baru dari tahun 2005 sampai dengan September 2008 sebesar Rp 101,9

> triliun.

>

> Reformasi

> terbatas terhadap IMF dan Bank Dunia bukanlah jalan keluar. Sebab dua

> lembaga

> tersebut  sejak lama beroperasi sesuai dengan selera negara-negara kaya

> yang menjadi pemilik saham mayoritas. Institusi finansial ini seharusnya

> berfungsi mendukung pembangunan. Namun, institusi finansial yang ada

> sekarang

> merupakan pengejawantahan ideologi kapitalisme- neoliberal yang malah

> mereduksi

> makna pembangunan hanya pada pertumbuhan ekonomi semata. Selanjutnya,

> terjadi

> legalisasi praktek akumulasi kapital tanpa batas oleh TNCs dengan

> mengesampingkan kerusakan sosial dan ekologi.

>

> Keempat,

> dibutuhkan tanggung jawab dan kewajiban negara (state obligation) secara

> langsung serta perubahan kebijakan

> secara mendasar dalam rangka penyelamatan rakyat. Menolak model 

> penyelesaian

> krisis

> apalagi hanya dalam bentuk stimulus

> "pemicu" dalam bentuk insentif bagi penanaman modal, pembebasan pajak dan

> keringanan tarif bea masuk yang merugikan perekonomian nasional.

>

> Konsep

> stimulus ekonomi sebagaimana yang direncanakan pemerintah Indonesia, tidak

> berkontribusi

> langsung terhadap pekerja dan masyarakat miskin yang justru terkena dampak

> paling parah. Stimulus hanya berkontribusi terhadap para pelaku usaha, 

> yang

> itupun tidak akan dapat langsung diharapkan dapat mempertahankan kondisi

> keuangan perusahaan yang tergerus akibat pelemahan pasar global.

>

> Langkah

> yang mesti diambil oleh pemerintah/negara dalam mengatasi krisis harus

> merupakan langkah koreksi total dari mekanisme pasar.  Krisis yang

> sedemikian akut tidak akan dapat diatasi dengan cara-cara yang konservatif

> seperti rangsangan/stimulus yang terkesan masih mengharapkan pasar dapat

> bekerja secara alamiah. Paradigma penyelesaian krisis sebagai bagian dari

> paradigma pembangunan ekonomi harus diubah secara progresif  yaitu

> menggantikan pasar  dengan ekonomi perencanaan yang menuntut peran

> langsung negara dalam melibatkan rakyatnya untuk membangun stabilitas

> ekonomi

> yang riil. Hal ini tentunya berhubungan erat dengan amanat konstitusi RI

> yang

> menyatakan bahwa  produksi

> dikerjakan oleh semua untuk semua di bawah pimpinan atau penilikan

> anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, 

> bukan

> kemakmuran orang seorang. Sebab itu, perekonomian disusun sebagai usaha

> bersama

> berdasar atas azas kekeluargaan.

>

> Kelima, Kami menuntut penyelesaian krisis sumber daya alam (energi, 

> pangan,

> air dan perikanan), krisis lingkungan (pencemaran, perubahan iklim), 

> dengan

> pengarusutamaan hak-hak rakyat terutama buruh, petani dan konsumen kecil.

>

> Kehancuran

> sistem ekonomi kapitalisme- neoliberal, di mana produksi terkonsentrasi 

> pada

> segelintir individu dan korporasi, harus menjadi momentum perubahan

> mendasar.

> Perekonomian nasional ke depan haruslah menjamin terpenuhinya hak ekonomi,

> sosial, dan budaya seluruh masyarakat. Sekaligus melakukan koreksi atas

> pengelolaan sumber daya alam yang berorientasi ekspor demi kepentingan

> Negara

> kapitalisme maju menjadi lebih mengedepankan kepentingan nasional dan

> kesejahteraan rakyat banyak dengan mempertimbangkan aspek sosial-ekologi.

>

> Keenam, Presiden SBY agar tidak membuat kebijakan yang merugikan rakyat

> dengan

> penciptaan utang baru yang dapat menjadi beban bagi pemerintahan 

> berikutnya.

> Mengingat utang indonesia

> yang sudah terlampau besar dan menjadi beban ekonomi nasional dan

> perekonomian

> rakyat. Selain itu penggunaan utang untuk restrukturisasi (bantuan 

> keuangan)

> untuk pengusaha di tengah kemiskinan rakyat adalah tidak dibenarkan..

> Kebijakan

> utang baru hanya akan melanggengkan ketergantungan Indonesia pada IMF, 

> World

> Bank, dan

> ADB. Tiga lembaga yang harus bertanggung jawab terhadap krisis

> berkepanjangan

> yang dihadapi Negara ini.

>

> Di tengah kritik yang tajam atas

> kegagalan sistem ekonomi kapitalisme neoliberal saat ini, pemerintah 

> justeru

> sangat aktif mengusulkan agenda-agenda penyelamatan/ pemulihan ekonomi yang

> berorientasi pasar. Kebijakan liberalisasi pasar yang luas hanya akan

> menjadi

> beban bagi pemerintah berikutnya dalam memulihkan krisis ekonomi dan 

> menjadi

> beban bagi perekonomian nasional dan ekonomi rakyat saat ini dan di masa

> yang

> akan datang.

>

> Jakarta, 31 Maret 2009

>

> Serikat Petani Indonesia, Serikat Buruh Indonesia,

> Koalisi Anti Utang, Institute for Global Justice, Koalisi Rakyat untuk

> Keadilan

> Perikanan, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Sarekat Hijau Indonesia

>

> [Non-text portions of this message have been removed]

>

>

>

>

> [Non-text portions of this message have been removed]

>



[Non-text portions of this message have been removed]



------------ --------- --------- ------



===

Paket Umrah Mulai US$ 1.490

Paket ONH Plus 2009 (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900

Informasi lengkap di:

http://www.media- islam.or. id

Ingin belajar Islam? Kirim email ke syiar-islam- subscribe@ yahoogroups. com



Dapatkan buku-buku Islami di DemiMasa Online Bookstore 

http://www.demimasa .co.id



Jual Rumah Baru di Otista Kampung Melayu Jakarta Timur Rp 650 juta. Info: 

http://agusnizami. wordpress. comYahoo! Groups Links




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3
http://downloads.yahoo.com/id/firefox/

Kirim email ke