Assalamu 'alaikum Warrahmatullohi wabarakatuh
 
Betul pak,
Memang Ummat Muhammad itu kalau :
 
Mendapat Bala' atau Musibah itu harus bersabar
Mendapat Nikmat harus bersyukur
Melakukan Dosa harus Bertobat
Bisa melakukan ibadah itu harus lebih Khusuk lagi 

--- On Tue, 3/31/09, Mujiarto Karuk <[email protected]> wrote:


From: Mujiarto Karuk <[email protected]>
Subject: [tahajjud_call] Ada Hikmah Dibalik Musibah
To: [email protected], [email protected]
Date: Tuesday, March 31, 2009, 3:28 PM








Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

 

Bissmillahirohmanir rohiim

 

 

Musibah
dan anugerah adalah dua hal yang tidak luput dari kehidupan manusia. Agama
telah mengajarkan bagaimana menyikapi kedua hal tersebut. Saat mendapat musibah
kita harus bersabar, dan itu baik bagi kita karena dengan kesabaran, kita
berharap Allah mengampuni dosa-dosa kita. 

 

Jika
mendapat anugerah kita harus menyikapinya dengan bersyukur, dan itu juga baik
bagi kita. Dengan bersyukur akan menambah tabungan untuk bekal kehidupan kelak
diakherat. 

 

Barang
siapa bersyukur, Insya Allah, Allah akan menambah nikmat kepada orang tersebut
dan barang siapa kufur, sesungguhnya azab Allah sangat pedih.

 

Sebagian
orang lebih mudah untuk bersyukur tatkala menerima anugerah dan kenikmatan
dibandingkan bersabar saat sedang diuji dengan musibah. Banyak orang menjadi
putus asa dengan ujian berupa musibah dan memandang musibah adalah sesuatu yang
harus dihindari. Dengan doa, Insya Allah akan menolak musibah yang akan
terjadi, namun jika musibah sedang menimpa atau telah menimpa diri kita, kita
harus berusaha menyikapi dengan sabar dan mengambil hikmah dibalik musibah
tersebut.

 

Musibah
sering dipandang sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan, sesuatu yang
menyedihkan dan lain sebagainya. Namun jika kita renungkan sedikit ternyata
banyak hal yang pada mulanya kita anggap sebagai musibah pada akhirnya menjadi
sebuah berkah bagi yang mengalaminya. 

 

Hikmah
di balik musibah tersebut ada yang kita sadari, namun banyak juga yang kita
lewatkan begitu saja. Ibarat murid disekolah, mereka akan naik kelas setelah
lulus ujian, demikian pula Allah akan menguji hamba-Nya yang beriman dan akan
mengangkat derajat dengan balasan di dunia dan di akherat.

 

Musibah
letusan gunung Merapi yang terjadi beberapa waktu lalu, telah meluluh lantakkan
hampir seluruh tanaman disekitarnya, semburan awan panas telah menghanguskan
sayur mayur di lereng-lerang gunung merapi. Namun beberapa bulan berikutnya,
tanaman dan sayuran sangat subur hijau royo-royo yang membuat terkesima mata 
memandang
dan menyejukan hati bagi para petani. Dan masih banyak contoh-contoh lain yang
dapat kita petik hikmahnya dari sebuah musibah ataupun bencana.

 

Musibah
tidak hanya berupa bencana alam, kesulitan ekonomi, kekurangan bahan makanan,
hilangnya gas dari peredaran, kesulitan memperoleh lapangan pekerjaan
seringkali menyimpan misteri hikmah didalamnya. Dan bersama kesulitan terdapat
kemudahan.

 

Secara
ekonomi kami dibesarkan dari keluarga yang boleh dibilang kurang mampu, hal ini
bukan berarti kami tidak menyukuri nikmat yang telah Allah anugerahkan. Untuk
keperluan sehari-hari memang waktu kecil adalah masa-masa yang berat. Belum
pernah rasanya pergi ke sekolah waktu SD memakai sepatu dan memakai tas.
Berangkat sekolah dengan kaki telanjang dan dengan tas kresek adalah hal yang
lumrah. Saat berangkat sekolah pun tidak jarang harus menunggu pakaian dicuci
dulu, karena hanya satu-satunya dan berangkat dengan pakaian setengah basah..

 

Walaupun
kondisinya sangat berat, semangat belajar keluarga kami sangat besar. Saat
sekolah lanjutan berjalan kaki 6 km dalam sehari, tidaklah begitu dirasakan..
Sepulang sekolah menjelang Asyar kepingin rasanya cepat-cepat sampai dirumah
dan menikmati hidangan makan siang. Kadang-kadang Sampai dirumah ternyata belum
tersedia makanan, karena ayah ibu juga baru pulang dari ladang. Maka kami harus
membantu memasak terlebih dahulu, itupun tidak semudah memasak beras, karena
waktu itu sehari-hari dengan nasi jagung, sehingga sebelum dimasak harus di
tumbuk dulu supaya menjadi tepung. Sambil menanak nasi, sebagian kami mencari
sayur atau umbi-umbian untuk dijadikan lauk.

 

Setelah
istirahat sejenak, sehabis asyar kami mulai berangkat ke ladang membantu ayah,
berangkat membawa pupuk kandang yang sangat berat, dan pulangnya membawa kayu
bakar atau rumput buat pakan ternak. Sambil perjalanan pulang pergi ke ladang
yang lumayan jauh, biasanya saya manfaatkan untuk sambil membaca pelajaran yang
telah diringkas menjadi potongan kertas kecil. Tangan kiri memegang keranjang
dan sabit, tangan kanan memegang catatan pelajaran.

 

Untuk
membayar biaya sekolahpun adalah hal yang tidak mudah waktu itu, tidak jarang
kami menunggak SPP hingga beberapa bulan. Jika pembayaran sudah jatuh tempo
namun belum mempunyai uang, maka pagi-pagi sehabis subuh kami bersama ibu
mencabut singkong ke kebun dan dibawa ke pasar. Harga singkong juga sangat
murah waktu itu, sehingga supaya cukup untuk biaya SPP kami harus mengangkut
beban yang sangat berat, bahkan pernah bawaan kakak sampai roboh. Saya juga
tidak jarang membawa beban berat (nyunggi) hingga sampai sekarang masih ada
bekas cekungan karena tekanan sekarung singkong yang saya bawa. Selain itu kami
juga rajin menguliti batang pisang lalu dijemur, setelah kering dijual untuk
bahan membuat keranjang tembakau (tombong). Hasil penjualan batang pisang
(debog) tersebut kadang untuk keperluan dapur, kadang untuk membayar biaya
sekolah.

 

Uang
saku ke sekolah adalah sesuatu yang langka, jika teman-teman yang lain ke
kantin saat istirahat, saya lebih memilih berdiam diri di kelas atau membawa
bekal singkong yang saya masukkan dalam tas plastik, dan saya makan dikebun
dekat sekolah, karena malu jika dilihat teman-teman. Waktu SMEA bekal yang
dibawa juga masih setia, singkong dan singkong, ya sesekali bisa  ke
kantin jika ada uang lebih, apakah sedih hanya mbekel singkong, enggak juga
tuh, biasa aja.

 

Bahkan
saat SMEA, saya pernah sampai tidak berangkat sekolah saat ujian nasional,
karena sampai batas waktu yang ditentukan belum sanggup melunasi SPP. Saya
malah berangkat ke ladang membantu ibu memetik hasil tani. Saya tidak bilang
sama Ibu bahwa saya tidak berangkat karena belum bayar SPP, karena saya
khawatir beliau sedih jika mengetehuinya. Namun baru sekitar setengah jam saya
diladang, ada utusan pak guru yang menjemput saya dan memperbolehkan saya
mengikuti ujian walaupun belum lunas. Akhirnya saya langsung berangkat ke
sekolah yang berjarak 20an km dengan membonceng utusan tersebut, dan walaupun
tinggal sisa waktu setengah, Alhamdulillah saya lulus saat pengumuman bahkan
mendapat point A pada mata ujian tersebut (Terima kasih pa Mulyono dan mas
Supadi).

 

Menginjak
kelas 3 SMEA saya membantu memasarkan dagangan koperasi sekolah, dengan
pembayaran setelah laku. Saya dapat membantu sedikit-sedikit kebutuhan di rumah
dari laba hasil penjualan tersebut dan sisanya saya tabung. Setelah lulus SMEA
dengan berbekal tabungan sebesar 25 ribu saya merantau ke Jakarta untuk
memperbaiki ekonomi keluarga. Banyak lamaran yang telah dimasukkan namun tidak
ada yang dipanggil, pernah dipanggil sebagai Cleaning Service dan sempat saya
jalani beberapa bulan. Namun penghasilan yang diterima jauh dari cukup. Pada
saat yang bersamaan saya mencoba mendaftar sekolah kedinasan dan Alhamdulillah
diterima dan kuliah Gratis. Untuk biaya sehari-hari saya sambil jualan kacang
telur yang saya titipkan ke warung-warung saat berangkat kuliah dan sorenya
saya menagih hasil penjualan.

 

Dari
tempaan kondisi yang sulit tersebut justeru memacu saya semangat
berdagang/berwiraus aha. Setelah selesai kuliah usaha dagang tetap saya
teruskan. Dengan aneka dagangan yang lebih banyak, membuat kripik, membuka
warung indomi, cheese stick, dan lain-lain. Bahkan sempat penghasilan yang saya
peroleh dari berdagang hampir sepuluh kali lipat dibanding dengan gaji, dengan
dibantu sekitar 10 orang tenaga kerja dan menyuplai lebih dari 400 toko serta
beberapa supermarket.

 

Hingga
saat ini, justeru berdagang menjadi hobi tersendiri yang sangat membantu
ekonomi keluarga. Hal ini mungkin tidak akan pernah terjadi jika saya
dibesarkan dari keluarga yang berkecukupan. Namun karena kondisi sulit tersebut
memaksa kami untuk menciptakan peluang-peluang penghasilan. Dengan dipadukan
dengan teknologi internet berdagang menjadi lebih mudah dan lebih menyenangkan.
Alhamdulillah sudah banyak kemajuan yang saya peroleh melalui usaha dagang
tersebut. Membantu keuangan keluarga di kampung, tempat tinggal dan kendaraan
roda 2 dan 4 walau sederhana sedikit banyak saya peroleh dari wirausaha
tersebut, walaupun materi bukanlah satu-satunya ukuran kesuksesan seseorang..

 

Musibah
dan anugerah, sukses dan gagal, jika diibaratkan dalam perjalanan di kereta
api, bisa saja seperti pemandangan kiri kanan rel, sawah hijau membentang,
gunung-gunung tinggi menjulang, air mengalir, pohon-pohon, dan kadang pula
menemui bebatuan terjal, sambungan rel yang renggang, yang sedikit mengurangi
kenyamanan, namun kita tidak terlena dengan keadaan di sekitar perjalanan, itu
bukanlah tujuan, tetapi hanya pemandangan sekejap, tujuannya adalah suatu
tempat stasiun/kota yang masih jauh di seberang sana.

 

Demikian
pula, musibah dan anugerah, gagal dan berhasil dalam kehidupan adalah sebagai
bumbu pemanis dalam mengarungi bahtera kehidupan, tujuan akhir kita adalah
kembali kepada Allah atau Tuhan kita dalam keadaan yang diridhai, dan
kebahagian yang tiada akhir.

 

 

Wallahu
a'lam bishowab

 

 

http://www.eramusli m.com/oase- iman/ada- hikmah-dibalik- musibah.htm

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/

[Non-text portions of this message have been removed]

















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke