Dari Moderator:
Uang kertas itu memang perlu riba/bunga agar nilainya tidak terlalu jatuh.
Tahun 1970 ongkos naik haji Rp 182.000. Tahun 2009 jadi sekitar Rp 40.000.000. 
Itulah inflasi pada uang kertas

Ada pun emas relatif stabil. Ongkos naik haji dulu hingga sekarang sekitar 100 
gram emas.

Dalam Islam dikenal uang Dinar Emas. Info tentang Dinar emas (harga dan tempat 
jual-beli) bisa dilihat di www.media-islam.or.id

Wassalam

Salam,
Saudaraku, mail forward saya ini keberbagai milis, menuai banyak tanggapan pro 
dan kontra, saya maklumi.
Berikuta ada tulisan dari saudara kita yang mungkin bisa menambah pemahaman 
kita.
 
Salam,
MK

--- Pada Rab, 1/4/09, Dadan WF <[email protected]> menulis:

Bank versi apapun, selagi masih menggunakan uang sebagai media perantara 
jual-beli yang tidak memiliki nilai intrinsik yang setara dengan nilai nominal 
itu sendiri pasti akan tetap menimbulkan gejolak ekonomi di masyarakat. Pada 
hakekatnya, uang kertas itulah awal dari RIBA!
 
So, kembalilah ke muamalat Islam, sistem ekonomi Ilahi yang non-ribawi, 
yang pasti memberikan keadilan bagi semua pelaku ekonomi yang saat ini mulai 
menggeliat kembali dengan digunakannya koin dinar (emas) dan dirham (perak) 
dalam aktivitasnya.
 
Uang dalam sebuah masyarakat ibarat darah di dalam tubuh manusia. Kelebihan 
atau kekurangannya akan menyebabkan tekanan tinggi dan rendah (inflasi dan 
deflasi).

Kalau orang biasa ditanya berapa banyak uang beredar yang sepantasnya ada dalam 
sebuah masyarakat, jawaban logisnya adalah tergantung berapa banyak BARANG DAN 
JASA yang sanggup diperdagangkan oleh komunitas tersebut dalam perdagangan 
sehari-hari mereka.

Tetapi siapa sebenarnya yang menentukan jumlah uang beredar, dan bagaimana uang 
diedarkan?

Karena uang hanyalah medium pertukaran barang dan jasa di dalam komunitas 
tersebut, untuk melayani masyarakat tersebut, logisnya adalah tak seorangpun 
yang berhak mengambil keuntungan dari pengadaan uang. Orang yang berproduksi 
pantas mendapatkan uang, dan orang yang tidak berproduksi tidak mendapatkan 
apa-apa.

Petani menghasilkan hasil tani, nelayan mencari ikan dan hasil laut, penenun 
kain membuat pakaian, tukang masak mengolah hasil tani menjadi makanan, tukang 
kayu membuat bangunan dan perkakas rumah, orang-orang terdidik menjadi guru di 
sekolah, dll. Semua orang mengerjakan dan memberikan kontribusi ke masyarakat 
sesuai kemampuannya. Uang harusnya diciptakan OLEH komunitas tersebut UNTUK 
melayani komunitas tersebut.

Tetapi kemudian sekelompok kecil anggota komunitas tersebut, yang diberkati 
dengan daya pikir yang lebih tajam, sekaligus keserakahan yang tak terhingga, 
memahami bahwa mereka bisa TIDAK memberikan kontribusi apapun tetapi memiliki 
segala-galanya di masyarakat tersebut. Kelompok ini adalah "Pengada (Pencipta) 
Medium Uang."

Kalau demi memiliki uang dan menghindari sistem bartel yang merepotkan, 
masyarakat tersebut rela MEMINJAM uang kepada kelompok tersebut, maka 
masyarakat ini secara de facto telah menjadi budak abadi dari kelompok pencipta 
uang itu.

Misalkan : masyarakat ini terdiri dari 100 penduduk. Ada yang jadi petani, 
nelayan, tukang kayu, penenun kain, tukang masak, penambang, guru dll.

Kemudian sang Pencipta Uang, katakanlah seorang penambang emas, berhasil 
membujuk masyarakat tersebut untuk menggunakan koin emas buatannya sebagai 
medium pertukaran (uang). Semua orang membeli emas darinya, dan sebagai 
gantinya memberikan barang / jasa tertentu kepadanya. Yang lain, karena tidak 
memiliki barang, akhirnya harus meminjam kepada tukang emas tersebut.

Bila tukang emas ini meminjamkan 1000 koin emas dan menagih 5% bunga kepada 
masyarakat ini, maka tanpa menggunakan hukum bunga-berbunga sekalipun, dalam 
waktu 20 tahun tukang emas ini akan memiliki semua koin emas dia kembali, dan 
masyarakat ini masih tetap berhutang 1000 koin emas kepadanya.

Saat itu, tak satu pun koin beredar di masyarakat, sehingga tidak mungkin 
masyarakat tersebut sanggup membayar. Tentu saja, dalam prakteknya, memasuki 
tahun ke-2 sekalipun tukang emas tersebut sudah harus meminjamkan koin emasnya 
kepada anggota masyarakat ini, tukang emas ini tidak ingin bunga yang dia 
terima membuat suplai uang di masyarakat menurun, karena nantinya skema ini 
akan terbongkar.

Penurunan suplai uang di komunitas manapun selalu menciptakan resesi / depresi 
ekonomi. Agar sistem ini tidak gagal, komunitas tersebut harus terus mengajukan 
pinjaman baru, agar saat bunga / cicilan pokok pinjaman lama dibayarkan, suplai 
uang di komunitas tersebut tidak berkurang.

Tidak masalah medium apa yang Anda gunakan sebagai uang, selama sang pencipta 
uang adalah pemilik medium uang (bukannya masyarakat itu sendiri) dan berhak 
menagih bunga atas pinjamannya, masyarakat ini tidak akan pernah sanggup 
melepaskan diri dari perbudakan bunga, siklus inflasi dan resesi.

Pihak yang paling berkepentingan agar emas menjadi medium pertukaran uang, bisa 
Anda yakin bahwa dia pasti memiliki banyak emas yang ingin dia jual atau 
pinjamkan. Inilah satu-satunya motivasi dia untuk mempromosikan emas sebagai 
uang.

Karena kemampuan komunitas tersebut untuk berhutang ada batasnya, dan akibat 
bunga pinjaman yang harus mereka bayarkan, sebagian anggota komunitas tersebut 
pun jatuh miskin pada tahun-tahun pembayaran berikutnya. Manusia, sebagai 
makluk sosial, menyadari bahwa anggota masyarakat yang tidak beruntung ini 
tidak bisa dibiarkan begitu saja dan perlu dibantu. Maka diciptakanlah sebuah 
institusi sederhana untuk membantu mereka, yaitu Pemerintah, yang juga akan 
berfungsi untuk mengatur hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan orang 
banyak.

Tetapi, karena dari tahun ke tahun semakin banyak uang yang diperlukan untuk 
membantu anggota masyarakat yang tidak beruntung ini, skala pemerintah dan uang 
yang diperlukan untuk membiayai mereka pun terus bertambah besar.

Pemerintah, yang didirikan untuk menjadi penolong, perlahan-lahan justru 
berubah menjadi penodong. Jangan lupa, anggota pemerintah pun orang-orang biasa 
yang perlu makan dan memiliki kebutuhan lainnya. Jadi, sebelum uang yang 
dikumpulkan masyarakat untuk membantu orang miskin ini digunakan, sebagian uang 
tersebut pun masuk ke kantong anggota pemerintah terlebih dahulu.

Semakin besar jumlah orang miskin yang perlu dibantu, semakin besar skala 
pemerintah di komunitas tersebut. Semakin banyak usaha yang jatuh bangkrut, 
semakin sering juga pemeritah mengambil alih usaha-usaha tersebut, dan semakin 
banyak uang juga yang perlu dibayar anggota komunitas yang masih produktif dan 
belum bangkrut (*pajak). Suatu ketika, saat uang yang sanggup dikumpulkan dari 
masyarakat yang masih produktif pun tidak mencukupi lagi, pemerintah, sebagai 
sebuah institusi, pun mulai mengajukan pinjaman kepada si pencipta uang (dalam 
contoh di atas, si tukang emas)

(*Pajak : bedakan pajak yang ditarik untuk membantu orang miskin, pembangunan 
infrastruktur, gaji anggota pemerintah, Vs pajak untuk membayar cicilan hutang 
pemerintah. Kalau Anda mengira pajak yang Anda bayarkan setiap bulan semuanya 
digunakan untuk membantu orang miskin di Indonesia, memperbaiki jalan, sekolah, 
tempat ibadah dll, sebaiknya Anda mengecek dengan mata sendiri betapa besarnya 
anggaran pemerintah yang digunakan untuk membayar cicilan hutang & pokok kepada 
bankir internasional. )

Pemerintah, akhirnya pun terpojok untuk terus memaksa rakyatnya membayar lebih 
banyak lagi tagihan pajak, bea ini bea itu, pungutan jinak, pungutan liar, dll. 
Sekarang posisinya menjadi Pemerintah Vs Rakyat.

Orang-orang yang tidak setuju dengan kebijakan pemerintah pun mulai membuat 
kelompok (partai) baru, seolah-olah mereka bisa menyelesaikan masalah, 
mengembalikan skala pemerintah ke skala yang lebih kecil, dan mengurangi pajak 
dan pungutan kepada masyarakat produktif mereka.

Puluhan partai didirikan untuk berdebat satu sama lain, tetapi tak seorang pun 
yang bersedia mendebat asal usul uang mereka, tak seorang pun membicarakan si 
tukang emas. Mungkin memang itulah fungsi utama sistem demokrasi, agar si 
tukang emas lebih gampang mempertahankan kekuasaan. Bagaimanapun, jauh lebih 
gampang menyuap beberapa ratus anggota parlemen dibanding menyuap mayoritas 
rakyat di suatu negara.

Keadaan dari tahun ke tahun bertambah kacau, jumlah orang miskin terus 
bertambah dari generasi ke generasi. Anak-anak muda mulai khawatir akan masa 
depan mereka, dan tak mengerti mengapa generasi ini tampaknya lebih miskin 
dibanding generasi sebelumnya, dan kelihatannya anak-anak mereka sendiri akan 
lebih miskin dibanding mereka sendiri saat ini.

Polisi, tentara, yang seharusnya ada untuk melindungi rakyatnya, suatu ketika 
akan digunakan oleh si tukang emas sebagai senjata untuk melawan rakyatnya. 
Ironisnya, si tukang emas ini bahkan tidak perlu repot-repot menggaji polisi 
dan tentara. Gaji mereka dibayar oleh pajak rakyat yang mereka tindas.

Bulan ini Indonesia akan kembali menyelenggarkan Pemilu. Kalau tidak ada 
kejutan, lagi-lagi puluhan partai politik mulai berdebat dan menyanyikan 
janji-janji manis kepada orang-orang yang ingin percaya. Dan lagi-lagi tak 
sebuah partai pun yang menyinggung si tukang emas saat ini, BANK (mulai dari 
Bank Sentral, dan kemudian ke Bank-Bank Komersial yang menciptakan mayoritas 
uang beredar di negara ini).

Kita masih berada dalam perbudakan bunga bank, tidak berubah sejak sebelum 
merdeka. Dan bank-bank komersial pun masih tetap mempraktekkan fractional 
reserve banking, tidak berubah sejak ratusan tahun lalu.

Kontrol atas kredit masih di tangan bankir, bukan di tangan rakyat. Jadi... 
Nothing is going to change, nothing!

Tahun depan, saat pinjaman tak terbayar rakyat USA memuncak, konsumsi mereka 
akan menurun tajam. Ketika mereka berhenti konsumsi, toko-toko distributor 
utama di Amerika akan mengurangi order ke pabrik-pabrik di Asia dan Eropa. 
Kurangnya order kemudian diikuti dengan PHK masal di Asia dan Eropa, dan 
kemudian toko-toko retail di Asia dan Eropa pun akan mulai jatuh bangkrut dan 
tidak bisa membayar pinjaman ke bank-bank komerisial lokal mereka.

Hanya orang-orang (& perusahaan) yang paling sedikiti dibiayai oleh hutanglah 
yang bisa keluar dari krisis kali ini. Sisanya akan jatuh bangkrut dan aset 
mereka akan diambilalih para bankir. 2-3 tahun ke depan, para "tukang emas" 
akan menikmati sensasi konsolidasi mereka, bisnis-bisnis akan jatuh ke lebih 
sedikit tangan, kompetisi akan berkurang (termasuk bisnis perbankan). Mimpi 
mereka untuk meMONOPOLI semua aset semakin mendekati kenyataan. "Last Man 
Standing."

Di sisi lain, orang-orang miskin terus bertambah. Anak-anak tidak sanggup 
sekolah, orang yang masih memiliki pekerjaan pun mulai berpikir untuk korupsi 
lebih banyak karena gaji tidak mencukupi, sebagian lagi mencari solusi lewat 
perjudian, prostitusi, perdagangan obat terlarang, dan hubungan internal 
keluarga juga memburuk. Hubungan antar orang di masyarakat pun tidak bertambah 
baik, orang-orang sibuk memikirkan bagaimana mereka harus makan, tak ada lagi 
waktu untuk bersosialisasi secara suka rela, kemunafikan pun bertambah... 
Kriminalitas akan meningkat tajam, dan tak banyak yang bisa dilakukan.

Percayakah Anda?
Bila Anda tidak menghentikan sistem ini sekarang, bila Anda tidak mengekspos 
kejahatan perbankan sekarang, maka akan tiba suatu hari.. di mana saat Anda 
mempertaruhkan nyawa Anda sekalipun, Anda tidak akan punya peluang lagi untuk 
menang. Semua aset, utilitas umum, militer, media, pendidikan, kepolisian, 
konglomerasi pertanian, perkebunan, pertambangan, gudang nasional makanan dan 
distribusinya, semuanya sudah dalam genggaman "tukang emas".

Mulailah bercerita, "Silence is Acceptance."

 
 
 














      Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!! Membuat 
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke