Indonesianis George McTurman Kahin pada tahun 1948 tengah berada di Yogyakarta, 
Ibukota Republik yang masih muda. Satu hari dia diundang datang dalam suatu 
acara yang dihadiri para pejabat negara. Setibanya di tempat acara, Kahin 
menyalami satu demi satu para pejabat yang ada. Tibalah Kahin pada seorang 
lelaki berusia 40 tahun yang berwajah teduh dan berkacamata bulat, dia memakai 
baju dan pantalon dari bahan yang amat murah dengan potongan yang amat 
sederhana. Ketika diperkenalkan bahwa lelaki tersebut adalah seorang Menteri 
Penerangan RI, Kahin terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka, lelaki yang 
kelak dikenalnya dengan nama Muhamad Natsir itu ternyata sangatlah bersahaya, 
tidak ada beda dengan rakyat kebanyakan. Apalagi dirinya mendengar jika baju 
itu merupakan satu-satunya baju yang dianggap pantas untuk acara-acara resmi.

Kahin mengenang, "Saya dengar, beberapa pekan kemudian, para anak buahnya di 
Kementerian Penerangan berpatungan membelikan Pak Menteri Natsir sehelai baju 
yang lebih pantas. Setelah baju itu dipakai Pak Menteri Natsir, para anak 
buahnya berkata, 'Nah ini baru kelihatan menteri betulan'."

Kesederhanaan merupakan prinsip hidup seorang Muhammad Natsir. Prinsip ini 
terus dipegangnya sejak kecil hingga menjadi pejabat negara. Dan kemudian 
memang terbukti, kesederhanaan inilah yang akhirnya menjadikan kekuatannya, 
menjadikan harga diri dan martabatnya sedemikian tinggi, dan semua orang dari 
berbagai kalangan menghormatinya.

Ulama Akherat dan Ulama Dunia

Kata "ulama" berasal dari bahasa Arab dan semula berbentuk jamak dari kata 
'alim, yang memiliki arti orang yang memiliki ilmu atau orang yang pandai. Imam 
Al-Ghazali membagi pengertian "ulama" ke dalam dua kelompok besar: Ulama Dunia 
dan Ulama Akherat. Ghazali dan para muhaqqiq, sepakat menyebut Ulama Dunia 
sebagai Ulama sû'.

Berbeda dengan Ulama Akhirat, Ulama Dunia atau Ulama sû' ini adalah mereka yang 
menggunakan ilmunya bukan lillahi ta'ala, melainkan menggunakan ilmunya dan 
juga pengaruhnya untuk mencari kedudukan di mata umat, mencari jabatan duniawi, 
mengumpulkan kekayaan dunia, atau hanya mencari popularitas dan sebagainya. 
Ulama jenis ini adalah ulama yang lebih mencintai dunia ketimbang akherat, dan 
salah satu ciri yang utama adalah mereka ini lebih merasa nyaman bila berada 
dekat dengan penguasa ketimbang berdekatan dengan orang banyak. Untuk mencapai 
ambisi duniawinya, ulama dunia tidak segan-segan memanfaatkan istilah-istilah 
syariat atau pun memperalat hukum agama, untuk menipu umat—dan juga menipu 
dirinya sendiri—agar kelihatan seolah-olah apa yang diperbuatnya adalah halal.

Ulama dunia memiliki banyak harta dan sedikit menghasilkan kitab-kitab yang 
bermutu. Ulama dunia lebih sigap dalam melayani penguasa ketimbang melayani 
umatnya. Fatwa-fatwanya bersifat sementara dan sangat bercorak kekuasaan, sebab 
itu hampir seluruh fatwanya tidak menyentuh mata batin umatnya.

Bagaimana dengan Ulama Akherat? Ulama jenis ini adalah ulama pengikut para 
nabi. Waratsah al-anbiya'. Mereka berani menyampaikan yang haq itu haq dan yang 
bathil itu bathil, tanpa membedakan apakah itu disampaikan kepada rakyat biasa 
atau kepada penguasa. Ulama akherat tidak menyukai memutar-mutar lidah di 
hadapan penguasa. Banyak ulama jenis ini, karena membela dan menegakkan al-haq, 
mendapat fitnah dan cobaan berat, bahkan nyawa pun menjadi taruhannya. Ulama 
Akherat lebih menyukai berada di tengah-tengah umat ketimbang berada di 
tengah-tengah penguasa. Ulama Akherat lebih nyaman mengatur strategi dakwah 
dari masjid, bukan dari hotel atau pun gedung mewah. Ulama akherat banyak 
menghasilkan kitab dan menghindari kepemilikan harta dunia. Jika pun memiliki 
banyak harta dunia, maka dia segera menyumbangkannya untuk orang-orang yang 
tidak mampu, sebagaimana Rasulullah SAW yang walau memiliki banyak harta dari 
hasil perniagaannya namun semuanya disumbangkan
 kepada kaum miskin, sedang dia sendiri hidup dalam kesederhanaan. Sangat 
banyak hadits yang meriwayatkan kesederhanaan, bahkan kemiskinan, beliau.

KH. Didin Hafidhudin (Republika, 7/8/08) menulis, "Salah satu faktor yang 
menyebabkan runtuhnya nilai-nilai perjuangan dalam dunia politik adalah saat 
materi menjadi tujuan utama dan gaya serta penampilan lebih diutamakan." Banyak 
orang-orang yang awalnya lurus menjadi bengkok bahkan patah saat mendapat 
cobaan harta seperti ini. Sebab itu, Thufail al Ghifari, seorang munsyid, 
berkata, "Selamatkan dakwah, selamatkan dakwah, selamatkan dakwah kita! Apa 
artinya sebuah kekuasaan jika kita telah menggadai keimanan dan aqidah kita?"

Dengan tegas, Dr. Daud Rasyid menyatakan bahayanya harta dunia dalam artikelnya 
berjudul 'Fitnah Harta' : "Kalau ada orang menceritakan dirinya mendambakan 
punya rumah mewah, kendaraan mewah, atau apa saja yang menyenangkan dari dunia, 
sebenarnya dia sedang menceritakan kenaifan dirinya, sekaligus menyingkap 
keruntuhan ma'nawiyah (jati diri)nya di hadapan orang lain... apakah pantas 
seorang pemimpin merangsang anggotanya untuk mengejar harta, sementara Nabi SAW 
menyuruh umatnya agar berhati-hati dengan harta dan dunia? Orang-orang mukmin 
tak perlu diajari mencintai harta. Ajaran itu justru adalah ajaran syetan. 
Hanya syetan yang mengajarkan cinta harta. Yang perlu diajarkan kepada 
orang-orang mukmin, agar tetap tabah menghadapi rintangan dalam perjuangan."

Pemahaman Islam yang lurus dan benar sangat dipahami oleh para ulama bangsa ini 
terdahulu. Sebab itulah, orang-orang seperti Muhammad Natsir, Haji Rasul, KH. 
Zainal Mustofa, KH. Isa Anshary, dan sebagainya senantiasa menjaga kebersihan 
hati dan akidahnya dengan memalingkan wajahnya dari godaan harta dunia dan 
berkosentrasi mendidik umat dengan ilmu yang benar.

Sosok ulama-ulama akherat seperti Muhammad Natsir merupakan tokoh yang amat 
langka di "zaman edan" seperti ini. Sebab itu, dalam serial tulisan ini, 
Eramuslim akan memaparkan riwayat hidup dan kisah-kisah kesederhanaan seorang 
Muhammad Natsir, dan juga ulama-ulama akherat kita lainnya, agar kita semua 
bisa belajar dan meneladani sikap hidup mereka. Sekaligus bisa menghindari 
tipuan-tipuan yang tengah dilancarkan oleh ulama-ulama dunia. Taqlid, Tsiqoh, 
dan Thoat hanyalah kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, dan kepada ulama akherat, 
bukan kepada ulama dunia. Semoga kita tidak tertipu. Amien. (Bersambung/rd)
http://eramuslim.com/berita/tahukah-anda/kesederhanaan-seorang-muhammad-natsir-1.htm
===
Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490
ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900
Informasi selengkapnya ada di:
http://www.media-islam.or.id
Ingin belajar Islam?
Kirim email ke: [email protected]


Jual Rumah Baru di Otista Kampung Melayu Jakarta Timur Rp 650 juta. Info: 
http://agusnizami.wordpress.com


      Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? Undang teman dari Hotmail, Gmail 
ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke