Fathuddin Jafar, MA

Selasa, 07/04/2009 09:46 WIB Cetak <javascript:print();> |
Kirim<http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/send/partai-allah-vs-partai-setan-dalam-al-qur-an>
|
RSS <http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/rss> Hiruk pikuk kampanye
puluhan partai peserta Pemilu legislatif 2009 sudah berakhir. Tak kurang
dari 200 trilyun rupiah sudah dihamburkan. Berbagai acara untuk menarik dan
merayu para calon pemilih sudah pula dilakukan.

Hiruk pikuk kampanye puluhan partai peserta Pemilu legislatif 2009 sudah
berakhir. Tak kurang dari 200 trilityun rupiah sudah dihamburkan. Berbagai
acara untuk menarik dan merayu para calon pemilih sudah pula di lakukan.

Sejak dari pemasangan jutaan spanduk, kaos, brosur, baliho, iklan media
cetak dan elektronik dan bahkan menampilkan penyanyi-penyanyi wanita erotis
setengah telanjang di hadapan ribuan simpatisan. Seakan semua cara sudah
dihalalkan.

Yang lebih ironis lagi, partai-partai yang berbau Islampun tak terlepas dari
acara hura-hura dan maksiat itu. Hampir tidak ada partai yang tidak
menampilkan musik dangdut atau grup band dalam acara kampanye, khususnya
kampanye terbuka, termasuk partai yang menamakan dirinya partai dakwah
sekalipun.

Dalam peristiwa Pemilu 2009 kali ini yang mereka namakan dengan Pesta
Demokrasi, sebanyak 1.624.324 caleg untuk DPR, DPD, Provinsi dan
Kabupaten/Kota bersaing merebutkan 18.480 kursi yang tersedia. Artinya,
hanya 1.13 % dari mereka yang akan menjadi anggota legislatif periode 2009 –
2014. Sisanya, 98,87 % atau sekitar 1.605.844 orang dipastikan gagal
menduduki kursi-kursi empuk tersebut.

Melihat dahsyatnya persaingan di antara mereka dan besarnya jumlah dana yang
telah mereka habiskan dan bahkan ada yang menjual rumah dan sebagainya,
ditambah lagi dengan besarnya gejolak syahwat kekuasaan yang mendorong
sebagaian besar mereka untuk menduduki kursi Dewan, maka berdasarkan nasehat
para ahli jiwa, berbagai RS Jiwa telah menyiapkan diri untuk menerima
limpahan pasien pasca Pemilu 2009 pada 9 April yang akan datang. Jika
prediksi para ahli jiwa tersebut benar-benar terjadi, barangkali ini adalah
peristiwa korban demokrasi pertama di dunia yang paling besar.

Sebelum acara pesta demokrasi (*maksiat*) tersebut dimulai, umat Islam
Indonesia dihebohkan pula oleh fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) terkait
haramnya golput (golongan putih alias tidak ikut pemilu). Fatwa tersebut
juga telah menimbulkan prokontra di kalangan umat Islam Indonesia. Semoga
prokontra tersebut tidak menambah perpecahan dalam tubuh umat Islam yang
sudah terpecah belah menjadi berbagai kelompok (jamaah), aliran dan partai
sejak lebih dari 50 tahun lalu.

Tulisan ini tidak fokus mengomentari Pemilu dan fatwa MUI tersebut. Namun
akan membahas sebuah tema yang lebih besar dan lebih fundamental dari
masalah Pemilu dan fatwa MUI itu, yakni masalah Partai dan hal-hal yang
terkait dengannya. Pemilu hanya salah satu aktivitas utama sebuah partai.
Tanpa partai-partai Pemilu dalam pengertian di atas tidak akan ada. Pemilu
itu hanya sebuah aksi atau aktivitas yang dilakukan oleh partai-partai. Sama
halnya dengan shalat jamaah, kalau bisa dimisalkan. Shalat jamaah adalah
sebuah aktivitas yang dilakukan oleh para pelakunya di sebuah tempat bernama
masjid, mushalla, atau tempat lainnya.

Membahas masalah shalat berjamaah tidak banyak manfaatnya jika sebelumnya
tidak membahas masalah tempat shalatnya dan para jamaah yang
melaksanakannya. Sebab, bagaimanapun ramai dan khusyuknya shalat jamaah jika
tempat shalatnya tidak suci dari najis dan para jamaah yang shalat tidak
suci dari hadats dan najis serta tidak menghadap kiblat, tidak menutup aurat
dan sebagainya maka shalat jamaah tersebut tidak akan bernilai di mata
Allah. Sebab itu, mendiskusikan masalah partai jauh lebih penting dan lebih
utama sebelum membahas masalah Pemilu itu sendiri.

*Manhaj Tafkir Islami*

Dalam *Manhaj Tafkir Islami* (Metodologi Berfikir Islam), bahwa setiap amal
perbuatan yang baik, betapapun besar nilainya, seperti rukun Islam yang lima
dan *Jihad fi sabilillah* dan betapapun besar peranannya dalam kehidupan,
seperti pemerintahan dan kepemimpinan, ia harus memenuhi syarat dan
rukunnya. Para ulama *Fiqih* (Hukum Islam) mendefinisikan syarat ialah
sesuatu yang menjadikan suatu perbuatan/amal itu sah, tapi ia (sayarat) itu
bukan bagian dari perbuatan tersebut. Wudhuk misalnya, ia bukan bagian dari
shalat, akan tetapi tanpa wudhuk, shalat tidak akan sah. Adapun rukun ialah,
tanpa ia suatu perbuatan itu tidak sah, sedangkan rukun itu bagian dari
perbuatan itu sendirinya. Rukuk misalnya, ia adalah rukun shalat dan
sekaligus rukuk itu bagian dari shalat itu sendiri. Hal tersebut juga
berlaku bagi sebuah aktivitas yang benama Pemilu yang dilaksanakan atau
diikuti oleh suatu partai dan para anggotanya.

Bagi seorang Muslim, apapun bentuk aktivitas dan amal perbuatannya harus
dilandasi oleh cara pandang Islam atau dengan kata lain, haruslah sesuai
dengan konsep Islam. Untuk menilai sesuatu itu sesuai atau tidak dengan
konsep Islam, maka metodologi Islam terkait ketentuan syarat dan rukun harus
diterapkan. Syarat dan rukun itu harus pula mengacu kepada sumber utama
ajaran Islam, yakni Al-Qu’an, dan Sunnah Rasul Saw. Kalau tidak, hanya akan
menjadi amal perbuatan yang laghwi (sia-sia), dan bahkan bisa menjadi
maksiat (dosa) yang akan menyebabkan pelakunya masuk neraka, jika dia
menyandarkan sesuatu amal atau perkatanannya atau pendapatnya kepada Allah
dan Rasul-Nya yang tidak pernah dikatakan atau dianjurkan Allah dan
Rasul-Nya, seperti yang dijelaskan Nabi Muhmmad saw dalam hadist berikut :

ãóäú Úóãöáó ÚóãóáÇ áóíúÓó Úóáóíúåö ÃóãúÑõäóÇ Ýóåõæó ÑóÏøñ

*“Siapa yang melakukan suatu perbuatan yang tidak ada dasarnya dari kami,
maka amal tersebut ditolak” (HR. Muslim)*

ãóäú ßóÐóÈó Úóáóíøó ãõÊóÚóãøöÏðÇ ÝóáúíóÊóÈóæøóÃú ãóÞúÚóÏóåõ ãöäú ÇáäøóÇÑö

*“Siapa yang mengada-ada terhadap saya dengan sengaja, maka berarti dia
dengan sengaja menyiapkan tempat tinggalnya di neraka”. (HR. Muslim)*

Hal penting lain yang dapat dipahami dari kedua hadits Rasul Saw di atas,
bahwa tidak ada satupun perbuatan, termasuk pendapat dan perkataan seorang
Muslim, demikian juga manusia lain, yang terlepas dari pertanggung jawaban
akhirat. Oleh sebab itu, mengetahui sah atau tidaknya dan benar atau
salahnya suatu perbuatan menurut Allah dan Rasul-Nya merupakan suatu
keniscayaan.

*Partai dalam Al-Qur’an*

Dalam bahasa Arab, partai adalah Hizb (ÍÒÈ). Dalam Al-Qur’an kata Hizb
terdapat tujuh kali dalam bentuk tunggal (ÍÒÈ), yakni dalam surat Al-Maidah
: 56, Al-Mukminun : 53, Ar-Rum : 32 dan Al-Mujadilah : 19 (dua kali) dan 21
(dua kali). Sepuluh kali dalam bentuk jamak; Ahzab (ÃÍÒÇÈ), yakni surat Hud
: 17, Ar-Ro’du : 36, Mayam : 37, Al-Ahzab : 20 (dua kali) dan 22, Shad : 11
dan 12, Ghafir : 30 dan Az-Zukhruf : 65.

Yang menarik ialah, dari sepuluh kali sebutan kata Ahzab (ÇáÃÍÒÇÈ) /
partai-partai semua konotasinya negatif. Dalam surat Hud : 17, kata ÇáÃÍÒÇÈ
berarti al-milal (agama-agama/aliran-aliran sesat). Dalam surat Ar-Ro’du :
36 berarti thawa-if (kelompok-kelompok pembangkang). Dalam surat Al-Ahzab :
20 dan 22 berarti pasukan kafir multi nasional yang hendak menyerang
Rasulullah dan kaum Muslimin di Madinah. Dalam surat Shad : 11, berarti para
pemilik kekuatan, harta dan anak / pengikut yang banyak yang membangkang
kepada Allah. Sedangkan dalam surat Az-Zukhruf : 65 ÇáÃÍÒÇÈ berarti
kelompok-kelompok sempalan. (Tafsir Ibnu Katsir).

Yang lebih menarik lagi untuk dicermati secara mendalam ialah kata ÍÒÈ dalam
bentuk tunggal dalam Al-Qur’an. Sebagaimana yang dijelaskan terdapat tujuh
kali sebutan Hizb / ÍÒÈ (dalam bentuk tunggal). Dari ketujuh kali sebutan
tersebut terdapat dua kali dalam bentuk nakirah (umum/tidak definitif),
yakni dalam surat Al-Mukminun : 53 dan Ar-Rum : 32. Keduanya berkonotasi
negatif, yakni memecah belah agama menjadi beberapa pecahan seperti beriman
sebagain dan kafir pada sebagian lainnya. (Tafsir Ibnu Katsir)

Adapun selain yang disebutkan di atas, terdapat lima kali sebutan ÍÒÈ (dalam
bentuk tunggal) yang diidhofatkan (menjadi kata majemuk). Dua kali
diidhofatkan kepada Setan, Hizbusy-Syaithan (ÍÒÈ ÇáÔíØÇä), yakni dalam surat
Al-Mujadilah : 19. Sedangkan tiga sebutan lainnya diidhoftkan dengan kata
Allah, yakni Hizbullah (ÍÒÈ Çááå) seperti yang terdapat pada surat Al-Maidah
: 56 dan surat Al-Mujadilah ayat 22.

Dari uraian dan penelusuran terhadap ayat-ayat yang bebicara terkait kata
Hizb / partai, baik dalam bentuk tunggal, jamak, umum (nakirah) maupun yang
diidhofatkan sehingga menjadi ma’rifah (defenitif), maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:

   1. Semu pembicaraan Allah dalam Al-Qur;an yang terkait dengan Hizb dalam
   bentuk jamak (ÇáÃÍÒÇÈ ) adalah berkonotasi negatif.
   2. Semua ayat yang membahas masalah Hizb dalam bentuk tunggal yang umum
   dan yang definitive adalah negatif, kecuali yang diidhofatkan kepada Allah
   (ÍÒÈ Çááå) .
   3. Setiap kata Hizb yang diidhofatkan hanya bermakan dua; Hizbullah (ÍÒÈ
   Çááå) atau Hizbusy-syaithan (ÍÒÈ ÇáÔíØÇä).
   4. Berdasarkan keterangan ayat-ayat yang disebutkan di atas, maka pada
   hakikatnya partai itu hanya terbagi dua; Partai Allah dan Partai Setan.

*Kriteria Partai Allah*

Bicara masalah kriteria Partai tidak bisa terlepas dari pembicaraan kriteria
para pemimpin, anggota dan aktivis partai itu sendiri yang menjadi aktor di
dalamnya. Demikian juga dengan Partai Allah dan Partai Setan harus terkait
dengan kriteria para pemimpin dan dan pengikutnya. Kriterianya banyak sekali
dan tidak mungkin dibahas dalam tulisan pendek ini. Dalam kesempatan ini,
pembahasan kriteria Partai Allah yang mencakup kriteria orang-orang yang
terlibat di dalamnya, khususnya para pemimpin dan anggotanya, terfokus
kepada ayat-ayat yang terkait langsung dengan kata Hizbullah (ÍÒÈ Çááå)
dalam Al-Qur’an. Di antaranya dalam urat Al-Maidah ayat 54 – 57 dan surat
Al-Mujadilah ayat 22. Di antara kriteria Partai Allah adalah :

   - Mendapat kasih sayang Allah
   - Mencintai Allah
   - Low profile terhadak kaum Mukminin
   - Berani bersikap tegas terhadap orang-orang kafir
   - Berjihad (dengan harta dan jiwa) di jalan Allah
   - Tidak takut celaan orang-orang yang mencela atau berani menyuarakan dan
   mengatakan al-haq (kebenaran yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, apapun
   resikonya. (Ibnu Katsir) termasuk di hadapan penguasa yang zalim.
   - Memberikan loyalitas penuh hanya kepada Allah, Rasul Muhammad Saw dan
   kaum Mukminin.
   - Tidak mengangkat pemimpin orang-orang yang memperolok-olokan dan
   memermainkan agama Allah dari kaum Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan
   orang-orang kafir lainnya.
   - Bertaqwa kepada Allah dengan mengerjakan semua perintah-Nya dan
   meninggalkan semua larangan-Nya.
   - Tidak berkasih sayang apalagi berkolaborasi atau musyarokah dengan
   orang-orang yang menentang (hukum) Allah dan Rasul-Nya, kendati mereka
   adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara kandung dan keluarga mereka
   sendiri.
   - Memfokuskan aktivitas dan kehidupan untuk meraih kemenangan akhirat,
   yaitu kerdhaan Allah dan masuk syuga Allah.

Yang menarik perhatian kita dari beberapa ayat yang terkait langsung dengan
kriteria Partai Allah di atas ialah bahwa Allah terlibat langsung
memantapkan keimanan mereka, menolong merkea di dunia lewat para malaikatnya
dan memastikan mereka masuk syurga serta meraih keridhaan-Nya. Itulah yang
dianggap Allah sebagai kemenangan hakiki.

*Kriteria Partai Setan*

Kriteria Partai Setan, para pemimpin dan pengikutnya juga cukup banyak.
Dalam kesempatan ini, hanya akan diuraikan berdasarkan ayat-ayat yang
terkait dengan partai berkonotasi negatif dan setan. Di antaranya seperti
yang disebutkan Allah dal surat Al-Mukminun : 53-56, Ar-Rum : 29 - 32 dan
Al-Mujadilah : 14 – 20. Di antara krteria Partai Setan itu ialah :

   - Memecah belah agama Alah dengan cara mengimani sebagian dan mengingkari
   sebagian lain atau memecah belah umat dengan berkelompok-kelompok atau
   berpartai partai dan setiap kelompk/partai bangga dengan kelompok/partai
   masing-masing.
   - Tertipu diri dan bangga dengan harta dan anak-anak (pengikut).
   - Mengikuti hawa nafsu sehingga hawa nafsu yang dijadikan petunjuk hidup.
   - Tidak mengikuti fitrah yang pada dasarnya cenderung kepada agama Allah.
   - Tidak mau mempelajari dan menerapkan agama Allah (Islam) dalam
   kehidupan.
   - Tidak mau kemabali kepada Allah dan tidak bertaqwa kepada-Nya serta
   melaliakan salat.
   - Mengangkat pemimpin orang-orang yang dimurkai Allah.
   - Suka bersumpah atau bersaksi dengan bohong dan suka berbuat kejahatan,
   termasuk KKN.
   - Menjadikan sumpah sebagai tameng.
   - Melarang manusia dari jalan Allah dan menerapkan hukum Allah.
   - Mereka menduga dengan harta yang melimpah dan anak yang banyak akan
   mampu menghalang mereka dari azab Allah, khususnya azab neraka.
   - Mereka menduga berada pada jalan yang benar.
   - Tergoda oleh setan sehingga lupa mengingat Allah.
   - Suka menantang ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Dari beberapa ayat yang terkait dengan kriteria Partai Setan tersebut ada
hal yang sangat menarik yakni, Allah menjamin para pengikutnya, baik
pemimpin maupun anggota dan simpatisannya akan medapatkan kehinaan di dunia
dan azab Allah di akhirat kelak.

*Kesimpulan*

Dari pemaparan beberapa ayat tersebut di atas yang terkait dengan Hizb (ÍÒÈ)
baik dalam bentuk tunggal, jamak, nakirah (tidak definitif) maupun ma’rifah
(definitif) dapat disimpulkan sebagai berikut :

   1. Dalam Al-Qur’an, masalah partai adalah masalah besar dan fundamental.
   Sebab itu aktivitas partai, termasuk mengikuti Pemilu baik dalam memilih
   para anggota legislatif maupun pemimpin suatu negara (presiden) atau kepala
   daerah (gubernur dan wakikota/bupati) hanya akan bermanfaat jika masalah
   partai terlebih dulu dapat diselesaikan. Kalau tidak, hanya akan menjadi hal
   yang sia-sia dan bahkan bisa menjadi maksiat yang akan menyebabkan Allah
   murka dan memasukkan para pelakunya ke dalam neraka.
   2. Partai yang memenuhi kriteria Hizbullah disebut dengan Partai Allah
   atau Partai Islam, kendatipun tidak menamakannya dengan Hizbullah. Sedangkan
   partai yang memenuhi kriteria Hizbusyyaithan, berarti partai tersebut bukan
   Parati Allah atau Partai Islam kendatipun namanya Hizbullah atau partai
   Islam dan kendatipun para pemimpin dan pengikutnya mengklaim Partai Islam
   atau partai Dakwah Islam.
   3. Sebab itu, dimata Allah, partai itu hanya dua, yakni Partai Allah dan
   Partai Setan.
   4. Partai Allah atau Partai Islam ialah yang melandasi semua aktivitasnya
   berdasarkan ajaran Islam secara komprehensif, bukan hanya politik praktis,
   dapat diuji kebenarannya melalu metodolgi Islam yang benar, bukan hanya
   klaim belaka, tanpa takut dan khawatir akan bebagai tantangan dan resiko
   yang harus dihadapi dan tidak meniru cara-cara atau langkah-langkah setan
   dalam menjalankan semua aktivitasnya. Tujuannyapun jelas, yakni menggapai
   ridha dan syurga Allah, bukan kekuasaan di dunia, apalagi dalam kondisi
   pendukungnya masih sedikit dan SDM-nya dalam berbagai lapangan masih lemah.
   Kemenangan dunia dalam bentuk kekuasaan tidak ada kaitannya dengan
   kemenangan dakwah jika hukum yang dipakai dan ditegakkan dalam pemerintahan
   masih saja hukum jahiliyah, mayoritas masyarakatnya masih anti terhadap
   Islam, dan keadilan Islam belum bisa ditegakkan. Kalau ada yang mengklaim
   hal tersebut, ketahuilah itu adalah sebuah propaganda kebohongan para
   pemabuk kekuasaan serta kenikmatan dunia yang sedikit dan menipu itu. Selain
   dari Partai Allah itu adalah Partai Setan, apapun bentuk dan namanya serta
   siapapun pemimpin dan pengikutnya.
   5. Partai Allah adalah partai yang menyadari ghoyah / tujuan
   keberadaannya adalah ibadah kepada Allah. Sebab itu urusannya akan terangkat
   ke ufuk yang lebih tinggi yang penuh cahaya. Demikian pula halnya dengan
   intelektualitasnya, perasaannya, dan semua aktivitasnya bersih dari berbagai
   kekotoran yang dilakukan oleh Partai Setan. Karena semua aktivitasnya
   diharapkan bernilai ibadah dengan menjaga eksistensinya sebagai khalifah
   Allah dan berkeinginan kuat menegakkan manhaj Allah di muka bumi, maka labih
   aula baginya untuk tidak melakukan keobohongan, tipuan, kemungkaran, laghwi,
   kesombongan serta tidak meggunakan cara-cara dan alat yang kotor, rendahan
   dan najis sebagaimana yang dilakukan oleh Partai Setan.
   6. Partai Allah adalah partai yang tidak *isti’jal* (tergesa-gesa) ingin
   memetik buah sebelum waktunya, tidak menciptakan jalan sulit dan mendaki
   untuk dirinya. Yang terpenting tujuan ibadah dengan berbagai aktivitasnya
   yang diklaksanakan secara kontinyu tercapai dan dilakuakn dengan niat yang
   ikhlas hanya karena Allah beradasarkan kapasitas dan daya dukung yang ada
   agar terhindar dari kondisi besar pasak dari tiang dan nafsu besar tenaga
   kurang. Untuk mencapai kondisi seperti itu, nafsu syahwat terhadap harta dan
   kedudukan harus mampu dikerangkeng kuat-kuat. Rasa takut dan khawatir harus
   bisa dibuang jauh-jauh dari dalam diri dalam semua marhalah yang harus
   dilewati. Kenapa harus rakus dan tamak terhadap dunia? Kenapa harus khawatir
   dan paranoid dalam menjalankan ibadah kepada Allah? Padahal setiap detik dan
   waktu merasakan rengkuhan tangan dan kasih sayang Allah.
   7. Partai Allah adalah yang memahami sunnatullah dalam perubahan sosial,
   di samping memahami syariat Allah dan sunnah Rasulullah yang tertulis dan
   menjadi acuan moral dan teknis operasional kehidupan. Itu yang dilakukan
   Rasulullah Saw. Rasulullah sadar betul bahwa perubahan sosial itu tidak akan
   pernah terjadi hanya dengan menguasai pucuk kepemimpinan suatu masyarakat
   atau negara sekalipun, jika masyarakatnya belum bisa menerima kehadiran
   manhaj Allah dalam mengatur aturan main kehidupan dengan segala
   tingkatannya. Negosiasi para petinggi Partai Setan di Makkah agar Rasulullah
   menerima kepemimpinan tertinggi, harta yang melimpah dan istri yang paling
   cantik saat itu ditolak mentah-mentah oleh Beliau sambil berkata : Demi
   Allah, jika kalian mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di
   tangan kiriku, aku tidak akan meninggalkan urusan (dakwah) ini. Demikian
   pula halnya bahwa perubahan sosial itu tidak akan pernaha terjadi hanya
   dengan mengejar kuatntitas dan bukan kualitas.
   8. Sebab itu, Partai Islam adalah partai yang mencontoh Rasul Saw di mana
   dakwah dengan pengertian yang benar dan disertai dengan aktivitas yang
   komprehensif yang menjadi panglima. Bukan politik praktis yang menjadi
   panglima dan menjadi segala tumpuan harapan. Apalagi politik praktis itu
   dijadikan jalan tol pragmatisme para elitnya. Jika hal tersebut yang
   terjadi, ketahuilah partai tersebut sedang menuju kehancuran dan sedang
   menggali lubang kuburnya sendiri karena sudah dapat dipastikan akan
   melanggar, meninggalkan dan meremehkan berbagai ajaran Islam yang
   fundamental alias mengikuti langkah-langkah setan. Karena dalam hidup ini
   Allah telah gariskan hanya ada dua jalan, jalan Allah/ Islam atau jalan
   setan.
   9. Partai Islam adalah partai yang menjadikan ikatan akidah atau iman
   sebagai ikatan utama dan terutama, tanpa melihat warna kulit, status sosial,
   kontribusi harta, keturunan, bahasa dan suku. Semua kerjasama (*taawun*)
   yang dibangun dengan siapaun dan kelompok manapun harus mengacu kepada pakem
   akidah dan aturan main Islam, apalagi dalam memilih pemimpin negara dan
   pemerintahan lainnya. Lain halnya dengan Partai Setan, akidah, syariaah dan
   akhlak tidak menjadi ketentuan. Yang penting baginya adalah kepentingan.
   Warna warni ideologi tidak menjadi perkara selama menguntungkan  elite dan
   grupnya dari sisi dunia.


   1. Partai Islam adalah partai yang memiliki visi dan misi seperti yang
   diucapkan salah seorang sahabat bernama Rib’i ibnu ‘Amir saat
   berhadap-hadapan dan bernegosiasi dengan penguasa Persia yang bernama
   Rustum. Saat menuju ruang kerja (duduk-duduk) sang penguasa, yang dihampari
   karpet merah yang berkualitas terbaik di dunia saat itu, Rib’i
   merobek-robek dengan pedangnya sehingga membuat murka prajurit yang sedang
   bertugas menjaga sang penguasa. Saat ditanya siapa yang mengutus pasukan
   Islam ke sana dan apa tujuannya, Rib’i menjelaskannya dengan enteng dan
   terus terang : “Kami diutus Allah kemari dengan misi : *-* Membebaskan
   manusia dari mengabdi kepada sesama manusia dan hanya mengabdi kepada Allah
   Ta’ala. *- *Menyelamatkan mereka dari kejahatan berbagai ideologi,
   pemikiran dan konsep dengan keadilan Islam. *-* Menyelamatkan manusia
   dari kesempitan (teritorial dan kehdupan) dunia kepada kelapangan dunia dan
   kelapangan akhirat (masuk syurga).
   2. Sebab itu, partai Allah tidak akan pernah dapat bekerjasama dengan
   Partai Setan dalam menegakkan hukum dan ajaran Allah. Hal tersebut
   disebabkan  visi dan misi yang berseberangan 180 derajat. Partai Allah
   menuju keridhaan dan syurga-Nya. Sedangkan Partai Setan menjemput murka dan
   neraka Allah. Lalu bagaimana jika di antara keduanya bergandeng tangan,
   apalagi dengan agenda-agenda yang tidak sesuai dengan tujuan Islam, baik
   yang tersembunyi mapun yang terang-terangan, ketahuilah telah terjadi
   pencampuran antara Al-Haq dengan Al-Bathil yanag sangat dilarang Allah.
   Sebab itu, harus segera ditinggalkan, jika nasehat dan peringatan sudah
   diabaikan.

Saudaraku yang dirahmati Allah. Sebelum melangkah dan berbuat lebih jauh,
fikirkanlah masak-masak apakah langkah dan perbuatan itu akan membawa kita
bergabung ke dalam Partai Allah atau justru ke dalam Partai Setan. Semoga
Allah selalu mejaga kita dari godaan dan tipu daya setan, la’natullahi
‘alih, baik dari kalangan jin maupun manusia. Amin. Wallahu a’lamu
bish-showab.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------


===
Paket Umrah Mulai US$ 1.490
Paket ONH Plus 2009 (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
Ingin belajar Islam? Kirim email ke [email protected]

Dapatkan buku-buku Islami di DemiMasa Online Bookstore http://www.demimasa.co.id

Jual Rumah Baru di Otista Kampung Melayu Jakarta Timur Rp 650 juta. Info: 
http://agusnizami.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke