Assalamualaikumwarahmatullaahiwabarakaatu.
Keadilan para sahabat(7)
** Allah memelihara sunnah, sebagaimana Allah memelihara AlQuranulkariim.
Ikhwaaniy, waakhwaatiy jamii'an rahimakumullaahulakum waliya, waliwaalidaynaa,
waliazwaajinaa, waliawlaadinaa walijamii'ilmuslimiina fi anhaailaalamiin.
Arju minkum al'afwa lisabit taakhuriy fi haadziHilhalqati almubaarakati
natahadtsu a'nHa 'an ta'iilisshahaabati jamii'an.
Subhanallah, memang sulit bagi kita akan meniru sikap hidup mereka. Dan benar
jugalah apa yang disabdakan Rasulullah SAW : " Jikalau kamu menafkahkan harta
kamu sebesar atau seberat atau setinggi gunung, kamu tidak akan bisa menyamai
amalan dari para sahabat".
Dan hadits ini benar adanya, betapa sulitnya bagi kita untuk bisa hidup
sebagaimana kehidupan para sahabat, berjuang mati-matian dijalan Allah dengan
jiwa dan raga, serta hartanya, padahal sebahagian besar para sahabat banyak
yang kaya raya, tapi tak jarang diantara mereka lebih mementingkan jihad
fisabilillah ketimbang kepentingan pribadi mereka.
Lihat sajalah, ketika turun ayat : " Lan tanaalulbirraa hatta tunfiquu mimmaa
tuhibbuun "( Kamu tidak akan bisa mencapai kebaikan sehingga kamu menafkahkan
apa yang kamu cintai).Para sahabat setelah mengetahui ayat ini, selalu
menafkahkan apa yang mereka cintai. Sementara kita bagaimana? Kita bisa jawab
sendiri.Dan sangat banyak lagi kisah-kisah asshahihah yang menguatkan hati
saya bahwa apa yang dikatakan oleh rasulullah mengenai para sahabat itu, benar
adanya.
Sekarang kita lihat benarkah Allah memelihara sunnah sebagaimana Allah
memelihara AlQuran?
Topik ini saya ringkas, pada hakikatnya ia ada 479 halaman. " Hifdzullaahi
assunnata"karangan "Ahmad faaris saalum"(almarhum), mungkin belum diterjemahkan
kedalam bahasa Indonesia, cetakan pertama baru tahun 2003. Didalam buku
tersebut beliau menjelaskan apa itu hifdz dari sisi bahasa dan defenisinya,
juga menjelaskan secara ringkas bagaimana cara para ulama menjaga sunnah
asshahihah itu.
** Allah 'azza wajalla memelihara sunnah dan dalilnya atas hal tersebut.
Apa yang dimaksud dengan assunnah almahfuudzah(sunnah yang terpelihara?)
Imam Muqayyadah mengatakan:
Ia adalah sunnah yang sudah ditetapkan penjagaan dan pemeliharannya, yaitu apa
yang diriwayatkan kepada kita dan disandarkan kepada nabi Muhammad SAW, baik
itu perkataan, perbuatan, ketetapan, atau apa yang disandarkan dengan
sejarahnya, baik dalam keadaan beliau bergerak atau diam(tenang).Semua diatas
itulah yang dikatakan "Assunnah almahfuuudzah".
Lantas, bagaimana kita mengambil sunnah rasulullah tersebut sebagai pedoman
hidup kita, sebagaimana kita memegang petunjuk AlQuran itu?
Dalilnya dari apa yang diperintahkan oleh Allah ta'ala juga dalam firmanNya(
Wamaa aataakumurrasuulu fakhudzuuhu, wamaanaHaakum 'anHu fantahuu), " Dan
apa-apa yang didatangkan atau diberikan oleh Rasulullah maka ambillah oleh
kamu(maksudnya pegang dan amalkan), dan apa-apa yang dilarangnya, maka jauhilah
oleh kamu".
Juga dalam firmanNya dalam surah AnNajmu(1-4), yang sudah saya sebutkan
sebelumnya pada awal pembicaraan kita.
Dalil apalagi yang kita perlukan sesudah pernyataan tegas dari Allah 'Azza
wajalla ini?.
Sekarang kita lihat lagi hadits dari Abdullah bin Amr bin 'Ash, disaat beliau
hendak menulis hadits Rasulullah SAW, baik itu dalam keadaan marah, dalam
keadaan ridha, Rasulullah adalah jenis manusia juga, bisa marah sebagaimana
manusia bisa marah, maka ketahuilah Rasulullah SAW bersabda : " Tulislah, maka
demi Allah yang jiwaku ada ditanganNya, tidak akan keluar dari diriku selain
yang haq(benar)"(dalam riwayat lain dikatakan tidak aku katakan kecuali yang
haq)(H.R Ahmad di dalam musnadnya dengan isnad yang shahih, dan Atthahawiy
mengambil hadits ini dalam penjelasannya dalam buku "Syahrulma'aani'atsaar).
Cukup banyak hadits yang menjelaskan bahwa sunnah Rasulullah wajib untuk
diikuti dan diamalkan.
Kita lihat secara dekat dalil Allah memelihara sunnah.
1)
Bahwa sunnah itu merupakan :"Addzikru". Yang mana Allah menjadi kafil(yang
bertanggungjawab atas pemeliharaannya) didalam firmanNya : " Innaa nahnuu
nazzalnaa adzzikra wainnaa laHuu laHaa fidzuun "( Sesungguhnya kamilah yang
menurunkan Adzikra, dan kami pulalah yang memeliharanya).
Darimana kita menetapkan bahwa "Adzikri", selain kata tersebut dimaksudkan
adalah AlQuran, juga addzikru itu juga assunnah?.(sekali lagi ingat pembahasan
yang pertama, yang dimaksudkan assunnah disini adalah sunnah, atau hadits yang
berasal dari rasulullah SAW yang shahihah).
Kita lihat arti dari " Addzikru" itu. Addzikru itu adalah masdar (bersumber)
dari kata " Dzakara-Yadzkuru"., (disebutkan, diingatkan), yang kita ketahui
dalam agama kita yang disebutkan pada kita adalah Alkitab dan Assunnah,
sebagaimana firman Allah " Wadzkurna maayutlaa fiibuyuutikunna min
aayaatillaahi walhikmati".
" Faaayaatillaahi adalah AlQuran, sementara Alhikmah adalah Assunnah"
Al Qurthubi mengatakan : Lafadz Addzikru mengandung tiga pengertian(silahkan
lihat tafsiran beliau tafsir Al Ahkaam dalam menafsirkan ayat diatas bila ingin
lebih dalam lagi).
a) Yaitu sebutkanlah oleh kamu tempat-tempat kenikmatan yang diberikan oleh
Allah Ta'ala kepada kamu didalam rumah yang mana dibaca disana ayat-ayat Allah
dan hikmah(sunnah).
b), Sebutkanlah oleh kamu ayat-ayat Allah dan berfikirlah kamu untuk itu.
c), Udzkurna bemaknakan ihfadzna. Peliharalah perintah Allah dan perhatikan
laranganNya.
Imam Ibnu Quthaibah Addainawiriy rahimahullaahu Ta'ala berkata : " Sesungguhnya
Rasulullah tidaklah mengetahui hukum-hukum selain apa yang disebutkan Allah
'Azzawa jalla, dan juga Allah tidak menurunkan secara sekaligus, tetapi
berangsur-angsur, melalui Jibril.
Ismail bin 'Ubaidillah bin Abi Al Muhajiq rahimahullahu berkata : " Wajib atas
kita ummat Islam memelihara hadits Rasulullah, sebagaimana kita memelihara
AlQuranulkariim, karena Allah berfirman : " Wamaaataakumurrasuulu
fakhudzuuhu…dst".
Imam Ahmad Ibnu Faris, pengarang buku hifdzullaahi assunnah mengatakan bahwa
wahyu Allah 'Azza wajalla kepada rasulNya terbagi kepada dua.
Pertama : Wahyu yang matlu(dibaca dapat pahala),mu'jizat yang teratur yaitu
AlQuran.
Kedua : Wahyu yang marwiyun"diriwayatkan", yang diriwayatkan tanpa berbentuk
semacam AlQuran, seperti suatu buku, tetapi tidak beraturan letaknya, dan
membacanya tidak merupakan pahala(namun mempelajari segala sesuatu hal yang
baik, kalau niat ikhlas lillahi ta'ala, apapun ibadah dapat pahala juga).,
inilah khabar yang datangnya dari Rasulullah SAW, yaitu penjelasan beliau akan
maksud-maksud AlQuran.
Dan Rasulullah datang sebagai manusia yang dipilih untuk memberikan penjelasan
AlQuran ini, sudah termaktub dalam AlQuran( Litubayyinaa linnaasi maanuzzila
ilaihim)" Untuk menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka.
Kalau saja AlQuran itu sudah jelas, sebagaimana anggapan mereka, buat apa Allah
menfirmankan sebagaimana ayat diatas? Sebagaimana Allah berfirman : "
Athii'ullaaha waathii'urrasuula "(Taatilah Allah dan ta'ati Rasul). Dalam ayat
tersebut, Allah memakai kata penghubung " waw, yang berratikan "dan", tidak
kata penghubung " Au" berartikan " Atau". (taatilah Allah atau Rasul), ini
menandakan apa? Menandakan kedua-duanya harus ditaati, bukan salah satu
diantara keduanya. Bukan Allah saja, tetapi rasulNya juga. Maka batallah hujjah
ingkar sunnah yang menafikan adanya sunnah, atau hadits Rasulullah. SAW.
Dan tanda-tanda orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat adalah dengan
mengembalikan segala persoalan kepada Allah dan rasulNya. Lihat firman Allah "
Waintanaaza'tum fiy syaiin farudduuhu ilallaaHi wararasuuliHi"(Dan jika kamu
bertengkar(berdebat, berselisih), maka kembalikanlah persoalan itu kepada Allah
DAN kepada Rasulullah SAW.".
Kemudian Allah berfirman :" Innaa nahnu nazzalnaa addzikra, wainnaalaHu laHaa
fidzuun", firman Allah dalam ayat yang lain : " Qul Innamaa undzirukum
bilwahyi"(Katakanlah wahai Muhammad, sesunguhnya aku memberi peringatan kepada
kamu dengan wahyu).
Dalam ayat yang berlalu, sudah kita jelaskan bahwa Rasulullah tidaklah
berbicara, dari hawa nafsunya, tetapi merupakan wahyu dari Allah juga. Dan kita
tahu bahwa wahyu itu terpelihara oleh Allah sendiri.
Jadi jelaslah disini bahwa wahyu Allah, baik itu wahyu berupa AlQuran, atau
wahyu berupa sunnah atau hadits asshahihah, dan kita tahu bahwa wahyu itu
merupakan addzikri juga, maka jelaslah dijamin Allah kedua-duanya. Batal lagi
untuk kesekian kalinya hujjah mereka yang ingkar sunnah itu.
Ada yang bilang, : "Oh tidak, AlQuran terjamin, karena sudah jelas
kitabnya".Dan perlu kita pertanyakan, darimana mereka mendapatkan AlQuran itu,
apakah dulunya langsung datang sekaligus berbentuk AlQuran seperti yang kita
lihat sekarang ini?.
Tidak, sudah kita jelaskan bahwa AlQuranpun turun berangsur-angsur, sebagaimana
haditspun begitu. AlQuran sampai kepada kita melalui para sahabat, sebagimana
haditspun begitu, dst..dst..bahkan ada sebahagian nama dari surat-surat AlQuran
itu, para sahabat yang menamainya.Lihatlah betapa banyak nama dari surah Al
Fatihah, ada yang bilang Ummulkitab dsb. Surah Al waqi'ah mempunyai banyak nama
dst.
Dalil yang kedua :
Sesungguhnya pemeliharaan yang sempurna dalam AlQuran itu, sebagaimana yang
dimaksudkan Allah Ta'ala bukan sekedar pemeliharaan lafaz(kata)nya saja, tetapi
juga pemeliharaan maknanya." Waanzalnaa ilaika addzikra, litubayyina linnaasi
maanuzzila ilaiHim".
Dalam firman Allah diatas dijelaskan bahwa kedudukan sunnah adalah sebagai
penjelasan terhadap AlQuran. Dan sebaik-baik penjelasan adalah tafsir AlQuran
bilQuran kemudian tafsir AlQuran bissunnah(yang disebut dengan tafsir
bilmaktsur). Dan kedua-dua penjelasan itu baik tafsir AlQuran bilQuran atau
AlQuran bissunnah, kedua-duanya yang menjelaskannya adalah rasulullah SAW, dan
disampaikan beliau kepada para sahabatnya, para sahabat ke para Tabi'in,
tabi'in ke tabi'tabi'in dst..dengan silsilah yang benar-benar ketat dan teliti.
Al Muqayydah berkata : " Apabila As sunnah sebagai mufassir dari AlQuran, sudah
pasti dari kesempurnaan yang ditafsirkan(AlQuran) dengan pemeliharaan yang
menafsirkan(Assunnah).Bukankah Allah sudah berfirman : " Sesungguhnya kami
menurunkan kepada engkau (wahai Muhammad), akan AlQuran itu untuk memberikan
penjelasan(penafsiran) terhadap manusia akan apa yang dirunkan kepada mereka
itu. Batal untuk kesekian kalinya hujjah orang yang ingkar sunnah.
Sahabat yang di madzluumi(dianiaya).
Tidak ada seorang sahabatpun yang paling dianiaya selain penganiayaan terhadap
Abu Hurairah.radhiallahu'anhu. Abu Rayyah mengatakan dalam bukunya tersebut
bahwa Imam Quthaibah telah mengkritik Abu Hurairah yang benarnya adalah ,Abu
Quthaibah dalam bukunya " takwil mukhtalifilhadits justru membela Abu Hurairah
dengan pembelaan seorang yang berakal dan berilmu, semoga Allah memberikan
balasan pada beliau(Addifa' 'anissunnah oleh Ibnu Shahbah hal 94).
Kaum orientalis berusaha untuk membuat keraguan ummat Islam terhadap agamanya,
dan salah satu cara mereka adalah dengan memberikan keraguan ummat pada sumber
kedua hukum Islam yaitu sunnah asshahihah dan mengurangi rasa tsiqqah(percaya
terhadap sunnah tersebut dengan mergukan para perawi dan sahabat.
Kita tahu bahwa Sunnah adalah penjelasan terhadap AlQuran. Apabila ummat Islam
sudah merasa aneh terhadap AlQuran, alias tidak lagi faham arti dan maksud
serta penafsiran AlQran itu sendiri, maka berhasillah missi oreientalis dan
sejenisnya, untuk melemahkan ummat islam dari agama mereka sendiri.
[Non-text portions of this message have been removed]