http://www.republika.co.id/berita/44906/Perspektif_Peradaban_Islam_Indonesia
*Perspektif Peradaban Islam Indonesia*
*JAKARTA*- Agama dirumuskan para cendekiawan sebagai unsur pokok dalam suatu
peradaban. Agama menurut para cendekiawan merupakan faktor terpenting dalam
menentukan karakteristik peradaban.
Tanda-tanda kehancuran suatu peradaban dapat dilihat sejauh mana unsur utama
peradaban tersebut dapat terpelihara dengan baik. “Jika agama yang menjadi
pondasi utama peradaban sudah rusak, dapat diartikan peradaban telah
mengalami perubahan yang sangat signifikan. Mungkin juga peradaban tersebut
hanya tinggal nama. Tetapi hakikatnya peradaban itu sudah rusak atau
hancur,” ujar Adian Husaini, Doktor bidang peradaban Islam di International
Institute of Islamic Thought and Civilization International Islamic
University Malaysia (ISTAC-IIUM), Sabtu (18/4) dalam acara tasyakur dan
orasi ilmiah di Aula Masjid Al Furqon.
Menurut Adian berbagai perdebatan seputar hubungan agama dan negara di
Indonesia dan diskursus tentang Islam dan sekulerisme dalam sejarah
perjalanan Indonesia bisa dijadikan bahan untuk melakukan introspeksi
perjalanan bangsa. Umat Islam seharusnya dapat melihat secara cermat
peradaban mana akan dikaitkan, pada masa lalu atau masa mendatang. Dikaitkan
dengan peradaban Islam, peradaban Jawa, atau peradaban Barat atau dengan
meramu ketiga unsur nilai dasar peradaban menjadi peradaban baru.
Sejak zaman VOC, Belanda mengakui hukum Islam di Indonesia. Kemudian pada
tahun 1855, Belanda mempertegas pengakuannya terhadap hukum Islam di
Indonesia. Dalam sejarah disebutkan perjuangan Pangeran Diponegoro, untuk
menegakkan Islam di Tanah Jawa.
Para Orientalis Belanda dalam usaha meminggirkan Islam dalam sejarah
nasional Indonesia menjadikan Kitab Darmagandul sebagai bahan rujukan
penulisan sejarah. Bahkan seorang orientalis Belanda, GWJ Drewes menjadikan
rujukan kitab itu untuk menggambarkan islam sebagai agama yang ditolak oleh
orang Jawa.
Dalam kitab itu juga digambarkan seharusnya Al Quran tidak digunakan lagi
sebagai pedoman dalam kehidupan manusia karena keberadaannya meresahkan.
Kasus kitab Darmogandul menunjukkan kitab ini dirancang untuk menepikan
Islam dari kehidupan masyarakat.
Adian mengungkapkan, sebagaimana yang diungkapkan M Natsir, ada tiga
tantangan dakwah yang dihadapi umat Islam Indonesia, yaitu pemurtadan,
gerakan sekulerisasi, dan gerakan nativisasi. Dengan demikian, umat Islam
harus mencermati secara serius gerakan nativisasi yang dirancang secara
terorganisir, yang biasanya melakukan koalisi dengan kelompok lain yang
tidak senang pada Islam
Dikatakan Adian, Natsir dulu pernah mengkhawatirkan sekulerisasi dan
pembaharuan yang dibuka tanpa kendali. Peristiwa-peristiwa tragis dalam
dunia pemikiran Islam Indonesia susul menyusul berlangsung secara liar dan
tidak dapat dikendalikan.
Saat ini di tengah-tengah era liberalisasi dalam berbagai bidang,
liberalisasi pemikiran Islam juga menemukan medan yang kondusif karena
didukung secara besar-besaran oleh negara-negara Barat. Sekulerisasi dan
liberalisasi Islam juga dilakukan secara besar-besaran di 500 Perguruan
Tinggi Islam (PTI) di Indonesia.
Begitupula dengan Piagam Jakarta yang ditolak karena adanya unsur-unsur
Islam dalam kehidupan kebangsaan Indonesia. Padahal, mayoritas penduduk
Indonesia muslim. Slah satu poin terpenting Pancasila “ Ketuhanan, dengan
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”
Adian menggarisbawahi peradaban Islam akan dapat terwujud jika umat Islam
dapat membangun satu bentuk perjuangan yang cerdas dan ikhlas. Secara
internal, para pejuang Islam dituntut memiliki kemampuan keilmuan yang
tinggi dan hati yang ikhlas.
Tiga tantangan yang disebutkan M Natsir, yaitu pemurtadan, sekulerisasi, dan
nativisasi harus dapat direspon dengan cerdas dan bijaksana oleh umat Islam.
“ Tantangan tersebut tidak boleh membuat kita loyo, tetapi kita harus
bersemangat menghadapi semua tantangan tersebut,” ujarnya.
Tantangan terberat saat ini melalui gerakan liberalisasi Islam. Gerakan ini
didukung kekuatan-kekuatan global yang masih memendam sikap islamofobia,
dengan menyebarkan paham Pluralisme Agama, kesetaraan gender dan gerakan
liberalisasi lainnya yang berusaha meruntuhkan pondasi islam, dnegan
mendangkalkan akidah Islam dan merombak tatanan kelurga dan sistem sosial
Islam.
Adian mengharapkan kaum Muslim dapat menekuni berbagai bidang dengan
sungguh-sungguh dan sabar agar dapat menjadi teladan masyarakat. Dia memberi
contoh, dalam lapangan politik, partai-partai Islam dan para politisi Muslim
harus menjadi politisi teladan, baik dalam pemikiran maupun perilaku.
“Mereka harus cerdas dan zuhud,” tegasnya.
Sedangkan dalam bidang pendidikan, sekolah-sekolah dan pesantren dan
perguruan tinggi Islam harus diarahkan untuk menghasilkan pelajar dan
sarjana yang unggul, beradab dan menjadikan Rasulullah sebagai uswah. Dalam
bidang ekonomi, Adia mengharapkan lembaga-lembaga ekonomi syariah
benar-benar menjadikan iman, ilmu dan ketakwaan sebagai landasan aktivitas
perekonomian, dan bukan berlandaskan pada pragmatisme ekonomi.
Begitu juga di bidang lain, seperti sosial, budaya, informasi, sains dan
teknologi. Umat Islam juga dituntut bekerja keras agar dapat menunjukkan
bahwa Islam sebagai rahmatan lil'alamin.C85/kpo
/