Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Tulisan ini aslinya 10 episode, namun ada yang terposting 2 episode sekaligus,
menjadi 9 episode.
Perlu diketahui, tulisan ini muncul dilatar belakangi oleh diskusi2 saya yang
sampai bulanan, bahkan tahunan kali(karena tak pernah habis-habisnya),
pengelola para pecinta salah satu Adat tidak bisa menerima statement saya, yang
menyatakan bahwa ada didalam Adat itu yang bertentangan dengan agama, meski
dengan segala argument saya kemukakan dengan dalil dalam agama, Sampaipun
dibawa kemuka face to face dalam sebuah lokakarya/seminar Nasional di Padang
yang diadakan oleh badan Komnas Ham, di prakarsai oleh ketuanya.
Dalam loka karya itu sempat saya di katakan penganut dari pemikiran Ahmad
Chatib Al Minangkabawi, salah seorang ulama berasal dari Minangkabau yang
puluhan tahun menjadi Imam Mesjidil Haram, beliau pergi merantau ke Mekkah yang
saya dengar pergi merantau itu, karena tidak setuju dengan Adat Minangkabau
terutama warisan harta pusaka tinggi yang jatuh pada garis keturunan Ibu saja.
Nah, dengan makalah yang cukup panjang lebar saya kemukakan di seminar itu,
mungkin bikin hati pecinta Adatnya panas, maka saya dikatakan penganut dari
Ahmad Chatib tersebut. Padahal, saya sebelumnya sama sekali tak tau siapa
beliau, dan belum pernah membaca tulisan-tulisan ataupun
pemikiran-pemikirannya. Kritikan saya terhadap Adat yang bertentangan itu, asli
dari pemikiran saya sendiri setelah melihat adanya kejanggalan dan kesalahan
yang saya ketahui dari ilmu agama yang saya pelajari.
Aneh bin ajaib dalam seminar itu setelah diskusi panjang dan berbagai argument,
mereka mengakui kebenaran atas argument dan dalil yang saya sampaikan, tetapi
setelah selesai seminar. Apa yang saya dengar bisikan dari para petinggi Adat
tersebut sesama mereka diruangan makan.:"Iyokan diawak, lalukan
diurang,..biarkanlah dia mengomong, yang penting kita tetap sebagaimana adat
kita".
(Wah,..luar biasa, saya pikir, begitu kuatnya Adat nenek moyang mereka mereka
pegang, padahal saya sendiri termasuk putri dari daerah itu, namun bagi saya
Islam itu tetap lebih tinggi dari apapun, meski kita harus melawan orang yang
kita cintai sekalipun, namun tetap cinta Allah/agamanya jauh lebih diutamakan
dari apapun dan siapapun, ini adalah prinsip saya). Ini sekedar penjelasan asal
muasal tulisan ini timbul, karena pada umumnya tulisan-tulisan sifatnya
keilmuwan, bukan berupa pengalaman hidup saya timbul karena sebuah kebutuhan
dakwah menegakkan kalimah Allah semata, . Inspirasi itu muncul karena ada
"sesuatu masalah", sesuai dengan keterbatasan ilmu yang diberikan Allah Ta'ala
pada saya.
e) Tiupan Mujarab.
Seorang dukun penyakit dalam masyarakat animisme
seringkali menyembuhkan pasiennya selain dengan mantra
dan sajen, juga dengan tiupan mujarab. Setelah
berkomat-kamit mengucapkan mantra, biasanya ia
meniup-niup anggota badan si pasien dengan tujuan agar
ruh jahat yang menempel pada diri si pasien segera
terusir. Perbuatan semacam ini termasuk syirik.
Rasulullah bersabda :"barang siapa yang mengikat
bundelan, kemudian meniup-niupnya, maka sesungguhnya
ia menyihir, dan orang yang menokohkan sihir itu
adalah musyrik."(H.R. An Nasai dari Abu Hurairah).
f) Patung
Salah satu kepercayaan masyarakat Purba adalah patung,
atau lukisan orang-orang terhormat yang dikeramatkan.
Dan masih banyak lagi kepercayaan-kepercayaan yang
semacam ini masih bekembang di Indonesia, dimana semua
itu ngak ada landasannya sama sekali dalam Islam,
kecuali Bid'ah-bid'ah dan menjurus kepada kesyirikan,
disadari ataupun tidak disadari oleh umat islam itu
sendiri.
g. Dan masih sangat banyak lagi pengaruh animisme
dalam umat islam di Indonesia.
Kini kita lihat bagaimana pandangan Imam As Syuhuthi
dalam menanggapi amalan baru ini(Bid'ah), apa-apa saja
yang menurut beliau termasuk dari amalan Bid'ah?
1). Termasuk amalan baru menurut beliau adalah
menyerupai atau menyetujui orang-orang kafir dalam
hari-hari besar serta pesta pora yang terkutuk.
Ada juga sebahagian orang yang memotong tanduk-tanduk
sapi, kerbau, kambing dan memberinya tanduk khusus
dengan maksud agar mendapatkan berkah. Semua pekerjaan
itu adalah batil, dan tak diragukan lagi keharamannya.
Rasulullah bersabda : "barang siapa yang menyerupai
suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.(H.R Abu
Daud dan lainnya)
2). Apa yang dikira orang banyak sebagai ketaatan dan
peribadatan, padahal sebaliknya.
Allah Subhanahu Wata'ala berfirman : "..Dan janganlah
kamu membuat kerusakan dimuka bumi ini. Mereka
menjawab "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
mengadakan perbaikan, ingatlah bahwa sesungguhnya
merekalah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi
mereka tidak menyadarinya."(Al Baqarah 11-12)
Abu Hamid al Ghazali rahimahullah berkata : "Maka
cukuplah bagi kita untuk melaksanakan ketaatan kepada
Allah dengan tidak menjaga(menunggu-nunggu) waktu
tertentu, syarat-syarat dan urutan tersendiri.
Sebahagian orang yang bodoh terpedaya dengan firman
Allah "wasjud waqtarib"(Maka sujudlah kamu dan
dekatkanlah dirimu (kepada Tuhan).
Mereka menyangka bahwa ayat itu umum untuk segala
waktu, dan mereka berpegang erat pada firmanNya yang
berbunyi."Bagaimanakah pendapatmu tentang orang-orang
yang melarang seorang hamba yang ianya sedang
shalat?(Al Alaq 9-10).
Mereka lupa bahwa shalat yang dapat mendekatkan diri
kepada Allah adalah shalat yang memang diserukan,
yaitu yang disyari'atkan.
Sedangkan apabila seseorang mengerjakan sesuatu yang
telah kita ketahui bahwa pembuat syari'at melarangnya,
maka wajib atas setiap orang yang mengetahui untuk
melarangnya bagaimana telah ditetapkan dalam hadits
shahihaini.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa nabi
Shallallahu'alaihi wasallam melarang untuk melakukan
shalat setelah shalat subuh hingga terbitnya matahari,
dan setelah asar sampai terbenamnya matahari.". Dan
masih sangat banyak lagi bid'ah-bid'ah yang dilakukan
umat zaman sekarang ini seputar masalah shalat-shalat
Sunnah puasa-puasa sunnah, yang semuanya tidak ada
landasannya dari hadits yang shahih. (Untuk lebih
lengkapnya, silahkan di baca buku amalan baru karangan
Imam As Syuhuthi yang sudah diterjemahkan cetakan
Darul Hikmah.).
Dan masih banyak lagi penyebab mengapa seseorang
melakukan Bid'ah, juga peyebab mengapa seseorang tidak
beramal sesuai dengan AlQuran dan Assunnah. Salah
satunya juga adalah Talbisul Iblis. Dan lainnya.
Tetapi secara garis besarnya saja sudah saya
ungkapkan. InsyaAllah, masuk kelak pembahasan kita
dalam masalah siapakah itu yang disebut dengan
golongan yang selamat. Golongan yang mengikuti AlQuran
dan Assunnah, apakah manhaj mereka dalam agama ini?
Terlebih dan terkurang saya mohon maaf bila ada
kekurangan dan kesalahan dalam pemaparannya. Mengenai
referensi, bisa dibaca dipertengahan tulisan saya,
sebab saya membaca bukan dari satu buku saja, agar
lebih jelasnya dimana saya ambil pembahasan yang
sedang saya tulis, silahkan di ruju' pada kitab dan
pengarang yang saya tulis tersebut.
Wassalamu'alaikum. Rahima.Sarmadi Yusuf (Cairo, 16
Maret 2008).
[Non-text portions of this message have been removed]