Posted by: "oom badriah oom" [email protected]   venus_shining 
Mon Apr 20, 2009 3:58 am (PDT) 




Andai Kartini Khatam Mengaji... 
 
Sejarah, penggal waktu yang telah ditinggalkan. Sejarah, hanyalah saksi bisu 
yang bergantung pada kacamata manusia untuk membacanya. 
Sejarah bisa berarti beda jika kacamata baca manusia juga berbeda. 
Adalah sebuah keharusan untuk membaca sejarah secara obyektif berdasarkan 
fakta. 
Demikian halnya dengan perjuangan Kartini. Benarkah Kartini menginginkan kaum 
wanita
mengejar kesetaraan kedudukan dengan kaum laki-laki di semua bidang ?
Obyektifitas adalah syarat utama untuk mengkaji sebuah sejarah. Tanpa ada 
semangat obyektifitas, sebuah peristiwa sejarah dapat dimaknai dan 
disalahgunakan sesuai dengan kepentingan pihak yang bersangkutan. Untuk 
mendukung sebuah pendapat atau mewujudkan sebuah tujuan, kisah sejarah bisa 
dipenggal, dihilangkan atau justru ditambahi penekanan pada bagian-bagian 
tertentu. Penyusunan sejarah seperti ini hanya akan mengantarkan masyarakat 
kepada sebuah kesimpulan yang salah, bukan kepada pelajaran sebenarnya yang ada 
dibalik kisah kehidupan sang tokoh.
Demikian halnya dengan sejarah perjuangan R.A Kartini. Selama ini yang dipahami 
dan dicatat dari perjuangan Kartini adalah semangat emansipasi untuk menjadikan 
kaum wanita mempunyai hak yang sama dan sejajar dengan kaum laki-laki. Sehingga 
yang terlihat kemudian adalah wanita Indonesia yang tergopoh-gopoh untuk 
menempatkan diri pada posisi-posisi yang didominasi oleh kaum pria. Kata 
"emansipasi" telah bergeser kearah liberal, gender, feminisme dan ide-ide 
penentangan terhadap fitrah kaum wanita yang memang berbeda dengan lawan 
jenisnya. 
 
Kartini, Antara Dominasi Adat dan Pengaruh Barat 
 
Menelisik kehidupan seorang tokoh tak terlepas dari lingkungan internal dan 
eksternal yang membentuk kepribadiannya. Kartini tumbuh dalam dua suasana dan 
pemikiran yang saling bertentangan satu dengan yang lain. Sebagai keturunan 
ningrat, Kartini tumbuh di lingkungan yang kuat dengan adat istiadat.
Di satu sisi, keningratan yang ada padanya, memungkinkan Kartini untuk memiliki 
teman-teman dari Belanda yang mengagungkan kebebasan. Dari surat-surat Kartini 
yang terhimpun, nampak bahwa jalinan persahabatan ini telah menyumbangkan 
sebuah pemikiran tersendiri bagi perkembangan dirinya.
Kartini tumbuh di lingkungan Jawa yang teguh memegang adat-istiadat. Di tengah 
kuatnya dominasi adat, Kartini berani berdiri untuk menantang semua adat itu. 
"Peduli apa aku dengan segala tata cara itu... segala peraturan, semua itu 
bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan 
bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu... tapi sekarang mulai 
dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara 
lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara 
liberal itu boleh dijalankan" (Surat Kartini kepad Stella, 18 Agustus 1899).
Kartini memahami bahwa setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk 
mendapat perlakuan yang sama. Kartini menolak adat Jawa yang membedakan manusia 
berdasarkan asal keturunannya.
Kebencian Kartini terhadap segala bentuk etiket yang diskriminatif, 
mendorongnya untuk mengintip nilai-nilai yang berlaku di kalangan teman-teman 
Belandanya. Kartini menganggap bahwa peradaban mereka lebih tinggi dibandingkan 
masyarakat Jawa. Hal ini terungkap dari petikan suratnya "Orang kebanyakan 
meniru kebiasaan orang baik-baik; orang baik-baik itu meniru perbuatan orang 
yang lebih tinggi lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang 
Eropa" (Surat Kartini kepada Stella, 25 Mei 1899).
Tak salah jika Kartini memiliki kesimpulan seperti itu. Penjajah Belanda telah 
berhasil menanamkan rasa rendah diri kepada masyarakat pribumi. Diskriminasi 
yang dilakukan Belanda telah mengajarkan bahwa pribumi atau bangsa Timur adalah 
rendah dan bangsa Barat adalah mulia.
Kartini menyimpulkan bahwa pangkal kemunduran dan rasa rendah diri yang dialami 
oleh masyarakat adalah mundur dan minimnya pendidikan yang mereka rasakan. Kaum 
pribumi adalah kaum terbelakang dan bodoh. Pendidikan menjadi hak paten bagi 
kalangan ningrat dan para penjajah.
Titik tolak perjuangan Kartini diawali dengan membenahi pendidikan di kalangan 
pribumi, tak terkecuali kaum wanita. Kartini membuat nota yang berjudul 
"Berilah Pendidikan Kepada Bangsa Jawa" kepada pemerintah kolonial. Dalam nota 
tersebut, Kartini mengajukan kritik dan saran kepada hampir semua Departemen 
Pemerintah Hindia Belanda, kecuali Departemen angkatan Laut (Marine). 
Kartinipun merasa perlu untuk belajar ke Barat. "Aku mau meneruskan 
pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk 
tugas besar yang telah kupilih" (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900).
Barat telah menjadi panutan dan kiblat Kartini untuk melepaskan diri dari 
kungkungan adat. "Pergi ke Eropa. Itulah cita-citaku sampai nafasku yang 
terakhir" (Surat Kartini kepada Stella, 12 Januari 1900). Namun cita-cita ini 
harus kandas di tangan para sahabat-sahabatnya yang tak menginginkan Kartini 
memiliki pemahaman lebih maju lagi.
 
Pergolakan Pemikiran Setelah Mengenal Islam
 
Sulit bagi Kartini untuk bertahan di lingkungan yang bertentangan dengan 
pemikirannya. Di tengah kuatnya kungkungan adat dan derasnya serangan pemikiran 
Barat, Kartini mencoba mencari jawaban.
 
Tahun-tahun terakhir sebelum wafat, Kartini menemukan jawaban atas 
pertanyaan-pertanya an yang bergolak di dalam pemikirannya. Ia mencoba 
mendalami ajaran yang dianutnya, yaitu Islam. Ajaran Islam pada awalnya tak 
mendapat tempat di benak Kartini. Hal ini dikarenakan pengalaman yang tak 
mengenakkan dengan Sang ustadzah. Sang ustadzah menolak menjelaskan makna ayat 
yang sedang diajarkan.
 
"Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa ? Agama Islam 
melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya 
agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, 
kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya ? Al Quran terlalu suci, 
tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Di sini tidak ada orang yang 
mengerti bahasa Arab.
 
Di sini orang diajar membaca Al Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. 
Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna 
yang dibacaya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa 
Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang 
kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, 
asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella ?" (Surat Kartini 
kepada Stella, 6 November 1899).
 
Namun, pertemuannya dengan kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama 
besar dari Darat, Semarang, telah merubah segalanya. Kartini tertarik pada 
terjemahan Surat Al Fatihah yang disampaikan sang kyai. Kartinipun mendesak 
salah satu paman untuk menemaninya bertemu sang kyai. Berikut adalah petikan 
dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila 
Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat.
 
"Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang 
berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?". Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar 
pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu. "Mengapa Raden Ajeng 
bertanya demikian?" Kyai Sholeh Darat balik bertanya. "Kyai, selama hidupku 
baru kali ini aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk 
Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan main rasa 
syukur hatiku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama 
ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al_Quran dalam 
bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan 
sejahtera bagi manusia?"
 
Setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk 
menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai 
Sholeh Darat menghadiahkan terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril 
Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah 
sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang 
sesungguhnya. Tapi sayang tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal 
dunia, sehingga belum selesai diterjemahkan seluruh Al Quran ke dalam bahasa 
Jawa.
 
Andai saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Al Quran) maka 
tidak mustahil jika ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua kandungan 
ajarannya. Kartini sangat berani untuk berbeda dengan tradisi adatnya yang 
sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal ketaatan yang tinggi 
terhadap ajaran Islam. Pada mulanya beliau adalah sosok paling keras menentang 
poligami. Tetapi setelah mengenal ajaran Islam, beliau mau menerimanya.
 
Upaya Meneladani Kartini
 
Upaya untuk menerjemahkan perjuangan Kartini oleh kaum wanita sekarang ini 
nampaknya telah melampaui batas. Petikan surat Kartini berikut ini menegaskan 
kesalahan penterjemahan kaum wanita Indonesia.
 
"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, 
bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi 
saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan 
pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap 
melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam 
tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama" (Surat Kartini 
kepada Prof. Anton Dan Nyonya, 4 Oktober 1902).
 
Tak ada sepatah katapun dalam surat tersebut yang mengajarkan wanita untuk 
mengejar persamaan hak, kewajiban, kedudukan dan peran agar sejajar dengan kaum 
pria. Kartini memahami bahwa kebangkitan seseorang ditandai oleh kebangkitan 
cara berfikirnya. Kartini mengupayakan pengajaran dan pendidikan bagi wanita 
semata-mata demi kebangkitan berfikir kaumnya agar lebih cakap menjalankan 
kewajibannya sebagai seorang wanita.
 
Atas nama perjuangan Kartini, para wanita justru terjebak pada nilai-nilai 
liberalisasi dan ide-ide Barat yang justru ditentang oleh sang pahlawan. 
Perjuangan yang kini dilakukan oleh para feminis, pembela hak-hak wanita sangat 
jauh dari ruh perjuangan Kartini. Kartini tidak menuntut persamaan hak dalam 
segala bidang. Kartini hanya menuntut agar kaum wanita diberi hak untuk 
mendapatkan pendidikan yang layak. Tak lebih dari itu. 
 Kartini bertekad untuk menjadi seorang muslimah yang baik dengan memenuhi 
seruan Surat Al Baqarah ayat 193. Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari 
gelap kepada cahaya telah mendoronganya untuk merubah diri dari pemikiran yang 
salah kepada ajaran Allah. Tak berlebihan jika kita menyimpulkan bahwa tujuan 
Kartini adalah mengajak setiap wanita untuk menjadi muslimah yang memegang 
teguh ajaran agamanya.
"..., tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya 
yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri 
menganggap masyarakat Eropa itu sempurna ? dapatkah ibu menyangkal bahwa di 
balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama 
sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?" (Surat Kartini kepada Ny. 
Abendanon, 27 Oktober 1902).
 
copas from: http://www.dakwahka mpusmalang. com/index. php?option= com_content& 
view=article& id=139:andai- kartini-khatam- mengaji&catid= 34:jadwa& Itemid=55 

 
 
 


















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke