(dikutip dari Multiply, kasus penculikan dan KDRT model Indonesia oleh Pangeran
Kelantan)
Cinderella hidup bahagia setelah disunting pangeran dari kerajaan. Namun
dongeng itu tidak berlaku untuk Manohara Odelia Pinot, seorang model cantik
asal Indonesia.
Setelah menikah dengan putra Raja Kelantan, Malaysia, Tengku Muhammad Fakhry,
Mano malah menderita. Konon, model kelahiran 28 Februari 1992 itu terus
mendapat perlakuan kasar dari suaminya.
"Di dadanya ada bekas luka silet, selama ini keluarga di Jakarta tidak bisa
berhubungan langsung dengan Mano," kata kakak Mano, Dewi, dalam jumpa pers di
restoran Ampera, Jl KH Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan, Senin (20/4/2009).
Dewi mengatakan, akhirnya keluarga mengetahui tentang kehidupan Mano yang
menderita dari keluarga kerajaan. "Saya tahunya dari mereka-mereka yang baik
bahwa Mano lagi sedih dan menangis terus," kata Dewi.
Dewi mengatakan, keluarga terakhir kali mengontak Mano melalui telepon pada 20
Maret 2009. Saat itu, kata Dewi, Mano menangis dan mengatakan ingin kembali ke
Indonesia.
"Waktu itu teleponnya pun hanya beberapa detik, setelah itu diputus dan kita
nggak tahu lagi," kata Dewi.
Sementara itu ibunda Mano, Daisy Fajarina menceritakan, perlakuan kasar Fakhry
memang telah terlihat sejak pasangan yang menikah pada 26 Agustus 2008 itu
berbulan madu di Thailand. Saat itu, Mano dibentak oleh Fakhry gara-gara
menolak melayani sebagai seorang istri.
"Waktu itu Fakhry ingin berhubungan badan dengan Mano tapi ditolak karena
alasan sedang halangan. Tapi ternyata Fakhry malah membentak dan dengan kasar
bilang kalau tidak bisa melayani tidur saja sama kakakmu," kata Daisy.
Kebetulan, kata Daisy, saat bulan madu itu, Dewi, sang kakak juga ikut serta.
"Dia langsung ke kamar saya dan menangis karena syok," kata Dewi menimpali.
Sebenarnya, perlakuan kasar dari putra Raja Kelantan, Malaysia, Tengku Muhammad
Fakhry terhadap Manohara Odelia Pinot sempat mereda. Setelah model cantik itu
kabur dari Singapura ke Indonesia, Fakhry meminta maaf kepada keluarga Mano dan
berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
"Waktu itu Mano melarikan diri ke Indonesia dari Singapura ke rumah kontrakan
saya. Dia nangis-nangis nggak mau kembali ke Malaysia lagi," kata ibunda Mano,
Daisy Fajarina, dalam konferensi pers di restoran Ampera, Jl KH Ahmad Dahlan,
Jakarta Selatan, Senin (20/4/2009).
Karena Mano kabur, suaminya, Fakhry, pun mencari Mano ke rumah ibu mertuanya di
kawasan Jakarta Selatan. Saat itu, pangeran Malaysia itu membujuk Mano agar mau
kembali kepadanya.
"Dia minta maaf nggak akan mengulangi lagi, dia juga bilang kalau mau
memperbaiki sikap," cerita Daisy.
Saat itu, kata perempuan 65 tahun itu, keluarga merasa luluh dan membiarkan
Mano kembali ke pelukan Fakhry. Bahkan seluruh keluarga diajak pergi umroh.
"25 Februari 2009 kemarin kita diajak umroh. Kita terharu sekali," kata Daisy.
Mano Dibawa Paksa oleh Fakhry dari Jeddah
Dan pada 9 Maret 2009, kata Daisy, rombongan yang terdiri dari 8 orang itu pun
bersiap-siap untuk kembali ke tanah air. Sepengetahuan Daisy, rombongan akan
kembali ke Jakarta dengan pesawat Malaysia Airlines.
Namun betapa kagetnya Daisy, ketika sampai di bandara, rombongan malah menuju
ke terminal untuk pesawat pribadi. "Tapi saya masih tidak berpikir apa-apa.
Saya masih berpikiran positif," ceritanya.
Daisy pun terkejut untuk kedua kalinya. Saat hendak masuk ke pesawat, tiba-tiba
pintu ditutup dan karpet digulung. Saat itu, Mano dan Fakhry telah berada di
dalam pesawat. Sementara Daisy dan Dewi masih ada di luar pesawat.
Daisy yang panik pun mencoba memberitahu pilot agar membuka pintu. Namun usaha
itu sia-sia saja. Sang pilot tetap tidak peduli dan tetap menjalankan pesawat.
"Pesawat tetap jalan, wing pesawat bahkan hampir menabrak kami," kata Daisy
berapi-api.
Daisy pun sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya. Saat pihak bandara Jeddah
mengatakan pesawat yang ditumpangi Mano dan Fakhry singgah sebentar di Maldiek,
Daisy pun berusaha menghubungi putrinya.
"Ternyata bisa, dia bilang dipukuli selama berada di pesawat. Kata Mano,
kepalanya terus dipukul karena dia terus berteriak," katanya.
Namun Daisy mengaku tidak bisa menelepon Mano terlalu lama. Pesawat yang
ditumpangi Mano akan berangkat lagi menuju Kelantan, Malaysia.
"Baru setelah tiba di Malaysia saya bisa menghubungi dibantu telepon seseorang.
Tapi baru sebentar, telepon putus dan anak saya teriak minta tolong," kata
Daisy.
Setelah itu, Daisy mengaku tidak mengetahui nasib anaknya. Daisy pun telah
melaporkan kasus ini kepada KBRI. "Saya hanya ingin Mano kembali," harap
Daisy.Setelah anak gadisnya dibawa paksa kembali ke Malaysia oleh pangeran
Kerajaan Kelantan, Malaysia, ibunda model Manohora Odelia Pinot terus mencari
tahu keadaan putrinya itu. Dia antara lain menemui Duta Besar Indonesia untuk
Malaysia, Dai Bachtiar.
"Atas kebaikan dan keikhlasan bapak Iwan Pandji Winata, saya dipertemukan
dengan bapak Dai Bachtiar," kata kata ibunda Mano, Daisy Fajaria, saat
konferensi pers di Warung Ampera, Jl Ahmad Dahlah, Jakarta Selatan, Senin
(20/4/2009).
"Beliau (Dai) menyarankan untuk melapor ke Mabes Polri, dan menganjurkan kami
untuk menghubungi Pak Susno (Susno Duadji, Kabareskrim Mabes Polri)," jelasnya.
Namun, menurut Daisy, Susno mengatakan pihaknya tidak bisa membuat laporan
apa-apa. Kemudian dia juga melaporkan kepada Departemen Luar Negeri untuk
meminta bantuan.
"Setiap orang yang saya temui, yang dilontarkan malah Ibu sudah terima uang
berapa?" kata Daisy dengan nada kesal.
Pada 19 Maret 2009, Daisy berangkat ke Malaysia dengan pesawat Malaysia
Airlines (MAS) bersama adiknya, Tajuludin, dan seorang sahabatnya. Namun,
ketika tiba di Kuala Lumpur pukul 10.00 pagi waktu setempat, dia kaget karena
tidak diperbolehkan masuk ke wilayah Malaysia.
"Saya bukan kriminal, saya bukan teroris. Saya tanyakan pada petugas Imigrasi,
salah saya apa? Mengapa saya dicekal seperti ini? Saya katakan saya hanya ingin
bertemu dengan anak saya dan besan saya untuk membicarakan masalah kami, tapi
justru diperlakukan seperti ini. Cekal itu tidak ada alasannya," tandas Daisy.
[Non-text portions of this message have been removed]