*Mari Melihat Fatah dan Hamas Lebih Dalam*

 Satu – satunya Hal yang Paling Berharga Bagi Muslim dan Bernilai Tinggi
adalah Keimanan.


 Kenapa berharga? Tentu saja karena itulah bekal atau modal yang bisa dibawa
ke alam lain, dan ternyata, selalu saja ada yang berusaha mencurinya dari
kita. Baik setan golongan manusia maupun setan dari golongan jin. Dan "si
pencuri iman" ini luar biasa lihainya, karena meskipun semua setan itu
kafir, ternyata kadang ia bisa ”sempurna” berakting menjadi mahluk yang
baik, terlihat jujur, tulus dan menampakkan empati terdalamnya. Lain
ceritanya kalau setan – setan ini malas berakting, dengan selalu menampakkan
sikap aslinya yang memusuhi Bani Adam. Apabila mereka konsisten dengan sikap
aslinya, reaksi manusia beriman tentu sama, yaitu juga selalu konsisten
memusuhi mereka.


 Silahkan perhatikan lagi kisah Nabi Adam a.s. dan Hawa hingga diturunkan
dari *jannah. *Kemudian kisah Habil dan Qabil. Hingga istri dari seorang
Nabi yang ternyata masuk kelompok *kafirun *ketika Nabi tersebut selamat
dari banjir besar. Atau istri nabi lain yang juga dianggap kafir ketika Nabi
tersebut meninggalkan kaumnya (termasuk istri) sebelum shubuh. Begitu juga
dengan kisah seorang paman yang mati dalam keadaan musyrik, meskipun ketika
hidupnya ia telah melindungi habis – habisan dakwah nabi terakhir yang kini
kita ikuti. Bagaimana bisa? Terbujuk rayuan setan, melakukan maksiat atau
bahkan ada yang menjadi kafir sedang para nabi ada di tengah mereka? Namun,
begitulah kenyataanya.


 Kembali ke setan – setan yang pandai berakting (di atas kemampuan akting
para penerima oscar), tipuan yang selalu sama tentu saja tidak efektif,
karena yang ditipu sudah tahu trik – triknya menipu. Atau kalau dalam
forecasting atau di statistik, ”sudah ketahuan trennya”. Jadi mudah
diprediksi arahnya ke mana. Supaya efektif menyesatkan, tidak gampang dibaca
trennya, maka satu – satunya cara adalah: ”merusak pola”, ”menghilangkan
tren”, atau memperbesar deviasi.


 Suatu jamaah yang sudah terang – terangan menampakkan *jihad fi sabilillah
*sebagai salah satu bentuk syariat Islam, sudah tak perlu lagi diajari
tentang *Dienul Islam*, justru anggota jamaah lain harus segera menyelidiki
apakah jamaahnya sudah terang – terangan menampakkan akan menerapkan syariat
Islam. Misalnya apakah jamaahnya berani secara terbuka dan terang – terangan
memprakarsai Konferensi Khilafah Internasional plus memberi tema :
"Selamatkan Indonesia Dengan Syariat" di jantung ibukota negara dengan
penduduk yang pengaku muslimnya terbesar di dunia dan juga konferensi –
konferensi serupa di negara – negara lain. Atau apakah amir jamaahnya dengan
terang – terangan berani mendatangi istana pemimpin suatu kaum agar pemimpin
tersebut menerapkan syariat Islam dan diliput oleh pers. Atau yang lebih
kecil lagi, secara terbuka dan terang – terangan di hadapan wartawan,
menyatakan agar kota tertentu segera menerapkan syariat Islam, sedang dia
sendiri habis keluar penjara (dipenjara karena kegiatan dakwahnya yang
menampakkan bara’ pada kekafiran dan kemusryrikan)


 Kembali ke Hamas, berikut adalah intisari dari artikel tentang Hamas yang
dimuat di Eramuslim. Jadi sumber utamanya adalah Eramuslim, kemudian yang
kurang jelas, kami carikan dari Wikipedia (Indon & English) dan internet
(meskipun porsinya sedikit).Untuk sumber utama dari Eramuslim, kami sertakan
di paragraf - paragraf bawah agar bisa dicocokkan kembali apabila ada yang
berminat.


 *Perbandingan Hamas dan Fatah*


 Tujuan Perjuangan

Hamas : Menerapkan syariat, menjadikan masyarakat yang *hubbul-jihad
wasysyahadah* (cinta jihad dan mati syahid)

Fatah : Kesejahteraan nasional.


 Menampakkan *bara’ *Kepada Ajaran – ajaran di luar Islam?

Hamas : Ya. Ditampakkan dalam setiap perbuatan baik wawancara dengan pers,
AD/ART, hingga *Jihad fi Sabilillah*.

Fatah : Tidak.Malah menganut sekuleris - nasionalisme


 Secara Terbuka dan Terang – terangan Menjelaskan Tujuan Perjuangan?

Hamas : Ya.

Fatah : Ya, tapi tujuannya bukan Menerapkan Syariat Islam, tapi nasionalis
dan kesejahteraan.


 Terjebak dalam sistem kafir Demokrasi ala Barat?

Hamas : Menghindari dengan tidak ikut pemilu bila tidak *immune *atau
menjadi mayoritas / tidak banyak dipilih umat.

Fatah : Masa bodoh.


 Terhadap Resiko Menjadikan Dirinya Sebagai Tuhan (sesembahan) Selain Allah

(Dengan Menghalalkan yang Haram dan Mengharamkan yang Halal)

Hamas : Menghindari dengan tidak ikut pemilu.

Fatah : Masa bodoh.


 Resiko Menjadi Kafir (Murtad) Karena Menerapkan Hukum Kafir

Hamas : Dihindari dengan tidak ikut pemilu.

Fatah : Masa bodoh.


 Bersumpah Untuk Setia Kepada Thaghut?

(Apabila Jawabnya Iya, Maka Sama Saja Bersumpah Untuk Melakukan Kekafiran)

Hamas : Tidak, karena menurut *draft *UUD Palestina Bab I (Section I) Pasal
4 (Article 4) menyebutkan bahwa agama resmi Palestina adalah Islam dan
sumber hukumnya adalah Syariat Islam.

Fatah : Juga tidak, karena menuru t*draft * UUD Palestina Bab I (Section I)
Pasal 4 (Article 4) menyebutkan bahwa agama resmi Palestina adalah Islam dan
sumber hukumnya adalah Syariat Islam.


 Sikap Terhadap Orang – orang Kafir (Yang Jelas - jelas Kafir Antara Lain
Adalah Yahudi)

Hamas : Tidak duduk – duduk bersama mereka, justru memerangi habis – habisan
dengan segala kemampuan.

Fatah : Tidak memerangi, melainkan duduk – duduk dengan mereka.


 Mengamalkan Dakwah dan Jihad?

Hamas : Ya, *da'wah *dan *tarbiyyah *serta aktifitas *al-jihad
wal-muqowwamah* (jihad dan perlawanan)

Fatah : Dakwah?. Jihad tidak


 Menyiapkan SDM Untuk Berjihad?

Hamas : Ya

Fatah : Tidak


 Menyiapkan Senjata dan Peralatan Tempur Untuk Berjihad?

Hamas : Ya, bahkan kalau perlu malah membuat sendiri.

Fatah : Tidak. Justru sebaliknya, menyiapkan senjata untuk membunuhi Hamas,
Jihad Islam dll


 Tujuan Ikut Pemilu?

Hamas : Membentuk opini publik dan membuka mata dunia bahwa *jihad *dan *
perlawanan* adalah pilihan umat Palestina.

Fatah : Kebalikan di atas, membentuk opini publik bahwa *jihad *dan *
perlawanan* bukanlah pilihan rakyat Palestina. Tapi perdamaian dan
negosiasi. Ini sesuai dengan pesanan dan kemauan barat. Padahal barat
sendiri sudah dikuasai Yahudi!


 Tujuan Lain Ikut Pemilu?

Hamas : Menunjukkan kepada dunia bahwa umat (Palestina) tidak menyetujui
eksistensi negara Israel.

Fatah : Membantu memaksakan opini barat, bahwa rakyat Palestina pada umumnya
menyetujui pula eksistensi negara Israel.


 Cara Menyatukan Masyarakat Palestina?

Hamas : Merajut ikatan *ukhuwwah* dan *mahabbah* (persaudaraan dan kasih
sayang) masyarakat Palestina dengan

menjadikan Al-Qur’an dan Masjid sebagai perekat utama hati ummat Islam.
Hamas menjadikan masjid sebagai tempat

dimana masyarakat  memperoleh berbagai bantuan baik ekonomi maupun
pendidikan.

Fatah : Dengan kekuasaan yang dimiliki. Termasuk menyingkirkan lawan - lawan
politiknya baik dengan fitnah, non-fisik dan fisik seperti
pembunuhan.Seperti yang dilakukan kepada Hamas, Jihad Islam, Hizbut Tahrir
dll.


 Apakah Ada Parpol di Pemilu Lalu yang Memperjuangkan Islam Seperti Hamas?

Partai yang benar - benar memperjuangkan Islam, secara nyata - nyata dan
terang - terangan dan terhindar dari jebakan kafir demokrasi akan disebut
sebagai teroris. Jadi di Indonesia tidak ada.

Hamas is considered a *terrorist* organization by *Canada*, the *European
Union*, *Israel*, *Japan*, and the *United States*. Although *Australia* and
the *United Kingdom* list only the military wing of Hamas, the *Izz ad-Din
al-Qassam Brigades*, as a terrorist organization. The *United States* and
the *European Union* have implemented restrictive measures against Hamas on
an international level.


 Ada Lagi yang Ingin Disampaikan Tentang Hamas?

Hamas : Dianggap anti semit oleh dunia (oleh Wikipedia versi English).* *Dan
ini juga sebagai penjelasan yang kami taruh di muka, kenapa tidak ada parpol
di Indonesia yang bisa disamakan dengan Hamas.* *Antara lain sbb:

*The Hamas Charter (1988). *

*Article 7* of the Hamas Covenant provides the following quotation,
attributed to *Mohammed*: "The Day of Judgement will not come about until
Moslems fight the Jews (killing the Jews), when the Jew will hide behind
stones and trees. The stones and trees will say O Moslems, O Abdulla, there
is a Jew behind me, come and kill him. Only the Gharkad tree, (evidently a
certain kind of tree) would not do that because it is one of the trees of
the Jews."

*Article 22* claims that the *French revolution*, the *Russian revolution*,
colonialism and both world wars were created by the Zionists or forces
supportive of Zionism: "You may speak as much as you want about regional and
world wars. They were behind *World War I*, when they were able to destroy
the *Islamic Caliphate*, making financial gains and controlling resources.
They obtained the *Balfour Declaration*, formed the *League of
Nations*through which they could rule the world. They were behind
*World War II*, through which they made huge financial gains by trading in
armaments, and paved the way for the establishment of their state. It was
they who instigated the replacement of the League of Nations with the United
Nations and the Security Council to enable them to rule the world through
them. There is no war going on anywhere, without having their finger in it."

*Article 32* of the Covenant refers to an antisemitic forgery, *The
Protocols of the Elders of Zion*: "Today it is Palestine, tomorrow it will
be one country or another. The Zionist plan is limitless. After Palestine,
the Zionists aspire to expand from the *Nile* to the *Euphrates*. When they
will have digested the region they overtook, they will aspire to further
expansion, and so on. Their plan is embodied in the "Protocols of the Elders
of Zion", and their present conduct is the best proof of what we are
saying."


 Bagaimana dengan Indonesia?

Kalau di sini dari 44 partai tidak ada yang seperti Hamas, tapi yang sejenis
Fatah atau malah lebih buruk banyak, termasuk yang mengaku partai Islam.
Hanya orang yang tidak paham *dien *saja yang menganggap di Indonesia ada
parpol Islam dan mengikuti pemilu.


 *Belajar Dari Permainan Politik Partai Hamas*

Kamis, 16/04/2009 10:39 WIB



 Bila hendak berpartisipasi dalam sistem kafir Demokrasi ala Barat  sudah
sepatutnya setiap organisasi, jamaah, da’wah, *harokah* (gerakan) dan partai
Islam di manapun mengambil pelajaran dari permainan politik ala Partai Hamas
di Palestina. Sebab secara keseluruhan kita dapati Hamas tidak pernah
terjebak oleh sistem non-Islam ini sebagaimana yang banyak dialami oleh
berbagai partai Islam di negeri lainnya termasuk Indonesia. Kebanyakan
partai Islam bila masuk ke dalam sistem demokrasi gagal menjadikan demokrasi
sebatas kuda tunggangan untuk menggolkan tujuan Islam yang agung. Umumnya
mereka bukan mewarnai melainkan terwarnai bila sudah ikut dalam permainan
politik ala Barat kafir ini. Alih-alih berhasil menawarkan dan
memperkenalkan kepada publik cara berpolitik Islam, malah merekalah yang
semakin tahun semakin terkooptasi oleh sistem dan ideologi
sekularis-nasionalis.



Sedangkan Hamas sejak sebelum memutuskan terlibat dalam Pemilu di tahun 2006
sudah sejak awal  memandang "sistem Demokrasi" sebagai sebuah sistem di luar
Islam. Jadi jika mereka akhirnya berpartisipasi di dalamnya mereka
memastikan diri untuk memperlakukannya sekedar sebuah kuda tunggangan untuk
meraih sasaran antara perjuangan Islam. Di dalam "sistem Demokrasi" terdapat
unsur *mafsadat *(kerusakan) dan *maslahat* (manfaat). Hamas memastikan bila
hendak berpartisipasi dalam Pemilu, maka partainya haruslah sudah cukup
immune untuk tidak terkontaminasi oleh mafsadat "sistem Demokrasi" dan cukup
yakin sanggup memetik maslahatnya. Oleh karenanya Hamas melakukan *
assessment* yang akurat dan teliti mengenai tingkat dukungan masyarakat
terhadap ide-ide Partai Hamas. Jika mereka menilai bahwa masyarakat telah
cukup kuat menunjukkan dukungan kepada visi dan misi Hamas, maka barulah
Hamas bersedia masuk dalam kancah permainan politik. Bila sebaliknya, maka
Hamas akan memilih untuk mendahulukan kerja-kerja nyata berupa berbagai
aktifitas *da’wah, tarbiyyah, sosial-kebajikan *dan  *jihad-perlawanan *di
tengah grass-root masyarakat Palestina*. *Dan mereka akan menunda
keterlibatannya dalam permainan politik. (Baca: ”Mengapa Hamas Ikut
Permainan Demokrasi?” Undangan ke Surga 15/4/09)



Sebab sejak hari pertama Hamas senantiasa menekankan kepada para kader dan
pendukungnya bahwa aspek politik merupakan salah satu saja dari sekian
banyak aktifitas seorang muslim. Sedangkan *da’wah *dan *tarbiyyah *itulah
yang merupakan asas gerakan Islam yang hakiki. Dari aktifitas da’wah dan
tarbiyyah kontinyu itulah akan dilahirkan para kader handal berikutnya.
Tarbiyyah senantiasa dipandang sebagai awal dari segala-galanya walaupun
tarbiyyah bukanlah segala-galanya. Dari tarbiyyah akan terbentuklah
*Syakhshiyyah
Islamiyyah Mustaqiimah *(pribadi muslim konsisten) yang memiliki
*aqidah*yang kokoh dan
*fikrah Islamiyyah* (pemahaman/ideologi Islam) yang komprehensif dan utuh.
Bila di tengah masyarakat ditemukan muslim-mu’min yang ber-aqidah dan fikrah
Islam mantap, maka mereka inilah yang akan menjadi pendukung/pencontreng
loyal terhadap partai Islam manapun yang juga secara jujur memperlihatkan
visi dan misi Islam secara mantap.



 Adapun partai Islam pada umumnya hanya mengandalkan apa-apa yang juga
diandalkan oleh partai-partai sekular. Mereka akhirnya terlibat dalam
berbagai upaya kampanya murahan –*maaf*- yang hanya mengandalkan para
selebritis, pemasangan iklan di TV, pemajangan foto caleg di berbagai tiang
listrik, pohon-pohon sampai melibatkan berbagai musisi serta dangdutan.
Sedangkan kegiatan utama berupa *da’wah* dan *tarbiyyah* *Islamiyyah
manhajiyyah* (kaderisasi Islam sistemik) di tengah masyarakat tidak
memperoleh perhatian yang semestinya. Kalaupun diupayakan kegiatan da’wah
dan tarbiyyah, ujung-ujungnya lebih menekankan pada upaya promosi alias
kampanye partai Islam terkait. Padahal yang dibutuhkan masyarakat bukanlah
fanatisme kepada partai Islam, melainkan kesetiaan kepada nilai-nilai Islam
yang abadi dan tidak mengenal batas kelompok dan organisasi buatan manusia.



Hamas menyadari dan meyakini bahwa dukungan masyarakat Islam kepada mereka
sangat ditentukan oleh seberapa konsistennya partai Hamas dalam menegakkan
dan memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam segenap kiprahnya. Sehingga bila
*da’wah *dan *tarbiyyah Islamiyyah*  yang diselenggarakan oleh Hamas di
tengah masyarakat telah mengakar, maka dengan sendirinya dukungan kepada
Hamas akan menguat. Namun tentunya dengan syarat bahwa Hamas sendiri
menunjukkan komitmen kepada ideologi dan syariat Islam yang katanya mereka
perjuangkan itu.



 Hal lain yang memastikan dukungan masyarakat ialah keterpaduan Hamas dalam
mengelola berbagai program selain da’wah dan tarbiyyah Islamiyyah. Hamas
terkenal sebagai sebuah gerakan Islam yang sangat aktif mengadakan kegiatan
*khairiyyah-ijtima’iyyah* (sosial-kebajikan). Hamas sangat peduli dengan
nasib rakyatnya seperti para janda dan yatim syuhada, para keluarga yang
kepala keluarganya dipenjara Israel, para petani, kaum fakir-miskin, pegawai
negeri dan lain sebagainya. Dan para petinggi dan aktifis Hamas sangat
terkenal dengan kejujuran dan kebersihan jiwanya. Mereka adalah orang-orang
*amanah* yang dikenal bebas dari korupsi dan penyalah-gunaan dana ummat.
Dipadukan dengan kegiatan *da’wah* dan *tarbiyyah*,  Hamas berhasil merajut
ikatan *ukhuwwah* dan *mahabbah* (persaudaraan dan kasih sayang) masyarakat
Palestina dengan menjadikan Al-Qur’an dan Masjid sebagai perekat utama hati
ummat Islam. Hamas menjadikan masjid sebagai tempat dimana masyarakat
memperoleh berbagai bantuan baik ekonomi maupun pendidikan.



 Lalu melalui aktifitas *al-jihad wal-muqowwamah* (jihad dan perlawanan)
dalam menghadapi penjajah Zionis Yahudi Israel, Hamas berhasil menjadikan
masyarakat Palestina menjadi masyarakat yang *hubbul-jihad
wasysyahadah*(cinta jihad dan mati syahid). Sehingga masyarakat di
bawah pengarahan dan
kepemimpinan Hamas menjadi masyarakat yang memiliki *al-’izzah* (kehormatan
diri) dan terbebas  dari penyakit *al-wahan* (cinta dunia dan takut mati).



Sedangkan di negeri ini berbagai Partai Islam justeru meninggalkan komitmen
kepada ideologi dan Syariat Islam serta *Jihad fi sabilillah*. Hal ini
mereka lakukan dengan maksud tidak ingin membuat kalangan
*non-muslim*(baca: kafir) lari dan takut akan Islam. Padahal Hamas
dengan segala kiprah
”militan”nya tidak pernah terasa menjadi momok yang menakutkan bagi sesama
warga Palestina yang beragama Nasrani. Banyak testimony dari kaum Nasrani di
Palestina yang menunjukkan penghormatan dan dukungan kepada Hamas. Mereka
dapat melihat dengan jelas bahwa Hamas dengan segala *ruhul-jihad*-nya jauh
lebih baik daripada para politisi korup dari partai Fatah yang
sekularis-nasionalis itu.



 ”*Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman
kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak
henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang
menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang
disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami
terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.*



 *Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu,
dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu,
mereka berkata: "Kami beriman"; dan apabila mereka menyendiri, mereka
menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu.
Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu".
Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh
kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana,
mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu
daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.
Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.(QS Ali Imran
118-120)*



*Ya Allah, munculkanlah di tengah ummat ini suatu generasi yang Engkau
cintai mereka dan merekapun mencintaiMu. Berlaku lemah-lembut kepada sesama
orang beriman dan berlaku tegas/keras kepada kaum kafir. Mereka berjihad di
jalanMu tanpa rasa takut akan celaan kalangan yang suka mencela.Amin ya
Rabb.*



*
http://www.eramuslim.com/suara-langit/undangan-surga/belajar-dari-permainan-politik-partai-hamas.htm
*



 *Mengapa Hamas Ikut Permainan Demokrasi?*

Rabu, 15/04/2009 22:08 WIB



 Benarkah Hamas sebagai sebuah gerakan perlawanan Islam yang sudah
membuktikan dirinya konsisten berjihad di garis terdepan menghadapi musuh
utama ummat Islam yaitu Zionis Yahudi Israel, telah terjebak dalam permainan
sistem kafir demokrasi? Ketika Syeikh Abu Bakar Al-Awawida, anggota Ikatan
Ulama Palestina, berkunjung ke kantor redaksi Eramuslim,  muncullah
pertanyaan soal keikutsertaan Hamas yang dianggap sudah mengikuti sistem
demokrasi yang oleh sebagian Muslim dianggap sebagai sistem orang-orang
kafir, yang diusung oleh Barat.



 Apa sesungguhnya yang telah menyebabkan Hamas pada bulan Januari 2006 perlu
ikut dalam pemilihan umum alias masuk dalam gelanggang pertarungan politik
menurut sistem kafir Demokrasi ala Barat? Padahal bagi sebagian ummat Islam
yang sangat kagum dengan keberanian dan konsistensi gerakan perlawanan Hamas
tidakkah cukup Hamas sebagai sebuah gerakan yang berjihad secara suci
membebaskan dirinya dari ikut serta dalam permainan politik jahiliyyah yang
sarat kebusukan? Padahal di dalam anggaran dasar Hamas jelas ditulis: Hamas
menjadikan Islam sebagai *manhaj*-nya, sumber pemikiran, pemahaman dan
konsepsinya mengenai alam, kehidupan dan manusia. Islamlah yang menuntun
seluruh tindakan dan langkah gerakan ini. Padahal Hamas tidak mengakui
keberadaan negara Zionis Yahudi Israel sebagaimana mereka sebutkan di dalam
konstitusinya: ”Hamas meyakini bahwa bumi Palestina  adalah tanah waqaf
Islam kepada segenap generasi Islam sampai hari Kiamat. Tidak boleh
dikurangi sebagian atau seluruhnya atau diserahkan kepada orang lain. Tanah
ini tidak bopleh dimiliki oleh satu atau seluruh negara Arab. Tidak boleh
dimiliki oleh seorang presiden atau raja atau seluruh raja dan kepala
negara. Juga tidak boleh dimiliki oleh satu atau seluruh organisasi
Pa;estina ataupun Arab. Karena Palestina merupakan tanah waqaf Isalm kepada
seluruh generasi Islam sampai hari Kiamat. Siapakah yang memiliki hak
mewakili seluruh generasi Islam hingga har Kiamat? Demikianlah hukum negeri
Palestina dalam syari’at Islam.”



 Perlu diingat bahwa deklarasi resmi kelahiran Gerakan Perlawanan Islam
Hamas terjadi pada Desember 1987. Semenjak dideklarasikan mulailah rakyat
Palestina merasakan kehadiran dan manfaat berbagai program Hamas. Hamas
mengawali gerakannya dengan mensosialisasikan *Tarbiyyah Islamiyyah
Harakiyyah Manhajiyyah* (Kaderisasi Islami Operasional Sistemik). Melalui
berbagai halaqah, daurah, tahfidz Al-Qur’an (Menghafal Al-Qur’an), majelis
ilmu, pembangunan sekolah dan universitas. Melalui sarana-sarana ini mereka
mempersiapkan suatu generasi ummat yang siap menerima *aqidah* dan *fikrah
Islamiyyah* (keimanan dan ideologi Islam). Hamas menekankan bahwa *tarbiyyah
* merupakan awal segala-galanya, walaupun tarbiyyah bukanlah segala-galanya.
Hamas senantiasa mementingkan tarbiyyah karena yakin bahwa inilah jalan
pasti untuk melahirkan para kader-kader militan handal.



 Selanjutnya sambil mulai menuai hasil tarbiyyah dan tetap meneruskannya,
mereka mengembangkan berbagai kegiatan lainnya seperti kegiatan ’*amal
khairiyyah-ijtima’iyyah* (aktifitas kebajikan-sosial)  menyantuni para janda
dan yatim syuhada, petani, pekerja dan keluarga pejuang yang berada dalam
tahanan penjara Israel, kaum fakir dan miskin, menyelenggarakan nikah massal
bagi kalangan pemuda yang kurang mampu dan lain sebagainya.  Selain
aktifitas *tarbiyyah *dan *khairiyyah-ijtima’iyyah, *Hamas mengembangkan
aktifitas *al-jihad wal-muqowwamah* (jihad dan perlawanan). Aspek ini bisa
dikatakan merupakan primadona sekaligus pesona utama gerakan Hamas. Oleh
karenanya Hamas membentuk sayap militer khusus bernama *Kataib AsySyahid
 Izzuddin Al-Qossam* (Batalion AsySyahid Izzuddin Al-Qossam).  Aktifitas ini
dilakukan melalui unit-unit militernya, dengan menyelenggarakan
berbagai *mukhayyam
’askari* (perkemahan militer) serta mengajarkan  cara membuat persenjataan
sendiri mulai dari amunisi, roket bahkan senjata pelontar mortir atau RPG.



 Selain aktifitas *tarbiyyah, khairiyyah-ijtima’iyyah *dan *al-jihad
wal-muqowwamah, *Hamas juga mengembangkan aktifitas *siyasah* (politik).
Dalam bidang ini mereka kemudian mengkaji situasi politik masyarakat
Palestina. Mereka mengamati terus perkembangan aspirasi masyarakat.  Hamas
sadar bahwa sistem politik yang berlaku merupakan sistem kafir Demokrasi ala
Barat. Ini bukanlah sistem Islam. Tetapi mereka juga sadar bahwa sistem
jahiliyyah Demokrasi dapat dijadikan sebagai sebuah kuda tunggangan untuk
mencapapai sasaran antara perjuangan. Maka ketika ada Pemilu  tahun 1996,
para pimpinan Hamas mengkaji kemungkinan untuk berpartisipasi. Namun setelah
menimbang antara *mafsadat *dan *maslahat*-nya, mereka berkesimpulan bahwa
jika partai Hamas terlibat pada saat itu niscaya mereka bakal mengalami
kekalahan yang menyebabkan  Hamas menjadi masuk dalam jebakan permainan
sistem Demokrasi. Hamas hanya mau terlibat jika kemenangan besar kemungkinan
dapat diraih. Pada tahun 1996 Hamas tahu diri dan menilai bahwa hasil
aktifitas *tarbiyyah, khairiyyah-ijtima’iyyah *dan *al-jihad wal-muqowwamah
*yang mereka lakukan belumlah mencakup jumlah cukup mayoritas rakyat
Palestina. Sehingga mereka tunda keterlibatannya dalam Pemilu.



 Sepuluh tahun kemudian ketika diselenggarkan Pemilu tahun 2006, Hamas
kembali mengkaji kemungkinan terlibat dalam Pemilu. Dan pada saat itu mereka
optimis bahwa sebagian besar masyarakat telah terbentuk menjadi pendukung
Hamas berkat berbagai program multidimensi yang dijalankan Hamas.  Jika saat
itu Hamas ikut pemilu kemungkinan besar mereka bakal meraih kemenangan. *Lalu,
kita bertanya sekali lagi, apakah ini berarti Hamas telah khianat kepada
sistem Islam dan berfihak kepada sistem kafir Demokrasi ala Barat?  *



 Satu-satunya saingan politik pada masa itu hanyalah partai Fatah. Partai
ini bersifat sekularis-nasionalis. Dan Partai Fatah telah meninggalkan jalan
*jihad* dan *perlawanan* diganti dengan jalan damai dan negosiasi sebagai
solusi menghadapi negara penjajah Zionis Yahudi Israel. Ini berarti bahwa
PLO dan Fatah telah mengakui eksistensi negara ilegal Zionis Yahudi Israel.
Sedangkan fihak Barat memandang PLO dan Fatah sebagai wakil sahih rakyat
Palestina yang bisa mereka kendalikan. Dengan kata lain Barat ingin
memaksakan opini bahwa rakyat Palestina pada umumnya menyetujui pula
eksistensi negara Israel. Sebaliknya hasil kajian Hamas menilai bahwa
kebanyakan rakyat Palestina sudah menunjukkan keberfihakan kepada solusi
jihad dan perlawanan yang ditunjukkan oleh Hamas, sehingga merekapun
memberanikan diri untuk membuktikannya di Tempat Pemungutan Suara. Jadi
kesimpulannya, Hamas tidak pernah mengakui sistem Demokrasi sebagai solusi,
melainkan sebagai sekedar kuda tunggangan untuk membuktikan di hadapan semua
fihak bahwa mayoritas rakyat Palestina memilih sikap dan jalur *jihad*
dan *perlawanan
*bukan jalur yang ditawarkan oleh partai sekularis-nasionalis Fatah, yaitu
jalan damai dan negosiasi dalam menghadapi musuh.



 *Subhaanallah,* begitu Pemilu dilangsungkan pada akhir Januari 2006,
terbukti bahwa perhitungan Hamas benar adanya. Hamas berhasil memperoleh 74
dari 132 kursi legislatif. Suatu kemenangan yang mencapai hampir 60% suara
pemilih yang masuk. Media massa barat seperti CNN dan BBC langsung
menyebutnya sebagai suatu *Political Earthquake*. Semua fihak dibuat
terkejut. Padahal Pemilu yang diadakan sarat kecurangan yang dilakukan oleh
fihak pemerintah PLO yang berkuasa dibawah kepemimpinan partai Fatah.
Padahal Hamas merupakan organisasi yang baru pertama kali berpartisipasi
dalam pemilu..!



 "*Kemenangan Hamas yang berhasil meraih hampir 60 persen suara rakyat
Palestina dalam pemilu membuktikan bahwa rakyat Palestina mendukung jihad
dan perlawanan terhadap penjajahan Zionis Israel*," ujar Syeikh Abu Bakar
Al-Awawida. Lalu ia melanjutkan, "*Dalam hal ini, bukan berarti Hamas
mengikuti konsep demokrasi ala Barat. Demokrasi itu semata-mata hanya
sebagai 'wasilah' (sarana), Hamas mengambil manfaat dari demokrasi untuk
menuju kemenangan, untuk membela agama dan umat dan bukan untuk kepentingan
Hamas*."



 Berarti upaya AS, Eropa, Israel dan antek-antek mereka di Palestina dalam
tubuh Fatah, untuk membentuk opini publik bahwa *jihad *dan
*perlawanan*bukanlah pilihan rakyat Palestina melalui hasil Pemilu
2006 tersebut
terbukti salah. Lalu ketika akhirnya fihak Barat tidak mengakui kemenangan
poltik Hamas, maka mereka lalu berkonspirasi untuk memerangi rakyat
Palestina melalui perang fisik yang tidak seimbang. Fihak Hamas-pun
meladeninya dengan *heroisme* jihad dan perlawanan yang memang merupakan
watak orisinal perjuangan gerakan ini. Dan melalui *Ma’rokah
Al-Furqon*(perang Gaza)  yang berlangsung selama 22 hari di akhir
Desember 2008 hingga
Januari 2009 Hamas kembali membuktikan kepada dunia bahwa rakyat Palestina
memang berfihak kepada *jihad* dan *perlawanan* bukan kepada jalan damai dan
negosiasi menghadapi musuh Zionis Yahudi Israel. Sehingga selama perang
berlangsung tidak ada terdengar seorangpun warga Gaza maupun Tepi Barat yang
menyalahkan Hamas, kecuali dari para politisi Fatah yang memang dengki dan
berseberangan dengan gagasan *al-jihad wal-muqowwah *(jihad dan perlawanan).



 Saudaraku, belajar dari pengalaman Hamas berarti ada beberapa kesimpulan
yang sepatutnya diambil oleh setiap organisasi, jamaah, da’wah,
*harokah*(gerakan) dan partai Islam bila hendak berpartisipasi dalam
sistem kafir
Demokrasi ala Barat, khususnya Pemilu:



 *Pertama*, Hamas memandang Pemilu -sebagai bagian dari sistem Demokrasi-
merupakan sebuah sistem di luar Islam yang bisa dijadikan kuda tunggangan
untuk meraih sasaran antara perjuangan. Di dalamnya mengandung unsur *mafsadat
*(kerusakan) dan *maslahat* (manfaat). Partai Hamas memastikan bahwa
institusinya telah cukup immune untuk tidak terkontaminasi oleh mafsadatnya
dan cukup yakin sanggup memetik maslahatnya. Oleh karenanya Hamas  telah
melakukan *assessment* yang akurat dan teliti akan dukungan masyarakat
terhadap ide-ide Partai Hamas.



 *Kedua*, hendaknya ada sasaran kuantitatif yang bisa diukur untuk
memastikan bahwa ide Partai didukung oleh masyarakat. Dalam hal Hamas, ide
yang mereka usung adalah *al-jihad wal-muqowwah *(jihad dan perlawanan). Dan
mereka secara tegas menawarkannya kepada publik. Sedikitpun mereka tidak
surut dalam menawarkan gagasan militannya itu. Mereka sejak awal telah
secara tegas mengumumkan kepada publik bahwa Hamas tidak akan menempuh jalan
damai dan negosiasi dalam menghadapi musuh Zionis Yahudi Israel.



 *Ketiga*, Hamas tidak pernah tunduk kepada  selera masyarakat dalam
berpolitik, khususnya dalam tampilan kampanyenya. Malah Hamas-lah yang
mengarahkan masyarakat. Dan mengingat bahwa kerja *tarbiyyah,
khairiyyah-ijtima’iyyah *dan *al-jihad wal-muqowwamah *telah berlangsung
dengan kokoh dan meluas di tengah masyarakat, maka Hamas cukup
*confident *untuk
memastikan mereka bakal memenangkan suara rakyat. Dan terbukti dalam realita
bahwa estimasi mereka bukanlah sekadar asumsi apalagi mimpi di siang bolong.



 *Keempat*, Hamas membuktikan dirinya sebagai sebuah partai Islam yang tidak
sekedar pandai menebar janji. Bahkan jauh sebelum  berpartisipasi dalam
Pemilu Hamas telah membuktikan janji-janji yang kemudian dilontarkannya di
masa menjelang Pemilu. Sehingga bagi rakyat mereka tidak perlu bertanya
apakah janji Hamas sanggup ditepati atau tidak, karena yang terjadi selama
ini ialah bukti lapangan telah ditunjukkan sebelum janji dilontarkan.



 *Kelima*, sejak hari pertama berkiprah di tengah masyarakat Hamas tanpa
ragu telah mengedepankan identitas Islam. Mereka tidak pernah seharipun
meninggalkan dan menanggalkan identitas dan ideologi Islam dalam berjuang,
sebab mereka sangat yakin bahwa kemuliaan hanyalah bersama Iman dan Islam
dan sebaliknya bila meninggalkan Iman dan Islam kehinaanlah yang akan
didapat di dunia dan siksa pedih menanti di akhirat. ”*Apakah kamu beriman
kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain?
Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan
kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan
kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu
perbuat.” (QS AlBaqarah ayat 85)*



 *Keenam*, Hamas telah sukses membuktikan bahwa Pemilu/Demokrasi hendaknya
hanya dijadikan sebatas kuda tunggangan untuk benar-benar hanya menawarkan
Islam sebagai solusi tunggal kehidupan ke-ummatan dan bernegara. Hamas tidak
pernah malu-malu mengumumkan bahwa Syariat Islam merupakan cita-cita
bersama. Sehingga masyarakat Palestina tidak pernah memiliki kesamaran dalam
melihat maksud dan tujuan Partai Hamas. Sehingga jelas sekali perbedaan
antara Hamas sebagai partai Islam dengan Fatah sebagai partai
nasionalis-sekularis. Sehingga batallah anggapan yang mengatakan bahwa Hamas
terjebak terjebak dalam permainan sistem kafir demokrasi sebagaimana banyak
partai-partai Islam kebanyakan di negeri lainnnya.

*Ketujuh*, Hamas dengan mudah dan relatif cepat memperoleh dukungan dan
kepercayaan luas masyarakat karena mereka sukses membuktikan dirinya bukan
sekedar sebuah partai politik yang hanya haus dan sibuk mengejar kekuasaan.
Hamas dikenal luas sebagai sebuah organisasi multidimensi mencakup aspek
 da’wah, tarbiyyah, sosial-kebajikan, jihad-perlawanan dan politik.



 ‘*Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati,
padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu
orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran ayat 139)*

*
http://www.eramuslim.com/suara-langit/undangan-surga/mengapa-hamas-ikut-permainan-demokrasi.htm
*


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------


===
Paket Umrah Mulai US$ 1.490
Paket ONH Plus 2009 (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
Ingin belajar Islam? Kirim email ke [email protected]

Dapatkan buku-buku Islami di DemiMasa Online Bookstore http://www.demimasa.co.id

Jual Rumah Baru di Otista Kampung Melayu Jakarta Timur Rp 650 juta. Info: 
http://agusnizami.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke