Date: Wednesday, April 29, 2009, 9:43 PM
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/04/29/ 03411317/ indonesia. jadi.proyek. percontohan KEUANGAN SYARIAH Indonesia Jadi Proyek Percontohan Rabu, 29 April 2009 | 03:41 WIB Jakarta, Kompas - Indonesia menjadi proyek percontohan penerapan rencana induk pengembangan keuangan syariah sedunia 2010-2020 yang digagas Islamic Development Bank. Indonesia terpilih karena dinilai merupakan salah satu yang terandal dalam pembiayaan mikro di dunia. Rencana induk tersebut merupakan upaya mentransformasi sistem keuangan syariah sedunia. Deputi Direktur Perbankan Syariah Bank Indonesia Mulya E Siregar, saat seminar bertema ”Ekonomi Syariah di Tengah Krisis Global”, Selasa (28/4), menjelaskan, ada dua hal yang ditekankan dalam rencana induk tersebut, yakni manajemen likuiditas bank syariah dan pembiayaan skala mikro. Perbankan syariah di seluruh dunia selama ini kesulitan mengelola likuiditasnya. Saat suku bunga pada sistem keuangan konvensional naik, nasabah bank syariah yang bertipe rasional cenderung memindahkan dananya ke bank konvensional. Sebaliknya, ketika suku bunga turun, debitor bank syariah buru-buru melunasi pinjamannya lalu kemudian pindah ke bank konvensional. Dalam situasi ini, bank syariah akan kelebihan likuiditas. Perbankan syariah tidak menggunakan sistem bunga melainkan sistem margin bagi hasil. Besarnya margin bagi hasil cenderung stabil. Untuk mengatasi persoalan ini, bank-bank sentral sedunia yang di negaranya ada bank syariah diharuskan memiliki instrumen keuangan syariah. Saat kelebihan likuiditas, perbankan syariah dapat menempatkan dananya pada instrumen tersebut dengan mendapatkan imbalan. ”Bank Indonesia saat ini sudah memiliki Sertifikat Bank Indonesia Syariah. Kami juga sudah menyiapkan pasar uang antarbank syariah,” ujar Mulya. Dengan instrumen keuangan syariah, perbankan syariah diharapkan lebih efisien mengelola likuiditasnya. Rencana induk juga menekankan agar perbankan syariah sedunia membangun infrastruktur pembiayaan yang lebih lengkap untuk segmen mikro dan kecil serta kaum tak berpunya. Ini bertujuan agar perbankan syariah tak hanya diakses oleh sektor korporasi dan menengah, tetapi juga oleh seluruh lapisan masyarakat. Untuk mengatasi kendala banyaknya pengusaha mikro yang belum layak bank (bankable), bank syariah bisa menggunakan zakat dari masyarakat untuk membina mereka agar bankable. Jika telah bankable, pinjaman dapat disalurkan secara komersial. Direktur Perbankan Syariah BI Ramzi A Zuhdi mengharapkan aset perbankan syariah nasional dapat bertumbuh 25 persen pada tahun 2009. Per akhir Desember 2008, aset perbankan syariah nasional mencapai Rp 52 triliun, tumbuh 36 persen dibandingkan akhir tahun 2007. Menurut Ramzi, tahun ini kemungkinan ada tiga unit usaha syariah yang akan menjadi bank umum syariah. Namun, dia tidak menyebutkan bank mana saja yang akan melakukan spin off. Ketua Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia Riawan Amin mengatakan, selama sistem keuangan global masih dikuasai sistem konvensional, krisis akan berulang karena itu sistem keuangan syariah menjadi pilihan tepat. (faj) [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]

