BAGAIMANA BERSIKAP TERHADAP ANAK ?

(Membantu Anak Tumbuh Menjadi Dewasa)

PERSPEKTIF PSIKOLOGI

 



A. Pengantar

 

Dalam
kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan sikap, prilaku dan kepribadian
yang sangat beragam. Ada pribadi yang sangat disiplin namun ada yang selalu
menyukai jam karet, ada yang asertif namun ada juga yang non-asertif, ada yang
sabar namun ada juga yang pemarah dan mudah tersinggung, ada yang sangat peduli
pada orang lain namun ada juga yang egois dan sangat individualistik. Dalam
bahasa yang sederhana kita sering mendengar gambaran dengan sebutan: cewek
matre, lelaki buaya, tua-tua keladi, si tukang tipu, si baik hati, si tukang
bakarlota, provokator, dsb.



Dalam lingkup yang lebih luas kita juga sering mendengar pemberian citra diri
terhadap orang dengan latar belakang negara dan bangsanya. Misalnya kita sering
mendengar julukan orang seperti: orang Israel yang licik, orang barat yang
sangat menghargai waktu, orang Amerika yang sangat bangga dengan negaranya dan
sering bersikap dengan standar ganda, orang Jepang yang ksatria dan gila kerja,
orang Cina yang ulet dan tajam naluri bisnisnya. 

 

Bagaimana
dengan kita umat Islam yang sekaligus manusia Indonesia?. Sudahkah kita mampu
menampilkan diri kita sebagai muslim sekaligus sebagai manusia Indonesia yang
"bermartabat" dan sebagai "khoiru-ummah" ?.

Menjadi masyarakat dan bangsa serta menjadi ummat yang berkualitas membutuhkan
proses yang panjang. Psikologi meyakini bahwa sikap dan pola pengasuhan yang
benar sejak dini dari orang tua dalam membantu proses tumbuh kembang anak-anak
mereka, memiliki fungsi yang sangat strategis bagi masa dewasa dan masa depan
mereka. 

 

 

B. Tugas-tugas Perkembangan Anak

 

Menurut
psikologi perkembangan, setiap individu sejak kelahirannya sampai memasuki masa
tua selalu disertai dengan tugas-tugas perkembangan. Keberhasilan setiap
individu dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangan akan melahirkan individu
yang memiliki kepribadian yang sehat dan dewasa. Namun apabila tugas-tugas
perkembangan tersebut gagal dilaksanakan/ dipenuhi maka akan lahir
individu-individu yang memiliki gangguan kepribadian bahkan gagguan jiwa. Akan
lebih bijaksana bila orang tua mengetahui tugas-tugas perkembangan anak-anak
mereka, sehingga orang tua dapat membantu dan memberikan sikap yang benar
terhadap anak-anak mereka menuju individu/pribadi yang sehat dan dewasa.

 

1.         Tugas perkembangan fase bayi dan
kanak-kanak Secara kronologis (menurut urutan waktu), masa bayi (infancy atau
babyhood)             berlangsung sejak
individu manusia dilahirkan dari rahim ibunya sampai berusia sekitar setahun.
Sedangkan masa kanak-kanak (early childhood) adalah masa perkembangan
berikutnya yakni usia setahun hingga usia antara lima atau enam tahun.

 

Perkembangan biologis pada masa-masa ini berjalan
pesat, tetapi secara sosiologis ia masih sangat terikat oleh lingkungan
keluarganya. Oleh karena itu, fungsionalisasi lingkungan kelauarga pada fase
ini penting sekali untuk mempersiapkan anak terjun ke dalam lingkungan yang
lebih luas terutama lingkungan sekolah.



Tugas-tugas perkembangan pada fase ini meliputi kegiatan-kegiatan belajar
sebagai berikut :

 

a.         Belajar
memakan makanan keras, Misalnya mulai dengan bubur susu, bubur beras, nasi dan
seterusnya.

 





b.         Belajar
berdiri dan berjalan, Misalnya mulai dengan berpegang pada tembok atau sandaran
kursi.







c.         Belajar
berbicara, Misalnya mulai menyebut kata ibu, ayah dan nama-nama benda sederhana
yang ada disekelilingnya.

 

d.         Belajar
mengendalikan pengeluaran benda-benda buangan dari tubuhnya,

 

Misalnya mulai dengan meludah, membuang ingus dan
seterusnya.





e.         Belajar
membedakan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan, dan bersopan santun
seksual.

 

f.          Mencapai
kematangan untuk belajar membaca dalam arti mulai siap mengenal huruf, suku
kata dan kata-kata tertulis,





g.         Belajar
mengadakan hubungan emosional selain dengan ibunya, dengan ayah, saudara
kandung, dan orang-orang disekelilingnya.





h.         Belajar
membedakan antara hal-hal yang baik dengan yang buruk, juga antara hal-hal yang
benar dan salah, serta mengembangkan atau membentuk kata hati (hati nurani).

 

 

2.         Tugas
perkembangan fase anak-anak Masa anak-anak (late childhood) berlangsung antara
usia 6 sampai 12 tahun dengan ciri-ciri utama sebagai berikut :







*           Memiliki
dorongan untuk keluar dari rumah dan memasuki kelompok sebaya (peer group) 







*           Keadaan
fisik yang memungkinkan/mendorong anak memasuki dunia permainan dan pekerjaan
yang membutuhkan ketrampilan jasmani





*           Memiliki
dorongan mental untuk memasuki dunia konsep, logika, simbol dan komunikasi yang
luas.



Adapun tugas-tugas perkembangan pada masa perkembangan kedua ini meliputi
kegiatan belajar dan mengembangkan hal-hal sebagai berikut :





a.         Belajar
ketrampilan fisik yang diperlukan untuk bermain,

Seperti lompat jauh, lompat tinggi, mengejar, menghindari kejaran dan
seterusnya.





b.         Membina
sikap yang sehat (positif) terhadap dirinya sendiri sebagai seorang individu
yang sedang berkembang, 

Seperti kesadaran tentang harga diri (self-esteem) dan kemampuan diri (self
efficacy).







c.         Belajar
bergaul dengan teman-teman sebaya sesuai dengan etika moral yang berlaku di
masyarakatnya.







d.         Belajar
memainkan peran sebagai seorang pria (jika ia seorang pria) dan sebagai seorang
wanita (jika ia seorang wanita).





e.         Mengembangkan
dasar-dasar ketrampilan membaca, menulis dan berhitung (matematika atau
aritmetika). 







f.          Mengembangkan
konsep-konsep yang diperlukan kehidupan sehari-hari.





g.         Mengembangkan
kata hati, moral dan skala nilai yang selaras dengan keyakinan dan kebudayaan
yang berlaku dimasyarakatnya.





h.         Mengembangkan
sikap objektif/lugas baik positif maupun negatif terhadap kelompok dan lembaga
kemasyarakatan.

 

i.          Belajar
mencapai kemerdekaan atau kebebasan pribadi sehingga menjadi dirinya sendiri
yang independen (mandiri) dan bertanggung jawab. 

 

 



C. Bagaimana Orang Tua Bersikap ?

 

 

Meskipun
setiap anak memiliki tugas-tugas perkembangan yang sama, bukan berarti apabila
tugas-tugas perkembangan dapat terlaksana maka pada masa remaja dan dewasanya
mereka akan menjadi individu yang memiliki kecenderungan dan kepribadian yang
sama. Setiap individu memiliki "kekhasan dan keunikan sendiri" atau
selalu ada "individual deferences" yaitu perbedaan-perbedaan
individual yang khas pada masing-masing pribadi. Oleh karena itu sebagai orang
tua tidak tepat bila bersikap dan memperlakukan anak-anaknya "sama rasa
dan sama kata" orang tua wajib bersikap "adil" terhadap
anak-anaknya sesuai dengan kecenderungan kepribadiannya, usianya,
minat-minatnya, kebutuhannya dll. Hal ini bukan berarti semuanya harus berbeda.

Ada beberapa sikap dan bentuk bantuan yang dapat diberikan orang tua terhadap
anak-anak mereka antara lain :

 

1.         Kedekatan
emosi Kedekatan emosi antara orang tua dengan anak dapat dimulai dengan
membangun kedekatan secara fisik. Anak yang sejak lahir, bibir dan wajahnya
sering menyentuh payudara dan dada ibunya, akan memiliki kedekatan dan kualitas
emosi yang berbeda dengan anak yang jarang atau bahkan tidak pernah menerima
hal yang sama. Disinilah pentingnya ajaran Allah yang memerintah para ibu
muslimah untuk menyusui anaknya dengan ASI (air susu ibu) minimal ( 2 tahun.
Anak yang sering shalat dan makan bersama orang tuanya akan memiliki kualitas
emosi yang berbeda dengan anak yang tidak pernah/jarang shalat dan makan
bersama orang tuanya. Anak yang sering menerima belaian dan dekapan dari orang
tuanya, akan berbeda emosinya dengan anak yang tidak menerima hal tersebut.

2.         Komunikasi yang sehat Komunikasi yang sehat akan terlaksana
dengan sendirinya apabila antara orang tua dan anak ada kedekatan emosi atau
kehangatan hubungan. Anak-anak dengan sendirinya akan menjadi pribadi yang
dengan senang hati bercerita dan menumpahkan perasaan sedih dan bahagia,
keberhasilan dan kegagalannya, serta problem yang dihadapi kepada orang tuanya.
Anak-anak tidak akan lari ketempat-tempat komunikasi dan sumber informasi yang
salah dan menyesatkan. Untuk mewujudkan komunikasi yang sehat orang tua harus
terlebih dulu menjadi "pendengar yang baik" sebelum memberikan
tanggapan agar nantinya dapat menjadi "pembicara yang baik".

 

3.         Menjadi pribadi yang "sehat dan bahagia" Kalau
orang tua ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang sehat bahagia "qurrota
a'yun", maka orang tua harus menjadi pribadi yang sehat dan bahagia. Orang
tua yang pemurung cenderung akan membentuk anaknya menjadi pemurung. Orang tua
yang pemarah akan menghasilkan anak-anak yang pemarah. Anak-anak yang sehat
(akhlaq/jiwanya) dan bahagia akan lahir dari orang tua yang sehat dan bahagia.

 

4.         Mengembangkan simpati dan rasa percaya diri Ada seorang bapak
berkata pada anaknya, "Ti, kamu matematikanya kok goblok amat sih...,
sepupumu Ina bisa dapat sembilan, masa... kamu hanya dapat lima !. Atas dasar
apakah kita membandingkan kemampuan dan kekurangan seorang anak dengan anak
lainnya. Bagaimana kalau anak kita menjawab, "loh bapak sendiri juga
goblok. Sudah berumur lima puluh tahun masih menjadi karyawan biasa.... itu Pak
Amin Rais yang lebih muda dari bapak sudah menjadi ketua MPR". Kalau
maksud membandingkan itu untuk memacu anak, mengapa tidak membandingkan dengan
dirinya sendiri. Misalnya, "kamu cawu kemarin dapat angka enam untuk
matematikamu, cawu ini nilaimu kok lima ?". 



Kita sebaiknya mempersilahkan anak untuk belajar mengevaluasi dirimya sendiri
dan bukan mempermalukan dia dengan hal lain yang tidak mampu ia jelaskan
"mengapanya". Tidakkah kita sedang melecehkan anak?, orang tua kadang
hanya mau tahu hasil akhirnya tapi kurang melihat prosesnya (anak telah
berusaha mati-matian untuk memperoleh nilai yang baik). Orang tua kadang
terjebak pada "maksud saya kan baik" akan tetapi mengabaikan cara
yang baik dan tepat untuk menyampaikan maksud baik tersebut.

 

5.         Membina
rasa tanggung jawab Anak yang dibiarkan besar dalam ego masa bayinya akan
mengembangkan tabiat yang lebih mementingkan diri sendiri. Sedangkan upaya
pembinaan diri sangat berkaitan dengan waktu. Seorang anak haruslah diajari
menghargai waktu, dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Kelak anak itu akan
membentuk dunianya sendiri. Sebelum mereka melangkah ke dunia utuh sebagai
warga masyarakat yang bertanggung jawab, mereka harus dididik dalam keluarga
sebagai anak yang baik dan bertanggung jawab. Di rumah, mereka hendaknya
memiliki tanggung jawab yang berguna bagi dirinya dan bagi orang lain.
Disitulah anak dibina untuk menghadapi masa depannya kelak. 



Kemampuan membangun diri sendiri adalah modal utama bagi pembinaan masa depan
yang lebih baik. Anak-anak yang mampu mengerjakan tanggung jawab sekecil apapun
dalam keluarganya kelak akan bertanggung jawab didalam keluarga yang akan
dibinanya. Tanggung jawab ini mengajarkan mereka berkenalan dengan tenggang
rasa.

 

6.         Membina
spiritualitas dan religiusitas Keluarga yang mengajarkan bahwa materi adalah
segala-galanya cenderung melahirkan generasi yang materialistik dan kurang
manusiawi. Anak-anak yang dibesarkan di dalam keluarga yang hanya mengejar
materi akan membuat pikiran anak tersebut bertumpu pada uang dan kekayaan.
Keluarga seperti ini akan menimbulkan kesulitan bagi masyarakat sekitarnya.
Mereka akan menganggap masyarakat sebagai obyek untuk memuaskan keinginan
mereka. Mereka menilai segala sesuatu dari sudut untung rugi secara materi,
padahal kehidupan ini akan bergantung pada kekayaan saja.

 

Nilai-nilai rohani yang tinggi perlu dikembangkan. Nilai religius akan
mengajari mereka untuk mengendalikan diri dan nafsunya sehingga membawa
kebahagiaan untuk hidup ini. Masyarakat yang memperhatikan kebutuhan rohani
lebih tangguh menghadapi kesulitan hidup daripada masyarakat yang
menggantungkan diri pada materi saja. Anak-anak yang masih peka dalam kehidupan
ini sebaiknya diarahkan pada keseimbangan nilai materi dan rohani. Kehidupan
manusia bukan tergantung pada kehidupan jasmani saja. Manusia dalam hidupnya
harus mencapai kebahagian dunia dan akhirat. 

 

7.         Menjadi
orang tua sekaligus sahabat Kalau kita ingin menyederhanakan puluhan bahkan
ratusan cara orang tua bersikap terhadap anak, maka ratusan cara itu dapat
disederhanakan dalam suatu cara "menjadi orang tua sekaligus sahabat bagi
anak".

 



D. Penutup

 

Kemajuan
di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata bukan jaminan bagi
terciptanya keluarga sejahtera dan memudahkan seorang anak untuk menjadi
dewasa. Alat komunikasi yang canggih bukan jaminan terwujudnya pola komunikasi
yang sehat dalam keluarga. Dalam jaman yang serba maju saat ini, ternyata
banyak suami yang kehilangan istrinya, istri yang kehilangan suaminya meskipun
mereka selalu tidur dalam satu ranjang. Banyak orang tua yang kehilangan
anaknya dan anak yang kehilangan orang tuanya meskipun mereka berada dalam satu
rumah. Mereka bukan kehilangan anggota keluarganya karena pergi dari rumah dan
tidak pernah kembali, aka tetapi diantara mereka kehilangan kepribadian
pasangan hidup dan anggota keluarganya. Apa yangt terjadi bila seorang anak
melihat orang tuanya telah berubah menjadi orang lain yang tidak dapat dikenali
dan dipahami lagi. Demikian juga sebaliknya dalam era globalisasi ini
kepribadian seseorang yang tidak dewasa akan sangat mudah terpengaruh dan cepat
berubah kearah negatif bila tidak dilandasi dengan agama yang benar dan suasana
keluarga yang sehat.

 







Suatu
puisi yang indah dan penuh makna ditulis oleh Dorothy law Nolte :

 

 

Jika anak dibesarkan dengan
celaan, ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan denagn permusuhan, ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,

ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

 

Sungguh indah dan tepat
nasihat puitis Khalil Gibran ketika menasihati seorang ibu, antara lain :

 

Anakmu bukan anakmu

mereka putra Sang Hidup yang rindu dirinya

Lewat engkau mereka lahir,

tetapi bukan dari engkau

Mereka ada padamu,

tetapi bukan milikmu

Beri mereka kasih sayang,

tetapi jangan suapi pikirannya

Kau boleh menyerupai mereka,

tetapi jangan paksa mereka menyerupaimu

 

 

 

 

 

Muh. Jamaludin Ahmad, Psi.

Psikolog Polda Metro Jaya

 

http://biropersonel.metro.polri.web.id/index.php?view=article&catid=97&id=108%3Abagaimana-bersikap-terhadap-anak&option=com_content




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke