Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakaatuhu.
 
Riwayat-riwayat mengenai penafsiran dari ta’bir nabi Yusuf melihat 11 bintang, 
matahari dan bulan.
 
1.                Dari Qathadah “firman Allah , idzqaalaa yuusufu….saajidin” 
yang dimaksudkan adalah saudara-saudaranya.(Tafsir Ibnu Abi Hatim hal 21010)
2.                Dari Ibnu Abbas ia berkata : “ Mimpi para nabi adalah wahyu”
3.                dari Sadyi(salah seorang  mufassir), yang dimaksudkan “ 
Assyamsi(matahari, dalam ayat ) adalah nabi Ya’qub, Al Qamar(ibu nabi Yusuf)
4.                Dari Ibnu Juraiz : Bintang –bintang adalah saudara nabi 
Yusuf, Asyamsu adalah ibunya, sementara alqamar adalah ayahnya.(tafsir 
Atthabbari hal 4464-4465)
5.                dllnya cukup banyak riwayat mengenai hal ini.
 
 
Sekarang kita lihat bagaimana itu rukyaa, apa hakikat rukyaa(ingat, bukan 
ruqyah, bukan dengan qaf, tetapi dengan hamzah).
 
Kata-kata rukyaa(mimpi) didalam surat ini ada disebutkan sebanyak tiga kali, 
diawalnya, dipertengahan dan diakhirnya.
 
Adapun pada awalnya, adalah mimpi nabi Yusuf, dipertengahan mimpi kedua orang 
pemuda temannya didalam penjara, adapun diakhirnya adalah mimpi raja.
 
Apakah beda antara rukyaa dan rukyah?
 
Ustadz Amru Khalid menjawab : “ Rukyaa” adalah : “penglihatan dengan mata 
kepala didalam tidur, sementara “Rukyah” adalah : “penglihatan dengan mata 
kepala, tetapi saat kita dalam keadaan bangun”.(Yusuf hal 50).
 
Kalau begitu apa itu hakikat dari rukyaa?
 
Imam Al Maazuri mengatakan : Mazhab ahlu sunnah rukyaa adalah “ Allah Ta’ala 
menciptakan didalam hati manusia suatu kebiasaan, atau i’tikad-i’tikad, 
keyakinan-keyakinan disaat ia tidur, sebagaimana Allah menciptakannya disaat 
seseorang sedang bangun. Allah maha berkehendak dengan segala sesuatu, tidak 
ada larangan bagi Allah, apakah seseorang itu sedang tidur atau sedang bangun. 
Oleh sebab itu dalam sebuah riwayat Rasulullah bersabda : “Arrukyaa yang baik 
(mimpi atau penglihatan saat kala tidur)dari Allah, sementara alhilm (mimpi 
juga)dari syetan”.(H.R.muttfaqun ‘alaihi).
 
Hadis Riwayat Bukhari dari Abi Hurairah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam 
bersabda: “ Tidak ada yang tinggal setelah aku selain kabar gembira: Rukyaa 
(mimpi)  yang baik adalah benar”, riwayat shahih lainnya : Rukyaa itu adalah 
sebahagian dari 46 bahagian dari kenabian”(inilah yang lebih sah riwayatnya)
 
Imam Azzuhaili dalam penafsirannya mengatakan : “Hakikat rukyaa adalah 
mendapatkan sesuatu yang benar disaat tidur”.kebanyakannya terjadi saat akhir 
malam, dimana orang sedang nyenyak-nyenyaknya tidur. Perbedaan kepercayaan 
dengan orang sufi dan ahlussunnah. Orang sufi mengatakan bahwa mimpi yang 
mereka lihat dalam tidurnya adalah suatu kepastian yang akan terjadi, dan 
merupakan ilham, sementara ahlussunnah tidak beranggapan semacam itu, kepastian 
hanya dari Allah Ta’ala, namun mereka percaya bahwa rukyaa yang benar itu dari 
Allah.
 
Para hukama mengatakan bahwa : “ Sesungguhnya rukyaa(mimpi) jelek kelihatan 
ta’birnya tidak begitu jauh dari kenyatannya, sementara rukya yang baik, 
kelihatan kebenarannya setelah beberapa tahun atau berapa lama kemudian” 
(lihatlah ta’bir mimpi nabi Yusuf, kenyataan setelah 40 thn, ada yang bilang 
setelah 80 thn kemudian baru ketahuan ta’bir mimpi saudara dan ortunya sujud 
penghormatan kepada beliau, padahal mimpi itu ketika beliau berumur 12 thn).
 
Oleh sebab itu dalam sebuah riwayat dari Sunan Tirmidzi : “ Mimpi itu 
tergantung pada pemiliknya, ia bagaikan burung yang terbang, selagi sang 
pemilik mimpi tidak menceritakan mimpi baik itu, maka janganlah menceritakan 
mimpi baik, kecuali kepada orang yang berakal, atau orang yang benar-benar kita 
percayai dan kita cintai saja, atau tempat kita meminta nasehat kepadanya”.( 
Tafsir Al Munir juz 12 hal 208).
 
“ Qaalaa ya Bunayya..lataqsus rukyaaka ‘alaa ikhwatika fayakiiduulakaa kaidaa, 
innassyaithaanaa lilinsaani’aduwwummibiinun”( Ya’qub berkata) kepada anaknya, “ 
Wahai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpi ini kepada saudara-saudaramu, maka 
mereka akan membuat makar(tipu daya), untuk membinasakan kamu. Sesungguhnya 
Syetan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.(Q. S Yusuf 5).
 
Aduhai alangkah indahnya percakapan kedua anak dengan ayahnya, sang anak 
memanggil dengan panggilan kesayangan pada sang ayah, dan ayah menjawab dengan 
panggilan kesayangan juga yaitu “ Bunayya”(isim tasghiir, panggilan 
kesayangan). Asal katanya adalah “ Ibnii=anakku”, dipanggil “bunayya”, adalah 
panggilan kesayangan.
 
Contoh isim tasghir lainnya adalah panggilan Rasulullah kepada istrinya 
“Humaira” (sipemilik pipi yang merah). Asal katanya alhamraa=ahmar=merah. 
Dijadikan menjadi panggilan kesayangan menjadi Humairaa. Inilah panggilan 
ibunda kita Siti Aisyah oleh Rasulullah.
 
Dalam bahasa Arab semacam ini memiliki kaedah. Contoh kata “rahima” bisa 
dijadikan ruhaima, hamiidah, humaiidah, shagiirun, shugaiyyarun, etc…indah nian 
bahasa Arab ini.Ada isim tafdhil=melebihkan maa ajmamalaHa anti”betapa 
cantiknya dikau ini”, ada isim tasghir(mengecilkan atau merayu), “yaa humairaa, 
wahai sipipi merah” Yaa bunayya, wahai anakku..” etc…Dari asal atau akar kata 
yang satu bisa membentuk puluhan bahkan ratusan pengertian. 
 
Kita lihat lagi, kenapa nabi Ya’qub melarang anaknya Yusuf menceritakan 
mimpinya itu? Ada apa dibalik itu, apa hikmah yang kita ambil dari ayat kelima 
diatas? Adakah kebalaghahan (sastra ) bahasanya juga disana? Ada..mari 
sama-sama kita lihat. (bersambung, insyaAllah Ta’ala)
 
Wassalamu’alaikum. Rahima Cairo, 15 April 2006.
 
 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke