Tatkala saya mengajukan judul disertasi tersebut, mulanya ditolak oleh dekan 
fakultas, karena alasannya saya belajar di Mesir, seharusnya judul buat 
kepentingan orang Mesir. Saya jawab saja. " Ya Duktuurah, kalau saya menulis 
tentang Mesir, atau agama Islam secara umum, rasanya sudah banyak orang Mesir 
itu sendiri yang jauh lebih hebat dari saya. Dan saya sengaja diutus oleh 
Negara saya ke sini belajar menimba ilmu, yang mana kelak hasilnya buat Negara 
saya sendiri, itulah sebabnya saya dikirim ke Mesir ini".
 
"Apa kata para dukturaah, dekan fakultas saat saya menjawab itu, hmmm,..lumayan 
cerdas juga kamu Rahima menjawabnya, padahal sebelumnya ada beberapa mahasiwi 
yang mengajukan judul yang judul tersebut berkaitan dengan Indonesia, tidak 
diterima, dan saya memang mendengar langsung itu dari salah seorang mahasiswi 
Indonesia, tetapi dijurusan lain, mengeluh, karena beberapa kali mengajukan, 
tidak diterima, alasannya karena kaitannya dengan Indonesia, mana sampai 
akhirnya mahasiswi tersebut cari universitas lain untuk melanjutkan kuliyah, 
dan saya tidak tahu, apakah kuliyah banin(lelaki) sesulit di banat(kuliyah 
bagian perempuan, dalam hal judul tentang Indonesia ini).
 
Alhamdulillah diterima juga oleh para penentu diterima atau tidak diterimanya 
judul seseorang(majlis kuliyah/universitas).
 
Sebelum mengajukan itu, aku telah mendapat persetujuan dulu dari pembimbing, 
dan aku telah mengurus surat keseluruh fakultas Al Azhar jurusan hadits dan 
bahasa Arab di seluruh Mesir. Aku pergi sendiri mengecheck dan meminta tanda 
tangan ke berbagai daerah, ke Thanta, jaqazik, Alexandria, sekitar cairo, dan 
entah kemana lagi, akupun lupa. Pergi ke kuliyah, ketempat yang jauh dari kota 
Kairo(luar kota Kairo), dimana tak pernah sebelumnya aku ketempat itu, dan 
harus tanya kesana kemari, dimana lokasi tempat yang kutuju itu. Ada 12 
lokasi.Semua dengan naik mini bus, bukan taxi. Mau minta tolong suami,tidak 
mungkin, karena beliau sangat sibuknya di kantor. Kasihan masak mengurus 
kuliyah istrinya melulu kagak habis-habisnya. Hanya satu tempat yang aku minta 
tolong mahasiswa, tempat itu terlalu jauh, dan harus menginap. Hampir dekat 
dengan Luxor. Syukurnya ada mahasiswa yang memang beliau itu mau kesana, juga 
dalam pengurusan pentasjilan magisternya. Sekali
 jalanlah.
 
Alhamdulillah, setelah itu, aku agak lega. Namun, untuk minta tasdiq, sebelum 
dapat persetujuan amni adduliy(ini katanya khusus untuk yang ambil dukturah, 
kalau magister rasanya tidak sampai ke amni addauli(semacam keamanan Negara, 
ABRI, atau polisi, atau apalah, saya juga tidak faham).
 
Ketika saya tanyakan sama suami, kenapa sih harus ke Amn Addauliy, baru bisa 
judul kita diterima untuk dukturah tersebut, padahal dulu ketika ngurus 
magister ngak sampai ke Amn Addauliy deh,..". "Iyah,.karena untuk mengambil 
duktrah itu mereka hati-hati, jangan-jangan Ima dikirain mereka 
teroris"(huahaha..emang ada tampang teroris Imanya..?jenggot juga kagak ada, 
berniqab juga kagak, biasanya kan yang dicurigai polisi di Mesir ini mahasiswa 
yang berbaju jubah, jenggot, dan kalau perempuan yang pakai niqab(cadar), 
mereka punya organisasi atau tempat perkumpulan tersendiri?. Saya bilang begitu 
sama suami.
 
 Suami saya jawab"mereka tidak peduli berniqabkah, berjenggot dan gamiskah, 
atau apa kah, yang penting sudah aturannya setiap yang ambil duktorah, 
diperiksa mereka dulu data-data orang tersebut, setelah jelas, siapa, baru 
disetujui untuk ambil dukturah di Al Azhar itu".
Saya berdalih lagi, kan seharusnya mereka tak perlu repot-repot, kalau 
pendatang baru, iyalah, ini Imakan jelas dari S1, sampai S2nya di Al Azhar 
telah rabun mata, telah peyote kulit, telah gugur rambut dan gigi, semuanya 
berada di Mesir, dan Al Azhar juga. Yah..gimana lagi, namanya peraturan yah 
harus ditaatilah.
 
Alhamdulillah selesai juga urusan pentasjilan saya, yang lumayan untuk tasjil 
dukturah itu memakan waktu lama juga. Karena menunggu ketidak pastian tersebut, 
perasaan meneruskan judul tulisan yang saya ajukan itu belum ada semangat. 
Khawatir, jangan-jangan tak diterima, enakan baca-baca buku lain ajalah. Meski 
suami saya selal,u ingatkan gimana dengan tulisannya Ima…?? Saya santai dan 
senyum aja. Bilang dah pasti di tasjil belum? Tolong ditanyakan ke kuliyah. 
Alhamdulillah, setelah beliau ke kuliyah untuk mengambil tasdiq, karena katanya 
Depag akan berikan bea siswa, bantuan pendidikan buat mahasiswa/i, S2/S3 di 
Mesir, maka sekalian ditanyalah oleh suami saya gimana dengan tasjil saya 
(pencatatan resmi kita diterima menjadi mahasiswi di fakultas itu, untuk 
meneruskan doctoral).
 
Alhamdulillah, mabruk,…kata pegawai disana, sudah selesai semua urusannya, 
sudah diterima judul dan menjadi mahasiswi program doctoral di Al Azhar itu.Dan 
langsung saja tasdiq diberikan, meski kita belum bayar uang kuliyah untuk tahun 
ajaran 2008/2009 itu. Untuk mendapatkan tasdiq itu harus pula bayar uang 
kuliyah. Untuk doctoral 2000 pound setahun, tidak sama dengan magister yang 
hanya 1000 pound. Yah,..mana suami bawa uang sebanyak itu, katanya masih ada 
batas waktu sampai dua bulan sebelum habis tahun ajaran tersebut. Kalau kita 
tidak pandai-pandai sama orang suun tersebut, sangat susah minta tasdiq,apalagi 
sekejap jadi. Pintar juga suami saya berurusan dengan para petugas Suun yang 
notabene adalah perempuan yang terkenal cerewet itu.
 
Alhamdulilah, sudah kebiasaan saya, dimana saja saya berada, selalu mendekati 
lingkungan saya. Bukan pembimbingnya saja yang dekat, sampai pada suun(petugas) 
kemahasiswaannyapun saya dekati. Saya sangat mengerti, orang Mesir itu suka 
dipuji kerjanya. Saya melakukan pendekatan itu bukan basa-basi, tetapi memang 
merasa, mereka pantas untuk dihargai, didekati, masak mereka hanya petugas yang 
melayani kepentingan kita saja, tak apa sekali-kali kita menghargai mereka, 
dekat dengan mereka, dan menjadikannya saudara kita. Dan bukan dengan uang 
banyak mendekati itu, tak semua harus dengan uang. Kita bisa dengan cara 
kelemah lembutan, keceriaan bergaul dengan mereka, kita hargai saja mereka, 
insyaAllah urusan semua lancar.
 
Sampai saat ini, alhamdulillah segala urusan yang saya urus, baik di Indonesia 
yang katanya setiap urusan ujung-ujungnya duit itu, tidak pernah saya lakukan. 
Murni pergaulan saja. Memang sih, mulanya mereka mempersulit urusan kita, 
karena mereka mungkin ada maunya dari kita. Tapi saya selalu berusaha 
menepiskan itu dengan cara yang halus, tapi tajam dan mengena, saya ajak 
mengomong, cerita meski sampai berjam-jam menghabiskan waktu saya untuk 
mengomong itu, sehingga saya tak perlu keluar uang dari kantong, kecuali memang 
administrasinya harus bayar, yah,mengcopy, atau rusum (pembayaran), iyalah, itu 
kewajiban yang harus dibayarkan memang. Kalau tidak kita bayar, itu namanya 
kelewatan.
 
Ketika pihak sekolah dengan cara baik dan halus saya mendekatinya agar berikan 
saya tugas belajar untuk ambil S3 tidak dikasih dan berhasil juga. Saya tak 
pernah mau mundur dan mengalah untuk mau mempergunakan uang demi selesainya 
urusan saya itu. Sudah beberapa kali mereka mengajukan minta imbalan material. 
Saya akan sabar, dan cari jalan lain, saya tetap tidak mau urusan pakai uang, 
tidak suka saja cara seperti itu, iyah saya ada uang, yang saya pikirkan 
bagaimana dengan yang lain, anak cucu keturunan saya kelak bagaimana, kalau hal 
semacam ini tidak kita yang memulai memberantasnya, justru selagi kita punya 
uang itu. 
 
Tak satu jalan ke Roma saya pikir.Pokonya cari jalan yang halal, tidak perlu 
harus menyogoklah. Karena saya sangat meyakini bahwa diatas langit ada langit 
lagi. Diatas seseorang yang berkuasa ada yang lebih berkuasa lagi. Keyakinan 
atas kekuasaan dan kemaha adilan dan taqdir, qadha Allah Ta'ala begitu tertanam 
dalam sanubari. Kalau rezeki tak akan kemana, kalau tak rezeki mo diapakan? 
Yang penting usaha dan do'a terakhir tawakkal. 
 
Saya tak mau pakai uang, maka saya urus langsung ke  Jakarta. Dan alhamdulillah 
selesai dengan cepat, juga tanpa uang. Namun, setelah saya akan berangkat ke 
Mesir saya tak lupa juga mengucapkan rasa terimakasih kepada semua pihak yang 
telah menolong dengan mudah semua urusan saya itu. Saya minta sama suami saya 
kirim souvenir atau hadiah buat mereka, karena saya tak mau dikatakan pelit, 
dan tak menghargai jasa orang, saya hanya tak mau main sogok untuk mendapatkan 
selesainya urusan saya itu. Bahkan, saya memberikan hadiah itu, tidak langsung, 
tapi kasih melalui temannya. Dan saya akan selalu mengingat bantuan jasa mereka 
itu.
 
Dengan pihak sekolahpun, sudah begitu hati saya disakiti, namun tetap pada 
akhirnya saya baik juga, saya tidak akan dendam, karena bukan sekedar tidak 
dikasih surat keterangan yang saya minta saja, tetapi bahkan saya dihalangin 
untuk urusan ini. Ada rasa sedih dan sakit, sampai sekarang sulit saya lupakan, 
namun tetap saya usahakan baik sajalah. Setiap pulang liburan, tidak pernah 
tangan saya hampa, selalu ada oleh-oleh dari Mesir yang saya bawa, bahkan 
setiap ada rapel kenaiakan gaji, pangkat, atau apalah, saya sisihkan uang itu 
buat pesan atau beli nasi bungkus untuk teman-teman dikantor. 
 
Kalau dipikir-pikir, sangat sulit kita berbuat baik, dengan orang yang telah 
menyakiti hati kita bukan? Tapi disanalah saya akan berusaha semaksimal 
mungkin. Berbuat baik dengan orang yang baik sama kita, itu adalah hal yang 
wajar. Tetapi berbuat baik pada orang yang telah berbuat jahat sama kita, itu 
baru hal luar biasa. Memberi nafkah/sedeqah/uang atau apa kek, pada orang yang 
telah memberi kita, itu adalah wajar, tetapi memberi pada orang yang tak pernah 
memberi sama kita, itu baru luar biasa.Semua ini adalah ajaran dan didikan 
suami saya sendiri yang selalu menasehati saya agar selalulah berbuat baik, 
tanpa pamrih, dan jangan pernah dendam sekalipun sama siapapun. 
 
Berat mulanya saya menerapkan nasehatnya ini. Tapi semua itu memang butuh 
latihan dan tekad bulat, kalau hakikatnya kita semua adalah bersaudara. Ini 
enaknya kalau dapat suami yang tau agama, dan berhati baik. Wajarlah kalau 
lelaki itu memang dijadikan untuk pemimpin. Kalau diikuti saya yang perempuan 
ini, cukup lemah, suka emosi, tersinggung dan sebagainya, saya miliki 
kekurangan itu, tetapi selalu di tahan oleh suami, dinasehati, bahkan tak 
jarang beliau sangat tegas, tapi tidak  pernah berkata kasar dan menekan, 
apalagi memaksa, untuk hal-hal semacam itu, orangnya lembut, ngomong aja tidak 
pernah suaranya keras, sering orang bilang, tidak kedengaran saking pelan 
suaranya.Saya bukan pula type istri yang gampang menerima begitu saja, suka 
mendebat dulu tanpa alasan yang kuat dan dalil yang tepat. Nasehat dan logika 
yang beliau berikan bisa saya terima. Karena kalau sudah Islam yang menetapkan, 
saya sudah angkat tangan, saya akan sami'naa wa
 atha'naa.(saya dengar dan saya taati). 
 
Untuk masalah hukum Islam bagi perempuan inipun, suami saya tidak pernah 
seenaknya mengatur saya, mentang-mentang istri disuruh patuh/taat sama suami, 
apa katanya tanpa saya proses dan lihat dulu, saya telan mentah-mentah. Tidak, 
saya bukan type wanita yang manut tanpa alasan jelas dan kuat, karena saya juga 
memiliki argument agama yang kuat juga, sehingga beliau sangat hati-hati dan 
teliti serta benar-benar kuat dalilnya untuk disampaikan kesaya, yang bisa saya 
terima dengan keikhlasan hati dan akal yang jernih. 
 
Saya tak ingin perempuan itu jadi permainan lelaki dengan meng atas namakan 
agama. Padahal agama Islam sangat menghargai apa yang namanya Perempuan.Dan 
kecerdasan perempuan juga baiknya untuk para kaum lelaki, sehingga tidak pula 
mereka bertindak semena-mena, yang justru akan memasukkan mereka kedalam jurang 
kehancuran. Sepanjang hukum Allah dan RasulNya membolehkan, silahkan saja. 
Namun pun begitu, saya juga paling tak suka melihat para suami yang istilahnya 
:Para suami takut pada para istri mereka, naudzubillahimindzalik" Yang perlu 
ditakuti hanya hukum / adzab Allah Ta'ala semata, bukan para istri ataupun 
suami.
 
Wassalamu'alaikum. Bukittinggi, 3 Mei 2009. Rahima.Sikumbang Sarmadi
    


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke