----- Forwarded Message ----
From: Abu Farras Mujahid <[email protected]>
To: [email protected]
Cc: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]
Sent: Sunday, May 3, 2009 12:16:05 PM
Subject: [FLP] Cermin Hati





Kita dapat melihat fisik kita saat kita bercermin. Bagaimana rupa, rambut, 
tangan, badan, kulit kita, dan lain-lain. Tujuan dari cermin adalah memantulkan 
kembali siapa diri kita. Tapi hal itu tergantung dari cermin itu sendiri, 
apakah bersih atau kotor. Cermin yang kotor, tidak dapat memperlihatkan diri 
kita sebenarnya. Kita agak kesulitan untuk mengenali bagian tubuh kita yang 
tidak terlihat oleh pandangan mata kita. Jika saja ada goresan pena di wajah 
kita, kita tidak mengetahuinya, karena kita melihat bahwa yang kotor itu 
cerminnya, bukan wajah kita. 

Sahabatku, demikianlah cermin yang ada di luar dunia kita. Apa yang ada di 
dalam diri kita jauh lebih besar daripada apa yang ada diluar diri kita. 
Penyakit yang ada dalam tubuh kita, lebih berbahaya daripada penyakit yang 
terlihat dipermukaan. Penyakit jiwa lebih berbahaya daripada penyakit fisik. 
Penyakit fisik bisa disembuhkan dengan kesegaran ruhani. Sementara penyakit 
jiwa tidak dapat disembuhkan dengan berbagai macam obat-obatan fisik. Ia hanya 
bisa disembuhkan oleh kesadaran ruhaniah. Sesungguhnya cermin fisik hanya 
menyentuh dunia luar kita, tetapi ia tidak mampu menyentuh dunia dalam kita. Ia 
tidak dapat menyentuh perasaan, kegelisahan, ketakutan, ataupun ketenangan 
kita. Tidak mungkin kita melihat perasaan kita dengan penampilan fisik semata. 
Bisa saja kita menutup-nutupi kekurangan diri kita dengan cara berhias, 
berpakaian rapi, berjalan anggun, dan berbicara sopan, tetapi ketika dihadapkan 
pada ujian dan cobaan, hatinyalah yang berbicara. 

Seberapa dalam kita mengenal diri kita, tergantung bersih atau tidaknya cermin 
yang ada di dalam diri kita. Cermin yang bersih menimbulkan kepekaan ruhani 
yang tinggi. Pemiliknya sangat sensitif pada hal yang terkait akhirat, iman, 
ibadah, akhlak mulia, dan syariat. Rasulullah Saw. biasa beristighfar seratus 
kali sehari, padahal beliau sudah dihapuskan dosa-dosanya baik yang sebelum 
maupun sesudahnya. Para sahabat Rasulullah sering mengatakan, “Andaikan aku 
sebatang pohon yang ditebang...Andaikan aku rumput yang diinjak-injak. ..” 
Kata-kata itu timbul dari hati yang bersih sehingga menghasilkan kepekaan yang 
menakjubkan. 

Kita tidak heran dengan orang yang malu ketika berhadapan dengan orang lain, 
tetapi Abu Bakar menutup wajahnya saat di WC. Beliau malu kepada Allah Swt. 
Pada suatu ketika Abu Bakar kedatangan rombongan dari negeri Yaman. Salah 
seorang dari rombongan itu membaca al-Quran, anggota rombongan lain yang 
mendengarnya pun menangis. Melihat hal itu, Abu Bakar kagum. Beliau mengatakan 
bahwa tangisan itu hadir dari hati yang bersih. 

Para orang-orang saleh tergetar hatinya tidak hanya pada saat melakukan ibadah, 
tetapi juga ketika melihat suatu fenomena atau mendengar sebuah syair saja. 
Orang-orang saleh begitu lembut perasaannya. Ketika nasihat dia dengarkan, 
nasihat itu memantul pada cermin hati, memberitahukan siapa diri kita 
sebenarnya. Dengan jelas dia melihat dirinya sebenarnya. Ketika melihatnya, dia 
menangis karena banyak sekali kekurangan dan dosa-dosa yang telah ia lakukan. 

Anas bin Malik Ra. berkata, “Rasulullah Saw. berkhutbah kepada kami, sama 
sekali aku belum pernah mendengar khutbah yang seperti itu sebelumnya. 
Rasulullah Saw. bersabda, ‘Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, sungguh 
kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa’. Maka para sahabat menutupi 
wajah-wajah mereka, dan sesaat terdengarlah suara isakan tangis.” 

Pada suatu ketika Rasulullah Saw. membaca ayat, “Dan janganlah kamu memalingkan 
mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi 
dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi 
membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18).

Kemudian Nabi Saw. berbicara tentang kesombongan. Beliau mengatakan bahwa hal 
itu adalah perkara yang besar. Maka Tsabit bin Qais yang duduk di sisi 
Rasulullah Saw. menangis. Lalu Rasulullah Saw. berkata kepadanya, “Apa yang 
membuatmu menangis?” Dia menjawab, “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku ini 
orang yang sangat mencintai keindahan, sampai-sampai tali terompahku aku 
bagus-baguskan?” Rasulullah Saw. bersabda, “Engkau penghuni surga, bukan 
termasuk kesombongan lantaran memperbagus kendaraan dan tempat tinggal. Akan 
tetapi kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”

Abu Musa al-Asy’ari Ra. berkhutbah dihadapan orang-orang di Bashrah. Dalam 
khutbahnya dia menyinggung tentang api neraka. Dia menangis sampai airmatanya 
jatuh ke mimbar. Maka orang-orang pun menangis sejadi-jadinya. 

Zirr bin Hubaisy menulis surat kepada Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Lewat 
surat itu dia menasihatinya. Pada akhir surat itu tertulis:
Wahai Amirul Mukminin, kesehatan yang ada padamu janganlah membuatmu terlena 
mengharapkan panjangnya masa hidup. Sesungguhnya engkaulah yang lebih tahu akan 
dirimu! Dan ingatlah apa yang dikatakan oleh orang-orang generasi awal:
Apabila orang dewasa, anak mereka telah lahir
Dan jasad mereka telah rusak karena ketuaan
Dan jatuh sakit pun telah biasa menimpanya
Itulah masa panen telah dekat

Sahabatku, ketika cermin hati kita tidak bersih, kita tidak dapat mengenal diri 
kita sebenarnya. Kekotoran kita ditutup-tutupi dengan keadaan cermin yang 
kotor. Jika sudah tidak dapat mengenal diri kita, kita tidak dapat mengenal 
Tuhan kita. Naudzubillahi mindalik. 

http://abufarras. blogspot. com   

[Non-text portions of this message have been removed]


   


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke