Bismillaahirrahmaanirrahiim
 
Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakaatuh
 
Yusuf 11-18
 
Mereka berkata: "Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami 
terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini 
kebaikan baginya
 
Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang 
dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya."
 
 
Berkata Yakub; "Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku 
dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah 
daripadanya."
 
 
Mereka berkata: "Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan 
(yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi."
 
 
Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu 
mereka masukkan dia), dan (di waktu dia sudah dalam sumur) kami wahyukan kepada 
Yusuf: "Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, 
sedang mereka tiada ingat lagi."
 
 
Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis.
 
Mereka berkata: "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan 
kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala, 
dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah 
orang-orang yang benar."
 
 
Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. 
Ya`qub berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan 
(yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah 
sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan."
 
 
 
 
 
 
Sebelum memasuki ayat ke sebelas, ada baiknya kita melihat kembali sisi  
Balaghah(sastra) pada ayat ke 9, pada kalimat "Yakhlu lakum Wajhu Abiikum" 
(Agar perhatian ayah kamu tertumpah kepada kamu).
 
Kenapa didalam ayat bukan dikatakan "Yakhlu lakum Ihtimaamu abiikum"(Ihtimaam= 
yang berartikan perhatian, sementara wajhu artinya adalah wajah=muka).
 
Disinilah letaknya kesastraan bahasa Arab yang ada dalam AlQuran, karena awal 
dari yang menarik perhatian seseorang terhadap orang lain adalah wajahnya. 
Bukan perhatiannya secara langsung. Sama saja ketika kita memanjatkan do'a 
iftitah :"Inni Wajjahtu wajhiya"(Sesungguhnya aku memberikan perhatian 
wajahku(bukan sekedar wajah, namun hati, serta perhatian khusus hanya Allah 
Ta'ala semata dengan membuang kekhusu'kan selain Allah Ta'ala, terutama saat 
kita shalat dan mengikrarkan kalimat tersebut, sangat tidak pantas kita 
memalingkan wajah(hati dan perhatian kita), pada selain Allah Ta'ala.
 
Pada ayat ke 11 : "Qaaluu yaa abaanaa maa laka laatakmannaa"(mereka berkata, 
wahai ayah kami, kenapa sih engkau tidak percaya sama kami)?
 
Kalimat :"Tak mannaa" ini asal nya adalah "Tak ma na na", dalam bahasa Arab 
sering terjadi, pertemuan dua huruf yang sejenis dan berharakat(berbaris), maka 
huruf yang awal (Na), di sukunkan(dimatikan), dan diidghamkan huruf kedua(Na 
yang kedua), makanya menjadi "Takmannaa"(disukun dan idghamkan).
 
Kita lihat lagi pada ayat ke – 16. "Wajaauu abaahum 'isyaaan yabkuuna".
 (Dan mereka (saudara-saudara Yusuf) datang pada waktu Isya kepada ayah mereka 
(ya'qub).
 
"'Isyaan adalah dzaraf  menempati posisi hal dalam grammar=nahwu). Kenapa 
saudara Yusuf datang kepada ayah mereka pada malam hari? Jawabnya : Agar 
permintaan maaf mereka kepada ayah mereka atas kesalahan terhadap Yusuf lebih 
dapat diterima, karena pada malam hari, rasa salah itu tidak begitu jelas 
kelihatan ketimbang disiang hari.. Oleh sebab itu dikatakan :'janganlah meminta 
suatu hajat pada seseorang pada malam hari, karena rasa malu ada pada kedua 
bola mata dimalam hari itu, dan janganlah meminta maaf pada siang hari dari 
dosa/kesalahan, karena saat itu hatimu akan ragu-ragu, atau ketahuan 
gemetarannya.(Lihat bahrul almuhiith 5:288 dan tafsir Al Munir 12:224).
 
Kemudian pada lafaz selanjutnya dalam ayat yang sama. "Yabkuuna". (Mereka 
menangis).
 
Merupakan usaha tipu daya mereka kepada nabi Ya'qub atas kedustaan mereka 
dengan seolah-oleh menangis, suatu kemunafikan dan tipudaya yang amat sangat.
 
Dari sini, para ulama memberikan penjelasan, bahwa "tangisan" seseorang 
bukanlah suatu hal yang menunjukkan sesuatu kebenaran mutlak dari dirinya, 
karena kemungkinan besar tangisan tersebut hanyalah buatan belaka untuk menarik 
perhatian seseorang, tapi jangan digenelarisir setiap tangisan seseorang adalah 
buatan belaka. (kalau dipikir-pikir makhluk berjenis manakah yang suka 
menangis?).
 
Kita lihat pada ayat ke -17 : " Qaaluu yaa abaanaa, innaa dzahabnaa 
nastabiqu.." (Mereka berkata kepada ayah mereka, sesungguhnya kami saat itu 
sedang berlomba-lomba…)
 
Pada ayat diatas ada didalamnya suatu hukum 
Al musabaqah=perlombaan), yang diperbolehkan dalam agama. Cukup panjang 
pembahasan masalah ini, namun kita mengambil inti dari kesimpulan pendapat 
Ulama terhadap hukum berlomba/bertanding itu bagaimana.
 
Apabila ada dua orang, atau dua kubu, atau beberapa orang, beberapa kelompok 
ingin bertanding. Dan semuanya mempetaruhkan harta benda, uangnya dalam 
pertarungan tersebut, maka ini adalah bentuk perlombaan yang diharamkan, sama 
dengan taruhan/judi, yang diharamkan dalam islam.
 
Namun, apabila ada dua kelompok, atau dua orang dan seterusnya bertanding 
dengan tanpa mempetaruhkan uang dari pihak kelompok tersebut, seperti 
perlombaan gerak jalan, pacu kuda, dan lainnya (yang tanpa keluar harta), namun 
ada pihak ketiga, penyelenggara yang berada diluar kelompok yang bertanding 
tersebut memberikan hadiah bagi sipemenang, maka ini adalah bentuk perlombaan 
yang dibolehkan.
 
Dalam hal ini diambil dari dalil, bahwa saudara Yusuf saling berlomba, 
bertanding, begitupun dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallhu'alaihi Wasallam 
bahwasanya 'Aisyah ra telah mengalahkan beliau dalam perlombaan lari, kemudian 
suatu kesempatan yang lain, rasulullahpun mengalahkan siti 'Aisyah, dan beliau 
berkata :"kemenangan yang ini, untuk kekalahan yang kemaren".
 
Pada ayat ke – 18. "Wa jaauu 'alaa qamiisihi bidamin kadzibin" (Dan mereka 
datang (pada ayah mereka), dengan membawa kemeja yang dilumuri oleh darah yang 
boongan).
 
Kenapa "dammun=darah" disifatkan dengan kedustaan (kadzib), bukankah yang di 
berikan saudara nabi Yusuf tersebut adalah benar-benar darah, meski bukan 
darahnya Yusuf, tetapi tetap saja darah, bukan darah buatan, atau darah palsu? 
 
Disinilah letaknya kesusasteraan bahasa Arab. Disamping kalimatnyapun di dalam 
bentuk masdar, seharusnya kaadjibun sebagai fa'il( Subjek) .Atau biasanya 
sebagai objek(maf'ulumbih=pelengkap penderita). Hal ini untuk menunjukkan 
mubalaghah(bersangatan) kedustaan saudara Yusuf tersebut dengan memberikan 
darah yang bukan darahnya Yusuf, tetapi darah binatang serigala yang mereka 
sembelih, dan seakan-akan kedustaan itu betul yang ada pada mereka, bukan 
darahnya saja, tapi kebohongan itu 
 
Pada lafaz`selanjutnya dalam ayat yang sama : "Fashabrun jamiil, 
Wallaahulmusta'aanu 'ala maatashifuuna" (maka Nabi ya'qub berkata(atas kedutaan 
anak-anaknya tersebut), maka bersabar itulah jauh lebih indah, karena 
sesungguhnya Allah sajalah yang diminta pertolonganNya atas segala apa yang 
kamu ceritakan itu).
 
Subhanallah, berbaik sangka terhadap apapun takdir dan qadha dari Allah 
Subhanahu wata'ala dengan sebuah kesabaran yang amat sangat, dan tak lupa 
meminta pertolongan pada Allah ta'ala atas segala musibah/ujian/cobaan yang 
menimpanya.
 
Untuk diketahui, Nabi ya'qub bukanlah seorang ayah yang bodoh, dengan cepat 
begitu saja mempercayai berita dari anak-anaknya walaupun dengan linangan air 
mata sekalipun, walau air mata yang keluar bukan saja lagi berupa air, tetapi 
darah sekalipun(maaf ini sekedar hiperbola dari saya pribadi, rasanya belum ada 
orang menangis yang mengeluarkan darah dari matanya deh), nabi ya'qub melihat 
bahwa dalam baju yang disodorkan kepadanya tersebut, walaupun berlumuran dengan 
darah, tetapi beliau tidak ada melihat tanda-tanda koyak dibaju tersebut.
 
 Kalaulah Yusuf benar2 dimakan serigala, seharusnya bajunya koyak dong? Ini mah 
kagak..? Nah,..kelihatan kalau berdusta itu bagaimanapun licik caranya, tetap 
akan ketahuan juga. Jadi, bendingan ngak usahlah berdusta, sia-sia aja, sudah 
dapat dosa, dapat malu lagi. 
 
Hanya tiga kedustaan yang dibolehkan dalam agama sesuai dengan hadits 
Rasulullah yakni' seorang suami berdusta pada istrinya demi menjaga keutuhan 
RT. (misalkan masakan asin dikatakan juga manis, enak, istri jelek dibilang 
juga cantik), dusta dalam keadaan perang, karena "perang itu adalah tipu daya", 
juga dusta untuk mendamaikan dua orang yang bermusuhan. Hanya tiga itu saja 
yang dibolehkan, selainnya No way….
 
Subhanallah, keindahan bahasa dalam AlQuran ini. Bukan hanya isinya yang 
menakjubkan, sastranya yang menggoncang hati, menggugah perasaan, namun juga 
sisi persesuaian kalimatnyapun sangatlah jitu dan teliti.
 
Lihatlah kalimat sabar lebih didahulukan ketimbang meminta pertolongan kepada 
Allah Subhanahu Wata'ala. Sabar dulu atas segala musibah yang menimpa kita, 
baru kita bisa minta tolong pada Allah ta'ala, kita tawakkal, setelah upaya dan 
daya segenap cara kita lakukan, pada akhirnya jalan terakhir, yah tak ada 
selain meminta pertolongan pada Allah Subhanahu wata'ala agar kita lepas dari 
cobaan dan ujian tersebut.
 
Jangan sampai kita semacam orang yang kalang kabut tak tentu arah menghadapi 
ujian, marah-marah, menyalahkan orang lain, apalagi menyalahkan Allah atas 
segala musibah yang menimpa kita. Seharusnya kita sabar dulu, mintalah tolong 
pada Allah ta'ala berbaik sangkalah selalu pada Allah ta'ala, pasti hati kita 
akan tenang.
 
Coba deh kita lihat surah Al fatihah, mana yang didahulukan, beribadah dahulu 
atau minta tolong dulu? "Iyyaakan'budu, waiyyaa kanasta'iin" (Beribadah dulu 
yang didahulukan bukan, baru setelah itu kita minta tolong). Jadi, ini 
kewajiban utama kita sebagai muslim sejati Ibadah, amalan dulu barulah minta 
tolong, bersabar, usaha lah dahulu, baru minta tolong. Ini belum usaha dah 
minta tolong. Seperti orang mau dapat istri yang cantik, shalihah, cuman do'a 
saja sama Allah tanpa usaha mencari wanita shalihah tersebut, yah susahlah 
dapatnya. Atau mau kaya, tapi duduk-duduk di mesjid saja, berdo'a saja, tanpa 
kerja pokonya minta tolong aja sama Allah. Gimana mau kaya tokh…apa ada hujan 
emas dari langit datang begitu saja didepan mata kita? 
 
Padahal bacaan Al Fatihah kita baca entah berapa kali sehari, namun sayangnya 
ma'nanya kurang kita resapi. Mungkin karena kita shalat dan bacanya mo cepat2 
selesai kali, kayak di cotok ayam, ayam kalau mau makan(mencotok) kan cepat 
luar biasa tuh. Coba deh lihat dalam kalang ayam(tempat makanannya bersarang 
itu lho, sering jagung masih utuh bukan, habis makannya cepat2 sih). 
 
Coba saja kalau shalat kita cepat-cepat, tanpa meresapi makna kalimat yang kita 
baca, apa yang kita dapatkan? Bayangkan saja, saat kita berdoa', kita ngak 
ngerti apa yang kita minta, kita ngak khusyuk, bukankah dalam shalat itu 
rata-rata isinya do'a?
 
 Sama saja saat kita minta sama atasan kita akan suatu permintaan tetapi kita 
ngomongnya cepat2, bahkan kita tak tau apa yang kita minta itu, bagaimana 
atasan kita menanggapi permintaan kita itu? (bakalan Bos kita akan ngomong, 
kamu mau apa sih, ngomong apa sih)? Jangan-jangan proposal kita dilemparkannya 
ke tong sampah sebelum dibacanya.  
 
Ok, mari sama-sama kita merenungkan diri betapa maha agungnya setiap huruf, 
titik, koma, apalagi kalimat, ayat demi ayat yang ada dalam AlQuran, semua 
penuh hikmah dan ma'na, sayangnya aja, kalau diulas kata demi kata, ngak 
bakalan pernah selesai. 
 
Wassalamu'alaikum. Rahima.Sikumbang Sarmadi (Biaro 18 Mei 2009)
 
 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke