Allah lah yang memberi rezeki.

Sebelumnya saya awali dahulu tentang perbedaan Umara dan Ulama.
Umara adalah pemimpin untuk hubungan antar manusia sebaiknya berlandaskan Islam 
sedangkan Ulama adalah pemimpin untuk hubungan kepada Allah dengan mendalami 
Islam.
Bagi umat Islam, urutan ketaatan adalah Taat pada Allah dengan tuntunan 
Rasululloh SAW kemudian Taat pada Ulama sejauh mereka sesuai dengan Al-Qur'an 
dan Hadist kemudian baru ketaatan kepada Umara sejauh mereka sesuai dengan 
Al-Qur'an dan Hadist.
Jadi dalam hal ini jelas bahwa para pemimpin parpol Islam adalah masuk kategori 
Umara karena mereka akan menjadi pemimpin negara/lembaga negara. Ketaatan kita 
kepada Umara adalah setelah ketaatan dengan yang lainnya.
Sungguh sebagai Umara adalah pekerjaan yang mulia dan penuh dengan godaan, 
karena Umaro kepemimpin hubungan antar manusia yang diliputi dengan hawa nafsu. 
Disinilah cobaan mereka bagaimana mengimplementasikan Islam dalam kepemimpinan.

Seperti mana seruan saya sebelumnya., 
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/05/19/seruan-umat-islam/
Agar umat Islam tidak menentukan pilihan sembarangan.

Dalam memilih pemimpin sebaiknya tidak dengan alasan suku asal, keturunan, 
baik, berbudi namun berdasarkan ketaqwaannya kepada Allah yang dapat dilihat 
dari hasil perbuatan yang sesuai dengan perintah Allah.

Sebagai contoh dukungan umat Islam Indonesia terhadap presiden Amerika, Barack 
Obama. Menurut penilaian sebagian umat Islam bahwa Obama pernah bersinggungan 
dengan Indonesia karena sempat tinggal di negeri ini dan berharap ada 
"berbekas" pada karakter beliau. Pandangan sebagian lagi bahwa Obama orang yang 
baik dan santun. Namun kenyataannya hasil perbuatan beliau tidak sesuai dengan 
perintah Allah, terutama kepemimpinan beliau yang berperang terhadap 
Afghanistan, khususnya Taliban.
Seruan saya untuk hal seperti ini adalah, lebih baik diam dari pada mendukung. 
Karena dengan mendukung berarti ada kesetujuan dengan hasil perbuatannya..

Begitu juga himbauan saya kepada yang mulia para ulama untuk menahan diri tidak 
memberikan dukungan kepada salah satu kandidat dalam pilpres 2009. Sebaiknya 
tetaplah dalam semangat saling mengingatkan dan menuntun Umara agar mereka 
dapat mengimplementasikan keislaman dalalam kepemimpinan mereka. Ulama kepada 
umat Islam cukup memberikan pendewasaan dalam mengikuti pilpres yang sesuai 
dengan syariah Islam.

Seruan kedua, bahwa, Manusia/pemimpin yang baik adalah yang takut hanya pada 
Allah, bukan yang takut pada ciptaanNya.

Pemimpin sebaiknya tidak pernah takut kepada ciptaanNya. Yang dianjurkan adalah 
cukup menghormati atau bertoleransi.
Takut kepada ciptaanNya yakni menyoroti bahwa terlihat adanya sedikit ketaatan 
pemimpinan negara kita terhadap negara lainnya dengan berbagai alasan seperti 
demi stabilitas Negara, ketakutan atas perlakuan ekonomi dll, padahal sungguh 
cukuplah Allah sebagai pelindung yang Maha Kuasa lagi Maha Penyayang.

Kenapa pemimpin menjadi risau dengan kehidupan di dunia dengan menggadaikan 
akhiratnya ?
"Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah 
keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia 
Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya 
suatu bahagianpun di akhirat" [Asy Syuura:20]

Kenapa pemimpin menjadi risau dengan rezeki, sumber penghidupan bagi 
warganegara, perlakuan ekonomi pihak asing ?
" Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan 
(sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur. (QS Al 
A'raf :10)
Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari 
langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan 
menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera 
itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) 
bagimu sungai-sungai. (QS Ibrahim: 32)

Perhatikan bahwa kita dianjurkan untuk mandiri secara ekonomi.
Sungguh negara kita sedikit selamat dari krisis keuangan karena anugerah sumber 
daya alam, rezeki dari Allah semata, bersyukurlah.
Negara-negara yang terkena krisis keuangan adalah negara-negara yang 
bersandarkan kemampuan ekonomi dari usaha manusia seperti jasa, menghasilkan 
uang dari uang (bunga/riba) dll.
Untuk itu pemimpin kedepan harus menumbuhkan kemandirian ekonomi dari kemampuan 
warganegara mengolah rezeki dari Allah seperti pertanian, perikanan, 
perkebunan, peternakan, pertambangan dan teknologi yang berhubungan dalam 
pengolahan dll. Yang perlu diingat oleh pemimpin bahwa hasil bumi, tanah dan 
air adalah milik Allah semata. Negara hanya diberikan anugerah sumber daya 
alam, untuk memanfaatkan dan terutama menjaga ekologinya.

Pemimpin yang baik adalah mengimplementasikan firman Allah
"Perintahkan keluargamu untuk shalat dan bersabarlah atasnya. Kami tidak 
meminta rezeki. Kamilah yang memberimu rezeki." [QS Thaha : 132]

Keluargamu identik dengan warganegara. Pemimpin tidak dituntut dan tidak mampu 
memberi rezeki kepada warganegara. Allah lah yang memberi rezeki. !

Kita umat Islam sebagaian tidak merasakan bahwa rezeki itu datang dari Allah 
semata.

Petani, nelayan sebagian merasakan seolah-olah rezeki datang dari kemampuan 
mereka semata padahal Allah yang menumbuhkan tumbuhan, menghidupkan hewan, ikan 
dll.
Pedagang, sebagian merasakan seolah-olah rezeki datang dari mahluk yakni 
pembeli. Padahal Allah lah yang mengizinkan transaksi jual-beli itu terjadi.
Karyawan sebagian merasakan seolah-olah rezeki datang dari mahluk yakni 
pimpinan perusahaan.. Padahal pimpinan perusahaan sekedar menukar uang/harta 
mereka dengan kerja karyawan. Allahlah yang mengizinkan karyawan tersebut 
dapat/mampu bekerja.

Kembalilah kepada tujuan hidup kita bahwa,
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah 
kepada-Ku (Az Zariyat 56)
Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu (al Hijr 99)

Berusahalah dengan penuh profesionalitas dan bertawakakallah.

"Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, 
dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang 
bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. 
Ath Thalaaq: 2-3).

Wassalam.
Hamba yang berserah diri dan ikhlas menghamba pada Allah dengan tuntunan Nabi
Muhammad SAW.

Kirim email ke