Jikalau JK dan Wiranto mampu meraih kemenangan di Pilpres -walaupun menurut survey jajak pendapat dan quick count, peluangnya sangat tipis- maka Indonesia untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 64 tahun sejarah berdirinya negara ini -sejak Indonesia merdeka di tahun 1945 sampai hari ini tahun 2009- akan mempunyai ‘the First Lady’ atau ‘Ibu Negara’ yang mengenakan Jilbab busana Muslimah.
Tak hanya itu, pada saat yang bersamaan -jika Allah SWT menghendaki- Indonesia juga akan mempunyai ‘Ibu Wakil Presiden’ yang juga mengenakan Jilbab busana Muslimah. Ini akan menjadi semacam trendsetter busana di Indonesia. Mengapa ?. Karena seperti kita ketahui, siapapun yang menjadi pendamping para pemimpin negeri ini, biasanya akan diikuti oleh para istrei-isteri jajaran birokrasi dan bahkan sebagian besar masyarakat awam. Zaman Ibu Negara kita adalah ibu Tien Soeharto, yang kita tahu beliau suka mengenakan sanggul dan berbusana kebaya serta menyukai kain batik, maka Indonesia masa itu mengalami booming masa keemasan Industri kain batik. Busana berbahan batik pun menjadi trend setter busana pada saat itu. Akankah Jilbab busana Muslimah akan menjadi trendsetter di 5 tahun ke depan ?. Rasanya hampir mustahil, mengingat para pemimpin umat Islam termasuk juga para pemimpin Parpol Islam seperti tidak menghendaki hal itu. Terbukti seluruh Parpol Islam lebih menyukai dengan bergabung ke barisan pendukungnya pak SBY dan pak Boediono. Wallahualambishshawab. ***** Apakah koalisi paprol saat ini demi kepentingan sesaat atau untuk kepentingan rakyat ?. Demikian tema yang diangkat Trijaya FM Bandung dalam interview by phone dengan saya, Selasa (5/5) pagi. "Dalam kacamata Kang Romel sebagai pengamat politik, apakah koalisi itu demi kepentingan rakyat ?", tanya sang penyiar. “Saya tidak mengenakan kacamata”, jawab saya, memulai obrolan by phone pagi itu dengan canda ringan. “Rasanya sulit mengatakan koalisi itu demi kepentingan rakyat,” saya mulai serius. “Dalam iklim pragmatisme politik saat ini, saya melihat motif koalisi itu lebih cenderung untuk kepentingan sesaat, yakni kemenangan dalam Pilpres. Pokoknya menang ! ”. “Koalisi itu bisa langgeng ‘gak atau cuma saat ini saja, nanti bubar lagi ?”, tanya penyiar. Saya jawab : “Dalam politik-pragmatisme, katakanlah aliran politik realisme yang mengutamakan power, berlaku adagim ‘There’s no eternal friend no eternal enemy but eternal interest’ . Tidak ada teman atau musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan, yaitu kepentingan politik untuk berkuasa. Maka, koalisi yang terjadi saat ini, besok-lusa bisa bubar begitu kepentingan mereka berbenturan. Selain itu, juga berlaku definisi politik ‘who gets what when and how’ , siapa dapat apa, kapan, dan bagaimana. Istilah kita bagi-bagi kue kekuasaan atau politik dagang sapi ”. Tentu saja transkrip ‘radio talkshow’ by phone itu tidak persis sama seperti yang saya tuliskan di atas. Namun, intinya kira-kira demikian. Saya memang sering diwawancara oleh Trijaya FM, juga radio lain, by phone, dalam kapasitas sebagai ‘pengamat politik’, kadang ‘pengamat dunia Islam’ jika isunya keislaman atau keumatan. Uhuy… ‘gaya’ ya ?. Lho, kok bisa ?. Saya kan penyiar juga. Nah itu dia, saya bisa berbagai peran, ya pengamat, ya penyiar juga. Yang penting, berbuat sesuatu deh yang mudah-mudahan berguna bagi Nusa, Bangsa, dan Agama !. Amin… Apakah koalisi parpol ‘bernuansa’ Islam (PKB, PAN) dan parpol ‘berasas’ Islam (PKS, PPP) dengan Demokrat juga demi kepentingan sesaat, koalisi pragmatis ?. Kalau yang dimaksud adalah kepentingan kekuasaan, ya. Keempatnya tentu mengincar kursi menteri atau ‘kue’ yang lain dan itu sah-sah saja karena parpol memang bertujuan meraih kekuasaan. Benar, ini koalisi pragmatis, semata-mata demi ‘kue kekuasaan’. Simak saja, begitu Demokrat unggul dalam Pileg –berkat pesona dan popularitas SBY- PKS dan PKB langsung merapat ke SBY. PPP dan PAN menyusul. Tanyakan saja kepada ‘nurani’ elite keempat parpol itu, apakah ‘kebijakan politik’ mereka berdasarkan kesamaan ‘ideologis’, visi-misi partai ?. Rasanya bukan. Tapi demi ‘kue kekuasaan’ yang mereka butuhkan demi eksistensi dan ‘kelangsungan hidup’ (baca : pendanaan) partai. Mengapa pilih SBY ?. Jelas, mereka yakin, SBY bakal terpilih kembali. Jadi soal ideologi parpol, termasuk ‘Ideologi Islam’, ah... jadi tidak berguna sama sekali. Wajar jika ada pandangan, parpol Islam dan parpol Non-Islam sama saja, gak ada beda. Wajar juga, mengapa umat Islam kebanyakan Tidak pilih Parpol Islam. Mereka berpikir, kepentingan umat tidak bisa dipercayakan kepada mereka, toh parpol ‘sekuler’ juga para elitenya umat Islam. Sama dengan realitas, kenapa kaum buruh tidak memilih partai buruh ?. Kenapa tidak semua warga NU memilih PKB dan warga Muhammadiyah tidak memilih PMB atau PAN ?. Sisi positif Parpol Islam merapat ke SBY, mungkin, mereka jadi bisa turut ‘mempengaruhi’ kebijakan pemerintah soal umat, jika SBY terpilih lagi. Mereka bisa mengawal kebijakan pemerintah jangan sampai ‘merugikan’ umat. Tapi, SBY begitu kuat, kita ‘pesimistis’ Parpol Islam itu bisa berbuat banyak atau dilibatkan dalam kebijakan strategis. Faktanya, apakah SBY mengajak keempat parpol mitra koalisinya dalam menentukan cawapres Boediono ?. Kan tidak. PKS malah sempat ‘ngambek’. Kini, siapa capres yang dekat dengan umat Islam ?. Karena semuanya Muslim, tentu ketiganya merasa dekat. Tentu pula, tim suksesnya akan menggunakan ‘pendekatan religiusitas personal’ masing-masing capres guna merebut ‘simpati’ umat Islam. Saat mengenalkan Boedioni dalam deklarasi di Bandung, SBY bahkan mesti mengawalinya dengan “Boediono adalah Muslim yang bla bla bla...”. SBY memilih predikat ‘Muslim’ di posisi pertama. Mohon maaf, Megawati ‘sulit’ dikatakan dekat dengan kalangan Islam. Bagaimana dengan Jusuf Kalla ?. Saya kira, dukungan Ustadz kondang M. Yusuf Mansur (Jamaah Duha), PP Hidayatullah, dan sejumlah tokoh dan kyai/pesantren NU –utamanya karena JK anak tokoh NU Makasar dan satu-satunya capres yang kader NU— menjadi ‘bukti awal’, suara umat mengarah kepada JK. JK juga, kemungkinan besar, didukung oleh kalangan HMI –meski alumni HMI ‘nyebar’ di banyak parpol. JK-Wiranto adalah ‘alternatif’. Bisa dikatakan, pasangan inilah yang lebih dekat dengan umat Islam. Yang lain juga dekat, tapi pasangan ini tampaknya ‘lebih dekat’. Parpolnya, Golkar dan Hanura, memang ‘sekuler’ alias tidak berasas Islam. Tapi bukankah parpol berasas Islam justru lebih memilih merapat ke SBY ketimbang membentuk ‘kekuatan sendiri’ ?. ‘Uniknya’, PKS, PPP, dan parpol lain yang sama-sama parpol Islam, dalam ‘dinamika koalisi’ jelang Pilpres, tidak tampak melakukan ‘komunikasi politik’. Aneh ya ?. “Jangan aneh”, kata Ustadz saya. “Umat Islam tidak akan pernah kuat jika tidak bersatu”, katanya seraya mengutip hadits : umat tidak akan binasa karena serangan musuh dari luar dan serangan wabah penyakit, sehingga mereka saling caci. Astaghfirullah. Wallahu a’lam. Wasalam. Capres Pilihan Umat. www.romeltea.com http://www.warnaislam.com/blog/jurnalistik/2009/5/21/37920/Capres_Pilihan_Umat.htm ***** JK “Berjilbab”. Anda jangan terkecoh dengan judul posting di atas, ini juga dilakukan agar anda tertarik membaca postingan ini, bukan ber-blangkon, karena ternyata taktik ‘jilbab’ yang tampak ‘sederhana’ ini justru dijadikan tambahan ‘amunisi’ bagi JK-Win dalam kampanye pilpres. Saya hanya ingin mengupasnya dari sisi strategi/taktik atau lebih populernya boleh disebut sebagai kiat, kebetulan memang lagi belajar dan meneliti tentang hal-hal serupa untuk tingkat korporasi. Untuk singkatnya kiat ini secara sederhana dapat dikatakan sebagai strategi Differensiasi atau lanjutannya disebut focus differensiasi. Anda masih ingat maha guru strategi ‘Michael Porter’ ?. Porter membedakan strategi secara umum terbagi dua yaitu ‘cost leadership’ atau kepemimpinan biaya, dimana biaya yang rendah menjadi strategi bersaing, dan sebaliknya ‘differensiasi’ yang menawarkan suatu produk atau jasa yang unik dengan harga premium, dengan berkonsentrasi pada suatu segmen produk atau wilayah pasar tertentu. Untuk mendukung strategi ini diperlukan suatu kemampuan marketing yang handal, keahlian teknis, reputasi perusahaan, tradisi yang kuat, dan kerjasama yang baik di saluran distribusi. Mari kita lihat kiat ‘Jilbab Loro’ yang dirilis oleh Tim JK for Presdient, Zainal Bintang, kepada media online Ininah.com (21/05). Konon kiat ini terinspirasi dari strategi ‘Kupluk Loro’ yang digunakan SBY-JK pada Pilpres 2004 dalam menggalang suara dari kalangan Islam pernah untuk mengalahkan Mega-Hasyim di Jawa Timur. Dasarnya juga sederhana, bahwa memang kebetulan istri masing-masing dari pasangan JK-Wiranto memakai jilbab, maka jargon ‘Jilbab Loro’ akan digunakan Tim Sukses. Target kiat ini adalah untuk menggaet pemilih muslim terutama di daerah Jawa. Ini juga konsisten dengan beberapa sentilan dari JK bahwa pasangan JK-Wiranto merupakan pasangan yang ‘religius’. JK memang tercatat sebagai pengurus NU di Sulawesi Selatan, dan istrinya, ibu Mufidah, penggiat Muhammadiyah. Ibu Ugha, istri Pak Wiranto juga berasal dari Gorontalo yang berpenduduk mayoritas Islam. Menurut tim ini, kalau para istri JK-Win itu sudah lama memakai jilbab bukan hanya karena ada kepentingan tertentu, misalnya publikasi populer atau acara-acara keagamaan saja. Dari penjelasan singkat ini maka bisa diklopkan dengan strategi differensiasi yang dimaksud yang membedakannya dengan kiat lain yang sudah lumrah ada. Kiat ini didukungan oleh reputasi dan tradisi yang kuat, nah yang mungkin menjadi pertanyaan kelak sejauh mana hal ini bisa diejahwantahkan oleh tim sukses yang mendistribusikan jualan ini ke segmen pemilih muslim di wilayah dengan basis populasi muslim yang padat ?. Apakah kita ini akan bisa berhasil dan dapat menjadi bahan diskusi atau studi kasus di kelas-kelas humas, pemasaran, dan manajemen ?. Mari kita tunggu hasilnya !. JK “Berjilbab”. http://public.kompasiana.com/2009/05/21/jk-berjilbab/ ***** Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah klik http://www.SyaikhAchmadSyaechudin.org Pemerintahan yang jujur & bersih? Mungkin nggak ya? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! http://id.answers.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]

