Bismillahirrahmaanirrahim,…
Assalamualaikum.Warahmatullahi Wabarakaatuh
Tulisan ini dah cukup lama, saya tulis dari hasil pengalaman teman saya seorang
Ibu bersuku Jawa, di sampaikannya di pengajian El Muttaqin. Kejadian ini mirip
dengan kisah Ibu saya yang bersuku asli Minangkabau. Dan sejalan dengan
cita-cita saya sejak kecil.
Dulu, disuatu milits ada yang mengejek saya dengan ejekan :"Kenapa yah, lama
sekali kuliyah magister saya selesainya, sudah berumur 37 thn baru dapat titel
magister(seakan-akan saya perempuan bodoh sekali).
Saya diamkan saja, syukurnya ada yang menanggapinya dengan tanggapan yang tepat
sekali. Bahwa seseorang itu meski sudah tammat S1, bisa jadi tidak langsung
melanjutkan kuliyah S2nya. Itulah yang sebenarnya terjadi pada diri saya.
Dimana saya sendiri semenjak tingkat III dah menikah, hamil dan akhirnya punya
anak.
Sibuk mengurusi anak ketimbang kuliyah. Karena cita-cita utama saya adalah
menjadi Ibu.
Saat anak-anak masih kecilpun, ada tawaran PNS Depag, saya juga mulanya tidak
mau terima, alasan saya, lagi-lagi karena anak-anak saja. Namun, karena
diyakinkan para pejabat dan suami sendiri, kalau saya bisa ambil tugas belajar
dan tetap mengurus anak dirumah, akhirnya saya terima PNS itu .
Saya selalu bertekad, selagi anak-anak masih kecil, maka sayalah yang mengurus
anak-anak, tidak akan pernah saya berikan mereka diurus oleh neneknya,
tetangga, apalagi pembantu. Saya hanya menitipkan sebentar saja pada tetangga,
apabila saya ada urusan penting saja, dan urusan itu tidak tiap hari, hanya
sekali dalam hitungan tahun.Beda, kalau saya bekerja tiap hari, apalagi kerja
pulang siang atau sampai sore, wah..nggak kebayangkan oleh saya bagaimana anak
saya diurus oleh orang lain, meski saudara sendiripun. Itulah prinsip saya.
Saya tak pernah lupa, tatkala suami (saat itu baru calon suami), menemui saya
di keluarga saya, kami berbicara berdua. Apa yang disampaikan oleh calon suami
saya :"Sudah siap menjadi Ibu?"(bukan sudah siap menjadi istri, tetapi menjadi
Ibu, begitu hebat dan cerdasnya, serta kelihatan tidak egoisnya suami saya
mengajukan pertanyaan yang sangat dalam artinya). Dan saya menjawab kala itu
dengan perasaan malu sekali :"Iyah, siap!".
Dan inilah menjadi pemacu utama saya agar tidak bekerja selagi anak-anak masih
kecil, minimal sampai umur mereka 5 tahun. Dan terbukti sudah keinginan dan
cita-cita saya. Mungkin, saya akan bekerja aktif setelah anak saya yang bungsu
berumur 8 thn. Melebihi dari target saya, yang saya menargetkan anak berumur 5
thn. Subhanallah, karena cita-cita itu mungkin begitu mulia, jadi Allah
mengabulkan permintaan saya dan suami saya sebelum menikah.
Padahal saya juga kategori wanita karier, alias perempuan yang bekerja. Iyah,
saya sudah diterima jadi PNS semenjak April 2000, namun, tugas saya tak pernah
meninggalkan/melalaikan anak-anak saya.
Saya jadi teringat firman Allah ta'ala saat member berjenis kelamin perempuan
itu mengejek saya, karena ketidak tahuannya kenapa saya sampai lama selesai
S2nya. Allah sudah sangat melarang seseorang, dan lebih dikhususkan pula
larangan itu tertuju pada perempuan :"..Janganlah suatu kaum mengolok/mengejek
kaum yang lain…dan jangan pula perempuan mengejek perempuan lain, karena bisa
jadi orang yang diejek jauh lebih baik dari yang mengejek".
Saya ingat firman Allah setiap ada yang mengejek saya, karena ketidak tahuannya
siapa saya. Dia tidak tahu, kalau saya jauh lebih mementingkan anak-anak, lebih
penting menjadi Ibu, menjadi istri, ketimbang kuliyah, ataupun karir saya.
Sementara dia bagaimana, dia perempuan bekerja, dan tidak tugas belajar, sudah
otomatis dia harus ketempat kerja tiap hari. Lantas anak-anaknya dirumah sama
siapa? Tentu kalau tak dititip sama tetangga, neneknya, saudara atau ke play
group, atau tempat penitipan anak?
Saya tak membalas ejekannya itu. Saya serahkan hanya pada Allah ta'ala, karena
Allahlah yang maha tahu akan hambaNya. Dan saya mencoba mengerti dia, karena
saya sadar, semua itu dia lakukan, karena ketidak tahuannya saja. Sebagaimana
Rasulullah tatkala dihina, dilempari kaum musyrik, apa jawab Rasulullah: ".
…mereka adalah kaum yang tidak mengetahui".
Rasulullah bersabda," Di Nikahi wanita itu dengan empat perkara. Karena
hartanya, kecantikannya, nasab (keturunannya), agamanya, maka pilihlah karena
agamanya pasti engkau akan beruntung ".
Sabdanya lagi : " Kawinilah oleh kamu wahai para lelaki wanita yang penyayang
lagi dapat melahirkan anak "
Seorang Ibu pernah menasehatkan anak lelakinya akan mencari jodoh yg bagus "
Nak..carilah wanita itu pada yang empat perkara. Pertama ia hemat di dapur,
kedua pemurah (tdk pelit)di kamar tidur , lincah urusan rumah, tidak ramah di
ruang tamu.
Tapi jangan cari yang sebaliknya, pemurah di dapur, nantik kamu kehabisan
uang, ngak bisa nabung untuk masa depan. Hemat di tempat tidur, nantik kamu
repot, saat kamu ingin istrimu, ia pelit memberikan dirinya. lincah di ruang
tamu, nantik istrimu jadi bahan perhatian lelaki, saking lincahnya, juga ramah
di dalam rumah, karena urusan rumah bukan di tangani dengan keramahan,
benda-benda rumahmu perlu di bersihkan dan di beresi oleh wanita yang lincah.
Ketika SMP dan SMA dulu,..aku selalu mengisi daftar isian di kolom "Cita-cita",
dengan kata-kata " menjadi IBU ".
Tentu banyak yang heran, koq cita-cita menjadi seorang ibu sih,..bukankah
setiap wanita itu memang akan menjadi ibu juga nantiknya. Cita-cita itu menjadi
seorang dokter, guru, insinyur dan lain sebagainya, bukannya jadi ibu, apa kamu
itu sudah kepepet ingin kawin yah..? Ejek seorang temanku sambil nada meledek.
Dengan tenang dan tanpa marah sedikitpun aku menjawab semua pertanyaan mereka
dengan senyum,..yah..memang aku ingin jadi seorang Ibu.Aku ingin seperti ibuku.
Pertanyaan semakin meruyak teman2ku,..apa sih istimewanya ibumu, sampai2 kamu
mengidolakan ia, seakan2 ia seorang selebritis dan sejenisnya. Apa ibumu
seorang wanita karier yang sukses, atau seorang aktifis,atau lainnya?.
Akh..bukan..bukan..timpalku,..Ibuku bukan siapa2. Ia seorang manusia
biasa,bukan wanita karier, atau selebritis, ataupun seorang insinyur, dan dosen
yang termashur.Tapi…kesibukannya melebihi wanita karier, bekerja apa saja,
tanpa mengenal lelah, dan tak pernah mengeluh, ngak ada
pembantulah,..capeklah..inilah..itulah..ngak..ia sama sekali ngak pernah
mengeluhkan semua itu.
Ibu saya bekerja pekerjaan rumah tangga, bahkan sampai2 mengerjakan apa yang di
kerjakan oleh seorang Bapak2.Membenahi genteng yang bocorlah, kran yang
rusaklah,..memasang bola lampu yang putuslah,..mengurus sawah, ayam, bebek,
angsa dan kambing, bahkan cari rumput untuk makan kerbau. Itupun masih sempat
mengerjakan sawah orang lain, atau terkadang menerima pesanan catering makanan,
atau buat kue yang dimasak untuk di jual di kedai2, semua itu untuk mencukupi
kebutuhan RT, dan memenuhi ekonomi keluarga yang di karenakan Ayah kami sudah
meninggalkan kami ke alam baqa sana semenjak aku berumur 2 bulan dalam
kandungannya..Ini adalah bentuk ibu sebagai seorang wanita yang sangat mandiri
dan keras untuk mencari nafkah pengganti ayah.
Beliau memang tidak suka berdiam diri. Ibu saya bukan aktivis kampus, tapi
aktivitasnya luar biasa, melebihi aktivitas mahasiswi di Universitas2. Ia rajin
riwang ( membantu ),j ika ada tetangga yang punya hajad, tetangga yang ketimpa
musibah kecelakaan, atau meninggal, sakit ataupun lahiran.
Ibu juga rajin kepengajian yasinan, atau pengajian yang diselenggarakan
RT-RT,di kampung-kampung di tingkat kecamatan. Walau aktif di masyarakat, tapi
ibu saya tak suka bergossip, padahal di kampung kami gossip itu hampir
merupakan budaya para wanita, terutama ibu2 RT, termasuk warung kecil yang
tetangga sering mempir, namun lebih banyak gossipnya ketimbang belanjanya.
Karena itu ibu banyak di cintai oleh orang2,saudara, maupun tetangga, itulah
keaktivisan dan keselebritian dari ibu kami.
Ibu kami tak pandai memasak pakai resep2 umum,apalagi resep modern.Ia tak
kenal, apa itu yang namanya Pizza, Spagetti,Tomyam, ayam koki, dllnya masakan
moderen. Tapi semua yang di masak ibu, rasanya lezat. Dulu saya sering
bertanya,.." Ibu..ini masakan, atau ini kue,.apa namanya..?" Ibu menjawab,..ibu
tidak tahu,karena tidak ada namanya.
Yah..ibu memang kreatif,vkondisi kami yang berkekurangan, tak pernah kami
membuat masakan, atau kue2 modren. Tapi kami jadi tumbuh menjadi anak yang
tidak suka jajan, karena makanan yang di masak ibu sudah cukup bagi kami.
Ibu bukan wanita berpendidikan tinggi, beliau hanya sekolah Dasar sampai kelas
tiga SD, (tdk tammat,karena tak ada biaya ).Tapi ibu cukup pintar. Ibu sering
mengajarkan kami pelajaran2 kami di sekolah. Ibu selalu bercita-cita tinggi
untuk anak-anaknya. Menyekolahkan anak-anaknya adalah nomor satu baginya.
Ketika orang tua lainnya membelikan baju bagi anak2nya yang bagus-bagus, ibu
hanya membelikan baju yang sangat sederhana, bahkan terkadang kami tak berbaju
baru, bila lebaran tiba,sebagaimana layaknya anak2 berbaju baru di hari raya.
Namun baju2 yang di beli ibu terjaga awet, terawat dengan rapi meski di setrika
bukan dengan setrika listrik, tapi setrika Arang.
Ketika anak2 lain dapat uang jajan Rp 100, kami hanya 50, atau 25rupiah bahkan
tak berjajan sekalipun. Andaikan adapun selalu kami tabungkan, karena ibu
selalu membuat makanan di rumah dan membekali kami dengan makanan untuk di bawa
kesekolah.
Dimana teman2 kami pergi kesekolah dengan mobil, atau bis, kami hanya dengan
jalan kaki, tapi alhamdulillah ternyata jalan kaki itu membuat badan dan jiwa
kami semakin sehat dan segar.
Ibu juga bukan " Wong Agung " ( keturunan nigrat ), melainkan wanita desa, yang
di besarkan tanpa pendidikan " Unggah-ungguh " ( sopan santun yg tinggi ), tapi
beliau mengerti bagaimana bersikap sesuai dengan situasi dan kondisi. make up
nya bedak tipis, lipstiknya nginang ( makan sirih ). Bajunya pun tak pernah
dari bahan sutera, atau bordiran, tapi beliau selalu rapi dalam tampilan
kesederhanaannya.
tentu saja ibu saya memiliki banyak kekurangan, tapi kekurangan ibu bagi saya
tak ada arti apa2nya dibandingkan segala luar biasanya dimata saya.
Disaat anak2nya tak membutuhkan banyak biaya lagi, untuk menyekolahkan kami,
beliau tetap mengerjakan aktifitasnya sebagai ibu RT yg baik, bekerja kesawah,
memelihara ternak, beraktifitas social yg baik, suka menolong orang lain,
ringan tangan, tak ringan mulut.
Ibu saya tetap tegar, walau di terpa badai yang mengamuk keluarga kami, gossip
dan goncangan yang menimpa kami, ejekan, cacian makian karena berasal dari
keluarga miskin, tak berayah, issu2 sebagai janda di tinggal mati suami, semua
itu di lalui ibu dengan tegar dan tenang hati,tak merubah sedikitpun prinsipnya
untuk menyekolahkan kami, bahkan beliau tak menunjukkan sikap kesedihan
dihadapan kami anak2nya, apalagi dihadapan khalayak ramai. Ibu sangat menyimpan
kemiskinan yang di deritanya.
Dan yang peling mengesankan kami adalah keyakinan ibu terhadap Allah sangat
tinggi. Suatu hari ibu pernah berkata " Nduk..? (panggilan bagi anak perempuan
),ibu selalu berdo'a dan memohon kepada Allah, setiap sehabis shalat, semoga
kamu mendapat jodoh yang shaleh dan sepadan denganmu. dan ibu juga mohon semoga
jodohmu orang2 yang dekat sini, agar saja, kalau ibu pingin menengok kalian,
ibu tak harus jauh2 ke Jakarta, agar ibu cukup di bonceng naik sepeda saja.
karena ibu pasti mabuk kalau naik bis atau kereta api ."
Yah..ibu..! yang realistis donk ibu,..saya kan sudah banyak pengalaman di
Jakarta, darimana jalannya saya mendapatkan jodoh orang disini ? itu jawab saya.
Ibu menjawab kalem, " Lho jodoh itukan urusan Allah !, kita hambaNya, boleh
minta apa saja. kalau Allah menghendaki ora kurang jalaran ( tdk kurang sebab ).
Duh ibu,..betapa kesederhanaannmu ternyata menyimpan samudra makna kehidupan
yang cukup dalam. Itulah sebabnya setiap mengisi lembaran bio data hatiku
semakin mantap dengan mengisi dengan isian " MENJADI IBU ".
Wassalam ,Cairo 10 july 2003, .Rahima.Sikumbang.S. ) )
[Non-text portions of this message have been removed]