----- Original Message ----- 
From: Muhammad Assegaff 
To: [email protected] 
Cc: MAJLAS sh 
Sent: Sunday, 24 May, 2009 22:09
Subject: [Majlas] Facebook sebagai alat mata-mata AS?





      Facebook sebagai alat mata-mata AS?
      Jumat, 03/04/2009 08:59 WIB 
      Belum lama ini, kami yang memang bekerja di bidang TI berdiksusi mengenai 
"booming" Facebook, obrolan menjadi serius dan topiknya juga menjadi lebih 
dalam hingga ada salah satu wacana bahwa database Facebook mungkin saja 
digunakan oleh pemerintah AS untuk melakukan information collecting dari para 
membernya karena penggunaan Facebook di masa sekarang ini sudah jauh melebihi 
ekspektasi hanya sebatas aplikasi jejaring sosial.
      Yang akan jadi masalah adalah, bisa saja seorang tokoh masyarakat, baik 
itu politikus ataupun pejabat pemerintahan suatu negara, menjadi incaran 
pemerintah AS dan tanpa sadar mereka memberikan data-data pribadinya karena 
ketidaktahuannya, seringkali mereka sendiri yang menyusun riwayat hidup sejak 
tanggal lahir hingga riwayat sekolah dan pekerjaan, bahkan salah satu aplikasi 
dari Facebook adalah membuat susuanan anggota keluarga dari si membernya
      Salah satu indikasi bahwa facebook digunakan oleh kepentingan tertentu 
tersebut adalah bahwa sampai sekarang mereka tidak menyediakan penghapusan 
account bagi mereka yang ingin keluar dari keanggotaan Facebook.
      Dari obrolan ini, lalu kami mulai menyebarkan wacana ini, memang belum 
seberapa luas, tapi di lingkungan yang tertutup cara seperti kami ini memang 
efektif untuk membuat seseorang merubah informasi account-nya di Facebook, 
walaupun sebenarnya bisa dibilang percuma, karena bisa saja sistem database di 
Facebook menggunakan mekanisme pencatatan history dan dibuat backupnya sehingga 
setiap perubahan dapat diketahui dan disimpan secara permanen.
      Bagaimana menurut Bapak mengenai wacana ini?
      Robby Siregar 
      Jawaban
      Semoga Pak Robby dan para pejuang TI lainnya senantiasa mendapat 
perlindungan dari Allah SWT. Facebook sekarang telah menjadi booming. Banyak 
orang beranggapan jika belum ikutan Facebook maka dia belumlah trendy dan 
modern. Saya akan mengulas tentang Facebook dalam kacamata Konspirasi.

      Kita tentu masih ingat, aturan pertama dan utama di alam maya adalah 
JANGAN SEKALI-KALI MEMBERIKAN DATA ASLI DI ALAM MAYA. Kita boleh saja ikutan 
Facebook, Multiply, dan sebagainya namun jangan sekali-kali mengisi kolom-kolom 
isian dengan data-data pribadi kita yang benar.  Sama saja jika kita melakukan 
register ketika memakai kartu telepon baru. Toh Facebook atau Provider telepon 
tidak akan tahu apakah data yang kita isikan itu benar atau tidak. 

      Intelijen adalah pekerjaan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, 
agar bisa dipergunakan sesuai dengan kepentingan user-nya. Dan saya sangat 
yakin jika Facebook atau pun situs jejaring sosial lainnya seperti Friendster, 
Multiply, Blogspot, juga email, dan sebagainya merupakan perpanjangan tangan 
dari kelompok Konspirasi (The Luciferian Conspiration, kelompok yang 
mengendalikan AS dan juga dunia) untuk bisa menghimpun data-data warga dunia 
secara mudah. Ada baiknya kita membaca buku Dan Brown "The Digital Fortress", 
yang walau pun fiksi namun memuat sejumlah informasi penting yang sesungguhnya 
benar-benar ada. Atau buku "The Complex: Bagaimana Militer Amerika Menyerbu 
Kehidupan Kita Sehari-Hari" (Dr. Nick Turse, 2009). Atau tontonlah film Mel 
Gibson "The Conspiracy Theory" di mana aparat keamanan berhasil mengendus 
keberadaan orang lewat belanja dengan kartu kredit. Walau semuanya kelhatan 
bohongan, tapi percayalah jika semua itu benar-benar ada. 

      Sebab itu, para pejuang (The Combatant) atau aktivis kemanusiaan yang 
menyadari dirinya tengah berperang melawan The New World Order atau The 
Globalization, sebaiknya tidak pernah berhubungan dengan bank (tidak memiliki 
kartu kredit, kartu debet, atau pun rekening bank atas namanya), tidak pernah 
mengisi kolom data jejaring sosial di internet dengan data asli, bahkan tidak 
memiliki ID Card (KTP), dan menjauhi penggunaan alat-alat komunikasi yang 
bersifat tetap (misal nomor telepon dan sebagainya). Hiduplah bagai siluman. 
Atau seperti kalimat bijak, "Jadilah orang yang ketika datang tidak diketahui 
dan ketika pergi tidak dicari." 

      Jika semua itu tidak mungkin, maka demi keselamatannya para Combatant 
harus berusaha agar sedikit mungkin orang mengetahui jejaknya, seperti: 
senantiasa mengganti nomor ponselnya dengan berganti-ganti provider—kalau bisa 
juga berganti ponselnya—dalam waktu yang tidak teratur (kian singkat kian 
baik), jika memiliki situs jejaring sosial (tentu dengan data yang bukan asli) 
maka mengaksesnya jangan dari satu tempat yang sama (warnet yang sama), selalu 
berganti alamat email (bikin email baru mudah kan), dan sebagainya. 

      Kawan saya pernah hadir dalam sebuah pertemuan para intel. Mereka bertemu 
di selatan Jakarta, dalam sebuah bangunan di bagian belakang bangunan utama 
dekat kolam renang. Sepanjang pertemuan, teve plasma berlayar besar yang ada di 
ruangan tersebut dinyalakan dengan audio yang cukup besar walau tidak ditonton, 
semua pancuran air kolam renang dan juga air terjun dinyalakan, semua ponsel 
dan pda atau pun BB dimatikan (bahkan kartu chip-nya dilepas, batere dilepas, 
dan diurai), dan sebagainya. Semua ini dikatakan sebagai tindakan berjaga-jaga 
atas aksi penyadapan. Padahal ruangan tersebut sangat tersembunyi dan kedap 
suara. 

      Apakah dengan demikian kita tidak boleh memiliki Facebook atau yang 
sejenisnya. Boleh saja. Asal, ya itu tadi, jangan mengisikan data-data pribadi 
kita yang asli. Facebook atau situs jejaring sosial lainnya sangat dibutuhkan 
oleh tenaga-tenaga marketer, namun akan menjadi bumerang bagi para Combatant. 
Sebab itu, kita harus benar-benar sadar akan diri kita dan bertanya apakah kita 
memang sungguh-sungguh memerlukan situs jejaring sosial atau tidak. Kalau 
sekadar ikutan trend, janganlah. Sebab resikonya terlalu besar. Dunia yang kita 
tinggal dan hidup di dalamnya bukanlah dunia yang memiliki satu warna. Ada 
dunia lain di sekitar kita yang mungkin tidak pernah kita sadari. Meminjam 
istilah Bang Napi: Wasadalah! Waspadalah!.Wallahu'alam bishawab.
     




--------------------------------------------------------------------------------
Cepat, Bebas Iklan, Kapasitas Tanpa Batas - Dengan Yahoo! Mail Anda bisa 
mendapatkan semuanya. 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke