Suatu hari Imam Hasan Al Banna berkunjung ke perkampungan Sha'id. Anggota
Ikhwanul muslimin dikampung tersebut menyambut kedatangan beliau dengan
mengadakan sebuah pertemuan akbar. Usai pertemuan, datang seorang petani yang
mengundang Imam al Banna untuk berkunjung rumahnya. Kendati jumlah anggota
ihkwan sangat banyak dan jadwal kegiatan pada hari itu begitu padat Iman Al
Banna menyanggupi undangan sang petani karena ia meminta dengan sangat. Beliau
memberi syarat kalau kujungannya tak lebih dari sekedar minum secangkir teh.
Imam Al Banna menyertai sang petani hingga kerumahnya. Begitu sampai, segera ia
meminta istrinya untuk menyiapkan secangkir teh. Sementara Hati sang petani
bahagia karena mendapat kunjungan dari tokoh panutannya, imam Al Banna berusaha
sebisa mungkin untuk menyenangkan hati sang petani dengan terus tersenyum dan
menikmati teh buatan istrinya.
Setelah selesai imam Al Banna berpamitan pada tuan rumah. Sang petani mengantar
beliau hingga bertemu dengan anggota ikhwan yang telah menunggu. Kemudian ia
segera pulang kembali untuk meminum sisa teh dari cangkir imam Al Banna. Namun
yang didapatinya ternyata hanya sebuah cangkir kosong tanpa sisa dan betapa
kaget ia begitu mengetahui kalau teh yang disuguhkan ternyata bercampur dengan
garam bukan gula.
Dari imam Hasan Al Banna kita dapat belajar, betapa cinta dapat lahir dari
sikap sikap yang sederhana. Tetap menghargai pemberian orang lain walaupun
buruk bentuknya akan membuat orang itu senang, karena pihak yang menerima
menilai pemberian bukan dari sisi mahal atau tidaknya tapi dari ketulusan
niatnnya. Setiap pemberian adalah hasil jerih payah, tetesan keringat, upaya
maksimal dan pengorbanan kendati itu hanya secangkir teh dari seorang miskin.
Dengan catatan kita telah meyakikan diri kalau pemberian itu tidak dibarengi
niat buruk seperti sogokan atau suapan, berterima kasih dengan ucapan paling
hangat atas suatu pemberian akan membuat kita lebih banyak mendapatkan kasih
sayang dari orang lain. Sedangkan energi kasih sayang niscaya tak kan
terkalahkan oleh kekuatan apapun karena ia datang dari ketulusan hati bukan
dari embel embel kemewahan duniawi.
[Non-text portions of this message have been removed]