?





Facebook sebagai alat mata-mata AS?
Jumat, 03/04/2009 08:59 WIB 
Belum lama ini, kami yang memang bekerja di bidang TI berdiksusi mengenai 
"booming" Facebook, obrolan menjadi serius dan topiknya juga menjadi lebih 
dalam hingga ada salah satu wacana bahwa database Facebook mungkin saja 
digunakan oleh pemerintah AS untuk melakukan information collecting dari para 
membernya karena penggunaan Facebook di masa sekarang ini sudah jauh melebihi 
ekspektasi hanya sebatas aplikasi jejaring sosial.
Yang akan jadi masalah adalah, bisa saja seorang tokoh masyarakat, baik itu 
politikus ataupun pejabat pemerintahan suatu negara, menjadi incaran pemerintah 
AS dan tanpa sadar mereka memberikan data-data pribadinya karena 
ketidaktahuannya, seringkali mereka sendiri yang menyusun riwayat hidup sejak 
tanggal lahir hingga riwayat sekolah dan pekerjaan, bahkan salah satu aplikasi 
dari Facebook adalah membuat susuanan anggota keluarga dari si membernya
Salah satu indikasi bahwa facebook digunakan oleh kepentingan tertentu tersebut 
adalah bahwa sampai sekarang mereka tidak menyediakan penghapusan account bagi 
mereka yang ingin keluar dari keanggotaan Facebook.
Dari obrolan ini, lalu kami mulai menyebarkan wacana ini, memang belum seberapa 
luas, tapi di lingkungan yang tertutup cara seperti kami ini memang efektif 
untuk membuat seseorang merubah informasi account-nya di Facebook, walaupun 
sebenarnya bisa dibilang percuma, karena bisa saja sistem database di Facebook 
menggunakan mekanisme pencatatan history dan dibuat backupnya sehingga setiap 
perubahan dapat diketahui dan disimpan secara permanen.
Bagaimana menurut Bapak mengenai wacana ini?
Robby Siregar 
Jawaban
Semoga Pak Robby dan para pejuang TI lainnya senantiasa mendapat perlindungan 
dari Allah SWT. Facebook sekarang telah menjadi booming. Banyak orang 
beranggapan jika belum ikutan Facebook maka dia belumlah trendy dan modern. 
Saya akan mengulas tentang Facebook dalam kacamata Konspirasi.

Kita tentu masih ingat, aturan pertama dan utama di alam maya adalah JANGAN 
SEKALI-KALI MEMBERIKAN DATA ASLI DI ALAM MAYA. Kita boleh saja ikutan Facebook, 
Multiply, dan sebagainya namun jangan sekali-kali mengisi kolom-kolom isian 
dengan data-data pribadi kita yang benar.  Sama saja jika kita melakukan 
register ketika memakai kartu telepon baru. Toh Facebook atau Provider telepon 
tidak akan tahu apakah data yang kita isikan itu benar atau tidak. 

Intelijen adalah pekerjaan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, agar bisa 
dipergunakan sesuai dengan kepentingan user-nya. Dan saya sangat yakin jika 
Facebook atau pun situs jejaring sosial lainnya seperti Friendster, Multiply, 
Blogspot, juga email, dan sebagainya merupakan perpanjangan tangan dari 
kelompok Konspirasi (The Luciferian Conspiration, kelompok yang mengendalikan 
AS dan juga dunia) untuk bisa menghimpun data-data warga dunia secara mudah. 
Ada baiknya kita membaca buku Dan Brown "The Digital Fortress", yang walau pun 
fiksi namun memuat sejumlah informasi penting yang sesungguhnya benar-benar 
ada. Atau buku "The Complex: Bagaimana Militer Amerika Menyerbu Kehidupan Kita 
Sehari-Hari" (Dr. Nick Turse, 2009). Atau tontonlah film Mel Gibson "The 
Conspiracy Theory" di mana aparat keamanan berhasil mengendus keberadaan orang 
lewat belanja dengan kartu kredit. Walau semuanya kelhatan bohongan, tapi 
percayalah jika semua itu benar-benar ada. 

Sebab itu, para pejuang (The Combatant) atau aktivis kemanusiaan yang menyadari 
dirinya tengah berperang melawan The New World Order atau The Globalization, 
sebaiknya tidak pernah berhubungan dengan bank (tidak memiliki kartu kredit, 
kartu debet, atau pun rekening bank atas namanya), tidak pernah mengisi kolom 
data jejaring sosial di internet dengan data asli, bahkan tidak memiliki ID 
Card (KTP), dan menjauhi penggunaan alat-alat komunikasi yang bersifat tetap 
(misal nomor telepon dan sebagainya). Hiduplah bagai siluman. Atau seperti 
kalimat bijak, "Jadilah orang yang ketika datang tidak diketahui dan ketika 
pergi tidak dicari." 

Jika semua itu tidak mungkin, maka demi keselamatannya para Combatant harus 
berusaha agar sedikit mungkin orang mengetahui jejaknya, seperti: senantiasa 
mengganti nomor ponselnya dengan berganti-ganti provider—kalau bisa juga 
berganti ponselnya—dalam waktu yang tidak teratur (kian singkat kian baik), 
jika memiliki situs jejaring sosial (tentu dengan data yang bukan asli) maka 
mengaksesnya jangan dari satu tempat yang sama (warnet yang sama), selalu 
berganti alamat email (bikin email baru mudah kan), dan sebagainya. 

Kawan saya pernah hadir dalam sebuah pertemuan para intel. Mereka bertemu di 
selatan Jakarta, dalam sebuah bangunan di bagian belakang bangunan utama dekat 
kolam renang. Sepanjang pertemuan, teve plasma berlayar besar yang ada di 
ruangan tersebut dinyalakan dengan audio yang cukup besar walau tidak ditonton, 
semua pancuran air kolam renang dan juga air terjun dinyalakan, semua ponsel 
dan pda atau pun BB dimatikan (bahkan kartu chip-nya dilepas, batere dilepas, 
dan diurai), dan sebagainya. Semua ini dikatakan sebagai tindakan berjaga-jaga 
atas aksi penyadapan. Padahal ruangan tersebut sangat tersembunyi dan kedap 
suara. 

Apakah dengan demikian kita tidak boleh memiliki Facebook atau yang sejenisnya. 
Boleh saja. Asal, ya itu tadi, jangan mengisikan data-data pribadi kita yang 
asli. Facebook atau situs jejaring sosial lainnya sangat dibutuhkan oleh 
tenaga-tenaga marketer, namun akan menjadi bumerang bagi para Combatant. Sebab 
itu, kita harus benar-benar sadar akan diri kita dan bertanya apakah kita 
memang sungguh-sungguh memerlukan situs jejaring sosial atau tidak. Kalau 
sekadar ikutan trend, janganlah. Sebab resikonya terlalu besar. Dunia yang kita 
tinggal dan hidup di dalamnya bukanlah dunia yang memiliki satu warna. Ada 
dunia lain di sekitar kita yang mungkin tidak pernah kita sadari. Meminjam 
istilah Bang Napi: Wasadalah! Waspadalah!. Wallahu'alam bishawab.


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke