Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Dalam tulisan ini, saya berusaha untuk mengajak
kita semua agar berfikiran jernih dalam memandang segala sesuatu, baik itu
sikap, tulisan, kritikan, atau apapun yang berasal dari orang lain
Saya cerita sedikit pengalaman saya memiliki
teman via dunia maya Sejak awal tahun 2002, saya mengenal seorang lelaki yang
sedang tugas belajar di Jepang. Dia seorang Dosen di sebuah fakultas ternama di
Sumatera Barat. Perkenalan kami biasa saja, melalui milist, beliau kirim email
ke japri saya, ingin kenalan dan meminta nasehat saya, tentang bagaimana
hukumnya makan-makanan semacam daging atau ayam(yang tentu tidak disembelih
atas nama Allah), sementara dia hidup dinegara itu
Kemudian persahabatan itu bertahan sampai
sekarang, dengan segala macam hal-hal baru yang saya dapatkan dari dirinya,
begitupun tentu dengannya. Banyak cara pandang hidupnya yang tidak sesuai
dengan cara pandang hidup saya, namun tetap saja kami mampu melewatinya, dengan
baik, tanpa harus bertengkar.
Dulu, sebenarnya, saya agak kaget dan gimana
gitu yah,..saat beliau kelihatan oleh saya sangat apriori dengan yang namanya
orang agama, para kyiai, ustadz, bahkan pesantren sekalipun. Ada-ada saja
alasannya untuk mematahkan dan memberikan argument pendapatnya itu dengan
menyebutkan realita kehidupan yang ada, dan memang benar itu realita. Tak
sedikit para ustadz yang memperkosa anak orang lain, istri orang lain, ayah
yang tau agama, tak memberikan biaya pada anak-anaknya, juga para anak santri
yang sampai gila karena sekolah di pesantren, dan segala hal yang memang itu
kenyataan yang ada.
Dan saya sangat bisa memahami hal itu, tidak
langsung saya marah-marah sama beliau, berusaha membela diri, mentang-mentang
saya orang agama dan tammatan pesantren. Saya berusaha mencoba mengerti
dirinya, dan memposisikan diri saya berada diposisi dirinya. Itu sebabnya saya
tenang, ketika orang agama habis-habisan dia tentang, bahkan membela tammatan
Barat yang belajar agama disana. Saya tenangkan diri, dengan tetap berusaha
memberikan padanya masukan-masukan dengan men cc kan setiap tulisan saya ke
beliau ini.
Beliau ketika masih mudanya terkenal dengan
gonta ganti pacar, yah, wajahnya memang tampan sih, baby face, jadi tidak heran
kalau banyak perempuan yang tergila-gila dengannya. Setahu saya, meski beliau
banyak gonta ganti pacar, namun hakikatnya dia type lelaki yang setia.
Saya mencoba mengetahui, kenapa sampai begitu
banyak perempuan dalam hidupnya. Akhirnya saya ketahui, itu setelah beliau
patah hati dengan seorang perempuan yang dicintainya, namun sayangnya karena
kondisi
ekonominya yang sangat prihatin, jangankan untuk biaya sekolah, untuk makanpun
beliau senin kamis, jualan kue yang dijunjung diatas kepalanya keliling desa,
angkat batu dan sebagainya, tentu sang ortu perempuan tak menyetujuinya.
Itulah sebabnya beliau lari dari pelukan satu
perempuan ke pelukan perempuan lainnya, tidak bertahan lama. Sampai pada titik
jenuh, beliau akhirnya menerima seorang perempuan yang di jodohkan temannya
untuk jadi istrinya. Dan saya melihat, demi kehidupan anak-anaknya, agar tak
mengalami nasib seperti dirinya, meski sejelek apapun watak istrinya, beliau
tetap bertahan demi masa depan anak-anaknya.
Sebelum mengenal saya, meski telah beristeri, beliau
masih tetap saja ada memiliki hubungan special dengan perempuan lainnya.
Setelah berteman dengan saya juga masih tetap seperti itu. Hanya mulai
berkurang tahun demi tahun, sampai titik beliau berubah total terhadap
perempuan ini, serta pandangannya pada orang agama.
Dahulu pandangannya terhadap orang agama cukup
jelek, termasuk pesantren, kini malah beliau menjadi ustadz di mesjid-mesjid,
yang memberikan ceramah. Serta sampai ingin memasukkaan anaknya ke pesantren
setelah tammat SD. Kemajuan luar biasa. Berubah sudah pandangannya, kalau
memang para ustadz bukanlah Malaikat, yang tak memiliki kesalahan sama sekali.
Manusia punya kelebihan dan kekurangan masing-masingnya, semua tergantung pada
pribadinya.
Cerita yang lain lagi.
Istri ponakan saya seorang dokter gigi
Sementara dulu, ada seorang lelaki spesialis dokter anak kuliyahnya, sekarang
tentu beliau dah jadi dokter anak, yang ingin melamar saya saat saya di Cairo,
beliau kirim surat dan datang ke keluarga saya Amat teramat disayangkan, saya
dah punya pilihan, yakni suami saya sekarang ini, yang mana beliau ini, saya
pilih semata karena agamanya.
Kalau soal kekayaan? Wah…beliau masih mahasiswa
dan hidup dari penghasilannya sendiri dengan bekerja Temus(tenaga musim) setiap
tahunnya. Tapi,..lagi-lagi bukan materi patokan pilihan saya, tapi
kepribadiannya, agamanya yang kuat, maka meski dokter sekalipun yang melamar,
kalau tak cinta gimana mo menerimanya, saya mencintai seseorangkan karena
melihat kepribadiannya juga agamanya?
Kakak saya juga seorang bidan, berarti bagian
kesehatan juga. Betapa berat perjuangannya sebagai bidan malam-malam lagi enak
tidurpun dibangunkan,
karena ada yang akan melahirkan Tidak mengenal waktu, ndak pagi, ndak siang,
malam, subuh, harus siap melayani pasien, yang terkadang pasien inipun kurang
begitu menghargai jasa sang bidan. Terkadang biaya tidak dibayar, menghutang
dulu, dllnya, padahal sudah cukup murah dibandingkan apabila melahirkan di RS.
Begitupun beliau sabar, apa kata kakak
saya,..:yah..mo gimana lagi, mereka orang susah". Yang enak itu sih, kalau
yang datang melahirkan para artis, atau orang terkenal, bukan sekedar biaya
diberikan, tetapi plus baksis untuk perawat yang ikut membantu kakak saya
dirumah prakteknya di Jakarta
itu.
Dan tak jarang juga, datang pasangan muda-mudi
yang ingin digugurkan kandungannya(Mungkin Accident kali yah). Kalau dalam hal
ini, kakak saya ragu, beliau pernah bertanya kepada saya, saat saya masih belum
menikah sih, masalah hukum menggugurkan anak ini, gimana hukumnya. Yah..saya
jelaskan
terus terang dong,..Haram hukumnya, sama dengan membunuh manusia. Aborsi
dibolehkan dalam agama dengan beberapa syarat yang memang hal itu sangat
darurat mengancam keselamatan sang Ibu. Bukan Aborsi akibat yang macam-macam…
Meski kakak saya ini tidak tau agama, tapi
memiliki instink, kalau ini rasanya salah, ini tak benar. Dan untuk memastikan
suatu hukum, beliau sering bertanya kepada saya. Kakak-kakak saya yang lain
juga sering berkonsultasi dalam masalah hukum agama kesaya, karena semua mereka
memang bidang umum, hanya memakai hati nurani saja. Sama dengan kakak saya yang
bekerja di Inhutani, milik BUMN, beliau bendahara, yang sering sekali ingin
diberikan uang oleh pegawai lainnya, agar meloloskan proyek ini dan itu. Kakak
saya memiliki instink, kalau hal ini rasanya salah, tetapi beliau tak tau
hukumnya dalam Islam, makanya sering di sms atau telponnya saya menanyakan
hukum Islam itu.
Dulu, keinginan saya sebenarnya ingin jadi
dokter, karena saya berfikir, kalau dokter banyak membantu orang lain, dan bisa
buka praktek sendiri dirumah, jadi kewajiban sebagai Ibu bisa saja dijalankan,
meski kita seorang wanita karir sekalipun. Namun, Allah takdirkan lain, orang
tua saya ingin sekali ada anaknya yang sekolah agama, yah..cuman ada dua anak
lagi, saya dan adik saya yang paling kecil Diantara kami berdua, yang kuat
pelajaran agama, memang saya. Dari kecil memang rajin ngaji, kalau adik saya
suka bolos ngajinya.
Akhirnya keinginan jadi dokter itu kandas,
meski saya dah lulus tanpa test masuk sekolah Apoteker ketika itu(SAA). Saya
sekolah dipesantren, jauh dari orang tua, akhirnya sampai ke Mesir, dan ngak
pulang-pulang sejak saat itu, kecuali saat akan menikah, kemudian anak satu,
trus hampir tiap tahun pulang juga menemui keluarga. Tapi menetap tetap di
Mesir juga, karena suami bekerja di kedutaan RI untuk Mesir, dan saya juga
lanjutin kuliyah, sampai beranak pinak disana.
Keinginan untuk jadi dokter itu, tetap ada,
namun dilampiaskan ke anak saya yang perempuan. Saya ingin anak saya ini masuk
kedokteran. Dan dia mau. Tapi sebelum masuk kea rah sana, anak saya ini saya
pesantrenkan dulu,
agar tau agama islam dengan baik, jadi kalau jadi dokter, jadilah dia dokter
yang muslimah. Saya tau, anak saya ini kuat dibahasa sejak kecil, tapi saya
mencoba saja, kemana arah yang dia inginkan.
Saya sempat gimana yah..dengan kedokteran ini,
karena sudah trauma dengan dokter di Indonesia(tentu tidak semuanya,
jangan pula marah nantik para dokter atau siapapun, menduga saya mengatakan
seluruh dokter begitu). Saya tak begitu berminat lagi menyekolahkannya sekolah
dikedokteran di Indonesia
itu, takut saja, ntar kode etik kedokteran dilupakan, karena lingkungan, atau
factor ekonomi, atau apalah, saya juga tidak tau. Istri ponakan saya juga
seorang dokter gigi, saya tidak tau, bagaimana dia dengan pasiennya, karena
saya jauh dari dirinya, beda dengan kakak saya yang di Jakarta, saya pernah
lama tinggal bersamanya, dan setiap ke Jakarta, selalu nginap dirumahnya, jadi
saya tau persis, gimana beliau dengan pasiennya.
Dan saya tau, kalau para dokter bukanlah Tuhan,
yang bisa menyembuhkan penyakit para pasiennya Karena kesembuhan hanyalah milik
Allah semata, dokter hanyalah jalan untuk kesembuhan itu. Tanggung jawab para
dokterpun akan dipertanyakan kelak diakhirat sana, sebagaimana setiap manusia
bertanggung
jawab atas profesinya. Selagi, tanggung jawabnya dilaksanakannya, maka, tinggal
manusia lainnyalah yang menentukan.
Seorang Ustadz, bila dia sudah melaksanakan
tugasnya, maka dia dah lepas tanggung jawab atas kejahatan masyarakatnya, bila
masyarakat itu masih berbuat ma'siat. Namun, bila sang ustadz tak melaksanakan
tugas/profesinya sebagai juru dakwah, baru ustadz itu salah (dan sebenarnya
soal dakwah ini, masing-masing manusia diberi kewajiban, karena perintah dakwah
dalam firman Allah bukan untuk para ustadz, tetapi untuk kesaluruhan ummat
Islam).
"Laa taziruu waaziratuwwizraa
ukhraa"(Tidak ada seseorang menanggung dosa orang lain). Hal ini,
sepanjang tugas sudah dilaksanakan. Kalau masih belum baik manusianya meski dah
di dakwahin, itu bukan tanggung jawab para ustadz lagi, karena hidayah hanya
milik Allah semata Bukankah Allah sudah berfirman :"Sesungguhnya engkau
tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang kamu sukai/cintai, tetapi Allah
sematalah yang akan memberikan hidayah tersebut", sekali lagi, para
Ustadz, juru dakwah, bukanlah Malaikat
Begitu pula dengan para dokter, selagi mereka
melaksanakan tugasnya, maka tak ada tanggung jawabnya terhadap pasiennya lagi
atas kesembuhan, karena para dokter bukanlah Tuhan sang penyembuh total. Hanya
saja, kalau dokter tak melaksanakan tugasnya sebagai seorang dokter dengan
melaksanakan kode ethic kedokteran, baru disanalah sikap dan perbuatan dokter
itu dipertanggung jawabkan dihadapan Allah 'Ta'ala kelak. Semua ini, karena
kullukum raa'in, wakullu rain masuulun 'an ra'iyyatihi, masing-masing kamu
pemimpin, dan kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu pimpin(yakni termasuk
disana profesi kita masing-masing, kita harus bertanggung jawab, karena kelak
akan ditanya, bukan sekedar umur saja, uang, harta, profesipun akan ditanya,
kemana dari mana kita
cari, dan untuk apa semua itu).
Demikian dulu, mohon maaf, bila ada yang tidak
berkenan, kalau benar, itu semata dari
Allah Ta'ala, kalau salah itu dari saya pribadi. (Bukittinggi, 16 Juni 2009)
Wasssalamu'alaikum.
Rahima.S.Sarmadi.Abd.Rahim.
"Laa tahtaqir Syaian mahmaa kaana shaghiiran"
(Jangan anggap enteng segala sesuatu meskipun ia kecil)
[Non-text portions of this message have been removed]