salam,

satu lagi bukti bahwa keimanan tidak harus bertentangan dengan ilmu, malah
sebaliknya, keduanya saling menguatkan. sungguh keimanan islam itu luarbiasa
...!
jalan masih panjang, tapi waktu bukan penghalang ...

salam,
satriyo

-- 
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest
>> al-Ra'd [13]: 28

---------- Forwarded message ----------
From: Al-Irsyad Surabaya
Date: 2009/6/15
Subject: [sd-islam] Al-Khazini Saintis Muslim Perintis Ilmu Gravitasi
To: [email protected]
Cc: [email protected]



  ”Fisikawan terbesar sepanjang sejarah.” Begitulah  Charles C Jilispe,
editor  *Dictionary of Scientific Bibliography* menjuluki saintis Muslim,
al-Khazini. Para sejarawan sains menempatkan saintis kelahiran Bizantium
alias Yunani itu dalam posisi yang sangat terhormat.

Betapa tidak, ilmuwan Muslim yang berjaya di abad ke-12 M – tepatnya
1115-1130 M – itu telah memberi kontribusi yang sangat besar bagi
perkembangan sains modern, terutama dalam fisika dan astronomi. al-Khazini
merupakan saintis Muslim serbabisa yang menguasai astronomi, fisika,
biologi, kimia, matematika serta filsafat.

Sederet buah pikir yang dicetuskannya tetap abadi sepanjang zaman.
al-Khazini merupakan ilmuwan yang mencetuskan beragam teori penting dalam
sains seperti: metode ilmiah eksperimental dalam mekanik; energi potensial
gravitasi; perbedaan daya, masa dan berat; serta jarak gravitasi.

“Teori keseimbangan hidrostatis yang dicetuskannya telah mendorong
penciptaan peralatan ilmiah. al-Khazini adalah salah seorang saintis
terbesar sepanjang masa,” ungkap Robert E Hall (1973) dalam tulisannya
berjudul ”al-Khazini” yang dimuat dalam *A Dictionary of Scientific
Biography* Volume VII.

Sejatinya, al-Khazini bernama lengkap Abdurrahman al-Khazini. Menurut Irving
M Klotz, dalam tulisannya bertajuk *“Multicultural Perspectives in Science
Education: One Prescription for Failure”,* sang ilmuwan hidup di abad ke-12
M. ”Dia berasal dari Bizantium atau Yunani,” tutur Klotz. al-Khazini menjadi
budak Dinasti Seljuk Turki, setelah kerajaan Islam itu menaklukkan wilayah
kekuasaan Kaisar  Konstantinopel, Romanus IV Diogenes.

Al-Khazini kemudian dibawa ke Merv, sebuah metropolitan terkemuka pada Abad
ke-12 M. Merv berada di Persia dan kini Turkmenistan. Sebagai seorang budak,
nasib al-Khazini sungguh beruntung. Oleh tuannya yang bernama al-Khazin, ia
diberi pendidikan sang sangat baik. Ia diajarkan matematika dan filsafat.

Tak cuma itu, al-Khazini juga dikirimkan untuk belajar pada seorang ilmuwan
dan penyair agung dari Persia bernama Omar Khayyam. Dari sang guru, dia
mempelajari sastra, metematika, astronomi dan filsafat.  Menurut Boris
Rosenfeld (1994) dalam bukunya *“Abu’l-Fath Abd al-Rahman al-Khazini*, saat
itu Omar Khayyam juga menetap di kota Merv.

Berbekal otak yang encer, al-Khazini pun kemudian menjelma menjadi seorang
ilmuwan berpengaruh. Ia menjadi seorang matematikus terpandang yang langsung
berada di bawah perlindungan, Sultan Ahmed Sanjar,  penguasa Dinasti Seljuk.
Sayangnya, kisah dan perjalanan hidup al-Khazini tak banyak terekam dalam
buku-buku sejarah.

Salah Zaimeche PhD (2005) dalam bukunya berjudul *Merv* menuturkan,
al-Khazini adalah seorang ilmuwan yang bersahaja. Meski kepandaiannya sangat
dikagumi dan berpengaruh, ia tak silau dengan kekayaan. Menurut Zaimeche,
al-Khazini sempat menolak dan mengembalikan hadiah sebesar 1.000 keping emas
(dinar) dari seorang istri Emir Seljuk.

”Ia hanya merasa cukup dengan uang tiga dinar dalam setahun,” papar
Zaimeche.

Para sejarawan sains mengungkapkan, pemikiran-pemikiran al-Khazini sangat
dipengaruhi oleh sejumlah ilmuwan besar seperti Aristoteles, Archimedes,
Al-Quhi,  Ibnu Haitham atau Alhacen, al-Biruni serta Omar Khayyam. Selain
itu, pemikiran al-Khazini juga sangat berpengaruh bagi pengembangan sains di
dunia Barat dan Islam. Salah satu ilmuwan Barat yang banyak terpengaruh
al-Khazini adalah Gregory Choniades – astronom Yunani yang meninggal pada
abad ke-13 M.

*Pemikiran*
Salah satu kontribusi penting yang diwarisakan al-Khazini dalam bidang
astronomi adalah Tabel Sinjaric. Tabel itu dituliskannya dalam sebuah
risalah astronomi bertajuk  *az-Zij as-Sanjari.* Dalam manuskrip itu, dia
menjelaskan jam air 24 jam yang didesain untuk kegunaan astronomi. Inilah
salah satu jam astronomi pertama yang dikenal di dunia Islam.

Selain itu, al-Khazini juga menjelaskan tentang  posisi 46 bintang.
Risalahnya yang berjudul *Al-Khazini’s Zij as-Sanjari* itu kemudian
diterjemahkan kedalam bahasa Yunani oleh  Gregory Choniades pada abad ke-13
M. Risalah astronomi yang ditulis al-Khazini pun menjadi rujukan para
ilmuwan dan pelajar di Kekaisaran Bizantium.

Kontribusi penting lainnya yang diwariskan al-Khazini dalam bidang fisika
adalah kitab *Mizan al-Hikmah* atau *Balance of Wisdom*. Buku yang
ditulisnya pada  1121 M itu mengungkapkan bagian penting fisika Islam. Dalam
buku itu, al-Khazini menjelaskan sacara detail pemikiran dan teori yang
diciptakannya tentang keseimbangan hidrostatika, konstruksi dan kegunaan,
serta teori statika atau ilmu keseimbangan dan  hidrostatika.

Selain menjelaskan pemikirannya tentang teori-terori itu, al-Khazani juga
menguraikan perkembangan ilmu itu dari para pendahulu serta ilmuwan yang
sezaman dengannya. Dalam bukunya itu, al-Khazini juga menjelaskan beberapa
peralatan yang diciptakan ilmuwan pendahulunya seperti araeometer buatan
Pappus serta  pycnometer flask yang diciptakan al-Biruni.

Buku itu dinilai Nasr sebagai sebuah karya ilmiah Muslim yang paling
esensial tentang mekanika dan hidrostatika, dan terutama studi mengenai
pusat gravitasi. Dalam buku itu pula, al-Khazini mengupas prinsip
keseimbangan hidrostatis dengan tingkat ketelitian obyek sampai ukuran
mikrogram (10-6 gr), suatu level ketelitian yang menurut K Ajram  dalam *The
Miracle of Islamic Science* hanya tercapai pada abad ke 20 M.

Al-Biruni and al-Khazini merupakan dua ilmuwan Muslim yang pertama kali
mengembangkan metode ilmiah dalam bidang ilmu keseimbangan atau statika dan
dinamika. Metode itu dikembangkan untuk menentukan berat yang didasarkan
pada teori kesembangan dan berat. Al-Khazini dan ilmuwan pendahulunya
menyatukan ilmu statika dan dinamika ke dalam ilmu baru bernama mekanika.

Selain itu, mereka juga menggabungkan ilmu hidrostatika dengan dinamika
sehingga melahirkan ilmu baru bernama hidrodinamika. Mereka juga menerapkan
teori rasio matematika dan teknik infinitesimal  serta memperkenlkan aljabar
dan teknik penghitunang ke dalam statika.  Al-Khazini dan ilmuwan Muslim
lainnya juga merupakan yang pertama mengeneralisasi teori pusat gravitasi
dan mereka adalah yang pertama kali menerapkannya ke dalam benda tiga
dimensi.
Para ilmuwan Muslim, salah satunya al-Khazini telah melahirkan ilmu
gravitasi  yang kemudian berkembang di Eropa.  Al-Khazini telah berjasa
dalam meletakkan fondasi bagi pengembangan mekanika klasik di era Renaisans
Eropa.

Al-Khazini wafat pada abad ke-12 M. Meski begitu, pemikiran-pemikiran yang
telah diwariskannya bagi peradaban dunia hingga kini masih tetap abadi dan
dikenang. heri ruslan/desy susilawati

*Sumbangan Sang Ilmuwan*

Al-Khazini sungguh luar biasa. Ilmuwan Muslim dari abad ke-12 M itu tak
hanya mencetuskan sejumlah teori penting dalam fisika dan astronomi. Namun,
dia juga berhasil menciptakan sejumlah peralatan penting untuk penelitian
dan pengembangan astronomi. Ia berhasil menemukan sekitar tujuh peralatan
ilmiah yang terbilang sangat penting.

Ketujuh peralatan yang diciptakannya itu dituliskannya dalam *Risala
fi’l-alat* atau Manuskrip tentang Peralatan. Ketujuh alat yang diciptakannya
itu adalah triquetrum, dioptra, perlatan segi tiga, quadran dan sektan,
astrolab serta peralatan asli tentang refleksi.

Selain berjasa mengembangkan fisika dan astronomi, al-Khazimi juga turut
membesarkan ilmu kimia dan biologi. Secara khusus, dia menulis tentang
evolusi dalam kimia dan biologi. Dia membandingkan transmutasi unsur dengan
transmutasi spesies.

Secara khusus, al-Khazini juga meneliti dan menjelaskan definisi ”berat”.
Menurut dia,  berat merupakan gaya yang inheren dalam tubuh benda-benda
padat yang mnenyebabkan mereka bergerak, dengan sendirinya, dalam suatu
garis lurus terhadap pusat bumi dan terhadap pusat benda itu sendiri.  Gaya
ini pada gilirannya akan tergantung dari kerapatan benda yang bersangkutan.

Al-Khazini juga mempunyai gagasan mengenai pengaruh temperatur terhadap
kerapatan, dan tabel-tabel berat spesifiknya umumnya tersusun dengan cermat.
Sebelum Roger Bacon menemukan dan membuktikan suatu hipotesis tentang
kerapatan air saat ia berada dekat pusat bumi, al-Khazini lebih dahulu telah
mendalaminya.

Al-Khazini pun telah banyak melakukan observasi mengenai kapilaritas dan
menggunakan aerometer untuk kerapatan dan yang berkenaan dengan temperatur
zat-zat cair, teori tentang tuas (pengungkit) serta penggunaan neraca untuk
bangunan-bangunan dan untuk pengukuran waktu.

**


**

*Priendah Blog <http://priendah.wordpress.com/>
*


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

===
Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits? Silahkan klik:
http://www.media-islam.or.id

Ingin belajar Islam via milis? Kirim email ke 
[email protected]

Dapatkan buku-buku Islami di DemiMasa Online Bookstore 
http://www.demimasa.co.idYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke