Hmm..dulu aku sering mengganggu guruku yg sudah spt orang tuaku sendiri, 
begitupun beliau yg senang mengecilkan apapun yg kuanggap sudah besar, baik dan 
 benar yg sudah kulakukan, namun semua 'celaannya' padaku tak pernah kuanggap 
sebagai sesuatu yg menyakitkan ataupun sengaja untuk menjatuhkan, tapi sebuah 
motivasi agar aku lebih lagi dalam berbuat sesuatu yg sudah baik dan benar.
Sedikit demi sedikit, tanpa sadar apa yg selama ini guruku praktek ajarkan 
padaku, masuk ke dalam diriku dan tanpa sadar mengcopy yg sudah beliau ajarkan 
dan tanpa sadar, ternyata kita bisa menjadi spt cermin yg saling memantulkan 
dan koreksi dgn 'mengecilkan' apa yg selama ini, masing2 kita anggap sudah baik 
dan memperbesar apa yg sudah menjadi kesalahan kita.

Waktu itu guruku pernah katakan begini padaku

" kamu tahu gak..?kalau kamu itu ngocol (seenak2nya) sekali..?" komentarnya

" ya wajarlah..bisa spt ini aja, aku masih Alhamdulillah bahkan mungkin lebih 
baik dari bapak?" cuekku

"lho..koq kamu bisa merasa lebih baik dari saya..padahal ngocol begitu..?!" 
pelototnya

"lha..kalau bapak mau bandingkan aku dgn bapak, itu memang bukan 
bandingannya..? bapak bisa menjadi spt bapak saat inipun wajar..karena bapak 
lahir di lingkungan keluarga yg konsen dgn islam, bapak di diberikan pendidikan 
dgn latar belakang islam mulai dari TK hingga SMA, di rumahpun..bapak masih 
diberikan siraman2 rohani dari orang tua..lha aku?? jadi gak usah bangga 
dech..dgn apa yg selama ini bapak merasa sudah baik..karena memang 
seharusnyalah bapak menjadi baik spt ini, karena diarahkan dan difasilitasi 
agar menjadi baik dan benar..? lha..coba bapak lahir di lingkungan keluarga spt 
aku..? apa bapak masih yakin bisa jadi spt saat ini?? atau minimal spt aku??" 
protes kerasku

"oh..bagus..bagus.. (dgn mimik serius sedikit ngotot) hidup ini adalah 
pilihan..begitupun Nabi Ibrahim yg dilahirkan di lingkungan yg ayahnya pembuat 
berhala, tapi Nabi Ibrahim punya pilihan untuk mengikuti jejak orang tuanya 
atau tidak, begitupun dgn kamu..?!" 

"oh iyalah..aku hanya mau katakan..jangan kecilkan apa yg sudah susah aku 
usahakan selama ini..bapak menjadi spt saat ini, memang sudah sewajarnya harus 
begitu, kecuali bapak bersikap sebaliknya dari apa yg sudah diajarkan dan di 
fasilitasi oleh orang tua bapak selama ini..itu baru namanya kurang ajar. 
Sedangkan aku..? kalaupun aku menjadi kurang ajar dan tidak baik, aku rasa 
tidak ada yg akan salahkan diriku dan mungkin itu menjadi sesuatu yg wajar, 
karena aku tidak diberikan dan diajarkan spt yg selama ini orang tua bapak 
ajarkan dan fasilitasi ke bapak.. dan andai bapak alami yg aku alami dan 
rasakan, aku sangsi bapak bisa menjadi spt ini."

"iya..dan perlu kamu tahu..bahwa kami sekeluarga diajarkan sama oleh ayah 
kami..tapi apa kamu pikir, sama semua keluarannya spt saya yg kamu anggap baik 
dan benar? Tidak!! jadi..hidup ini benar2 pilihan.. coba kamu ingat bagaimana 
anak2nya keturunan Nabi spt Nabi Nuh..? apa mereka mengikuti apa yg diajarkan 
oleh Ayahnya? Tidak toch?! Jadi hidup ini benar2 pilihan.."

"iya..aku tahu..tapi tetap aja bapak lebih mudah untuk menentukan pilihan jadi 
baik dan benar..ketimbang aku.."

yg terpikirkan olehku saat itu..apakah Allah memang sudah menentukan bakat baik 
tiap anak manusia yg diinginkan olehNya..walaupun hidup dan besar dilingkungan 
yg tidak mendukung untuk berbuat baik dan benar. Aku jadi teringat dgn Nabi 
Ibrahim yg ayahnya pembuat berhala dan Nabi Muhammad yg ada di lingkungan 
jahiliyah saat itu dan di bawah asuhan pamannya yg masih kafir.

Ya Rabb..tidak ada daya dan upaya diriku..kecuali petunjuk dari Mu yg selalu 
menyertai diriku selama ini..
Karena tanpaMu..sungguh aku tidak berdaya untuk menjadi spt ini..
TanpaMu..aku tidak pernah tahu akan kebenaran akan diriMu..
Maka..jangan tinggalkan aku ya..Rabb..

Aku hanya mau ingatkan..janganlah lupa untuk bersyukur pada Allah atas nikmat 
karunia yg sudah kita dapatkan selama ini, entah berupa keluarga yg baik, 
rejeki yg halal, teman yg sholeh, lingkungan yg baik, dan janganlah sombong dan 
takabur atas semua yg sudah diberikan, karena menjadi baik dan benar dari 
sesuatu yg memang sudah di rancang untuk baik dan benar oleh orang tua dan 
keluarga, adalah merupakan suatu kewajaran atas apa yg sudah kita terima dan 
merupakan tanggung jawab kita untuk menjadi baik dan benar, ketika fasilitas 
dan rancangan untuk diri kita diarahkan ke jalan yg benar itu.

Hmm..aku jadi teringat pertanyaan Rasulullah terhadap sahabat2nya. Yg kira2 
begini

"tahukah kalian siapa orang2 yg nantinya akan dekat sekali dgnku? " Tanya 
Rasulullah SAW

"kami ya Rasulullah.." teriak sebagian sahabat

"bukan kalian, karena kalian sudah jelas kedudukannya"

" lalu siapa ya Rasulullah..?" tanya sahabat

" orang2 yg mencintaiku dan memegang sunnahku walaupun mereka tidak pernah 
melihatku dan bertemu dgnku.."

jadi..intinya..kebaikan yg dilakukan oleh orang2 yg memang sudah diajarkan dan 
difasilitasi untuk berbuat baik dan benar merupakan suatu kewajaran dan 
tanggung jawab untuk berbuat baik dan benar spt yg sudah diajarkan dan 
dicontohkan secara langsung, namun orang2 menjadi istimewa pada saat mencapai 
puncak keyakinan walaupun tidak pernah melihat contoh secara langsung dan tetap 
yakin akan kebenaran yg dibawa oleh Rasulullah.

Dan janganlah mengecilkan apa yg orang lain tidak dapatkan spt yg sudah kita 
dapatkan, karena kita tidak pernah tahu apa yg sudah menjadi rencana Allah 
terhadap orang2 yg tadinya kita kecilkan, karena bisa jadi dari merekalah akan 
keluar pribadi2 yg hebat, matang dan tangguh karena mereka menjadi besar atas 
didikan tangan Allah sendiri yg menjadikan dirinya kuat, matang, tangguh dan 
hebat di tengah situasi yg menggiring dirinya untuk selalu berbuat kedzoliman 
namun tetap konsekuen dalam kebenaran Allah dan RasulNya.


Sekedar curhat

Kamis, 18 Juni 2009

salam
hana

Kirim email ke