Waktu membacanya pertama kali, aku telmi, nggak
understand-understand dengan maksud tulisannya. Setelah kuulang 3 kali, barulah
aku ngeh dengan maksudnya. Sebenarnya sih ndak tahu juga apakah yang saya
ngeh-in itu yang dijadikan inti maksudnya penulisnya, atau maksud yang lainnya.
Tapi paling tidak, buat saya, di poin itulah yang menarik.
 
Kita harus maklum, begitulah memang gaya tulisannya mas Inu, salah
seorang blogger di Kompasiana. Tulisan-tulisannya unik menarik, hemat kata,
isinya singkat padat namun bernas penuh makna. Tapi terkadang mbingungin
pembacanya, ini wabil khusus subyektif menurut pemahaman diri saya pribadi yang
memang suka telmi ini lho, buat yang lainnya sih mungkin enggak. 
 
Mau ikutan mbaca ?, klik aja di tulisan ini -‘Kopi Susu Jahe Hangat’-
yang juga merupakan judul postingan yang saya maksudkan itu.
 
Pimpinan pondok pesantren Miftahul Huda, KH Abdul Wahid, yang juga
aktivis di Majelis Dzikir Nurussalam SBY menyatakan mengalihkan dukungannya,
dari semula ke SBY Berbudi berpindah menjadi ke JK Wiranto. Alasannya sederhana
saja, JK dan Wiranto mempunyai istri yang telah mengenakan jilbab pada
kehidupan kesehariannya.
 
Itulah poin menariknya. Walau begitu, tapi saya tidak bisa
langsung tsiqoh, nggak bisa begitu. Tentu harus tabbayun dulu dong, khan kita
harus selalu mengedepankan husnuzh-zhan. Namun karena tingkat ke- ta’at-an saya
terhadap jama’ah dan bai’at masih rendah, maka saya juga ndak bisa
disuruh qona’ah fikriyah begitu aja agar taklid buta terhadap syura qiyadah
begitu aja. Saya harus tabayyun dulu terhadap tulisannya mas Inu. Nah, karena
saya tidak langsung qona’ah fikriyah , maka saya coba search ke tempat lainnya
sebagai referensi bacaan pembandingnya. 
 
Eh, betul lho, saya ketemu tulisan yang berjudul ‘Ratusan
Santri Purwakarta Siap Menangkan JK di Pilpres’ yang juga memberitakan
hal yang sama dengan yang ditulis mas Inu. Saya masih penasaran, saya coba
search lagi, ketemu lagi, ‘Dari SBY Kiai Purwakarta Alihkan Dukungan ke
JK’. Search lagi, ketemu lagi, ‘Kabar Politik di TV One’. 
 
Setelah 3 kali ketemu berita yang sama, maka saya pikir cukuplah
sebagai upaya tabbayun, kalau diterus lagi malah bukan tabbayun tapi waton
ngeyel lan waton suloyo nantinya. Waduh, malu saya, ternyata saya nggak open
mind itu karena saya keras kepala, jumudul ain wa quswatul qalbi aja. Maaf ya
mas Inu, udah bersyak wasangka dulu saya.  
 
Saya jadi kepikiran, sudah banyak rupanya yang membelot. Ada kader-kader
PKS yang membelot, ada kader-kader PAN yang juga membelot,
tak ketinggalan kader-kader PPP pun juga ada yang membelot. 
 
Wah, saya jadi kepikiran, ternyata banyak juga ya yang membelot
hanya karena alasan yang kata orang sebagai urusan remeh temeh yang sepele
saja, hanya urusan ‘selembar kain’ saja.
 
Wallahualam, memang kata manusia itu urusan yang sepele saja, tapi
entahlah apa ya begitu menurut Yang Maha Peciptanya.
 
Udahlah, itu urusan masing-masing yang akan kita
pertanggungjawabkan secara masing-masing pula kelak di Yaumil Kiamat nantinya.
Dan jangan lupa, semua tindakan kita, pilihan hidup kita, Wallahualambishshawab,
itu tentunya juga termasuk soal pilihan kita yang berhubungan dengan kehidupan
duniawi kita itu tak akan lepas pula dari konsekuensi pertanggungjawaban kita di
akhirat kelak nantinya. 
 
Omong-omong, mau mbaca juga tulisan-tulisan itu ?, gampang kok, klik
aja di huruf yang dibold di paragraph-paragraf tersebut diatas.
 
Salam Sejahtera dan Keadilan bagi semua pembaca Kompasiana.  
 
PS : Ada lagi yang mau ikutan membelot ?. Ndak usah malu dan ndak
usah ragu. Segera nyusul aja, pede aja. Belum terlambat, sebelum 8 Juli 2009,
pintu untuk itu masih selalu terbuka kok, ditunggu ya…
 
Artikel ini dapat dibaca di :
Majelis Dzikir Nurussalam SBY juga Membelot ?
http://public.kompasiana.com/2009/06/18/majelis-dzikir-nurussalam-sby-juga-membelot/
 
***
 
Kopi Susu Jahe Hangat’
http://wisnunugroho.kompasiana.com/2009/06/17/kopi-susu-jahe-hangat/
Ratusan Santri Purwakarta Siap Menangkan JK di Pilpres 
http://pemilu.detiknews.com/read/2009/06/17/212711/1149741/700/ratusan-santri-purwakarta-siap-menangkan-jk-di-pilpres
Dari SBY Kiai Purwakarta Alihkan Dukungan ke JK
http://pemilu.okezone.com/read/2009/06/17/268/230382/dari-sby-kiai-purwakarta-alihkan-dukungan-ke-jk
Kabar Politik di TV One
http://www.tvone.co.id/berita/view/16241/2009/06/18/jk_minta_umat_centang_pada_8_juli
kader-kader PKS
http://public.kompasiana.com/2009/06/05/pks-membelot/
kader-kader PAN
http://www.mediaindonesia.com/read/2009/06/06/80364/3/1/200-Aktivis-PAN-Merapat-ke-JK-Win
kader-kader PPP
http://www.mediaindonesia.com/read/2009/06/06/80373/3/1/Lagi-Pengurus-PPP-Dukung-JK-Win
 
***

Pilihan seseorang memang sangat subyektif,
masing-masing pribadi sangatlah unik. Sama seperti pindai retina mata, dalam
lingkup lebih kecil dalam gambar sidik jari, begitu juga dengan manusia,
bermilyar manusia maka bermilyar pula karakter dan kepribadiannya.
 
Maka tak eloklah menghakimi secara semena-mena jika ada sekelompok
orang yang mempunyai impian agar Ibu Negara di Republik tercinta yang
mayoritasnya penduduknya beragama Islam, mengenakan jilbab.
 
Maksudnya ber-Jilbab disini adalah mengenakan busana Jilbab dalam
kehidupan kesehariannya, bukan hanya sesekali mengenakan busana Jilbab hanya
pada saat acara-acara tertentu saja.
 
Tulisan ini masih ada kaitannya dengan tulisan terdahulu yang
berjudul Pengaruh Publik Figur  di 
http://public.kompasiana.com/2009/06/02/pengaruh-seorang-publik-figur/ .  Tak
terlepas pula dari kaitan pendapat yang dipostingkan di 
http://public.kompasiana.com/2009/06/01/bocah-ndeso-bicara-jilbab/ yang
berjudul Bocah nDeso Bicara Jilbab pada
beberapa waktu yang lalu.
 
Pertanyaan-pertanyaan dibawah ini ada hubungannya dengan sebagian
kecil dari alasan diantara banyak alasan lainnya, yang mendasari dari sebagian
kalangan menjadi lebih
cenderung hatinya kepada Haji
Jusuf Kalla dan Haji Wiranto. Dimana telah menjadi pengetahuan umum, bahwa
istri mereka -Hajjah Mufidah Kalla dan Hajjah Uga Wiranto- sudah mengenakan 
busana
Jilbab dalam kehidupan
kesehariannya.
  
Mengapa Istri Presiden itu penting posisinya ?.
 
        * Alasan pertama, Istri seorang Presiden itu otomatis akan menjadi Ibu 
Negara.
        * Alasan kedua, Ibu Negara adalah salah satu Simbol Negara yang penting
        * Alasan ketiganya, Isteri seorang Presiden akan merupakan The First 
Lady di negara yang dipimpin suaminya.
        * Alasan keempat, The First Ladi itu Figur Wanita Utama di negara yang 
bersangkutan, sedangkan pengaruh publik figur itu sangat besar dampak 
pengaruhnya kepada masyarakat umum di negara yang bersangkutan.
        * Alasan kelima, Istri seorang Presiden pasti merupakan wanita yang 
paling dekat dengan Presiden di sepanjang hari selama kehidupannya Presiden. 
Sehingga sangat wajarlah jika Istri Presiden adalah wanita yang paling 
berpengaruh terhadap Presiden yang menjabat sebagai Kepala Negara dan Kepala 
Lembaga Tertinggi Pemerintahan Negara.
  
Apa keuntungannya jika Isteri Presiden berjilbab ?.
 
        * Keuntungan pertama, jika Ibu Negara mengenakan jilbab, maka hal itu 
akan menaikkan pamor Islam di lingkup domestik dalam negeri maupun 
Internasional di luar negeri.
        * Keuntungan kedua, jika Ibu Negara mengenakan jilbab, maka hal itu 
akan menaikkan pamor Islam di pergaulan Internasional di luar negeri, dan 
mengokohkan citra Indonesia sebagai Negara ber-Penduduk Muslim Terbesar di 
Dunia.
        * Keuntungan ketiganya, jika Ibu Negara mengenakan jilbab, hal itu akan 
menaikkan pamor Islam di dalam negeri sehingga diharapkan sedikit banyaknya 
akan berpengaruh kepada tingkat penerimaan busana muslim di kehidupan 
masyarakatnya, dampak lanjutnya akan mengurangi tingkat diskriminasi perlakuan 
dan penolakan terhadap para pemakai jilbab.
        * Keuntungan keempat, jika Ibu Negara mengenakan jilbab, dampaknya akan 
berpengaruh terhadap akselerasi kenaikan ghiroh untuk berpakaian jilbab 
diantara ibu-ibu atau istri-istri para Menteri juga para Pejabat-Pejabat 
lainnya yang beragama Islam.
        * Keuntungan kelima, jika The First Lady Indonesia mengenakan jilbab, 
maka Publik Figur yang telah mengenakan jilbab itu akan memberikan pengaruh 
positif yang mendorong tumbuh kembangnya ghiroh untuk berpakaian jilbab di 
masyarakat umum yang beragama Islam.
        * Keuntungan keenam, jika The First Lady Indonesia mengenakan jilbab, 
maka hal itu akan memberikan dampak pengaruh terhadap kenaikkan pamor Busana 
Muslim, sehingga diharapkan produksi busana muslim buatan dalam negeri pun 
menjadi akan lebih bergairah pasar penjualannya.
        * Keuntungan ketujuh, jika Istri seorang Presiden mengenakan jilbab, 
itu akan memberikan Presiden pengaruh positif kepada suaminya, diharapkan 
kebijakan Presiden sebagai Kepala Negara dan kepala Pemerintahan menjadi tidak 
terlampau bertentangan dengan Kepentingan umat Islam, setidak-tidaknya 
mengurangi pengaruh Islamophobia di kalangan Lembaga Pemerintahan Tertinggi di 
Republik ini.
  
Itulah sebagian kecil dari keuntungan dan dampak positif yang akan
ditimbulkan jika seorang Ibu Negara itu sudah mengenakan Jilbab di kehidupan
kesehariannya.
 
Maka, apakah Umat Islam Indonesia tidak ingin mempunyai Ibu Negara
yg berjilbab ?.
 
Wallahualam, semua itu terserah kepada mayoritas Umat Islam
Indonesia yang akan menunaikan haknya di Pilpres 8 Juli 2009 mendatang.
 
Tidak bermaksud untuk memaksakan kehendak, namun itulah realitas
yag mendasari mengapa pada beberapa saat yang lalu, PKS menginginkan ibu Ani
Yudhoyono juga berkenan untuk mengenakan jilbab tidak hanya pada acara-acara
tertentu saja, namun mengenakan jilbab sepanjang kehidupan sehari-harinya.
 
Disadari oleh kita semua, bahwa memilih adalah hak kebebasan
masing-masing pribadi, tidak ada yang boleh memaksa dan mengintimidasinya.
Apapun pilihan yang kelak akan ditetapkannya di dalam bilik TPS itu seharusnya
tidaklah akan ada yang tahu, hanya dirinya sendiri saja dan tentunya Allah SWT.
 
Pilihan orang per orang di Pilpres yang Luber dan Jurdil tentunya,
akan berpengaruh kepada nasib ratusan juta manusia diluar dirinya, bahkan
sangat bisa jadi akan berpengaruh pula kepada nasib anak cucu cicit di generasi
selanjutnya. Pilihan itu pula yang nantinya di kelak kemudian hari akan
dipertanggungjawabkannya di akherat kelak secara masing-masing orang per orang.
 
Akhirulkalam, diucapkan ‘Selamat menentukan Pilihan’ !.
 
Artikel dapat dibaca di :
Ibu Negara Berjilbab.
http://public.kompasiana.com/2009/06/05/ibu-negara-ber-jilbab/
 
***
 
Saya merasa salut atas komentar Bocah nDeso di dalam menanggapi
tulisan mas Nurul dengan judul The
Politics of The Veil, sehingga terasa perlu untuk saya posting kembali,
semoga ada manfaat jua adanya.
 
Bocah nDeso, 1 Juni 2009 jam 7:21 pm
 
Saya kira terlalu berlebihan dan hanya perasaan paranoid kita saja
yg mengkhawatirkan pro kontra itu akan memecahbelah persatuan dan kesatuan
bangsa.
 
Di Amerika Serikat pun sudah jamak hal itu terjadi disetiap
hajatan Pilpres. Sebuah pro kontra akan mendorong terbukanya sebuah
perbandingan (contrasting) dimana publik akan mengetahui kelemahan dan
kelebihan dari masing2 kandidat.
 
Itu justru akan mendewasakan publik dalam menentukan pilihannya,
dan menghindarkan. publik dari penyesatan pencitraan yg menjadikan publik
seperti membeli kucing dalam karung. Selanjutnya itu akan menjadikan kontribusi
yg penting dalam pendidikan politik bagi publik.
 
Selain itu, perlu pula kita dudukkan secara benar dan proporsional
tentang pentingnya melihat isteri dari Capres :
 
        * Isteri dari seorang Capres akan menjadi salah satu Simbol Negara yg 
cukup penting, yaitu sebagai Ibu Negara.
        * Isteri seorang Capres akan menjadi The First Lady di negara yg 
dipimpin oleh suaminya itu.
        * Isteri dari Capres adalah orang yg paling berpengaruh dan yg paling 
dekat dengan Capres disepanjang hari disepanjang kehidupanya. Ini akan menjadi 
poin tersendiri dalam mempengaruhi kebijakan suaminya dalam memimpin negara.
 
Bahkan di Amerika Serikat pun sudahlah jamak jika keluarga (isteri
dan anak dari Capres) menjadi hal yg penting yg dilihat oleh pemilih. Pimpinan
Fox Indonesia, pun mengamini hal itu. Saat menjawab pertanyaan tentang Apakah
Arti Keluarga dalam Iklan Politiknya pak EsBeye. Begini jawaban Andi
Mallarangeng : ” Di seluruh dunia, Isteri dan Anak Calon Presiden itu penting.
Di Amerika Serikat, bahkan anjing milik Presiden dibicarakan. Di Perancis,
publik ingin tahu siapa pacar Nicolas Sarkozy”.
 
Nah, bahkan Jubir pak EsBeYe saja menegaskan bahwa Isteri dan Anak
adalah hal penting dalam sebuah proses pertimbangan publik terhadap seorang
kandidat.
 
Terakhir soal kejernihan melihat masalah yg berkait dengan Politik
Simbol/Politisasi Agama/Mempermainkan Simbol Agama/Politisasi Jilbab/ Jilbab
Politik/Mendadak Berjilbab/dsb.
Manakah yg sepantasnya dinisbatkan dengan politisasi itu :
        * Mereka yg hanya memakai Jilbab sesekali saja pada acara tertentu 
dengan maksud tujuan tertentu.
Atau
        * Mereka yg sudah semenjak lama telah memakai Jilbab di kehidupannya 
sehari2nya.
 
Dalam kasus Jilbab ini sudah jelas duduk masalahnya.
 
Ibu Hj. Musfidah Kalla dan ibu Hj. Uga Wiranto sudah semenjak lama
telah memakai Jilbab di kehidupannya sehari2nya. Bahkan juga anak2 perempuan
mereka.
 
Sedangkan ibu Ani Yudhoyono hanya sesekali memakai Jilbab pada
acara tertentu dengan maksud tujuan tertentu. Sedangkan ibu Herawati Boediono
belum terdengar kabar perihal kabar ttg pemakaian Jilbabnya.
 
Jika kita tidak asal antipati dan alergi serta fanatik membabi
buta dalam membela kandidat yg didukungnya, maka seharusnya sudah jelas
bagaimana duduk persoalannya.
 
Rasional dan Proporsional sangat penting dalam melihat suatu
permasalahan. Jika memang ada yg belum memakai Jilbab kehidupannya sehari2nya,
maka janganlah justru mempersalahkan pihak lain yg sudah lama memakai Jilbab di
kehidupannya sehari2nya.
 
peace man…….
 
Artikel dapat dibaca di :
Bocah nDeso Bicara Jilbab
http://public.kompasiana.com/2009/06/01/bocah-ndeso-bicara-jilbab/
 
***
 
Publik figur memang memberikan dampak pengaruh yang luar biasa
kepada masyarakat kebanyakan. Salah satu misalnya, di soal tata rambut, dahulu
di masyarakat kita pernah populer potongan rambut gaya Putri Diana. Begitu
juga di segmen busana muslim, pernah populer juga jilbab merek Krisdayanti.
Menyusul kemudian kerudung jilbab phasmina ala Aisha, saat populer film
Ayat-Ayat Cinta.
 
Isteri seorang pemimpin pun demikian pula halnya, memberikan
dampak pengaruh kepada masyarakat. Di tata busana, kita juga pernah mengenal
gaya busana kebaya dengan gelung konde gaya ibu Tien Soeharto. Di kurun waktu
itu juga, salah satu jasa besar ibu Tien Soeharto adalah memasyarakatkan busana
berbahan kain batik.  
 
Pengaruh publik figur, apalagi jika dia adalah seorang Ibu Negara,
memang tak bisa diremehkan. Tak hanya disoal pengaruh terhadap tren busana
saja, namun banyak hal di sendi-sendi kehidupan kemasyarakatan yang akan
terpengaruh oleh figurnya.
 
Hal yang wajar dan lumrah saja mengingat Ibu Negara adalah salah
satu Simbol Negara yang cukup penting. Dan, ia merupakan The First Lady dari
sebuah negara dimana suaminya menjadi pemimpinnya.
 
Serta tak boleh dilupakan, ia juga merupakan wanita yang paling
dekat di sepanjang hari dan di sepanjang kehidupan suaminya. Menjadi wajar dan
lumrah saja apabila dirinya sangat berpotensi memberikan pengaruh terhadap
segala kebijakan yang diputuskan suaminya, yang menjabat sebagai seorang
Presiden. Dimana seorang Presiden adalah Kepala Negara sekaligus Kepala Lembaga
Pemerintahan Tertinggi di sebuah negara.
 
Saat ini, meskipun suami-suami mereka belum tentu akan terpilih
menjadi Presiden dan Wakil Presiden, namun isteri mereka malahan telah
memberikan warna tersendiri kepada trend busana muslimah.
 
Jilbab merek Mufidah-Uga, rupanya telah banyak beredar di
pasar-pasar tradisional. Bukan hanya jilbab saja, ternyata merek Mufidah dan
Uga juga sudah merambah busana muslimah lainnya, misalnya selendang dan
pakaian. Distribusinya pun bukan hanya di Pasar Tanah Abang, tetapi sudah
merambah pasar-pasar lain.
 
Jika nantinya Allah SWT mengijinkan dan meridhoinya, JK-Wiranto
berhasil memenangkan Pilpres kali ini, maka sangat bisa jadi para pengusaha
busana muslim akan kebanjiran order dan pesanan. Sesudah Jilbab merek
Mufidah-Uga, akankah akan menyusul gamis atau tunik atau model busana muslimah
lainnya dengan bermerekan Mufidah-Uga ?.
 
Semua itu tentu terpulang kepada bagaimana mayoritas rakyat
Indonesia akan menentukan pilihannya di Pilpres tanggal 8 Juli 2009 mendatang.
 
Wallahualambishshawab.
 
Artikel dapat dibaca di :
Pengaruh Publik Figur.
http://public.kompasiana.com/2009/06/02/pengaruh-seorang-publik-figur/
 
***


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke