Dari Moderator:
Politik itu selalu kontroversial.
Meski demikian, Allah melalui Al Qur'an memerintahkan agar ummat Islam memilih 
pemimpin yang beriman. Bukan orang kafir meskipun mereka itu adalah ayah kita 
sendiri.

http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/memilih-pemimpin/

Semoga pak Boediono dan istrinya terbuka hatinya dan segera menjalankan ibadah 
Haji yang merupakan fardlu 'ain lillahi ta'ala.

Semoga kita semua bisa memeluk Islam secara kaffah. Tidak sepotong-sepotong
Salam

Boediono, selaku Cawapres SBY yang
mencalonkan diri sebagai Capres pada Pilpres 2009 ini tengah ’dibujuk‘ oleh 
Tifatul Sembiring
(Presiden PKS) untuk melaksanakan umrohpada 5 Juli bulan depan.

Kutipan pembicaraan Tifatul dengan kader
Demokrat seperti diberitakan Kompas.com(19/6), ”Sudahkah, ajak Pak Boediono
Umroh. Tinggal pesanin tiketnya. Nanti masalah-masalah dapat selesai,” ujar
Tifatul kepada salah seorang kader Partai Demokrat, Kamis (18/6) malam seusai
menghadiri acara debat capres.

”Iya,
saya sudah pesan,” ujar kader tersebut.

Setelah itu Tifatul juga mengatakan kepada
wartawan bahwa ajakan beliau kepada Boediono itu adalah murni Ibadah.

Tetapi tak ada yang tahu pasti apa yang
dimaksud dengan ‘masalah-masalah
dapat selesai’ itu,

Namun jika yang dimaksud masalah-masalah itu
adalah masalah tuduhan Neolibkepada
Boediono selama ini dan banyak yang masih meragukan agama Boediono serta istri 
Boedionoyang diduga non-muslim, ini menandakan bahwa PKS
merasa gusar dan cemas akan itu semua.

Pasalnya isu sebelumnya telah membuat
masyarakat yang tidak simpatiklagi
dengan pasangan SBY-Boediono, serangan terhadap kubu SBY-Boediono pun makin
gencar datang silih berganti dan secara otomatis akan mengancam PKS yang
berkoalisi dengan Demokrat yang terkesan dilakukan PKS dengan ‘terpaksa’ dan 
banyak ‘persyaratan‘ dalam proses koalisi
mereka.

Jika benar, masalah-masalah yang
dimaksudkan adalah masalah-masalah yang sebelumnya sempat menyerang kubu
SBY-Boediono itu dan demi menjaga sebuah kestabilan
politikdidalam tubuh PKS dan Demokrat serta demi meraih dukungan kepada
SBY-Boediono dalam Pilpres Juli mendatang, berarti ini kedua kalinya ‘isu agama 
yang dipolitisir’ (menurut
sebagian orang) oleh kubu PKS.

Sebelumnya isu jilbab, dimana PKS menganjurkan agar istri dari SBY dan Boediono
memakai jilbab sebagai seorang muslim ‘tulen’.

Memang ini bukan hal yang luar biasa
diperpolitikan kita, faktor agama masih menjadi faktor yang menentukan dan
mencerminkan kepribadian seseorang dalam hal ini Capres/Cawapres.

Demokrasi yang kita bangun selama ini
belum optimal. Perlu kesadaran dari masyarakat untuk mempelajari tentang
demokrasi yang telah kita pilih sebagai sistem pemerintahan dan ketatanegaraan
kita. Pancasila pun suda menegaskan akan bangsa kita yang pluralis, terdiri
atas berbagai agama, bahasa, suku. Bhineka
Tunggal Ika.

Namun, jika ajakan Tifatul terhadap
Boediono untuk melakukan umroh hanya untuk menjalankan ajaran agama dan murni
ibadah, akan sangat baik dan mulia, terlebih jika Boediono hanya tidak umroh
tapi juga melaksanakan ibadah haji karena dorongan hatinya tanpa ada paksaan
dari siapapun.

Dan pastinya masyarakat akan menilai itu
merupakan kehendak pribadi Boediono, bukan ‘paksaan
politik’ sehingga dengan itu sudah bisa menjadi suatu jawaban atas segala
tuduhan yang menimpa Boediono serta sudah menjadi suatu kewajibanbagi muslim 
untuk melakukan ibadah hajijika sudah memenuhi segala persyaratan persyaratan,
yaitu sehat jasmani dan rohani serta memiliki harta atau materi yang lebih.

Artikel ini dapat dibaca di :
Tifatul Ajak Boediono Umroh
http://nurulloh.kompasiana.com/2009/06/19/tifatul-ajak-boediono-umroh/

***

Neoliberalisme sebagai sebuah isme telah
menyusup ke semua aspek kehidupan kita, tanpa kita sadari dan bahkan tanpa
sempat kita memikirkannya. Tentu saja, penerapan filsafat transaksi ekonomi
dalam semua relasi sosial dari gagasan neoliberalisme ini memiliki implikasi
dan dampak yang sangat jauh dan mendalam dibidang ekonomi-politik dan keadilan
sosial dalam tata kemasyarakatan.

Praktek neoliberalisme tak sekedar
terbatas pada tataran sektor ekonomi, keuangan, perdagangan, industri,
pertambangan, energi, dan migas saja. Sektor pertanian, pangan, kesehatan,
pendidikan, sumber daya air, dan sektor-sektor publik lainnya pun sudah mulai
dirambahnya.

Bahkan saat ini sudah merambah pula ke
sektor politik. Politik pun menjadi mengikuti model ekonomi yang hanya 
mendasarkan
analisa politik menjadi sekedar analisa tentang biaya dan manfaat dari suatu
transaksi ekonomi semata.

Begitulah hakikat neoliberalisme, tidak
ada satupun di ranah kehidupan masyarakat yang tidak bisa dijadikan komoditas
ekonomi belaka. Bahkan fungsi relasi sosial kemasyarakatan yang sejatinya
merupakan nilai dasar manusia bisa direduksi sedemikian rupa. Sehingga tidak
lebih dari urusan demand and supply belaka dan diperlakukan seperti komoditas
biasa yang bisa diperjualbelikan.

Suka atau tak suka, setuju atau tak
setuju, kita telah terhisap masuk kedalam sebuah tatanan dunia yang baru.
Seolah-olah tak ada lagi pilihan kebijakan lainnya, hanya ada satu pilihan saja
yaitu neoliberalisme.

Berkenaan dengan penerapan neoliberalisme
di tatanan politik, ada yang menuliskan dengan amat menarik. Miftah Sabri
Mangkudun menuliskan sebuah pendapatnya dengan diberinya judul ‘Neoliberalisme 
Kerudung ala PKS’.

Pendapatnya tersebut dipostingkan olehnya
di tempointeraktif.com, isi
tulisannya tersebut adalah sebagai berikut :

Neoliberalisme bertujuan untuk
mengembalikan kepercayaan kepada pasar. Fondasi utamanya adalah kebebasan
seluas-luasnya sehingga menciptakan keadaan di mana kehidupan publik tunduk
pada logika pasar.

Tidak ada ranah kehidupan yang tidak bisa
dijadikan komoditas. Semua bisa diperjualbelikan. Fungsi sosial masyarakat yang
merupakan nilai dasar manusia direduksi sedemikian rupa sehingga tidak lebih
dari komoditas ekonomi belaka.

Pada kondisi seperti inilah politik tidak
lagi memiliki makna. Politik seharusnya merupakan keputusan-keputusan yang
menawarkan nilai-nilai. Sedangkan dalam konsep neoliberalisme, hanya satu cara
rasional untuk mengukur nilai, yaitu pasar.

Polemik seputar masalah neoliberalisme pada
hari-hari belakangan ini masih berkutat pada masalah kebijakan ekonomi.
Masyarakat terjebak pada perdebatan yang mengawang-awang. Kita pun berpikir
seolah-olah tidak terjebak dalam neoliberalisme.

Pendakwa dan terdakwa dalam polemik
menahbiskan diri sebagai bukan bagian dari neoliberalisme. Sehingga pada titik
tertentu perdebatan ini berujung pada pencitraan diri yang berlebihan.

Tapi apakah benar kita belum terjebak
dalam neoliberalisme ?.

Apakah kita belum mereduksi nilai sosial
kemasyarakatan sekaligus masih mengejawantahkan fungsi politik yang hakiki ?.

Sebelum pertanyaan-pertanyaan ini menjadi
polemik jilid kedua dari neoliberalisme, Mahfudz Sidik, salah seorang Ketua DPP
Partai Keadilan Sejahtera, telah menjawabnya. Sebagaimana diberitakan dalam
situs mediaindonesia.com (Selasa, 26 Mei 2009).

Mahfudz memberi pernyataan, “…sentimen semacam ini (mengenakan kerudung)
akan dimanfaatkan oleh kandidat lainnya. Memang (penampilan) istri JK dan
Wiranto bagus. Kalau Ibu Ani dan istri Boediono memakai kerudung akan
memunculkan efek positif bagi publik terhadap dukungannya untuk SBY-Boediono.”

Selanjutnya, masih mengutip portal berita
yang sama, Mahfudz menyatakan, jika saran memakai kerudung dilaksanakan, PKS
akan lebih mudah mengarahkan kader dan simpatisannya agar memilih SBY-Boediono.
Dalam media yang sama, hal ini didukung oleh Ketua DPP PPP Lukman Hakim
Syaifudin.

Dalam iklim demokrasi kita yang sangat
menjunjung tinggi kebebasan ini, bahasa politik semakin gampang dicerna. Ini
bukan lantaran pesan-pesan politik semakin mengakar dengan permasalahan
masyarakat, melainkan disebabkan oleh penyederhanaan politik itu sendiri.

Mengenakan kerudung yang merupakan sebuah
nilai spiritual, yang dalam kaidah Islam arus utama wajib hukumnya bagi setiap
wanita, telah direduksi oleh Mahfudz Sidik sekadar menjadi sentimen.

Sehingga seolah-olah kerudung yang
dikenakan oleh istri Jusuf Kalla dan Wiranto hanya katalisator untuk
meningkatkan sentimen positif pasar (pemilih) terhadap pasangan JK-Wiranto.

Memperdagangkan kerudung sebagai sebuah
‘barang’ tentu tidak salah, banyak rakyat kita yang hidup dari usaha itu.

Tapi memperdagangkan ‘nilai’ memakai kerudung sebagai sebuah ‘komoditas 
politik’ bukan hanya mereduksi ‘nilai spiritual’ agama, tapi juga secara tidak 
langsung
mempertanyakan otoritas hukum agama.

Bukankah pernyataan di atas itu juga
seolah-olah mempertanyakan otentifikasi pemakaian kerudung oleh istri JK dan
Wiranto; apakah karena Allah atau sekadar untuk menciptakan sentimen positif ?.
Saya tidak seberani Sidik menjawab pertanyaan itu.

Bila Ibu Ani dan Ibu Herawati mengenakan
kerudung, Mahfudz menyatakan akan lebih mudah mengarahkan kader dan simpatisan
PKS.

Kerudung, yang pada konsepnya merupakan
wujud ketundukan kepada Yang Maha Kuasa, dalam politik kita saat ini tunduk
pada kehendak pasar.

Penutup aurat itu adalah sentimen yang
bisa dimainkan di tengah-tengah pemilih yang dalam asumsi para politikus kita
lebih mementingkan simbol daripada nilai.

Kader dan simpatisan PKS pun berubah menjadi
angka statistik di mana aspirasinya tecermin dalam kurva-kurva yang akan
bereaksi terhadap sentimen simbol-simbol keagamaan, seperti kerudung.

Bila nilai memakai kerudung saja bisa
direduksi sedemikian rupa menjadi sentimen, kita bisa mempertanyakan
simbol-simbol agama yang menjadi platform partai-partai Islam, seperti PKS dan
PPP.

Maka semakin kuat saja kecurigaan bahwa
simbol-simbol agama yang selama ini diusung tidak lebih dari bentuk
neoliberalisme politik, reduksi nilai menjadi komoditas untuk meningkatkan
jumlah kursi dan menaikkan tawaran politik.

Pada saat nilai-nilai telah direduksi
menjadi sentimen, kepemimpinan menjadi komoditas dan rakyat cuma dianggap
sebagai pasar, maka kita tidak lagi perlu berdebat tentang apakah
neoliberalisme itu telah hadir di Indonesia ini.

Kita tidak bisa lagi mensimplifikasi
polemik seputar neoliberalisme sekadar masalah kebijakan ekonomi. Sebab, yang
menakutkan dari neoliberalisme bukanlah pasar bebas yang akan terus memperlebar
jurang antara orang yang berpunya dan yang tidak, melainkan pada saat politik
tidak lagi mampu memberi keputusan-keputusan yang menghasilkan nilai-nilai.

Politik menjadi parade kepalsuan, nilai
menjadi sentimen, kepemimpinan jadi komoditas, rakyat jadi pasar, dan tentu
saja semua kepalsuan butuh konsep pencitraan diri yang sempurna.

Para kandidat bisa menghabiskan
berhari-hari waktunya untuk ‘memoles diri’,
sedikit hari yang tersisa digunakan untuk menyambangi konstituen.

Kita perlu berterima kasih kepada Mahfudz
Sidik dan PKS, yang lewat pernyataannya memberi kita gambaran tentang
neoliberalisme politik yang tengah menggurita.

Pernyataan ini memberi terang kepada kita
tentang anomali politik yang terjadi belakangan ini.

Kerudung untuk Ibu Ani dan Ibu Herawati,
demikianlah cara PKS menerapkan neoliberalisme politik di Indonesia.
Allahu a’lamu bish-shawab.

Artikel ini dapat dibaca di :
Me-Neoliberalisasi-kan Jilbab.
http://public.kompasiana.com/2009/06/08/me-neoliberalisasi-kan-jilbab/

***

Tulisan terpopuler hari ini (09/06) rasanya kok berbau sara meskipun toh
judulnya dikemas rapi, “Apa salah jika
istri Boediono beragama Katholik”.  Tulisan yang dibuat sebagai
tanggapan dari tulisan “Sesama Katholik dengan Bu Hera
Boediono, Uppz, Uppz, This It’s Not SARA Share”.

Aneh memang selera membaca orang
Indonesia, senang membaca tulisan berbau sara dan belum jelas kebenarannya.
Gosip, gosip, digosok makin sip. Kebanyakan nonton gosip di TV kalee.

Apalagi yang digosipin Istri-istri
pasangan capres. Waduh, ga heran deh kalau gossip ini bisa mendapat rating
pembaca yang tinggi. Rating tertinggi hari ini, dikompasiana. Tulisan bocahndeso
- 9 Juni 2009 - Dibaca 2687 Kali -  tak masuk lagi dalam
katagori terpopuler minggu ini, padahal tulisan  wartawan senior Pepih
Nugraha - 8 Juni 2009 - Dibaca 1813 Kali - pada posisi ke 8 rating
minggu ini saat tulisan ini dibuat rabu dini hari (10/9).

Namun berita istri pasangan capres,
terutama Bu Hera Budiono belum begitu tampak di media mainstream. Jangan-jangan
ini isu  tidak menjadi penting bagi media mainstream.

Mungkin karena istri pasangan capres masih
sebatas konco wingking ?. Waduh maaf, masa iya sih di tengah isu gender
yang mainstream.

Gosip mengenai istri cawapres Boediono ini
perlu tidaknya mendapat klarifikasi dari pihak keluarga atau yang mewakilinya
sangat tergantung dari mereka.

Gosip ini menjadi seru ketika
beberapa kader PKS meminta istri dari SBY – Boediono untuk mengenakan
jilbab. Kull walau ayah, sampaikan ayat-ayat Allah meski satu ayat,
semangatnya.

Sedangkan Prof. Dr. Suparman, mantan
konsultan Bapennas saat Boediono menjabat Menteri Pembangunan Negara Nasional
/Kepala Bappenas mengungkapkan, istri Boediono memang non muslim. “ Ya, memang 
katolik”, ujar Suparman
kepada Indonesia Monitor, kamis (28/5).

Ah, binun, binun jadinya. Wong namanya
gossip. Mentang-mentang jilbab lagi tren. Lo, kalau ga salah pakaian yang
seperti jilbab kan ga hanya monopoli Islam. Toh suster dari Katholik pun juga
berpakaian kaya jilbab.

Begitu pun, tidak jadi soal. Ada kawan
saudaraku yang bernama Kristiani Yudianto juga pakai jilbab. Bu Kristiani yang
sudah punya 2 anak sarjana ini pakai jilbab sejak  suaminya ikut pilkades,
atau pilkada saya lupa. Ah apa arti sebuah nama, toh niatnya baik tak mengumbar
aurat. Syukur deh kalau dia sudah menjadi mualaf.

Terus apa masalahnya ?, la wong ’hanya pakaian‘ aja.

He he blogger sekarang emang ada-ada aja
di otaknya. Kesadaran kritis blogger, anugrah atau bencana neh.

Positif thinking aja deh, mungkin sang
blogger ga mau golput lagi pilpres 2009 mendatang. Meniru jejak budayawan
sujiwo sutejo neh naga-naganya.

Publik mungkin sekarang udah ga sabar
untuk mendengar secara langsung jawaban dari pihak Boediono.

Artikel ini dapat dibaca di :
Katholik kah Hera Boediono (Ibu Cawapres SBY), Publik
Masih Bertanya ?.
http://public.kompasiana.com/2009/06/10/katholikah-hera-boediono-ibu-cawapres-sby-publik-masih-bertanya/

***




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke