Jika Kita Tetap Dibenci....

Oleh: Ustadz Sulthan Hadi

Disadur dari Majalah Tarbawi edisi206 Th 10. Jun 09.

 

 

Tujuan paling mulia dari hidup ini adalah mendapat ridha Allah swt.
Sebab itulah yang akan membawa kepuasan, ketenangan dan keselamatan pada
diri kita. Namun bukan berarti kita harus mengabaikan keridhaan manusia.
Bukan. Karena kita pun tidak bisa hidup dengan nyaman tanpa ridha
manusia. Kita tidak dapat hidup tenang jika masyarakat kita selalu
memusuhi kita, memandang kita dengan tatapan yang buruk, sinis, penuh
kebencian, walaupun sebenarnya kita sendiri tidak akan pernah membuat
mereka selalu ridha dengan kita. 

 

Jika memang kita mesti berhadapan dengan kenyataan untuk selalu dibenci,
maka tetaplah berdiri pada posisi kita, dengan tetap memperhatikan
hal-hal berikut. 

 

Lakukan Sebaik Mungkin 

 

Membuat orang lain suka dengan kita tidaklah mudah. Menguubah benci
menjadi cinta bukan pula perkara sepele. Sulit, dan penuh tantangan.
Barangkali yang lebih mudah adalah, tetap konsisten pada keadaan kita,
pada kebenaran yang kita yakini, pada kebaikan yang kita sampaikan. 

 

Jika kita memang membutuhkan sebuah kehormatan di mata manusia, untuk
menghapus sebuah kebencian, maka kehormatan merupakan buah dari pohon
bernama perilaku positif, konsistensi dan sikap profesional. Kehormatan
tidak mungkin muncul dari tindakan-tindakan negatif. Bahkan, melakukan
tindakan negatif sarna artinya kita mempertaruhkan kehormatan kita. Dan
orang yang kehilangan kehormatan tentu tidak akan mendapatkan tempat
yang terhormat. Maka janganlah kita mengorbankan kehormatan untuk
menyenangkan orang lain. Mungkin saja mereka akan suka pada kita, tapi
di dalam hati, mereka tetap merendahkan kita. 

 

Jadi, apa yang bisa kita lakukan adalah; tetap berpegang teguh kepada
nilai-nilai positif. Menjaga moral. Dan memastikan bahwa apa yang kita
lakukan itu untuk meningkatkan nilai kebaikan diri kita.

 

Berkontribusi kepada orang lain, memberi manfaat sebanyak mungkin.
Dengan begitu, boleh saja orang tetap tidak menyukai kita. Tetapi, hati
mereka menghormati. Hati mereka menyukai. Karena ada orang yang tidak
mau secara terbuka mengakui penghormatan itu. Lidah mereka boleh
mencela. Mata mereka boleh mencari-cari aib, kesalahan dan kelemahan.
Mereka boleh memaki. Mereka boleh mengusir. Bahkan mereka boleh
menyingkirkan kita dari komunitas, pekerjaan, atau jabatan, tetapi hati
mereka memberikan pengakuan terhadap kemampuan dan kelebihan kita.
Naluri mereka yang jujur tetap respek dan menaruh rasa hormat. 

 

Jikapun mereka tetap tidak mengghormati kita, ingatlah; nilai hidup kita
tidak ditentukan oleh orang seperti mereka, melainkan oleh kontribusi
yang bisa kita berikan kepada diri sendiri, dan orang-orang di sekitar
kita. Karena itu, jangan berhenti melakukan yang terbaik. Yakinlah,
bahwa dengan begitu kecintaan Allah swt semakin dekat. Karena Rasulullah
saw bersabda, "Sesungguhnya Allah menyukai jika seorang di antara kalian
berbuat sesuatu, dia melakukannya dengan baik." 

 

Kendalikan Perasaan pada Reaksi Perrtarna 

 

Meski dibenci, kita harus tetap berlapang dada. Mendahulukan prasangka
baik. Misalnya, dengan mengatakan, "Ya Allah, ternyata setiap orang
memang lebih baik dariku." 

 

Ini bukanlah sebuah sikap pesimisme. Melainkan agar kita selalu
termotivasi untuk semakin memperbaiki diri agar kita bisa menutup celah
yang dianggap aib dan kelemahan oleh orang lain. 

 

Respon dan prasangka kita yang baik, dari reaksi pertama, akan
melahirkan banyak manfaat. Di antaranya, hubungan persahabatan dan
persaudaraan yang tetap terjaga. Sebab berbaik sangka dalam interaksi
kita dengan sesama Muslim akan menghindarkan kita dari keretakan.
Sebaliknya, keharmonisan hubungan akan semakin terasa karena tidak ada
halangan psikologis yang menghambatnya. 

 

Selain itu, persangka baik juga menghindarkan kita dari beban dosa.
Sebab buruk sangka itu akan membuat seseorang menimpakan keburukan
kepada orang lain tanpa bukti yang benar, seperti ditegaskan Allah pada
ayat, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari
prasanggka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa." (QS.
Al Hujurat:12) 

 

Berbaik sangka juga memberi kesan bahagia atas segala kemajuan yang
dicapai orang lain, sehingga kita pun berusaha untuk mencapainya. Ini
memiliki arti yang sangat penting, karena dengan demikian jiwa kita
menjadi tenang dan terhindar dari iri hati yang bisa berkembang dan
berlanjut pada dosa-dosa yang baru. Ini juga berarti, kebaikan dan
kejujuran akan membawa kita pada kebaikan yang banyak. Sedang dosa serta
keburukan akan membawa kita pada dosa-dosa berikutnya yang lebih besar
lagi dengan dampak negatif yang semakin banyak. 

 

Berburuk sangka akan melahirkan banyak kerugian, baik dalam kehidupan di
dunia maupun di akhirat. Karena itu Rasuulullah mengingatkan kita untuk
selalu jujur dan menjauhi dusta dan prasangka buruk. Beliau bersabda,
"Hendaklah kamu selalu bersikap jujur. Sesungguhnya kejujuran membawa
kepada kebajikan dan kebajikan membawa kepada surga. Selama seseorang
jujur dan selalu memilih kejujuran dia akan dicatat di sisi Allah
sebagai orang yang jujur. Berhati-hatilah terhadap dusta, sesungguhnya
dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka.
Selama seseorang berdusta dan selalu memilih dusta dia akan dicatat di
sisi Allah sebagai seorang pendusta." (HR. Bukhari) 

 

Dan dusta yang paling nyata adalah prasangka buruk. Sebagaimana sabda
Rasulullah, "Jaujilah prasangka itu, sebab prasangka itu pembicaraan
yang paling dusta." (HR. Muttafaqun'alaih) 

 

Sesekali, Berilah Hadiah 

 

Menyemai cinta di hati manusia tidak hanya punya satu pintu. Begitu
juga, mengghilangkan dengki dan prasangka buruk dari orang lain tidak
semata dilakukan dengan satu cara. Ada banyak pintu, dan ada sejumlah
cara untuk memulainya. Tetapi ada satu cara yang bisa menyatukan
keduanya, yaitu dengan saling memberi hadiah. 

 

Dalam sebuah hadits dari Atha bin Abdillah Al Khurasani ra, Rasulullah
bersabda, 

 

"Saling berjabat tanganlah kalian, nisscaya akan hilang rasa dengki; dan
saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian kalian akan saling
mencintai dan akan lennyap rasa permusuhan." (HR. Imam Malik) 

 

Dalam dakwah dan juga aktifitas keehidupan yang lain, manusia tidak
lepas dari interaksi dengan sesamanya. Dan dari setiap interaksi itu
tentu kita mengharapkan lahirnya keakraban, kerja sama yang baik, dan
hilangnya kecurigaan dan sekat-sekat yang sering membatasi hubungan
kita, antara satu dengan yang lain. 

 

Seorang da'i, misalnya, ia dituntut untuk memaksimalkan interaksinya
dengan orang lain agar dia berhasil menghilangkan prasangka buruk
masyarakat terhadap dakwah yang diembannya. Dan memberi hadiah merupakan
salah satu seni interraksi yang mampu melahirkan dampak dan pengaruh
yang luar biasa terhadap orang-orang yang menjadi objek dakwahnya.
Memberi hadiah, terkadang menjadi solusi yang sangat tepat bagi seorang
da'i kehilangan sentuhan untuk melunakkan hati mad'u. 

 

Dalam hal apa saja, memberi hadiah bisa menjadi solusi untuk merapatkan
hubungan. Karena itu, Rasulullah saw sering menganjurkan kita
melakukannya. Beliau saw sangat mendorong kita, kaum Muslimin agar
saling memberi hadiah, bahkan meskipun hadiah itu terlihat sepele dan
tampak kurang bernilai. Seperti anjuran beliau, "Berbagilah, meski hanya
sebuah tungkai kambing." 

 

Di zaman para sahabat, kita temukan betapa seorang sahabat Anshar pernah
menawarkan separuh hartanya kepada Abdurrahman bin Auf ra yang hijrah ke
Madinah bersama Nabi. Bahkan, sahabat itu siap menceraikan salah seorang
istrinya untuk kelak dinikahkan kepada Abdurrahhman bin Auf. 

 

Sepertinya, sahabat Anshar itu menanggkap suatu kesulitan dari
sahabatnya yang terusir dari Makkah itu, setelah meningggalkan semua
hartanya demi menunaikan perintah Rasul untuk berhijrah. Tanpa menunggu
diminta, ia langsung menawarkan meski akhirnya tawaran yang tulus itu
ditolak Abdurrahman ra. 

 

Kita perlu bejar dari sejarah ini, bahwa memberi hadiah itu penting.
Terutama kepada orang-orang yang secara nyata menampakkan penolakan dan
ketidaksukaannya kepada kita. Ini adalah solusi pertemanan dari
Rasulullah, yang dijadikan kebiasaan di kalangan sahabat beliau. 

 

Jika Memang Baik, Beranilah Memuji 

 

Sirah kehidupan Rasulullah menyimpan banyak sekali teladan persahabatan
dan jalinan kemanusiaan yang mengispirasi. Khususnya, bagaimana
menyenangkan orang lain dan menghilangkan kebencian dan perasangka
buruk. 

 

Selain memberi hadiah, Rasulullah saw juga mengajarkan kita untuk memuji
orang lain, atas prestasi dan kebaikan yang dimilikinya. Karena pujian
itu akan memberi dampak yang baik orang yang dipuji, menghilangkan
kedengkian dan kecurigaannya. Tetapi kita harus melakukannya secara
bertanggung jawab dan di tempat yang benar. Jangan sampai pula, pujian
itu diberikan secara berlebihan. 

 

Pujian seperti ini berpotensi merusak kepribadian dan dapat membunuh
karakter seseorang. Karenanya, untuk menghindari efek negative itu,
Rasulullah saw telah memberikan contoh yang baik. Di antaranya, beliau
melakukannya di belakang orang yang beliau puji. Misalnya, ketika
seorang Badui yang baru masuk Islam bertanya tentang Islam, Nabi
menjawab bahwa Islam adalah shalat lima waktu, puasa, dan zakat. Maka
orang Badui itupun berjanji untuk menjalankan ketiganya dengan
konsisten, tanpa menambahi atau menguranginya. Setelah si Badui pergi,
Nabi saw memujinya di hadapan para sahabat, "Sungguh beruntung kalau ia
benar-benar melakukan " janjinya tadi." Setelah itu beliau menambahi,
"Barangsiapa yang ingin melihat penghuni surga, maka lihatlah orang
(Badui) tadi." (HR. Bukhari dan Muslim) 

 

Beliau juga sering melontarkan pujiannya dalan bentuk doa. Misalnya,
ketika beliau melihat ketekunan Ibnu Abbas ra dalam mendalami tafsir Al
Qur'an, beliau saw tidak serta merta memujinya. Beliau lebih memilih
untuk mendoakan Ibnu Abbas ra, "Ya Allah, jadikanlah dia ahli dalam ilmu
agama dan ajarilah dia tafsir (Al Qur'an)." (HR. Al Hakim) 

 

Begitu pula, di saat Nabi saw melihat ketekunan Abu Hurairah ra dalam
mengumpulkan hadits dan menghapalnya, beliau lantas berdoa agar Abu
Hurairah ra dikaruniai kemampuan untuk tidak lupa apa yang pernah
dihapalnya. Doa ini kemudian dikabulkan Allah swt dan Abu Hurairah ra
menjelma sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. 

 

Menjaga Hubungan Persaudaraan 

 

Ikatan ukhuwah adalah aspek vital yang harus selalu diperhatikan dalam
setiap interaksi kita dengan orang lain. Karena itu, Islam berkali-kali
mengingatkan kita untuk selalu menjaganya, baik melalui firman Alllah
swt di dalam Al Qur'an maupun melalui sabda Rasulullah saw di dalam Al
Hadits. Segala hal yang mungkin memutuskannya, akan selalu dicegah. 

 

Rasulullah saw dengan tegas memerintahkan umatnya untuk senantiasa
menjaga hubungan persaudaraan. Abdullah bin Abi Aufa ra menceritakan,
"Ketika sore hari pada hari Arafah, waktu kami duduk mengelilingi
Rasulullah saw, tiba-tiba beliau bersabda, "Jika di majelis ini ada
orang yang memuutuskan silaturahim, silahkan berdiri, jangan duduk
bersama kami." 

 

Saat itu, di antara yang hadir hanya ada satu yang berdiri, dan orang
itupun duduk di bagian belakang. Kemudian lelaki itu pergi, dan tidak
lama berselang ia datang dan duduk kembali. 

 

Lalu, Rasulullah saw pun bertanya kepadanya,"Karena di antara yang hadir
hanya kamu yang berdiri, dan kemudian kamu datang dan duduk kembali, apa
seesungguhnya yang terjadi?" 

 

Lelaki itu menjawab, "Begitu menndengar engkau bersabda, aku segera
menemui bibiku yang telah memutuskan silaturahim denganku. Karena
kedatanganku tersebut, ia berkata, "Untuk apa kamu datang, tidak seperti
biasanya kamu datang kemari." Lalu aku menyampaikan apa yang telah
engkau sabdakan. Kemudian ia memintakan ampun untukku, dan aku meminta
ampun untuknya (setelah kami berdamai)." 

 

Rasulullah saw pun bersabda kepadaanya, "Kamu telah melakukan perbuatan
yang baik, duduklah, rahmat Allah tidak akan turun kepada suatu kaum
jika di dalamnya ada orang yang memutuskan silaturahim. " 

 

Saling marah, membenci atau menebar kebencian adalah perilaku yang bisa
merusak hubungan persaudaraan. Maka ketika apinya mulai tampak, yang
dinyalakan oleh kita atau orang lain, segeralah berusaha memapadamkannya
sebelum membakar dan menghanguskan ikatan persaudaraan kita. 

 

Ibnu Rajab Al Hambali berkata "Sesama muslim dilarang saling membenci
dalam hal selain karena Allah, apalagi atas dasar hawa nafsu. Karena
sesama Muslim itu telah dijadikan Allah bersaudara dan persaudaraan itu
saling cinta bukan saling benci." 

 

Memang, persaudaraan tidak hanya rusak oleh kebencian. Tetapi kebencian
juga tidak hanya merusak persaudaraan. Kebencian bisa melahirkan
kerusakan yang lebih besar, bencana yang lebih luas, tidak hanya di
dunia tetapi juga di akhirat. 

 

Syaikh Muhammad Hayat As Sindi menegaskan, "Janganlah kalian melakukan
apa yang akan menyebabkan saling membenci karena itu akan menyebabkan
bermacam-macam kerusakan di dunia dan bencana di akhirat." 

 

Karena itu tahanlah diri kita untuk tidak membenci, dan tetap berbuat
baik ketika dibenci agar kebencian itu tidak menimmbulkan kerusakan yang
lebih besar pada diri kita, dan pada hubungan kita dengan sesama
manusia.

 

 

________ akhir artikel ________

 

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke