Bismillahirrohmaanirrohiim


 

 “Telah dekat
(datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan.

 

Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu
tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang
terus menerus".

 

Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu
mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya.

 

Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah
yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran),

 

itulah suatu hikmah yang sempurna maka peringatan-peringatan
itu tiada berguna (bagi mereka).

 

Maka berpalinglah kamu dari mereka.  (Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru
(malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan),

 

sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari
kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan,

 

mereka datang dengan cepat kepada penyeru
itu. Orang-orang kafir berkata: "Ini adalah hari yang berat".Al-Qur’an
Surat Al-Qomar (54) ayat 1s/d 8

 

 

Ayat
di atas menjelaskan kejadian terbelahnya bulan (satelit bumi) sekitar tahun
ke-5 Hijrah. Terbelah berati terpisah menjadi dua bagian. Peristiwa ini
merupakn mukjizat Nabi Muhammad SAW, dalam memenuhi permintaan orang-orang
Quraisy. 

 

Peristiwa
ini dimuat dalam berbagai kitab hadis dan sirah nabawi dari penuturan sejumlah
sahabat, di antaranya adalah Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas.

 

Peristiwa
ini dibantah oleh orang-orang Barat karena dianggap sesuatau yang mustahil dan
tidak logis; “Bagaimana mungkin benda-benda angkasa terbelah menjadi dua dan
kemudian menyatu kembali sebagaimana yang kita lihat sekarang.”

 

Namun
ternyata, sejarah India dan Cina kuno (yang pada waktu peristiwa ini belum
mengenal apa pun tentang Islam) telah mencatat dan menceritakan peristiwa ini.
Sayyid Mahmud Syukri al-Alusi, dalam bukunya Ma Dalla 'Alaihi Al-Qur'an,
mengutip dari buku Tarikh al-Yamini bawa dalam sebuah penaklukan yang
dilakukan oleh Sultan Mahmud bin Sabaktakin al-Ghaznawi terhadap sebuah
kerajaan yang masih menganut paganisme (musyrik) di India ia menemukan
lempengan batu di dalam sebuah istana taklukan tersebut. Pada lempengan
tersebut terpahat tulisan, "Istana ini dibangun pada malam
terbelahnya bulan, dan peristiwa itu mangandung pelajaran bagi orang yang
mengambil pelajaran."

Bukti
lain diceritakan oleh Dr. Zaghlul, dalam bukunya Al-I'jaz Al-'Ilmi fi
As-Sunnah An-Nabawiyah Jilid I, menceritakan tentang pengakuan seorang
mualaf bernama David M. Pidcock. Pengakuan ini terjadi beberapa tahun lalu
dalam satu ceramah Dr. Zaghlul di fakultas kedokteran Universitas Cardiff di
Wales, Inggris Barat.

 

Pidcock
mengatakan bahwa ayat pertama dari surah Al-Qamar ini lah yang menyebabkan ia
masuk Islam di akhir dekade 70-an. Ceritanya, saat itu ia sedang melakukan
kajian terhadap agama-agama dunia. 

 

Salah
satu teman Muslimnya menghadiahinya Al-Qur'an dan terjemahannya. Saat pertama
kalinya ia membaca, ia langsung terkejut dengan surah Al-Qamar. Karena tidak
percaya bahwa bulan pernah terbelah dan kemudian menempel kembali, maka ia
tutup Al-Qur'an tersebut dan meninggalkanya begitu saja.

 

Beberapa
hari kemudian, tanpa disengaja ia melihat sebuah acara di BBC tentang
perjalanan luar angkasa. Acara yang disiarkan pada tahun 1978 itu dipandu oleh
penyiar Inggris terkenal bernama James Burke dengan menghadirkan tiga ilmuawan
antariksa Amerika.

 

Dalam
wawancara tersebut, dibahas perjalanan ruang angkasa yang menemukan satu fakta
penting bagi mereka.. Fakta tersebut adalah bahwa sesungguhnya bulan dahulu
pernah terbelah kemudian melekat lagi, dan bekas-bekas yang membuktikan cerita
ini masih terlihat di permukaan bulan dan membentang hingga ke dalamanya.

 

Begitu
mendengar penuturan ini, Pidcock lalu tersentak kaget dan teringat akan surah
Al-Qamar yang ia pernah baca. Kemudian ia pun masuk Islam.taq/

 

http://www.republika.co.id/berita/34259/Mukjizat_Bulan_Terbelah_Memang_Pernah_Terjadi




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke