Dari Moderator:
Semoga era represif di zaman ORBA tidak terulang lagi sekarang.
Selain itu hendaknya kita lebih sabar dalam berdakwah sehingga segala provokasi
bisa diredam.
Wassalam
Penyegelan Masjid Al Ihsan Sidotopo Surabaya, Noda Hitam Sejarah Indonesia
Kajian rutin di Masjid Al Ihsan Sidotopo yang biasa dibimbing oleh ustad Abu
Bakar Ba'asyir batal dilaksanakan malam Ahad ini. Kejadian berawal dari
provokasi pada Jum'at malam 19 Juni 2009 (diduga dari pihak kepolisian/ intel
berpakaian preman) memprovokasi warga dengan mengatakan jama'ah masjid Al Ihsan
mengkafirkan PNS dan anggota kepolisian, penghuni masjid adalah anak buah ABB,
ketua ta'mir adalah bapak teroris dan sebagainya.
Pada malam itu ada tuntutan pengajian ustadz Abu tidak boleh menggunakan sound
system karena "beberapa warga" merasa "gerah" dengan isi kajian ustadz Abu.
Walhasil kajian rutin ustadz Abu malam ini tidak bisa dilaksanakan. Berikut ini
kronologis kejadian yang terjadi di masjid Al Ihsan Sidotopo:
KRONOLOGI PENYEGELAN MASJID DAN PELARANGAN SHOLAT BERJAMAAH LIMA WAKTU DI
MASJID SIDOTOPO
1. Pada hari Jumat tanggal 19 juni 2009 lebih kurang pukul 22.30 sampai dengan
24.30 terjadi penyerbuan dan sweeping ke dalam masjid Al Ihsan Sidotopo yang
dilakukan oleh massa tak dikenal beserta warga yang terprovokasi dan anggota
kepolisian, massa tersebut meminta KTP penghuni masjid dan memaksa penghuni
masjid untuk keluar dari masjid dan mengeluarkan barang-barang dari ruangan
dalam masjid. Indikasi yang didapat oleh penghuni masjid (petugas kebersihan
dan perawatan masjid) bentuk –bentuk provokasi tersebut antara lain :
- Massa yang ikut dalam sweeping malam itu kebanyakan bukan dari warga sekitar.
- Ucapan-ucapan kasar dan bernada provokasi serta menghina takmir masjid.
2. Buntut kejadian pada malam hari itu, pada hari sabtu 20 Juni 2009 lebih
kurang pukul 13.00 (atas permintaan Wakapolres Surabaya Timur) terjadi
pertemuan antara Ta’mir Masjid Al Ihsan, Camat Semampir, Aparat Kepolisian
Polsek Semampir (dan Polres Surabaya Timur?), dengan beberapa perwakilan warga
sekitar menghasilkan “keputusan” penyegelan dan pelarangan aktivitas sholat
berjamaah lima waktu di masjid Al ihsan sidotopo dengan alasan masjid tersebut
tidak memiliki Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). Penyegelan dilakukan oleh aparat
camat dan kepolisian dan kemudian kunci segel (gembok) dibawa oleh Camat
Semampir yang mengaku bertanggung jawab terhadap keputusan tersebut.
3. Sampai malam ini keadaan masih tegang, Aparat kepolisian, pengurus masjid,
dan beberapa warga masih berjaga-jaga di sekitar masjid..
PERKEMBANGAN SITUASI MASJID PASCA PENYEGELAN HINGGA HARI SENIN
Berdasarkan laporan yang diterima oleh redaksi dari masyarakat setempat di
kompleks masjid Al-Ihsan, disebutkan bahwa ada keinginan dari pihak kepolisian
dan aparat kecamatan Semampir untuk mengambil alih tanah dan bangunan masjid
Al-Ihsan. Padahal, tanah masjid tersebut jelas-jelas dimiliki oleh Bp. Umar
yang juga ketua Takmir Masjid Al-Ihsan.
Selain itu, pihak kepolisian dan aparat setempat terkesan memaksakan persoalan
perijinan IMB untuk menyegel masjid tersebut, padahal—bisa dikatakan—ratusan
ribu masjid yang tersebar di seluruh Surabaya tidak terikat dengan perijinan
IMB tersebut, apalagi hal itu tidak bertentangan dengan Surat Keputusan Bersama
Pendirian Tempat Ibadah No: 9 dan No: 8 tahun 2006.
Satu hal lagi yang sangat aneh adalah munculnya aksi penyerangan masjid
(sweeping) oleh orang-orang tak dikenal, yang dianggap sebagai ‘reaksi’ warga
atas pengajian di masjid tersebut, sehingga memunculkan ‘keputusan’ Camat
Semampir dan kepolisian Surabaya Timur untuk menyegel dan melarang warga shalat
di masjid Al-Ihsan. Padahal, selama bertahun-tahun sejak masjid tersebut
didirikan, tak satupun warga yang merasa gerah dengan keberadaan masjid dan
berbagai aktivitas yang terjadi di dalamnya.
Bahkan, warga yang notabene mayoritas muslim pun senantiasa turut serta dalam
berbagai kegiatan yang dilakukan oleh masjid tersebut, sehingga sangat naïf
jika dikatakan bahwa kegiatan dan keberadaan masjid tersebut disebut-sebut
meresahkan warga setempat.
Hal ini kemudian memunculkan berbagai dugaan yang simpangsiur dan tidak jelas.
Bahkan, kesan adanya skenario besar dari pihak yang tidak bertanggung jawab
untuk memberangus kegiatan Dakwah Islamiyah di Surabaya. Dengan memanfaatkan
isu-isu yang belum jelas kebenarannya, mereka mencoba ‘mengakali’ berbagai
pasal yang tercantum dalam SKB Menteri Agama dan Mendagri No: 8 dan No: 9.
Tak pelak, hal ini memunculkan berbagai reaksi di berbagai penjuru Indonesia
salah satunya adalah kesiapan sejumlah ormas-ormas Islam baik di Jawa Tengah,
Jawa Timur maupun Jawa Barat untuk memberikan dorongan fisik dan mental bagi
takmir masjid Al-Ihsan, bahkan sebagian dari mereka telah berangkat untuk
membantu pembebasan masjid Al-Ihsan Sidotopo.
SATU HAL YANG PATUT DISESALKAN
Sebenarnya, peristiwa penyegelan dan pelarangan ibadah di masjid Al-Ihsan patut
disesali. Betapa tidak, peristiwa tersebut menunjukkan betapa aparatur Negara
di Indonesia benar-benar tidak mampu menjalankan amanat konstitusi. Kepolisian
Negara Republik Indonesia yang seharusnya melayani dan mengayomi rakyat, justru
melakukan aksi teror yang terencana dan dikemas secara apik, baik secara
struktural maupun sosial.
Mulai dari menyiapkan orang-orang tak dikenal untuk mengusir takmir masjid, dan
memasuki masjid tanpa sopan santun, yang diteruskan dengan melakukan black
campaign terhadap kesucian masjid dan puncaknya menyegel masjid Al-Ihsan dan
melarang pelaksanaan ibadah di dalamnya.
Hal ini jelas patut disesalkan, kemerdekaan untuk mengkaji agama yang diyakini
oleh umat Islam pun akhirnya dilarang secara sepihak oleh aparat keamanan.
Tanpa melakukan proses dialog yang cerdas dan saling memahami bahwa setiap
orang memiliki kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan untuk mengkaji agamanya di
dalam tempat ibadah agama mereka.
Sebagai sebuah Negara yang telah berumur 60 tahun lebih, Indonesia telah sangat
kenyang dengan berbagai peristiwa keji dan tumpahnya darah putra-putri
Indonesia sendiri karena perbuatan saling mendhalimi. Masih ingatkah kita akan
tragedi Tanjung Priok, dimana satu masjid diserbu secara brutal oleh
KOPASSUS-ABRI dibawah komando Jendral Leonardus Benny Moerdani, yang
mengakibatkan terbunuhnya ratusan ribu kaum muslimin bahkan sampai sekarang
makam mereka pun masih ada.
Mestinya, aparatur negara lebih bijak dalam mengelola kehidupan beragama warga
negara, sehingga tidak perlu terjadi sikap saling membunuh karakter antar warga
negara bahkan yang mengarah pada perilaku anarkis, hanya karena
ketidaksepahaman prinsip antara masing-masing pihak.
Oleh : Wendy Febriangga
Redaktur Majalah At-Tauhid
________________________________
Berselancar lebih cepat.
Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman
favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis)
________________________________
Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik.
Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!
________________________________
Berselancar lebih cepat.
Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman
favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis)
Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka
browser. Dapatkan IE8 di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer
[Non-text portions of this message have been removed]