Oleh
Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-'Aql
Apakah perpecahan benar-benar melanda umat Islam ?
Benarkah hal itu terjadi ?
Persoalan ini terangkum dalam sembilan point.
Pertama.
Hadits mutawatir dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai
perpecahan yang melanda umat. Di antaranya adalah hadits iftiraq yang berbunyi.
"Artinya : Umat Yahudi telah terpecah-belah menjadi tujuh puluh satu golongan.
Dan umat Nasrani telah terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan.
Sementara umat ini (Islam) akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga
golongan"
Hadits Nabi ini sangat masyhur, diriwayatkan oleh sejumlah sahabat dan
dicantumkan oleh para imam dan huffazh dalam kitab-kitab sunan, seperti Imam
Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim, Ibnu Hibban, Abu Ya'la
Al-Maushili, Ibnu Abi Ashim, Ibnu Baththah, Al-Ajurri, Ad-Darimi, Al-Lalikai
dan lain-lain. Hadits ini dinyatakan shahih oleh beberapa ahli ilmu di
antaranya ; At-Tirmidzi, Al-Hakim, Adz-Dzahabi,As-Suyuthi, Asy-Syathibi dan
lainnya. Di samping banyak terdapat jalur sanad bagi hadits ini, secara
keseluruhan dapat mencapai derajat hadits shahih.
Kedua.
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan bahwa
umat ini bakal mengikuti tradisi umat-umat terdahulu. Hadits tersebut berbunyi.
"Artinya : Kalian pasti akan mengikuti tradisi umat-umat terdahulu, sejengkal
demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga sekalipun mereka masuk lubang
biawak, kalian pasti mengikutinya. "Kami bertanya : 'Wahai Rasulullah, apakah
mereka itu kaum Yahudi dan Nashrani ? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
menjawab : 'Siapa lagi kalau bukan mereka!" [Hadits Riwayat AL-Bukhari, silakan
baca Fathul Bari, 8/300 dan Muslim hadits no. 2669]
Hadits ini shahih muttafaqun alaihi, tercantum dalam kitab-kitab shahih dan
sunan
Dalam beberapa matan dan lafalnya secara eksplisit hadist ini menjelaskan makna
"menyerupai dan mengikuti" dimaksud. Diantaranya sabda Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam.
"Artinya : Ibarat bulu-bulu anak panah yang sama persis"
Dan beberapa lafal lainnya yang sama menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam memperingatkan bahaya perpecahan yang bakal melanda umat ini.
Bahwa hal itu pasti menimpa umat ini. Dan perpecahan yang bakal terjadi itu
bukanlah cela dan cacat atas Islam, atas Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan atas
Ahlul Haq, namun merupakan kecaman terhadap orang-orang yang memisahkan diri
dari jama'ah. Orang-orang yang memisahkan diri dari jama'ah tentunya bukan
termasuk Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Sebab Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah
orang-orang yang memegang teguh Al-Qur'an dan Sunnah, yang tetap berada di atas
nilai-nilai ke-Islaman. Merekalah para penegak kebenaran yang dibangkitkan
Allah kepada manusia hingga hari Kiamat.
Jadi, perpecahan pasti terjadi berdasarkan berita yang sangat akurat, meskipun
relitas dan logika belum mampu membuktikan kebenarannya!. Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyampaikannya melalui hadits-hadits
beliau yang shahih dengan beragam lafal. Peringatan terhadap bahayanya juga
telah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sampaikan. Peringatan yang
disampaikan berkali-kali itu merupakan sinyalemen bahwa perpecahan pasti
terjadi tanpa bisa dihindari!.
Ketiga.
Adanya nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah yang mencakup larangan mengikuti
jalan-jalan hawa nafsu dan perpecahan!
Di antaranya adalah.
[1]. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
"Artinya : Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan
janganlah kamu bercerai-berai" [Ali Imran : 103]
[2]. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
"Artinya : Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi
gentar dan hilang kekuatan" [Al-Anfal : 46]
[3]. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala
"Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan
berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka" {Ali Imran : 105]
[4]. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala
"Artinya : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangtangnya"
[Asy-Syura : 13]
[5]. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
"Artinya : Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus,
maka ikutilah dia ; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya" [Al-An'am : 153]
Secara gamblang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan ayat
di atas, beliau menarik sebuah garis lurus yang panjang kemudian menarik
garis-garis ke kanan dan ke kiri menyimpang dari garis lurus tadi. Lalu
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa garis lurus tersebut
adalah jalan Allah, sementara garis-garis ke kanan dan ke kiri adalah jalan
buntu yang menyimpang dari jalan yang utama yang lurus tadi[1]. Beliau juga
menjelaskan bahwa pada jalan-jalan kesesatan tadi terdapat juru-juru dakwah
yang menyeru kepada jalan setan. Barangsiapa mengikuti mereka, niscaya akan
dilemparkan ke dalam jurang kehancuran [2]
Keempat .
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melarang kita berbantah-bantahan dalam
firmanNya.
"Artinya : Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi
gentar dan hilang kekuatan" [Al-Anfal : 46]
Sementara berbantah-bantahan itulah yang terjadi di antara kelompok-kelompok
itu hingga berpecah-belah menjadi bergolong-golongan.
Kelima.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengancam siapa saja yang menyimpang dari jalan
orang-orang yang beriman (sahabat) dalam firmanNya.
"Artinya : Dang barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa
terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam
Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali" [An-Nisaa : 115]
Ternyata apa yang disebutkan dalam ayat diatas benar-benar dilakukan oleh
segerombolan orang yang menentang Allah dan RasulNya serta mengikuti selain
jalan orang-orang yang beriman. Mereka itulah kaum munafikin, kaum penentang
dan kaum sempalan. Hanya kepada Allah saja kita memohon keselamatan
Jalan orang-orang yang beriman itulah jalan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Keenam.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menetapkan beberapa sanksi atas
orang yang memisahkan diri dari jama'ah, juga menjadi salah satu dalil bahwa
hal itu pasti terjadi! Dengan keras beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
mengancam siapa saja yang memisahkan diri dari jama'ah, berikut sabda beliau.
"Artinya : Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi tiada illah yang
berhak diibadahi dengan benar selain Allah dan bersaksi bahwa aku adalah utusa
Allah kecuali dengan tiga alasan : (1) berzina setelah menikah. (2) Membunuh
jiwa tanpa hak (qishash). (3) Murtad dari Islam yang memisahkan diri dari
jama'ah" [Muttafaqun 'alaih, Al-Bukhari IV/317 dan Muslim V/106]
Ketujuh.
Secara implisit Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan
sinyalemen terjadinya perpecahan ketika beliau menyinggung tentang kelompok
Khawarij. Beliau menyebutkan bahwa kelompok Khawarij ini akan memisahkan diri
dari umat, akibatnya mereka melesat keluar dari agama. Istilah 'keluar dari
agama' bukan berarti kafir keluar dari Islam, akan tetapi maknanya adalah
keluar dari asas Islam, keluar dari hukum-hukum dan batas-batasnya. Istilah
'keluar dari agama' kadang kala berarti kekafiran kadang kala tidak sampai
kepada batas kafir. Kadang kala bermakna memisahkan diri dari umat Islam, yaitu
dari jama'ah, atau memisahkan diri dari jalur Sunnah Nabi yang dilalui oleh
Ahlus Sunnah, yang merupakan Ahlu Islam sejati.
Kedelapan.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk memerangi siapa saja
yang memisahkan diri dari jama'ah, sebagaimana yang disinggung dalam hadits di
atas tadi. Sanksi tersebut merupakan sebuah ketetapan bagi sesuatu yang pasti
terjadi. Sebab sangat mustahil ketetapan Nabi itu ngawur dan hanya kira-kira
belakan.
Kesembilan.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga telah menjelaskan bahwa siapa
saja yang mati dalam keadaan memisahkan diri dari jama'ah, maka ia mati dalam
keadaan mati jahiliyah[1]. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga
menjelaskan bahwa perpecahan itu adalah adzab, menyempal itu adalah kehancuran
dan beberapa perkara lainnya yang menunjukkan bahwa perpecahan pasti terjadi.
Peringatan terhadap bahaya perpecahan bukanlah gurauan belaka ! Pasti melanda
umat sebagai bala'. Perpecahan tidak akan terkadi bila kaum muslimin berada di
atas keterangan ilmu, mengenal kebenaran, mengenal Al-Qur'an dan As-Sunnah
serta berpedoman Salafus Shalih, mencari kebenaran tersebut hingga dapat
membedakan antara haq dan batil. Siapa saja yang mendapat hidayah, maka ia
mendapatkannya dengan petunjuk ilmu. Dan siapa saja yang sesat, maka ia sesat
berdasarkan kekerangan yang nyata. Hanya kepada Allah saja kita memohon
keselamatan dari kesesatan.
Kesimpulannya.
Berdasarkan dalil-dalil qathi di atas, perpecahan pasti melanda umat ini.
Perpecahan adalah bala' dan adzab yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala tetapkan
dan tidak akan berubah!
Perpecahan dengan beragam bentuknya adalah tercela
Setiap muslim harus mengetahui bentuk-bentuk perpecahan dan para pelakunya
sehingga ia dapat menghindar dari jurang kesesatan!
[Disalin dari kitab Al-Iftiraaq Mafhumuhu asbabuhu subulul wiqayatu minhu,
edisi Indonesia Perpecahan Umat ! Etiologi & Solusinya, oleh Dr. Nashir bin
Abdul Karim Al-'Aql, terbitan Darul Haq, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari]
_________
Foote Note.
[1] Hari ini disebutkan dalam sejumlah hadits, sebagian dari jalaur sanad itu
dinyatakan shalih oleh Al-Hakim, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi dan Al-Albani.
Silakan lihat kitab As-Sunnah karangan Ibnu Abi Ashim 1/13-14
[2] Ibid