*Jejak Langkah Ulama Nusantara di Timur Tengah*

Penulis benar-benar terkesiap ketika melihat mata rantai (sanad, silsilah)
mufti agung Mesir, Dr. Ali Gum'ah, yang meriwayatkan kitab /Hâsyiah Jawharah
al-Tawhîd/ (karangan Syaikh Ibrahim al-Bayjuri) dari seorang ulama Nusantara
asal Padang, yaitu Syaikh Muhammad Yasin ibn 'Isa al-Fadani (Yasin Padang).

Semasa belajar di pesantren dulu, mata rantai beberapa kitab yang di 'aos'
oleh penulis juga menyambung kepada Syaikh Yasin Padang. Urutannya demikian:
penulis; KH. Abdullah Kafabihi Mahrus (murabbi penulis);KH. Mahrus 'Ali
Lirboyo;Syaikh Yasin Padang. Berangkat dari pertemuan mata rantai inilah,
jejaring dan jejak ulama Nusantara di Timur Tengah serta pengaruhnya di
Tanah Air menjadi menarik untuk dianalisa dan dikaji lebih jauh.

Sejatinya, jejak gerakan ulama Nusantara di Timur Tengah (utamanya Hijâz dan
Mesir) dapat dilacak sejak abad ke-17 M. Di antara nama-nama ulama yang
populer adalah Abd al-Raûf al-Jâwi (w. 1693), Nûruddîn al-Raniri (w. 1658),
Arsyad al-Banjari (1710), dan lain-lain.

Dulu, perkumpulan ulama-ulama tersebut dikenal dengan komunitas Jawi, atau
/Jamâ’ah al-Jâwiyyîn/. Nisbat ini tidak sekedar meliputi teritorial ulama
yang datang dari Jawa Dwipa saja, tetapi dari seluruh Nusantara (termasuk
Melayu, Pattani, dan Philipina Selatan). Kita bisa melacak nisbat ini di
salah ruangan masjid al-Azhar (/ruwwâq jâwah/).

Abad ke-19 M (dan awal abad 20) adalah puncak dari geliat intelektual ulama
Nusantara di Timur Tengah. Mereka bukan sekadar berkiprah dan memberi
kontribusi untuk Tanah Air saja, tetapi juga mempunyai peran besar di ranah
internasional, khususnya di Timur Tengah. Beberapa ulama Nusantara menjadi
sosok intelektual berkampium dunia. Mereka mengarang kitab-kitab yang
dijadikan rujukan penting.

Di antara nama-nama ulama Nusantara yang populer adalah Syaikh Muhammad
Nawawi ibn 'Umar al-Bantani (Tanara, Serang, Banten, w. 1879), yang
mengarang beberapa kitab dalam berbagai cawangan ilmu agama, semisal /Tîjân
al-Durarî/ (tawhid), /Sullam al-Najât, Kâsyifah al-Sajâ, Sullam al-Tawfîq,
al-Tsamrah al-Yâni'ah 'ala Riyâdh al-Badî'ah, Tawsyîkh 'alâ
Fath al-Qarîb, Nihâyah al-Zain (/fikih), /Qatr al-Ghayts, Tanqîh al-Qawl
/(hadits),/ Minhâj al-'Ibâd/ (tasawuf), /'Uqûd al-Lujayn/ (psikologi rumah
tangga), /Murâh Labîd aw al-Tafsîr al-Munîr/ (tafsir) dan lain-lain. Syaikh
Nawawi menjadi pengajar di salah satu pintu Masjid al-Haram dan di perguruan
/Dâr al-‘Ulûm/, Mekkah, selain pernah memberikan pengajian di masjid
al-Azhar, Mesir, atas undangan Syaikh Ibrahim al-Bayjuri, mufti agung Mesir
kala itu.

Selain Syaikh Nawawi Banten, dikenal juga Syaikh Mahfuzh al-Turmusi (Tremas,
Pacitan, Jawa Timur), pengarang beberapa hâsyiah (komentar atas komentar,
atau great comment) atas beberapa kitab fikih induk mazhab Syafi'iy, semisal
/al-Minhâj/, /Fath al-Wahhâb/, /al-Iqnâ/', dan lain-lain. Beberapa /hâsyiah/
karangan beliau kelak dikenal dengan /Hâsyiah al-Turmusî/ yang ditulis
berjilid-jilid. Beliau juga menulis /al-Siqâyah al-Mardhiyyah fî Asmâ
al-Kutub al-Fiqhiyyah li Ashhâb al-Syâfi'iyyah/ (ensiklopedi kitab-kitab
fikih mazhab Syafi'iy), /Manhaj Dzaw al-Nazhar fi Manzhûmah Ahl al-Âtsâr
/(metodologi hadits), /al-Fawâid al-Turmusiyyah fi Asmâ al-Qirâ'ah
al-'Asyriyyah /(tajwid-qira'ah sepuluh).

Dua Syaikh di atas tercatat yang paling berpengaruh dan melahirkan beberapa
murid yang juga menjadi ulama besar, semisal Syaikh Ihsan Dahlan al-Jamfasi
al-Kadiri (Jampes, Kediri, Jawa Timur), penulis kitab /Sirâj al-Thalibîn
'alâ Minhâj al-'Âbidîn/ (kitab dua jilid berisi komentar atas karya tasawuf
Imam al-Ghazali)—konon kitab ini pernah dijadikan salah satu muqarrar di
Universitas al-Azhar, dan /Manâhij al-Amdâ/d (tasawuf). Atau Syaikh Muhammad
Yasin ibn 'Isa al-Fadani (Padang), guru besar hadits dan ushul fikih di
perguruan Dâr al-‘Ulûm Mekkah, penulis kitab /al-Fawâid al-Janniyyah 'alâ
al-Farâ'id al-Bahiyyah fî al-Qawâ'id al-Fiqhiyyah/, /Hâsyiah 'alâ al-Asybâh
wa al-Nazhâ'ir fi al-Furû' al-Fiqhiyyah/ (ushul dan kaidah fikih), /Fath
al-'Allâm Syarh Bulûgh al-Marâm/ (hadits fikih setebal empat jilid), dan
/al-Durr al-Mandhûd fî Syarh Sunan Abî Dâwud/ (setebal dua puluh jilid).

Istimewanya, para masyâyikh di atas mempunyai genealogi keilmuan berupa
silsilah yang dapat dipertanggungjawabkan ketsiqqah-annya. Mereka rata-rata
belajar kepada Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, seorang ulama besar mazhab Sunni
di Hijâz, yang silsilahnya menyambung kepada Syaikh Ibrahim al-Bayjuri
(Mesir), Muhammad al-Sanusi, al-Iji, Fakhr al-Din al-Razi, al-Ghazali,
al-Juwayni (imam Haramayn), Abu Bakar al-Baqilani, Abu Abdillah al-Bahili,
Abu Hasan al-Asy’ari, dan seterusnya.

Pertanyaannya sekarang: dimana dan bagaimanakah nasib manuskrip
(/makhthûthât/) kitab-kitab yang telah mereka tulis itu? Jawabannya mungkin
sedikit menjadikan hati kita merasa miris: mayoritas manuskrip karya ulama
Nusantara tempo doeloe tersimpan dan terawat dengan baik di beberapa museum
dan universitas Barat, seperti Leiden (Belanda), Oxford (Inggris), Bonn
(Jerman), ANU (Australia), dan lain-lain. Pun, yang lebih intens mengkaji
sejarah ulama Nusantara adalah beberapa sarjana
Barat, bukan sarjana Muslim. Sejarah ulama Nusantara yang hebat dan agung
itu seolah dilupakan dan disia-siakan oleh anak bangsanya sendiri.
Barangkali, inilah salah satu akibat terfatal dari keengganan sebagain orang
Muslim untuk belajar sejarah.

Beruntung, para masyâyikh di atas mempunyai beberapa murid yang boyong dan
mengabdi di Nusantara. Di antara murid-murid mereka yang populer adalah KH.
Muhammad Kholil (Bangkalan), KH. Hasyim Asy'ari (Jombang), KH. As'ad Syamsul
'Arifin (Situbondo), KH. Abbas dan Anas (Cirebon), dan lain-lain. Para kyai
tersebut kelak mempunyai beberapa murid semisal KH.
Abdul Karim, KH. Marzuqi Dahlan, KH. Mahrus Ali (Lirboyo, Kediri), KH.
Jazuli Utsman (Ploso, Kediri), KH. Wahhab Hasbullah (Jombang), KH. Zubair
(Sarang, Rembang), KH. 'Alwi (Senori, Tuban), KH. Faqih (Langitan, Tuban),
KH. 'Aqil Siraj, KH. Sanusi (Ciwaringin, Cirebon), KH. Dimyathi (Banten),
KH. Mukhtar Bogor, KH. Rukhiyat (Cipasung, Tasikmalaya), KH. Abdul Halim
(Leuwimunding, Majalengka) dan beberapa rama kyai lain.

Dulu, para ajengan-kyai mendirikan beberapa pesantren sebagai sarana untuk
mengajarkan dan menyebarkan (ilmu-ilmu) Islam. Beberapa kitab yang telah
dianggit oleh masyâyikh di atas pun dijadikan pegangan wajib—khususnya bagi
kalangan pemula (/mubtadi'î/n), dan banyak dijadikan bahan rujukan.
Pesantren (khususnya pesantren tradisional-salaf NU) mempunyai jasa besar,
sebab telah menjaga, melestarikan, dan mengajarkan kitab-kitab karangan
ulama Nusantara yang tak ternilai harganya itu, sekalipun pesantren kurang
dapat mengembangkan semangat produktivitas dan geliat keilmuan yang telah
diwariskan oleh ulama Nusantara tersebut, bahkan tak sedikit yang jatuh
kedalam kubangan taqlid dan taqdis di hadapan kitab-kitab tersebut.

Lalu bagaimana dengan peran pelajar Nusantara di (atau lulusan) Timur Tengah
sekarang ini? Apakah mereka bisa melampaui apa yang telah dicapai oleh para
ulama Nusantara di atas? Atau justeru sebaliknya?

Oleh : Ahmad Ginandjar Sya'ban, (Mhs. Universitas Al-Azhar)
http://eramuslim.com/berita/tahukah-anda/jejak-langkah-ulama-nusantara-di-timur-tengah.htm


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

===
Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits? Silahkan klik:
http://www.media-islam.or.id

Ingin belajar Islam via milis? Kirim email ke 
[email protected]

Dapatkan buku-buku Islami di DemiMasa Online Bookstore 
http://www.demimasa.co.idYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke