Anne
Collins ingin berhubungan langsung dengan Allah yang dapat memberinya ampunan
tanpa perantara. Itu setelah 8 tahun membaca Al-Quran
Hidayatullah. com--Saya dibesarkan dalam sebuah keluarga
Kristen yang taat. Saat itu, orang Amerika lebih religius dibandingkan masa
sekarang--contohnya , sebagian besar keluarga pergi ke gereja setiap Minggu.
Orang tua saya ikut dalam komunitas gereja. Kami sering mendatangkan pendeta ke
rumah. Ibu saya mengajar di sekolah minggu, dan saya membantunya
Pastinya saya lebih relijius dibandingkan anak-anak lainnya, meskipun saya
tidak merasa seperti itu dulu. Satu saat ketika ulang tahun, bibi saya memberi
hadiah sebuah Bibel, dan untuk saudara perempuan saya ia memberi sebuah boneka.
Lain waktu saya minta dibelikan buku doa kepada orang tua, dan saya membacanya
setiap hari selama beberapa tahun.
Ketika saya SMP, saya mengikuti program belajar Bibel selama dua tahun. Ketika
itu saya sudah mengkaji sebagian dari Bibel, meskipun demikian saya belum
memahaminya dengan baik. Kemudian saya mendapat kesempatan mempelajarinya lebih
dalam. Sayangnya, kami belajar banyak petikan di dalam Perjanjian Lama dan Baru
yang tak dapat dipahami, bahkan terasa aneh.
Sebagai contoh, Bibel mengajarkan tentang adanya dosa awal, yang artinya semua
manusia dilahirkan dalam keadaan berdosa. Saya punya adik bayi, dan saya tahu
ia tidak berdosa. Bibel mengandung banyak cerita aneh dan sangat meresahkan,
misalnya cerita tentang nabi Ibrahim dan Daud. Saya tak dapat mengerti
bagaimana mungkin para nabi bisa mempunyai kelakuan seperti yang diceritakan
dalam Bibel. Ada banyak hal lain dalam Bibel yang membingungkan saya, tapi saya
tidak mempertanyakannya. Saya terlalu takut untuk bertanya saya ingin dikenal
sebagai "gadis baik".
Alhamdulillah,
akhirnya ada seorang anak laki-laki yang bertanya, dan ia terus bertanya. Bocah
itu banyak bertanya tentang trinitas. Ia mendapatkan banyak jawaban tapi tidak
pernah puas. Sama seperti saya. Akhirnya guru kami, seorang profesor teologi
dari Universitas Michigan ,
menyuruh untuk berdoa minta keteguhan iman. Saya pun berdoa.
Hal
yang paling penting adalah tentang trinitas.
Saya tidak bisa
memahaminya. Bagaimana bisa Tuhan terdiri dari tiga bagian, yang salah satunya
adalah manusia? Di sekolah saya juga belajar mitologi Yunani dan Romawi,
sehingga menurut saya pemikiran tentang trinitas dan orang suci seperti
pemikiran budaya Yunani dan Romawi yang mengenal banyak dewa, yang
masing-masing bertanggung jawab atas aspek kehidupan yang berbeda
(astagfirullah!).
Ketika SMA diam-diam saya ingin menjadi seorang biarawati. Saya tertarik untuk
melakukan peribadatan setiap harinya, tertarik kehidupan yang sepenuhnya
dipersembahkan untuk Tuhan, dan menunjukkan sebuah gaya hidup yang relijius.
Halangan atas
ambisi ini hanya satu: saya bukan seorang Katolik. Saya tinggal di
sebuah kota di
wilayah Midwestern, di mana Katolik merupakan minoritas yang tidak populer.
Saya bertemu seorang Muslim dari Libya . Ia menceritakan saya sedikit
tentang Islam dan Al-Quran. Ia bilang Islam itu modern, agama samawi yang
paling up-to-date.
Karena saya menganggap Afrika dan Timur Tengah itu terbelakang, maka saya tidak
bisa melihat Islam sebagai sesuatu yang modern.
Keluarga saya mengajaknya ke acara Natal
di gereja. Bagi saya acara itu sangat menyentuh dan berkesan. Tapi diakhir
acara ia bertanya, "Siapa yang membuat aturan peribadatan seperti itu?
Siapa yang mengajarkanmu kapan harus berdiri, membungkuk dan berlutut? Siapa
yang mengajarimu cara beribadah?"
Saya menceritakan kepadanya sejarah awal gereja. Awalnya pertanyaannya itu
sangat membuat saya marah, tapi kemudian saya jadi berpikir. Apakah orang-orang
yang membuat tata cara peribadatan itu benar-benar punya kualifikasi untuk
melakukannya? Bagaimana mereka bisa tahu bagaimana peribadatan itu harus
dilakukan? Apakah mereka dapat wahyu tentang itu?
Saya sadar jika saya tidak mempercayai banyak ajaran Kristen, namun saya tetap
pergi ke gereja. Ketika kredo Nicene dibacakan bersama-sama, saya hanya diam,
saya tidak turut membacanya. Saya seperti orang asing di gereja.
Ada kejadian
yang sangat mengejutkan. Seseorang yang sangat dekat dengan saya mengalami
masalah dalam rumah tangganya. Ia pergi ke gereja untuk meminta nasihat. Orang
dari gereja itu justru memanfaatkan kesusahan dan penderitaannya. Laki-laki itu
mengajaknya ke sebuah motel dan kemudian merayunya.
Sebelumnya saya tidak memperhatikan benar apa peran rahib dalam gereja. Sejak
peristiwa itu saya jadi memperhatikannya. Sebagian besar umat Kristen percaya
bahwa pengampunan harus lewat sebuah acara peribadatan suci yang dipimpin oleh
seorang pendeta. Tidak ada pendeta, tidak ada pengampunan.
Saya mengunjungi gereja, duduk, dan memperhatikan pendeta yang ada di depan.
Mereka
tidak lebih baik dari umat yang datang--sebagian di antaranya bahkan lebih
buruk. Jadi bagaimana bisa seorang manusia biasa, diperlukan sebagai perantara
untuk berkomunikasi dengan Tuhan? Mengapa saya tidak bisa berhubungan langsung
dengan Tuhan, dan langsung menerima pengampunannya?
Tak lama setelah itu, saya mendapati terjemahan Al-Qur'an di sebuah toko buku.
Saya lalu membeli dan membacanya, dan terus membaca, walau kadang terputus,
selama delapan tahun. Selama itu saya juga mencari tahu tentang agama lain.
Saya semakin khawatir dan takut dengan dosa-dosa saya. Bagaimana saya tahu
Tuhan akan memafkan dosa-dosa saya? Saya tidak lagi percaya dengan metode
pengampunan ala Kristen akan berhasil. Beban-beban dosa begitu berat bagi saya,
dan saya tidak tahu bagaimana membebaskan diri darinya. Saya sangat
mengharapkan ampunan.
Membaca
Al-Quran
Suatu kali, aku membaca Al-Quran yang bunyinya: Dan sesungguhnya kamu dapati
yang
paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman ialah orang-orang
yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani." Yang demikian
itu disebabkan karena di antara mereka itu ada rahib-rahib, juga sesungguhnya
mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang
diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata
disebabkan kebenaran (Al-Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab
mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman maka
catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Quran
dan kenabian Muhammad S.A.W). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan
kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan
kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?
[Al-Maidah: 82-84]
Saya mulai berharap bahwa Islam mempunyai jawabannya. Tapi bagaimana cara saya
mencari tahu? Dalam berita di televisi saya melihat Muslim beribadat. Mereka
punya cara tertentu untuk berdo'a. Saya menemukan sebuah buku--yang ditulis
oleh non-Muslim-- yang menjelaskan cara beribadah orang Islam. Kemudian saya
mencoba melakukannya sendiri. Kala itu saya tidak tahu tentang taharah
dan saya shalat dengan cara yang keliru. Saya terus berdoa dengan cara itu
selama beberapa tahun.
Akhirnya kira-kira 8 tahun sejak pertama kali saya membeli terjemahan Al-Quran
dulu, saya membaca: "Pada hari ini telah ku-sempurnakan untuk kamu
agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah
Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu." [Al- Maidah: 3]
Saya menangis bahagia, karena saya tahu, jauh sebelum bumi diciptakan, Allah
telah menuliskan bahwa Al-Quran ini untuk saya. Allah mengetahui bahwa Anne
Collins di Cheektowaga, New York ,
AS, akan membaca ayat ini pada bulan Mei 1986.
Saya tahu banyak hal yang perlu dipelajari, seperti bagaimana cara shalat yang
benar, sesuatu yang tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Quran. Masalahnya
saya tidak kenal seorang Muslim satu pun.
Sekarang ini Muslim relatif mudah dijumpai di AS. Dulu saya tidak tahu di mana
bisa bertemu mereka. Saya mendapatkan nomor telepon sebuah komunitas Muslim
dari buku telepon. Saya lalu coba menghubunginya. Seorang laki-laki menjawab di
seberang sana ,
saya panik lalu mematikan telepon. Apa yang akan saya katakan padanya?
Bagaimana mereka akan menjawab pertanyaan saya? Apakah mereka akan curiga?
Akankah mereka menerima saya, sementara mereka sudah saling memiliki dalam
Islam?
Beberapa bulan kemudian saya kembali menelepon masjid itu berkali-kali. Dan
setiap kali saya panik, saya menutupnya. Akhirnya, saya menulis sebuah surat ,
isinya meminta
informasi. Seorang ikhwan dari masjid itu menelepon saya dan kemudian
mengirimi saya selebaran tentang Islam. Saya katakan padanya bahwa saya ingin
masuk Islam. Tapi ia berkata pada saya, "Tunggu hingga kamu yakin."
Jawabannya agar saya menunggu membuat saya kesal. Tapi saya sadar, ia benar.
Saya harus yakin, sebab sekali menerima Islam, maka segala sesuatunya tidak
akan pernah lagi sama.
Saya jadi terobsesi dengan Islam. Saya memikirkannya siang dan malam. Dalam
beberapa kesempatan, saya mengendarai mobil menuju ke masjid (saat itu
masjidnya berupa sebuah rumah yang dialihfungsikan menjadi masjid). Saya
berputar mengelilinginya beberapa kali sambil berharap akan melihat seorang
Muslim, dan penasaran seperti apa keadaan di dalam masjid itu.
Satu hari di awal Nopember 1986, ketika saya memasak di dapur,
sekonyong-konyong saya merasa jika saya sudah menjadi seorang Muslim. Masih
takut-takut, saya mengirim surat
lagi ke masjid itu. Saya menulis: Saya percaya pada Allah, Allah yang
Maha Esa, saya percaya bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, dan saya ingin
tercatat sebagai orang yang bersaksi atasnya.
Ikhwan dari masjid itu menelepon saya keesokan harinya, dan saya mengucapkan
syahadat melalui telepon itu. Ia berkata bahwa Allah telah mengampuni semua
dosa saya saat itu juga, dan saya seperti layaknya seorang bayi yang baru
lahir.
Saya merasa beban dosa-dosa menyingkir dari pundak. Dan saya menangis karena
bahagia. Saya hanya sedikit tidur malam itu. Saya menangis, mengulang-ulang
menyebut nama Allah. Ampunan yang saya cari telah didapat. Alhamdulillah.
Submer: [di/iol/www.hidayatullah. com]
[Non-text portions of this message have been removed]