Di Pilpres tahun 2009 ini ada sesuatu yang
tidak nyambung dalam kehidupan politik dan dinamikanya, khususnya di kalangan
umat Islam. Ketidak nyambungannya itu, setidaknya dapat kita lihat pada
perbedaan pilihan kandidat yang didukung oleh ormas-ormas Islam berbeda dengan
yang didukung oleh partai-partai Islam atau partai berbasis konstituen umat
Islam.
 
Partai-partai Islam, seperti PKS, PAN,
PPP, PKB, dan PBB, telah bertekad bulat sepenuh jiwa raga dan harta untuk
memberikan dukungan dan garansi penuh yang all out all cost kepada pasangan
SBY-Boediono.
 
Elit politisi di partai-partai Islam itu
sangat sibuk dan teramat bersemangat dalam mencarikan dalil pembenaran, dengan
‘diembel-embeli’ sejumlah dalil dan kaidah syar’iyah serta logika politik dalam
rangka meyakinkan konstituennya agar memberikan dukungan suaranya di Pilpres
nanti kepada pasangan SBY-Boediono.
 
Semoga saja para elit politisi di
partai-partai Islam itu masih menyadari bahwa alasan-alasan pembenar yang
mereka sampaikan kepada konstituennya dalam menjustifikasi pilihan dukungannya
itu, nantinya akan mereka pertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala.

Apakah ada landasan dasar dan kaidah
syar’i yang membuat mereka harus memberikan dukungan politik kepada pasangan
SBY-Boediono ?. Apakah berdasarkan nilai-nilai, prinsip-prinsip Islam, dan
tujuan-tujuan kemaslahatan umat secara umum yang benar-benar berdasarkan Islam
?.
 
Apakah dukungan partai-partai Islam itu
hanya karena faktor ‘incumbent’ yang dipresepikan akan lebih berpotensi meraih
kemenangan di pilpres ?. sehingga mereka sekadar ingin mendapatkan bagian dari
kue kekuasaan ?.
 
Alasan sebenarnya yang tersimpan didalam
benak mereka itu, saat ini memang dihadapan konstituennya tentulah dapat
disembunyikan, dan dicarikan dalih pembenar lainnya yang seolah-olah syari’
sehingga lebih dapat diterima oleh para konstituennya. 
 
Namun, di hadapan Allah SWT tak mungkin
ada yang dapat mereka sembunyikan apa sesungguhnya alasan dari pilihan dukungan
mereka itu kepada SBY-Boediono..
 
Disisi lainnya, justru yang terjadi adalah
berkebalikannya. Ormas-ormas Islam, seperti NU, Muhammadiyah, DDII, ICMI, FPI,
dan FUI, dan sejumlah ormas Islam lainnya, tidak sejalan dengan ijtihad
politiknya para elit politisi di parpol-parpol Islam. Dimana ormas-ormas Islam
tersebut malahan memberikan dukungannya kepada JK-Wiranto.
 
Pertanyaan menariknya, mengapa para
pemimpin umat di ormas-ormas Islam itu tidak memberikan dukungannya kepada
pasangan SBY-Boediono ?.
 
Adakah para pemimpin umat di ormas-ormas
Islam itu melihat ada sesuatu hal yang tidak terlihat oleh para elit politisi
di parpol-parpol Islam ?. Bisa jadi para pemimpin umat di ormas-ormas Islam ini
justru melihat ada yang benar-benar berdasarkan kaidah syar’iyah dalam pasangan
JK-Win ?.
 
Jika kita mau jujur dan mengesampingkan
ambisi jabatan serta keinginan ingin ikut mencicipi lezatnya kue kekuasaan,
memang ada nuansa berbeda di pasangan JK-Wiranto ini. pasangan ini dinilai oleh
banyak kalangan sebagai lebih dapat menjadi kanalisasi bagi kepentingan umat
Islam.
 
Paling tidak, hal ini terlihat dari
pasangan JK-Wiranto yang bukan merupaka bagian dari kelompok yang
memperjuangkan kepentingan negara asing, khususnya kepentingan Amerika
Serikat. 
 
Hari-hari ini, hal itu memang masih
terjadi polemik dan perdebatan tentang persepsi public terhadap figur
SBY-Boediono yang dinilai oleh banyak kalangan sebagai sosok yang lebih pro
kepada kepentingan Barat, terutama kepentingannya Amerika Serikat.
 
Persepsi itu memang terasa benar, jika
kita melihat apa yang ditulis oleh Al Jazeera. Sewaktu mengunjungi Amerika
Serikat di tahun 2003 dalam kapasitasnya sebagai Menko Polkam, sewaktu ditanyai
oleh the International Herald Tribune, SBY menjawab : “I love the United 
States, with all its faults. I
consider it my second country“.
 
Ada pula kalangan yang menyebutkan, bahwa
pasangan SBY-Boediono ini di lingkaran ring satunya (inner circle) banyak 
dikelilingi oleh orang-orang yang
dipersepsikan public sebagai anggota JIL (Jaringan
Islam Liberal) serta kelompok ‘American boys’.
 
Maka menjadi wajar jika mayoritas umat
Islam yang direpresentasikan oleh ormas-ormas Islam itu menjadi khawatir atas
implikasi dari duet SBY-Boediono ini, yang akan kurang baik dampaknya di
masa depan bagi perkembangan Islam beserta dengan perlindungan terhadap
kepentingan Islam.
 
Apalagi, kebijakan politik luar negeri
Amerika Serikat dibawah pimpinan Presiden Barack Obama, belum menunjukkan
tanda-tanda yang banyak berbeda dengan pendahulunya, George Walker Bush.
Sekarang Obama masih bersikukuh mempertahankan kekuatan militernya di Irak, dan
menambah kekuatan militernya di Afghanistan, serta mulai mengarahkan kekuatan
militernya ke Iran dan juga Pakistan.
 
Umat Islam pun menjadi terbelah hatinya.
Berbagai pertanyaan masih belum dapat terjawab tuntas. Siapa diantara mereka
yang sesungguhnya masih memikirkan kepentingan umat Islam ?. Siapa diantara
mereka yang lebih benar ijtihad politiknya ?.
 
Siapa diantara mereka yang landasan
keputusan politiknya hanya semata-mata bagi-bagi kue kekuasaan ?. Siapa
diantara mereka yang dalam itjihadnya masih berlandaskan rasa takutnya kepada
Allah Ta’ala ?. Siapa diantara mereka yang mau diikuti ?.
 
Apakah para pemimpin umat yang berada di
ormas-ormas Islam itu ?. Ataukah para politisi yang ada di partai-partai
Islam itu ?.
 
Menarik untuk dinantikan, para politisi di
parpol Islam atau para pemimpin umat di ormas Islam yang bakalan diikuti oleh
umat Islam.
 
Waktulah yang akan menentukan dan yang
akan membuktikannya. Termasuk yang paling penting adalah siapa diantara mereka
yang akan terbukti bahwa landasan keputusannya itu hanya berdasarkan ambisi
ingin mendapatkan kue kekuasaan saja.
 
Akhirnya juga kembali kepada pilihan
setiap individu yang berada di dalam ukhuwah umat Islam. 
 
Akankah mereka akan memilih pemimpin yang
istrinya sudah semenjak lama telah mengenakan jilbab di kehidupan
sehari-harinya. 
 
Ataukah mereka akan lebih memilih pemimpin
yang istrinya belum berjilbab dan belum bisa mengaji.
 
Semoga Allah SWT memberikan hidayah-Nya
kepada setiap individu Muslim, sehingga mereka tidak salah pilihan dalam
memilih pemimpin di Pilpres tanggal 8 Juli 2009 nanti, yang akan menentukan
arah kehidupan bangsanya dan negaranya serta agamanya.
 
Wallahualambishshawab.
 
Artikel ini dapat dibaca di :
Umat Islam Terbelah Hatinya
http://public.kompasiana.com/2009/06/29/umat-islam-terbelah-hatinya/
 
***
 
Profile: Susilo Bambang Yudhoyono.
http://english.aljazeera.net/archive/2004/07/20084913557888718.html
 
***


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke