Alhamdulillah, Segala puji hanya milik Allah *Subhaanahu Wa Taaalaa *yang
menciptakan jin dan manusia semata mata untuk beribadah kepada Allah saja.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah tercinta,
Muhammad bin Abdullah, segenap keluarga, para sahabat dan umatnya yang setia
hingga akhir zaman.
Sebenarnya wajar-wajar saja kalau kita menginginkan kehidupan yang lebih
baik.
Apalagi kebaikan itu dalam hal agama. Dimana hal itu bisa menjadi bekal bagi
kita kelak.
Di sisi lain kita pun mengimani bahwa Allah Maha Kuasa.
Kita juga mengimani bahwa apa yang Dia kehendaki pasti terwujud.
Tentunya ada suatu hal, mengapa dari dulu hingga sekarang selalu ada
hamba-Nya yang membangkang, tidak beriman.
Entah kenapa rasa takut itu dicabut dari orang-orang kafir.
Mengapa mereka yang tidak beriman selalu memerangi hamba-Nya yang beriman.
Hingga rasanya seolah-olah sulit sekali untuk mengalahkan mereka.
Baik karena jumlah mereka yang lebih banyak dan kesiapan mereka lebih baik.
Untuk menang melawan mereka, secara logika normal* peluangnya bisa dibilang
tidak ada. (*dalam beragama, jangan mengutamakan logika)
Lalu bagaimana? Apa kita harus diam saja, sedangkan kita berharap bahwa
Islam dimenangangkan atas semua agama.
*In tansuruu Allaha yansurkum wayuthabbit aqdamakum*
Karena yang kita perjuangkan adalah *dienullah*, yaitu Islam tentunya ada
cara-cara tertentu yang bisa kita lakukan dan juga ada batasan-batasan
tertentu yang tidak boleh kita langgar.
Yang kita bahas di sini adalah batasan-batasan itu dulu.
Dan supaya enak, kita bahas batasan yang sudah pasti dulu.
*Batasan pertama*, saya, anda atau kita pasti meninggal. Maka usahakan
minimal meninggal dalam keadaan iman dan Islam. Saya kira semua akan sepakat
soal hal ini.
Sedang takdir semua mahluk pun sudah ditulis di *Lauh Mahfudz* bahkan
50.000 tahun sebelum semua langit dan bumi diciptakan, dan sudah ditentukan
pula umurnya ketika masih di kandungan.
Karena kematian tak bisa dihindari, maka ada baiknya kita hadapi, kita
persiapkan. Caranya antara lain adalah seminim mungkin berbuat dosa, dan
semaksimal mungkin dalam beramal. Amal paling utama adalah bisa mati syahid.
Ini kiranya cukup bagus bukan, agar meninggal dalam keadaan iman dan Islam.
Keadaan tersebut bisa dicapai dengan menjaga dua sisi; aqidah dan syariat.
*Batasan kedua*, secara aqidah, mati dalam keadaan iman dan Islam yaitu
tidak dalam keadaan mempersekutukan Allah, tidak syirik.
*Batasan ketiga*, secara syariat, mati dalam keadaan iman dan Islam yaitu
tidak batal keIslamannya, tidak murtad baik secara sadar maupun tak sadar,
tidak melakukan sesuatu yang menyebabkan kafir.
Lalu mempersekutukan Allah itu penjelasannya bagaimana...syirik itu
contohnya seperti apa
Dulu saya berpikir syirik itu sebatas menyembah patung berhala saja. Hingga
saya pikir kita semua sudah aman. Ternyata kemudian nambah, yaitu percaya
sebangsa keris atau akik. Lalu tambah lagi melarung kepala kerbau dst.
Kemudian lama kelamaan baru tahu, ternyata syirik itu jenisnya banyak
sekali. Termasuk juga syirik adalah menuhankan manusia lain dalam masalah *
tasyri*. Meskipun kita tidak bermaksud menuhankan orang tersebut. Ini karena
kebanyakan manusia tidak paham arti kata apa itu *Illah*, apa itu *Rabb* apa
itu *Ibadah* dan apa itu *Dien*.. Karena tidak paham, tak sadarlah kalau
manusia memperbanyak *Illah-illah* yang mereka ibadahi / sembah. Karena
tidak tahu, mereka juga memperbanyak *Rabb-rabb* yang mereka sembah.
Mengenai ini *insyaallah* akan saya jelaskan secara detail dalam tulisan
"Pahami Dulu Makna Ibadah, Baru Berpolitik!" (*insyaallah *dalil-dalilnya,
ayat-ayat, hadits, tafsir, atsar, ijma, nahwu dst ada semua di situ)
Lalu secara syariat mengenai tidak batal keIslamannya, tidak murtad baik
secara sadar maupun tak sadar, tidak melakukan sesuatu yang menyebabkan
kafir itu rinciannya bagaimana?
Mungkin paling umum, adalah kesalahan mengira bahwa namanya murtad itu sama
artinya dengan pindah agama. Biasanya murtad itu dari Islam pindah ke
Kristen. Ternyata murtad tidak cuma itu. Kesalahan anggapan yang lain,
murtad itu harus diniatkan dulu, padahal perkataan saja atau perbuatan
tertentu juga bisa menyebabkan murtad. Ini kebetulan sudah pernah saya
sampaikan dalam tulisan: "Menghukumi seseorang dari perbuatannya"
Secara syariat banyak ayat yang menjelaskan hal ini. Semisal Barangsiapa
berhukum selain dengan apa yang diturunkan Allah SWT adalah kafir. Kemudian
banyak juga yang tidak paham bahwa kekafiran itu adalah kedzaliman terbesar.
Kita tahu bahwa pada umumnya niat manusia itu baik semua. Kurang lebih
bagaimana supaya kehidupan bisa menjadi lebih baik. Namun sayangnya kebaikan
yang diharapkan bisa diberikan bagi orang lain justru berakibat fatal. Ia
justru tidak baik kepada dirinya sendiri. Lebih khusus lagi, ia justru
mengorbankan keIslamannya demi orang lain.
Ada lagi sebagian orang yang berniat baik, agar Islam lebih mudah diterima,
ia ingin memperbaiki ekonomi barat menjadi muamalat. Paling gampang adalah
tidak ikut korupsi, atau dengan mewujudkan pemerintahan yang bersih.
Sehingga kalau nanti muamalat maju, maka orang akan lebih mudah menerima
Islam karena ada bukti yang nyata. Ini sangat manusiawi memang, manusia
selalu ingin bukti yang nyata. Namun, ada yang lebih bernilai dari itu,
yaitu keimanan. Ini adalah salah satu bentuk ujian, apakah tanpa bukti
manusia mau beriman.
Dan sebenarnya bukti yang lebih nyata itu ada dan jelas yaitu ayat ayat
Allah SWT dalam *kitabullah*. Coba bandingkan dengan pengalaman Nabi SAW.
diketengahkan oleh Ibnu Jarir, dari Mujahid, katanya : Orang orang
Quraisy meminta kepada Muhammad untuk mengubah Bukit Safa menjadi bukit
emas. Maka jawabannya kepada mereka: Baiklah, hal itu kelak bagimu sama
halnya dengan hidangan dari langit bagi Bani Israel jika nanti kamu kafir.
Mereka pun menolak dan berbalik surut. Maka Allah pun menurunkan: Apakah
kamu menghendaki...sampai akhir ayat. (QS. 2 : 108)
Kita juga menghargai niat baik orang-orang yang ingin berdakwah kepada
penguasa. Apakah itu raja, PM, anggota parlemen dsb. Kita menghargai itu.
Kalau mereka memang ingin dakwah yang penting jangan sampai mereka
menghinakan diri sendiri.
Rasulullah SAW bersabda:
Janganlah sekali-sekali salah seorang di antara kalian menghinakan dirinya
sendiri. Para sahabat bertanya, Bagaimana maksud salah seorang di antara
kami menghinakan diri sendiri? Beliau bersabda, Ketika ia melihat suatu
urusan yang mestinya ia berbicara karena Allah, namun ia tidak
menyampaikannya, lalu Allah Azza wa Jalla akan berkata kepadanya pada Hari
Kiamat, *Apa yang menghalangimu untuk menyampaikan ini dan itu*? Ia
menjawab, Takut kepada manusia. Maka Allah berfirman, *Semestinya Aku
lebih berhak untuk ditakuti*. (HR Ibnu Majah dan al-Baihaqi) Al-Busiri
dalam az-Zawaid mengatakan, isnadnya shahih.
Niat baik di atas sebaiknya dialihkan ke bukti yang jelas nyata yang lain
seperti firman-Nya (yang artinya).. *Jikalau sekiranya penduduk
negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada
mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat
Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya*.
Di atas sudah kita bahas...
Kita juga mengimani bahwa apa yang Dia kehendaki pasti terwujud. Tentunya
ada suatu hal, mengapa dari dulu hingga sekarang selalu ada hamba-Nya yang
membangkang, tidak beriman.
Entah kenapa rasa takut itu dicabut dari orang-orang kafir. Mengapa mereka
yang tidak beriman selalu memerangi hamba-Nya yang beriman. Hingga rasanya
seolah-olah sulit sekali untuk mengalahkan mereka. Baik karena jumlah mereka
yang lebih banyak dan kesiapan mereka lebih baik....
Allah SWT telah berfirman (yang artinya) : *Dan kami jadikan sebahagian
kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah
Tuhanmu maha Melihat*.
Dan kemudian Allah SWT bertanya, ya bertanya kepada kita sebagai pengaku
budak-Nya. SEKALIGUS menunjukkan jalan, caranya memenangkan agama ini. *Dan
sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui
orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami
menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu*.
Masih ragu-ragu? Ya maklumlah...kita kan sudah dijajah kafir 350
tahun...lebih, karena sampai sekarang pun belum merdeka. Sekali lagi Allah
SWT menegaskan dalam ayat-Nya yang jelas lagi terang: *Dan perangilah
mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya
semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka
tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim*.
Perangi mereka, sehingga tidak ada fitnah, (tidak ada kesyirikan,
demokrasi, nasionalisme). Ayat-ayat perintah Allah SWT ini bukan untuk
didiskusikan, enaknya mau diterapkan atau tidak ya...kalau mau diterapkan
yang mana saja ya...sholat saja apa ya...
Allah SWT bukan tidak mampu (supaya Islam ini dimenangakan atas seluruh
dien). Justru Dia ingin menguji kalian. Siapa yang mau berjihad....* In
tansuruu Allaha yansurkum wayuthabbit aqdamakum.. *Siapa yang mau membantu
agama Allah? Apakah kita mau membantu Allah SWT atau mau membangakang tidak
berpengaruh sama sekali terhadap Allah...Mau semua manusia kafir, juga tidak
apa-apa...Atau mau beriman semua juga tidak menambah apa-apa bagi-Nya...
Itu bukan kata saya, perhatikan firman Allah SWT : *Dan barangsiapa yang
berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari
semesta alam*.
Jihad adalah untuk merebut, merampas hak-hak Allah yang direbut oleh
orang-orang kafir. Ingat, jihad bukan terorisme. Ini beda hal. Kita boleh
memerangi orang kafir yang secara nyata-nyata menghancurkan kita. Dan ada
janji pertolongan dari Allah : *Demikianlah, dan barangsiapa membalas
seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya
(lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha
Pema'af lagi Maha Pengampun*.
Kalau kita tidak peduli soal keimanan lagi, syariat, jihad, khilafah maka
nantikan saja azab Allah! *Belumkah datang kepada mereka berita penting
tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud,
kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah
datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka
Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang
menganiaya diri mereka sendiri*.
Apakah saya orang beriman? Apakah anda orang yang beriman? Apakah anda
orang yang berada dalam kebenaran itu? Wallahu alam
*Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang
percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak
ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada
jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar*.
Ini ayat untuk saya dan saudaraku yang muslim, berhati-hatilah kita...
*Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira
dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka
berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata:
"Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini".
Katakanlah: "Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jika mereka
mengetahui.* *Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak,
sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan*.
Itu adalah ayat untuk awal awal jihad yang merupakan babat alas kata
orang jawa, atau jihad yang merupakan pioneer bagi jihad berikutnya. Yang
secara logic, kemungkinan menangnya tipis, hampir pasti kalah dan berakibat
habisnya harta, materi, luka-luka, cacat, ditawan, ditangkap, disiksa,
dipenjara atau mati...
Lalu bagaimana terhadap orang yang mau berjihad, hanya kalau sudah pasti
menang saja? Apa yang akan disampaikan oleh Nabi kita? Perhatikan lanjutan
ayat di atas. Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak
boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi
berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah bersama orang-orang yang
tidak ikut berperang.
Ternyata mereka...kafir....fasiq...orang kafir dan fasiq (semoga kita
terhindar darinya) Lanjutan ayat di atas...Dan janganlah kamu sekali-kali
menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah
kamu berdiri (mendo'akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir
kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.
Niat manusia kebanyakan baik...demi keluarga, harta akan kuberikan...demi
keluarga...tapi kalau sudah ada ajakan jihad dan mereka menolak...Allah
sudah mengingatkan budak-Nya : *Dan janganlah harta benda dan anak-anak
mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka
di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka,
dalam keadaan kafir*.
Ayat ini untuk saya dan saudaraku yang muslim. Apakah kita beriman?
Bertakwa?: *Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak
akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri
mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang
akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada
Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu
bimbang dalam keraguannya*.
Dan peringatan agar kita tidak meniru orang-orang kafir, meskipun mereka itu
Ahli Kitab: *Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian
dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan
kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman*.
Dan berjihad sebagai cara untuk memenangkan Islam, masih banyak di ayat-ayat
lain. Silahkan direnungkan. Ada baiknya juga mengingat Keutamaan-Keutamaan
Syahid.
Dan dalam berdakwah ada pesan khusus dari beliau SAW bagi umatnya...
Barangsiapa yang berupaya meraih ridha Allah hingga membuat manusia marah,
maka Allah akan meridhainya, dan akan membuat manusia ridha terhadapnya. Dan
barangsiapa yang ingin mendapatkan ridha manusia dengan mengundang kemurkaan
Allah, maka Allah akan murka kepadanya, dan akan membuat orang-orang marah
kepadanya. (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya dengan sanad hasan)
Wallahu alam.
Kalau ada kesalahan, itu semua datangnya dari saya dan setan. Allah dan
rasul-Nya berlepas diri dari hal itu. Dan apabila ada kebenaran, maka semua
itu datangnya dari Allah SWT, segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam...
Wassalamu alaikum wr. wb.
*Keutamaan-Keutamaan Syahid*
Alhamdulillah, Segala puji hanya milik Allah *Subhaanahu Wa Taaalaa *yang
menciptakan jin dan manusia semata mata untuk beribadah kepada Allah saja.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah tercinta,
Muhammad bin Abdullah, segenap keluarga, para sahabat dan umatnya yang setia
hingga akhir zaman.
Terkadang, banyak manusia tidak mengerti tujuan mereka diciptakan, mereka
terlena tapi tidak mengerti dirinya terlena, atau mereka jahil tapi tidak
menyadari bahwa diri mereka jahil, karena barangkali sudah banyak manusia
yang terkena fitnah syubhat (fitnah samar memahami Al-Islam) dan fitnah
syahwat (fitnah hawa nafsu) kecenderungan yang besar kepada dunia.
Lalu apakah yang telah disabdakan oleh junjungan kita semua,
Rasulullah *Shallallahu
Alaihi Wa Sallam*?
Rasulullah mempunyai suatu cita cita, yang bahkan bila diberi kehidupan
lagi, cita cita beliau tetap sama. Apakah cita cita beliau itu?
* *
*Allah SWT memberikan kepada orang yang mati syahid dengan keutamaan yang
sangat banyak, yaitu:*
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Ditanyakan kepada Nabi saw.:
Apakah yang dapat menandingi pahala jihad di jalan Allah Yang Maha Mulia
lagi Maha Agung?
Nabi saw. menjawab: Kamu tidak akan mampu melakukannya.
Lalu mereka mengulangi pertanyaan itu dua atau tiga kali.
Beliau selalu menjawab: Kamu tidak akan sanggup melakukannya.
Lalu pada yang ketiga kalinya beliau bersabda: Perumpamaan orang yang
berjihad di jalan Allah itu seperti orang yang selalu berpuasa dan salat
serta tunduk kepada ayat-ayat Allah, ia tidak pernah putus berpuasa serta
salat sebelum orang yang berjihad di jalan Allah itu kembali. (Sahih Muslim
3490)
* *
*Bau darahnya seperti aroma misk*
Demi dzat yang jiwaku ditanganNya! Tidaklah seseorang dilukai dijalan
Allah-dan Allah lebih tahu siapa yang dilukai dijalanNya-melainkan dia akan
datang pada hari kiamat : berwarna merah darah sedangkan baunya bau misk
(HR. Ahmad dan Muslim)
Dr. Abdullah Azzam menyampaikan, Subhanallah ! Sungguh kita telah
menyaksikan hal ini pada kebanyakan orang yang mati syahid. Bau darahnya
seperti aroma misk (minyak kasturi). Dan sungguh disakuku ada sepucuk
surat-diatasnya ada tetesan darah Abdul wahid(Asy Syahid, insya Allah)- dan
telah tinggal selama 2 bulan, sedangkan baunya wangi seperti misk.
*Tetesan darahnya merupakan salah satu tetesan yang paling dicintai Allah.*
Tidak ada sesuatu yang dicintai Allah dari pada dua macam tetesan atau dua
macam bekas : tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah
yang tertumpah dijalan Allah; dan adapun bekas itu adalah bekas (berjihad)
dijalan Allah dan bekas penunaian kewajiban dari kewajiban-kewajiban Allah
(HR. At Tirmidzi - hadits hasan)
*Syahid itu tidak merasakan sakitnya pembunuhan*
Orang yang mati syahid itu tidak merasakan (kesakitan) pembunuhan kecuali
sebagaiman seorang diantara kalian merasakan (sakitnya) cubitan. (HR.
Ahmad, At Tirmidzi, An Nasai - hadits hasan)
dan diriwayat yang shahih :
Orang yang mati syahid itu tidak mendapatkan sentuhan pembunuhan kecuali
sebagaimana salah seorang diantara kalian mendapatkan cubitan yang
dirasakannya.
Dr. Abdullah Azzam menceritakan, Kami melihat hal ini pada saudara kami,
Khalid al-kurdie dari madinah al Munawwaroh ketika ranjau meledak
mengenainya, sehingga terbang kakinya, terbelah perutnya, keluar ususnya dan
terkena luka ringan pada tangan luarnya. Datanglah Dr. Shalih al-Laibie
mengumpulkan ususnya dan mengembalikan kedalam perutnya seraya menangislah
Dr. Shalih. Maka bertanyalah Khalid al-Kurdie kepadanya : Mengapa engkau
menangis, dokter? Ini adalah luka ringan pada tanganku. dan tinggalah dia
berbincang-bincang dengan meraka selama 2 jam hingga akhirnya ia menjumpai
Allah. Dia tidak merasakan bahwasanya kakinya telah terpotong dan perutnya
terbuka.
Rasulullah SAW telah bersabda: Barang siapa mati tanpa pernah berperang dan
tidak pernah terlintas dalam hatinya untuk berperang, maka dia mati dalam
salah satu cabang kemunafikan. (Riwayat Muslim)
Sebaliknya, seseorang beriman hendaklah selalu menginginkan mati syahid,
selalu mengikrarkan dan mempersiapkan diri untuk berjihad, hingga menemui
kematian, sehingga seperti sabda Rasulullah: Barangsiapa yang benar-benar
minta kepada Allah Taala untuk mati syahid, maka Allah akan menyampaikannya
ke tingkatan orang-orang yang mati syahid, walaupun dia meninggal di atas
tempat tidurnya. (Riwayat Muslim)
Geraknya mujahid (orang yang berjihad di jalan Allah) di medan perang itu
diberikan pahala oleh Allah. (Lihat at-Taubah:120-121.)
Jihad adalah perdagangan yang untung dan tidak pernah rugi. (Lihat
ash-Shaaf: 10-13)
Jihad lebih utama daripada meramaikan Masjidil Haram dan memberikan minum
kepada jamaah haji. (Lihat at-Taubah: 19-21.)
Jihad merupakan satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid). (Lihat
at-Taubah: 52.)
Jihad adalah jalan menuju Surga. (Lihat Ali Imran: 142.)
Orang yang berjihad, meskipun dia sudah mati syahid namun ia tetap hidup dan
diberikan rizki. (Lihat Ali Imran: 169-171.)
Orang yang berjihad seperti orang yang berpuasa tidak berbuka dan melakukan
shalat malam terus-menerus. (HR. Al-Bukhari (no. 2785), Muslim (no. 1878),
at-Tirmidzi (no. 1619) dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. )
Sesungguhnya Surga memiliki 100 tingkatan yang disediakan Allah untuk orang
yang berjihad di jalan-Nya. Antara satu tingkat dengan yang lainnya berjarak
seperti langit dan bumi. (HR. Al-Bukhari (no. 2790) dari Sahabat Abu
Hurairah Radhiyallahu anhu)
Surga di bawah naungan pedang. (HR. Al-Bukhari (no. 3024-3025) dari Sahabat
Abdullah bin Abi Aufa Radhiyallahu)
Orang yang mati syahid mempunyai 6 keutamaan: (1) diampunkan dosanya sejak
tetesan darah yang pertama, (2) dapat melihat tempatnya di Surga, (3) akan
dilindungi dari adzab kubur, (4) diberikan rasa aman dari ketakutan yang
dahsyat pada hari Kiamat, (5) diberikan pakaian iman, dinikahkan dengan
bidadari, (6) dapat memberikan syafaat kepada 70 orang keluarganya. (HR.
At-Tirmidzi (no. 1663), Ibnu Majah (no. 2799) dan (Ahmad IV/131) dari
Sahabat Miqdam bin Madi al-Kariba Radhiyallahu anhu. At-Tirmidzi berkata,
Hadits ini hasan shahih.)
Orang yang pergi berjihad di jalan Allah itu lebih baik dari dunia dan
seisinya. (HR. Bukhari (no. 2792), Fat-hul Baari (VI/13-14) dari Sahabat
Anas bin Malik)
Orang yang mati syahid, ruhnya berada di qindil (lampu/ lentera) yang berada
di Surga. (HR. Muslim (no. 1887) dan Tirmidzi (no. 3011) dari Sahabat Ibnu
Masud Radhiyallahu 'anhu)
*Dzarwatus-sanam (puncak tertinggi) Islam adalah jihad, tidak akan
mencapainya kecuali orang yang paling utama di antara mereka. (Hadits
Riwayat Thabrani) *
Dari Miqdam bin Madikarib berkata, Rasulullah SAW bersabda,
Seorang syahid di sisi Allah mendapatkan tujuh keistimewaan: Allah
mengampuni dosanya sejak awal perjalanan jihadnya, diperlihatkan tempat
tinggalnya di surga, dipelihara dari siksa neraka, diberi rasa aman dari
guncangan terbesar (hari kiamat), diletakkan di atas kepalanya sebuah
mahkota mutu manikam, disana ia lebih baik dari dunia dan seisinya,
dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari surga, dan dapat memberi
syafaat kepada tujuh puluh anggota keluarganya. (HR. Tarmidzi dan Ibnu
Majah)
Rasulullah bersabda :
Tatkala saudara-saudara kalian tertimpa ajal, Allah menjadikan ruh-ruh
mereka dalam jasad burung hijau, mereka mendatangi sungai-sungai surga,
memakan buah-buahannya dan tinggal di lampu-lampu emas yang tergantung di
bawah naungan Arsy. Ketika mereka mendapati makanan, minuman dan tempat
istirahat yang sangat nyaman, berujarlah mereka Siapakah yang akan
menyampaikan kepada saudara-saudara kita tentang keadaan kita, bahwa kita
ini hidup di dalam surga diberi rizki, agar mereka tidak membenci jihad
ataupun merasa lesu dan enggan berperang?
Maka berkatalah Allah Taala :Aku yang akan menyampaikan kepada mereka
tentang keadaan kalian. Kemudian Allah `Azza wa Jalla menurunkan ayat
: *Janganlah
kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan
mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki. (Ali Imran:
169)*(Hadits Riwayat Abu Daud dan Al-Hakim)
Orang yang mati syahid tiada merasakan sentuhan kematian melainkan hanya
seperti salah seorang di antara kalian merasakan dicubit. (Hadits Riwayat
Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
*Ingin dikembalikan lagi kedunia (untuk syahid lagi)*
Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahawa Rasulullah SAW telah menegaskan:
Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad! Sungguh, aku senang berjuang di
jalan Allah, lalu terbunuh, kemudian berperang lagi lalu terbunuh, kemudian
berperang lagi lalu terbunuh.
Ajal itu sudah pasti, dan pasti tiba. Baik kita siap atau pun tidak siap
menghadapinya, bukankah kami mati sia sia kalau meninggalkan dunia yang
fana ini di atas kasur yang empuk lagi nyaman. Jihad dan syahadah sangat
mahal harganya, demi Allah begitu mahal! Meskipun demikian, saya memohon
kepada Allah untuk memberikannya pada saya, meskipun saya tidak layak untuk
itu. Marilah kita sama2 berdoa pada Allah semoga Dia memberikan nikmat
syahid di jalanNya*, **Allahumar - zuqni - Syahadah, Allahumar - zuqni
Syahadah **(Ya Allah, berilah aku rizqi berupa mati syahid)*
Kabulkanlah Ya
Rahmaan
Kabulkanlah Ya
Rahiim
Diolah dari berbagai sumber.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
===
Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits? Silahkan klik:
http://www.media-islam.or.id
Ingin belajar Islam via milis? Kirim email ke
[email protected]
Dapatkan buku-buku Islami di DemiMasa Online Bookstore
http://www.demimasa.co.idYahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[email protected]
mailto:[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/