Rabu, 08 Juli 2009 pukul 00:07:00
Hari Jilbab Dunia Mengenang wafatnya Sahidah Pembela Jilbab
Muslimah di Eropa dan Timur Tengah berkabung. Mereka berduka atas wafatnya
Marwa al-Sherbini (32 tahun), seorang Muslimah berkebangsaan Mesir, yang
dibunuh seorang warga Eropa di pengadilan. Muslimah di Eropa bersepakat untuk
menjadikan wafatnya Sherbini sebagai Hari Jilbab Dunia.
''Sherbini bukan hanya sahidah jilbab, tapi juga korban Islamofobia, seperti
yang diderita umat Muslim di Eropa,'' papar Abeer Pharaon, ketua Dewan
Perlindungan Jilbab. ''Wafatnya Sherbini akan diperingati sebagai Hari Jilbab
Dunia.'' Dukungan untuk menjadikan hari gugurnya Sherbini yang mempertahankan
keyakinannya untuk mengenakan jilbab itu sebagai Hari Jilbab Dunia, mendapat
dukungan dari umat Muslim di seantero jagad.
Peristiwa tragis itu terjadi pada Rabu (1/7) lalu di ruang pengadilan di
wilayah timur Kota Dresden, Jerman. Ia ditikam seorang pria berkebangsaan
Jerman keturunan Rusia, bernama Alex W (28 tahun) sebanyak 18 kali. Serangan
itu begitu tiba-tiba. Dalam waktu 30 menit, dengan brutalnya Alex membantai
Sherbini.
Sang suami yang mencoba menyelamatkan Sherbini yang tengah mengandung tiba
bulan itu juga tak luput dari serangan. Konyolnya, sang suami mengalami luka
serius akibat terkena tembakan petugas yang salah sasaran. Kini, Alex ditahan
dan jaksa sedang melakukan investigasi terhadap tersangka pembunuhan itu.
Pada peristiwa berdarah itu, Sherbini tengah menghadiri sidang pertama
pengajuan naik banding atas kasus yang dialaminya. Sebelumnya, Sherbini
mengajukan gugatan atas pelecehan Alex terhadap jilbab yang dikenakannya. Alex
beberapa kali melakukan penyerangan dengan mencoba merenggut paksa jilbab yang
dikenakan Sherbini.
Atas tindakan rasisnya itu, pengadilan Dresden mendenda Alex, imigran asli
Rusia, sebesar 730 euro atau sekitar Rp 9,85 juta. Tak puas atas putusan
sidang, Alex pun naik banding. Dalam persidangan naik banding pertama itulah,
Alex menyerang Sherbini dan menikamnya hingga tewas.
''Kami mendukung sepenuhnya gagasan menjadikan hari wafatnya Sherbini sebagai
Hari Jilbab Dunia,'' papar Rawa Al-Abed, seorang pejabat Organisasi Federasi
Islam di Eropa.
''Kami juga menyerukan kepada umat Muslim di dunia untuk menggelar aksi, guna
meningkatkan kesadaran tentang hak-hak Muslim di Eropa, termasuk mengenakan
jilbab.
Para pemimpin Muslim mengatakan, pembunuhan terhadap Sherbini merupakan bukti
berkembangnya Islamofobia di Barat. ''Apa yang terjadi kepadanya
(Sherbini--Red) sangat berbahaya,'' ungkap Sami Dabbah, juru bicara Koalisi
Melawan Islamofobia. ''Kami telah mengingatkan bahwa suatu hari, kita akan
melihat seorang Muslimah dibunuh karena jilbabnya.''
Amina Nusser, seorang guru besar teologi dan filsafat pada Universitas
Al-Azhar, mendukung dijadikannya wafat Sherbini sebagai Hari Jilbab Dunia.
Jenazah Sherbini telah dipulangkan ke tanah kelahirannya di Mesir. Ribuan warga
Mesir yang berduka, berbaris di belakang peti mati Sherbini, Senin (6/7). Warga
di kampung halamannya marah dengan serangan tersebut dan mengutuk respons
lembek Jerman.
Dalam sebuah konferensi pers, juru bicara Pemerintah Jerman, Thomas Steg
mengatakan serangan tersebut adalah rasis. Pemerintah, kata dia, mengutuk
perubahan tersebut dengan tindakan keras. Tak pelak, pembunuhan Sherbini
mendominasi headline media-media Mesir selama berhari-hari.
Hal itu berbeda jauh dengan media-media Jerman dan Eropa. Kasus pembunuhan
bermotif rasisme dan Islamofobia itu cuma menjadi sorotan kecil. Islamonline
menyebutnya tak lebih dari berita satu-dua kolom di halaman kriminal biasa.
Kelompok Muslim Jerman mengkritik pemerintah, petugas, dan media karena tidak
memberi perhatian khusus terhadap kejahatan tersebut. Sungguh ironis.
itz/iol/hri(-)
[Non-text portions of this message have been removed]