From: Achmad Zaenal Abidin <[email protected]>
Date: Saturday, July 11, 2009, 10:57 AM








Teman teman, 

Seberapa jauh Pemerintah/Deplu RI telah tahu/andil dalam penyelesian kasus 
kedzaliman/pembanta ian Muslim Uighur China, sebagai negara yang bebas aktif 
dalam politik luar negeri agar tidak meluas seperti di Bosnia?

Salam,
Zaenal

At 08:30 10/07/2009, Nurcholid Setiawan wrote:


sedulur-sedulur. .
kaum Muslim Uighur di Urumqi, Xinjiang didzalimi dan dibantai pemerintah china 
dan etnis Han,
peduli nasib saudara-saudara kita, kaum muslim uighur,
mari kita bantu doa, khusus utk saudara-saudara muslim uighur setelah shalat 5 
waktu..

semoga saudara-saudara kita, muslim uighur, diberikan kekuatan utk melawan 
kejahatan kedzaliman
pemerintah komunis china dan etnis han. Allahu Akbar !!!

salam,
nurcholid


Kedzaliman dan pembantaian Pemerintah China dan Etnis Han terhadap muslim Uighur

Pemerintah China menerapkan kebijakan yang makin represif di Xinjiang menyusul 
kerusuhan antar etnis di wilayah itu. Pemerintah menambah ribuan pasukannya ke 
Urumqi-ibukota Xinjiang-untuk memulihkan situasi di kota itu. Pimpinan Partai 
Komunis di China bahkan mendesak agar pemerintah mengeksekusi mereka yang 
tertangkap dalam kerusuhan tersebut. Laporan Al-Jazeera menyebutkan bahwa meski 
aparat keamanan sudah berjaga-jaga dan situasi kota Urumqi sudah 
berangsur-angsur normal, ketegangan di kota itu masih terasa dan masih 
berpotensi terulangnya kembali kerusuhan yang lebih besar. Aksi massa Muslim 
Uighur hari Minggu (5/7) yang memprotes kebijakan diskriminatif pemerintah 
China berakhir bentrokan dengan aparat yang meluas menjadi bentrokan dengan 
etnis Han.
Kerusuhan ini menjadi kerusuhan antar etnis yang paling berdarah di China, yang 
mengakibatkan 150 orang tewas dan ribuan orang luka-luka. Sampai hari Rabu 
kemarin, aparat keamanan China menangkap lebih dari 1.000 orang. Pemerintah 
China mengingatkan, mereka yang terbukti bersalah melakukan pembunuhan akan 
dieksekusi.
"Kami akan mengeksekusi mereka yang melakukan kejahatan secara keji," ujar 
Ketua Partai Komunis China untuk Urumqi, Li Zhi.
Aparat keamanan China dalam beberapa hari ke depan, masih akan terus melakukan 
penangkapan menyusul pernyataan Presiden China Hu Jintao yang mendesak 
aparatnya untuk menindak tegas mereka yang terlibat dalam kerusuhan. Pemerintah 
China menuding warga Muslim Uighur sebagai biang keladi kerusuhan dan mengecam 
para tokoh etnis Han yang sudah ikut memperkeruh situasi.
Untuk mengendalikan situasi, pemerintah China bukan hanya memberlakukan jam 
malam, tapi juga mengerahkan ribuan pasukan militernya ke Urumqi. Konvoi 
panjang kendaraan tempur dan truk-truk militer mengintensifkan patrolinya di 
jalan-jalan di kota itu dan helikopter-helikopt er militer secara rutin 
melakukan pengamatan dari udara di atas kota Urumqi.
Perhatian dunia, terutama dunia Muslim dan Arab atas nasib Muslim Ughhur dalam 
kerusuhan di China sampai hari ini masih minim. Perdana Menteri Turki Recep 
Tayyip adalah pemimpin Muslim pertama yang menyerukan agar aksi kekerasan di 
China dihentikan.
Ahmet Davutoglu, Menlu Turki juga mendesak pemerintah China mengadili para 
pelaku kerusuhan dengan cara yang transparan. "Kami memantau peristiwa ini 
dengan perasaan prihatin, khawatir dan sedih," kata Davutoglu.
Negara Turki punya ikatan moral atas nasib Muslim Uighur yang menjadi penduduk 
mayoritas di wilayah Xinjiang. Muslim Uighur yang jumlahnya mencapai delapan 
juta jiwa memiliki kedekatan dengan Turki, karena Muslim Uighur menggunakan 
bahasa Turki.
Sejak pemerintah China mengambil kendali pemerintahan atas wilayah Xinjiang, 
Muslim Ughur mengalami penindasan dan diskriminasi. Pemerintah China bahkan 
berusahan menghapus jejak budaya Muslim Uighur dengan program imigrasi massal 
etnis Han ke wilayah otonomi itu yang kerap menimbulkan gesekan dengan Muslim 
Uighur. Berbagai penindasan dan diskriminasi memicu munculnya gerakan 
perlawanan etnis Uighur sejak era tahun 1990-an.
Xinjiang adalah kota di sebelah Barat wilayah China yang kaya akan sumber alam 
minyak, gas dan mineralnya. Xinjiang dulunya adalah tempat transit bagi para 
pedagang yang melewati Jalan Sutra yang menghubungkan China ke Eropa. (ln/aljz)


Genoside mengancam Muslim Uighur

Muslim Uighur di Xinjiang tidak punya pilihan lain selain bertahan dan 
melakukan perlawanan sebisa mungkin menghadapi amukan dan kebringasan etnis Han 
yang menyerang mereka. Tak jarang mereka harus lari menyelamatkan diri dari 
kejaran ribuan orang Han yang membawa tongkat pemukul dan senjata lainnya. 
"Cari mereka (Uighur)! Serang! Serang! Serang!" teriak belasan orang Han dengan 
senjata siap di tangan, ketika melihat tiga lelaki Muslim Uighur lewat. 
Mendengar teriakan itu, ketiga lelaki Muslim itu ketakutan dan lari 
menyelamatkan diri. Tapi malang, salah satu diantara mereka berhasil 
tertangkap, kemudian dikeroyok dan dipukuli oleh sekelompok orang Han.
Pada saat yang sama, di tengah kota Urumqi, sekitar 20 orang perusuh dari etnis 
Han juga mengeroyok seorang lelaki Uighur dan dipukuli hingga nyaris tewas. 
Kondisi ini membuat Muslim Uighur yang tak berdaya khawatir akan keselamatan 
diri mereka.
"Terlalu banyak kebencian di sekeliling kami saat ini," kata Ali, seorang 
lelaki Uighur.
"Saya sangat takut untuk pulang ke rumah malam ini," kata Halisha, seorang 
Muslim Uighur yang berprofesi sebagai dokter mata. Ia pun memilih menginap di 
kliniknya yang kecil daripada harus pulang ke rumah di tengah situasi jalanan 
yang berbahaya.
Sejumlah saksi mata mengungkapkan, aparat keamanan China menangkap ribuan 
Muslim Uighur tapi tak satupun etnis Han yang terlibat kerusuhan ditangkap. 
Aparat China hanya mengusir etnis Han jika terlihat melakukan aksi anarkis dan 
kekerasan.
Organisasi-organisa si Muslim Uighur di pengasingan menyebut situasi di 
Xinjiang saat ini sebagai "genosida" terhadap warga Muslim Uighur. "Genosida 
sedang berlangsung terhadap komunitas Muslim Uighur. Otoritas pemerintah China 
harus bertanggung jawab atas kejahatan ini di hadapan dunia internasional," 
tukas Torgan Tozakhunov, deputi direktur Pusat Kebudayaan Uighur di Kazakhstan. 
(ln/iol)

















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke