MELURUSKAN PANDANGAN HIDUP

“Adapun orang yang durhaka, lagi mengutamakan kehidupan dunia. Maka
neraka jahimlah tempat tinggalnya. Sedangkan orang yang takut akan
kebesaran Rabbnya lagi menahan diri dari hawa nafsunya maka syurgalah
tempat tinggalnya”. (Qs. An-Naziat [79] : 37-38).

Ashtaghfirullah hal ‘adzim, Inilah sebuah kalimat yang tepat untuk
mengungkapkan realitas yang ada saat ini. Kita saksikan, sedikit sekali
orang kaya yang bersyukur dan orang miskin yang sabar. Ibnul Qoyyim
Al-jauziyah mengungkapkan, ada dua kelompok manusia, pertama : mereka
yang dikalahkan, dikuasai dan dihancurkan oleh hawa nafsunya. Ia
benar-benar tunduk di bawah kendali nafsunya. Kedua : orang yang
berhasil memenangkan pertarungan melawannya dan nafsupun tunduk di
bawah perintahnya. Memohonlah kepada Allah agar kita dijadikan kelompok
yang kedua sebab bukan saja akan mendapatkan keselamatan di dunia, di
akheratpun kita akan mendapatkan balasan syurga.

Sahabat, hidup akan semakin bermakna apabila kita menyadari secara
hakiki bahwa dunia tempat kita berpijak ini adalah amanah Allah yang
harus dimanfaatkan sebesar-besarnya demi kepentingan akherat. Agar kita
tidak tertipu oleh dunia dan bujukan hawa nafsu. Sangat baik jika kita
sebagai hamba Allah yang masih diberikan sepercik cahaya jiwa untuk
membasuh dinding qalbu kita agar cemerlang diterangi oleh cahaya ilahi.

Hidup semakin diberkahi apabila segala kemudharatan dapat kita jauhi.
Semakin kita sadar akan hakikat hidup di dunia ini niscaya kita akan
semakin tepat dalam menyikapinya sehingga kita menemukan makna hidup.
Sebaliknya, semakin mengambang kesadaran kita akan hakikat hidup, maka
akan semakin tidak tepat dalam menyikapinya, sehingga hidup tidak
membawa makna tapi justru membawa sengsara. Ketahuilah sahabat,
kehidupan yang bermakna bukanlah diukur dari seberapa lama kita hidup,
tetapi makna hidup diukur dari berapa efektifkah kita mampu
memanfaatkan hidup.

Catatlah dalam hati kita, ada beberapa hal yang dapat diukur jika kita
ingin menjadikan hidup penuh makna dan selalu menjadi orang yang
berguna. Sebagai seorang muslim yang meyakini bahwa hidup adalah ibadah
maka akan tertanam di dalam jiwanya sebuah kesadaran yang dalam akan
beberapa hal, diantaranya adalah :

a. Tujuan hidup : Mencari ridho Allah swt.
b. Fungsi hidup : Sebagai Khalifah Allah swt.
c. Tugas hidup : Beribadah hanya kepada Allah swt.
d. Alat hidup : Segala kenikmatan yang diberikan Allah swt.
e. Teladan hidup : Nabi Muhammad rasulullah saw.
f. Pedoman hidup : Al-Qur’an sebagai firman Allah swt.
g. Kawan hidup : Orang yang berjuang karena Allah swt.

Orang yang memiliki kecerdasan ruhani dan kesadaran yang tinggi, akan
menjadikan tolak ukur di atas sebagai pola kehidupannya. Baginya hidup
ini adalah tidak lebih dari serangkaian kumpulan keputusan. Setiap kali
mengambil keputusan berarti menetapkan sebuah pilihan yang terbaik. Dan
pilihan yang terbaik adalah ketika kita mampu menemukan makna hidup.
Maka hidup yang benar lahir dari sebuah pandangan yang benar tentang
hidup. Seseorang yang memiliki pandangan yang benar tentang hidup
selalu menyadari, bahwa umur atau usia yang dimilki pada hakekatnya
merupakan kesementaraan. Pada akhirnya ia menyadari, bahwa satu saat
akan menemukan batas akhir perjalanan, yaitu kematian. Karena
sesungguhnya hidup hanyalah persinggahan sebentar dalam perjalanan
panjang menuju keabadian.

Allahumma, Ya Allah Engkaulah yang memiliki keutamaan dan karunia.
Karuniakanlah kepada kami potensi kebaikan untuk selalu beramal,
karunikanlah iman yang kuat untuk selalu melaksanakan taat. Jadikanlah
ya Allah..kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan itu kebencian bagi hati
kami. Dan masukanlah kami kedalam hamba-hamba-Mu yang selalu bersyukur,
teguhkanlah jiwa dan hati kami untuk selalu bersabar. Hanya karena
Engkaulah kami hidup dan menikmati kehidupan.

--
Posting oleh akhrudianto ke Komunitas Nurani Islam 107koma7fm Kota
Tangerang pada 7/16/2009 01:27:00 AM

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke