SHOLAT DHUHA
Berdasarkan perspektif Al Qur’an dan Hadits Shahih.
 
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahiim.
 
SYARAT SAHNYA SHOLAT:
Sholat harus I’tiba’ (Showab) mencontoh dan harus sesuai dengan cara sholatnya 
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Apabila sholatnya tidak mencontoh, 
tidak sesuai dengan sholatnya Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam, maka 
nanti kalau mati, tidak diatas agama Rasulullah s.a.w., sebab tidak mengikuti 
ajaran Rasulullah s.a.w. Qs.33:21,36;  BM.346;  HSB.1939
 
Al Qur’an, surat Al Ahzab, surat ke 33 ayat No. 21 sebagai berikut:
[33.21] Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang 
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) 
hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
 
Al Qur’an, surat Al Ahzab, surat ke 33 ayat No. 36 sebagai berikut:
[33.36] Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi 
perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu 
ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan 
barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, 
sesat yang nyata.      (Pen.malah membuat aturan sendiri)
 
Hadits Bulughul Maron (HBM) No.346 sebagai berikut:
Dari Malik bin Huwairits. Ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu 
‘alaihi wasallam: “Sholluw kamaa  ra aytumunii ushollii”, “Sholatlah 
sebagaimana kamu lihat aku mengerjakan sholat (kamu ketahui aku sholat).” 
Diriwayatkan dia oleh Bukhari.    
Silahkan anda baca Hadits Shahih Bukhari (HSB) No..1939
 
SHOLAT SUNAT DHUHA.
‘Aisyah tak pernah melihat Nabi s.a.w. sholat sunat Dhuha, karena mungkin pada 
waktu-waktu tersebut beliau tidak pernah berada di rumah ‘Aisyah. Mungkin 
beliau sedang dalam perjalanan, atau di masjid, atau ditempat-tempat lain. 
Sunat Dhuha, termasuk sunat muakkad. Paling sedikit dua raka’at dan paling 
sempurna delapan raka’at. Namun boleh juga dikerjakan empat atau enam raka’at. 
(Sarah An Nawawi, 2:369).
 
Sholat sunat Dhuha sehabis dari perjalanan jauh.
Dari ‘Abdullah bin Syaqiq r.a., katanya: “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah 
r.a.: “Adakah Nabi s.a.w. mengerjakan sholat sunat Dhuha?” Jawab ‘Aisyah, 
“Tidak! Beliau mengerjakan sholat sunat (ketika Dhuha) karena baru tiba dari 
perjalanan jauh.” HSM.681
 
Dari ‘Aisyah r.a., katanya: “Aku tidak pernah melihat Nabi s.a.w. sholat sunat 
Dhuha, sekali-kali tidak! Tetapi aku senantiasa mengerjakannya, sekalipun 
beliau tidak. Sesungguhnya beliau menyukai amal tersebut, tetapi beliau kuatir 
umat senantiasa mengamalkannya, lalu dianggap wajib.”HSM.682
 
Sholat sunat Dhuha paling sedikit empat raka’at:
Dari Mu’adzah r.a., dia bertanya kepada ‘Aisyah r.a., katanya: “Berapa raka’at 
Rasulullah s.a.w. sholat Dhuha?” Jawab ‘Aisyah, “Empat raka’at, dan sesudah itu 
beliau tambah berapa disanggupinya.” HSM.683
 
Dari Ummu Hani’ r.a., katanya: “Pada hari penaklukan Mekkah, Nabi s.a.w. masuk 
kerumahnya lalu dia sholat delapan raka’at, yang belum pernah dilihatnya beliau 
sholat sependek itu, tetapi cukup sempurna ruku’ dan sujudnya.” HSM.684
 
Dari ‘Abdullah bin Harits  bin Naufal r.a. katanya dia mencari-cari orang yang 
dapat mengajarkan kepadanya tentang sholat Dhuha Rasulullah s.a.w., tetapi 
tiada yang ditemukannya selain Ummu Hani’ binti Abu Thalib, katanya: “Dia 
mengabarkan kepadaku, bahwa Rasulullah saw datang kerumahnya setelah hari agak 
tinggi pada hari penaklukan Mekkah, lalu dia minta sehelai kain untuk menutup 
tempatnya mandi. Setelah mandi, beliau sholat delapan raka’at, yang aku tidak 
tahu manakah diantaranya yang lama, berdirinyakah, ruku’nyakah, ataukah 
sujudnya, karena semuanya hampir sama saja lamanya. Kata Ummu Hani’, Aku belum 
pernah melihat beliau mengerjakan sholat seperti itu sebelum dan sesudahnya.” 
HSM. 685
 
Dari Ummu Hani’ r.a., katanya sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pernah sholat 
delapan raka’at dirumahnya pada tahun penaklukan Mekkah, dengan berselimut  
sehelai kain.HSM.686
 
Dari Abu Dzar r.a., dari Nabi s.a.w. sabdanya: “Setiap orang mempunyai sumber 
sedekah. Tiap-tiap tasbih, tahmid, tahlil dan takbir adalah sedekah. Amar 
makruf sedekah, nahi mungkar sedekah. Dan semuanya itu sama nilainya dengan dua 
raka’at sholat Dhuha. HSM.687 
 
Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Sahabatku (Rasulullah s.a.w.) berwasiat 
kepadaku tiga perkara: (a)-Puasa tiga hari setiap bulan. (b)-Sholat Dhuha dua 
raka’at. (c)-Sholat Witir sebelum tidur.” HSM.688
 
Dari Abu Darda’ r.a., katanya: “Sahabatku yang tercinta (Rasulullah s.a.w.) 
mewasiatkan kepadaku tiga macam amal yang tidak pernah kutinggalkan selama 
hidupku: (a)-Puasa tiga hari setiap bulan. (b)-Sholat Dhuha, (c)-Sholat Witir 
sebelum tidur.” HSM.689
 
PEMBUAT HADITS PALSU DITANGGUNG MASUK NERAKA:
Dari Abu Hurairah r.a., katanya Nabi s.a.w. bersabda: “Namailah dirimu dengan 
namaku dan jangan memakai gelarku.” “Siapa yang bermimpi melihat aku dalam 
tidurnya, sebenarnyalah ia melihatku, karena setan tidak mampu menjelma seperti 
aku. “Dan siapa yang sengaja berdusta (membuat hadits palsu) atas namaku, maka 
biarlah dia menempati tempatnya dineraka.” Hadits Shahih Bukhari (HSB)..80
 
Semoga bermanfaat bagi yang membaca dan yang mengamalkannya. 
Alhamdulillahirabbil’alamin. Billahi taufik wal hidayah. Wassalamu’alaikum 
warahmatullahi wabarakatuh. Sukarman.


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke