Insya Allah sama.
Silahkan lihat foto-foto kebiadaban Israel:
http://syiarislam.wordpress.com/category/israel


===

Ayo Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits

http://media-islam.or.id

--- Pada Kam, 16/7/09, Saeful B <[email protected]> menulis:

Dari: Saeful B <[email protected]>
Judul: [syiar-islam] Fw: KENAPA SIH KITA HARUS MEMERANGI YAHUDI?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Kamis, 16 Juli, 2009, 2:40 AM






 




    
                  Sedikit saja pertanyaan :

1.      Apakah Yahudi sekarang ini, yang dimaksudkan dalam Alqu'an

adalah sama dengan Bani Izrael ?

2.      Berkali-kali ayat dalam Alqur'an lantunkan Bani Izrael dan

menurut pendapat saya, ini untuk pembelajaran

dari sejarah masa lalu yang pernah ada bahkan sejak semasa Nabi Musa AS.



Kalau memang demikian apakah maksud tulisan ini untuk menerapkan

petunjuk yang ada dalam Alqu'an 

             dalam menghadapi Negara Israel, yang identik dengan Bani

Izrael?

 

Itu saja. Jazakallah

 

Salam,

Saeful B

 

-----Original Message-----

From: syiar-islam@ yahoogroups. com [mailto:syiar-islam@ yahoogroups. com]

On Behalf Of Putra

Sent: Thursday, July 16, 2009 12:33 PM

To: syiar-islam@ yahoogroups. com; kamil.kramatpusat@ gmail.com

Subject: [syiar-islam] Fw: KENAPA SIH KITA HARUS MEMERANGI YAHUDI?

 

  

Bercermin Dengan Yahudi



Salah satu musuh besar umat Islam adalah yahudi. Berkali-kali ayat 120

Surat Al-Baqarah kita lantunkan atau kita dengar, yang isinya menegaskan

bahwa yahudi dan nasrani tidak akan rela kepada umat Islam sampai umat

Islam mengikuti millah mereka.



Dan sampai hari ini, bangsa Indonesia sudah berhasil menempatkan posisi

yang tepat terhadap proyek yahudi di Palestina, dengan tidak membuka

hubungan diplomatik dengan penjajah Israel. Sesuatu yang bahkan Mesir

sebagai kekuatan real di tengah bangsa Arab malah belum mampu

melakukannya. Mesir membuka hubungan diplomatik dengan Israel,

setidaknya itu bermakna bahwa Mesir mengakui keberadaan negara penjajah

itu.



Adapun kita bangsa Indonesia, meski sebagian kecil dari elemen rakyat

ada juga yang menginginkan kita membuka hubungan diplomatik dengan

penjajah itu, tapi kenyataannya semua rezim masih harus berpikir ulang

kalau mau melakukannya. 



Tapi yang jadi pertanyaan, apa cukup kita berhenti di seputar `tidak

mengakui` keberadaan Israel? Atau kah kita harus juga melakukan hal yang

lebih jauh dari itu? Misalnya memboikot produk yahudi, sebagaimana yang

sering dianjurkan oleh sebagian kalangan. Atau kah ada juga

langkah-langkah lainnnya?



Tulisan ini akan mencoba membuka wawasan kita lebih luas lagi, terutama

tentang apa dan bagaimana yahudi, agar kita bisa menakar dan mengukur

seperti apa sebenarnya kekuatan `lawan`. Dan tentunya kita jadi tahu

tindakan seperti apa yang perlu kita lakukan. Setidaknya perlu kita

pikirkan.



1. Motivasi Agama



Yahudi bersatu dan bekerjasama untuk mendirikan Israel, semata-mata

karena mereka taat pada agama mereka. Walau agama mereka dalam pandangan

Islam sudah tidak berlaku, selain karena sudah expired, juga isinya

adalah hasil karangan para rahib dan pendeta mereka, bukan sesuatu yang

original dari Allah SWT.



Namun harus kita akui semangat mereka membangun Israel ditambah semua

kekuatan ekonomi dan lobi politik, semata-mata karena mereka ingin

menjalankan kewajiban agama mereka. Karena mereka taat menjalankan

agama, maka mereka melakukan semua ini.



Sebaliknya kita umat Islam, kebanyakan menghadapi yahudi bukan dengan

semangat agama Islam, melainkan dengan semangat nasionalisme sempit,

atau sekedar motif-motif yang terlalu rapuh.



Maka kita bisa lihat bagaimana satu persatu perlawanan negara Arab

rontok ketika berhadapan dengan realitas kekuatan yahudi di lapangan.

Sebab kalau kacamata yang dipakai semata-mata pertimbangan oportunis,

maka pilihan mengakui Israel sebagai sebuah negara adalah pilihan paling

logis. 



Karena itulah Mesir, Suriah, Jordan, Libanon dan negara jiran lainnya,

ramai-ramai meneken perjanjian yang intinya mengakui keberadaan Israel

sebagai sebuah negara berdaulat di atas tanah rampasan.



Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena para penguasa negara-negara Islam

itu hanya mempertimbangkan realitas secara oportunis, tidak memasukkan

pertimbangan akidah dan syariah dalam menetapkan pilihan.



Dalam pikiran mereka, berperang dengan Israel lebih banyak ruginya dari

pada untungnya. Maka mendingan duduk damai saja, dengan menelan pil

pahit kenyataan bahwa sesungguhnya Israel adalah sebuah kekuatan agresor

maha dahsyat yang bertanggung- jawab atas jutaan nyawa bangsa Palestina.



2. Yahudi Sudah Bersiap Sejak Ratusan Tahun Lalu



Satu hal yang perlu kita pelajari secara seksama, yahudi dengan

akar-akarnya bukanlah fenomena yang baru saja terjadi di hari ini.

Yahudi sudah bekerja keras sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan boleh

dibilang ribuan tahun lalu. 



Mereka siang malam diam-diam melakukan kerja tanpa lelah, turun temurun

semangat membangun Israel dipompakan pada tiap generasi. Boleh dibilang,

tidak ada bayi yahudi lahir ke dunia kecuali di dalam darah dan

dagingnya punya satu tujuan, yaitu mendirikan Israel, memperjuangkan

kepentingan kaum mereka dan mengerjakannya dengan sepenuh dedikasi dan

semangat.



Bank dunia sudah mereka dirikan jauh sebelum Israel mereka

proklamasikan. Perusahaan-perusaha an raksasa yang menguasai aset-aset

dunia, mulai dari perusahaan minyak sampai makanan, sudah mereka dirikan

jauh sebelum bendera Israel berkibar.



Semua itu menandakan satu hal, yaitu perjuangan yahudi adalah perjuangan

yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.



Agak berbeda dengan kita kaum muslimin, dimana remaja-remaja banyak yang

tidak tahu menahu urusan membangun umat, apalagi menegakkan daulah atau

khilafah. Jangankan membangun umat, sadar bahwa dirinya bagian dari 1,7

milyar umat Islam pun belum juga.



Israel berdiri tahun 1948, tapi sejak tahun 1895 theodore Hertzl di

Eropa sudah mulai memprovokasi bangsa itu untuk mendukung berdirinya

negara Israel. 



2 tahun kemudian, 1895, di Swiss telah berkumpul 197 delegasi yang

terdiri dari kaum orthodoks, nasoinalis, ahteis, kulturalis, liberalis,

sosialis dan kapitalis. Topik utamanya, tidak lain persiapan untuk

mendirikan Israel.



3. Yahudi Bersatu Meski Berbeda



Kita akui bahwa di dalam tubuh umat yahudi ada begitu banyak kelompok,

sebagaimana Al-Quran menyebutkan :



Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang

demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.

(QS. al-Hasyr : 14)



Namun ketika bicara dengan lawannya seperti kita umat Islam, yahudi

tetap punya ikatan batin yang kuat. Mereka pada gilirannya bisa meredam

sementara perpecahan di dalam internal mereka, kalau sudah berhadapan

dengan umat Islam. 



Ini yang perlu kita pelajari dari yahudi musuh kita. Bagaimana dengan

jumlah yang hanya 15 jutaan saja di seluruh dunia, mereka bisa kompak

mengatasi ketidak-kompakan dan keretakan di tubuh mereka.



Sementara kita umat Islam yang dengan bangga mengatakan diri telah

berjumlah 1,7 milyar, rasanya masih jauh untuk dibilang kompak.

Jangankah kompak sesama umat, bahkan kadang di dalam tubuh sebuah

jamaah, ormas, atau partai bernuansa Islam saja, kita masih merasakan

ketidak-kompakan itu.



Kita masih mendengar caci maki dan tudiangan sesat yang ditujukan ke

hidung saudara kita sendiri. Kadang masalahnya sepele, tapi jadi urusan

besar dan berat sekali, bahkan pakai bawa-bawa neraka pula.



Sementara yahudi dengan santai menjalin ukhuwah di antara mereka tanpa

ribut-ribut yang mengakibatkan lumpuhnya kekuatan. 



Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu

berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang

kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang

sabar. (QS. Al-Anfal : 46)



4. Yahudi Menguasai Ekonomi Dunia



Sebagian umat Islam ada yang punya semangat menggebu untuk membentuk

khilafah Islamiyah, sebagaimana selama 14 abad ini kita pernah

memilikinya.



Cuma ketika kita tanya, apa saja yang sudah kalian persiapkan untuk

terbentuknya khilafah itu, semuanya hanya diam. Sebab yang terpikir di

benak mereka, cukup dengan kampanye menegakkan khilafah, tiba-tiba besok

pagi khilafah sudah ready for use.



Salah satu sendi sebuah khilafah, bahkan sebuah negara, dan dalam ruang

lingkup yang lebih kecil lagi, sebuah organisasi, masalah kekuatan

ekonomi menjadi sesuatu yang sangat krusial.



Dan salah satu kelemahan paling mendasar dari umat Islam adalah justru

pada masalah ekonomi. Jangankan memiliki, sedangkan untuk sekedar

mengatasi rasa lapar saja, jutaan umat Islam di berbagai belahan negeri

masih menggantungkan harapan dari belas kasihan orang lain.



Di sekitar kita ada begitu banyak kekayaan alam yang potensial untuk

dioptimalkan sebagai salah satu pilar penyangga ekonomi umat. Tapi

sayangnya, tidak satu pun yang bisa dinikmati umat Islam. Sebab

kebanyakan aset-aset itu sudah digadaikan ke orang asing, dimana

keuntungannya kalau ada, masuk kantong para pejabatnya.



Sementara di sisi lain, perusahaan-perusaha an yahudi dunia telah

mengantungi hak untuk mengeksploitasi hampir semua kekayaan di dunia

ini. 



Para taipan yahudi ini bekerjasama saling bantu untuk mengumpulkan dana

yang tidak sedikit, untuk membantu kampanye para presiden di seluruh

dunia. Ketika presiden itu naik tahta, maka kompensasi yang didapat

yahudi puluhan bahkan ratusan kali lebih besar dari modal yang

sebelumnya mereka benamkan. 



Sementara umat Islam, jangankah menguasai aset di negerinya sendiri,

sedangkan sekedar mau bikin hajatan ormasnya saja, harus mengedarkan

proposal kesana kemari, minta-minta sponsor dan sumbangan dana. Artinya,

sekedar mau menyatakan bahwa ormas itu ada, masih harus dipapah oleh

pihak lain.



Jadi bagaimana mau bikin khilafah kalau bikin sekolah saja tidak mampu?

Bagaimana mau menegakkan daulah kalau membiayai hidup jamaah saja harus

mengemis?



Orang-orang yahudi tidak sekedar berhenti pada retorika ketika mereka

menyatkan ingin membangun Israel. Mereka tidak sekedar kampanye kesana

kemari kepada keturunan yahudi di dunia, bahwa mereka harus mendirikan

negara Israel. 



Tapi mereka sudah sampai ke level bekerja secara sistematis. Mereka

dirikan begitu banyak perusahaan multi nasional yang menguasai hajat

hidup orang banyak, sebagai penopang dan tiang penyangga negara impian

mereka.



Sementara kita, berhenti hanya sampai retorika belaka, bahkan malah

berujung kepada saling menyalahkan sesama kaum muslimin. Tapi sambil

menyalahkan, kita tetap saja berpangku tangan, tidak bekerja, tidak

mendirikan perusahaan multi-national, tidak menggarap apa-apa. Kekayaan

alam kita tetap saja diangkut ke luar sana untuk kepentingan yahudi.



Ekonomi umat dalam taraf pemikiran kita, sekedar berjualan dengan MLM,

atau jualan minyak wangi, buku, madu, habbah sauda`, atau kaus bergambar

usamah.



Kita belum berpikir mendirikan PLTN misalnya, dimana proyek itu akan

sangat membantu umat ini dari segi infrastuktur. Bagaimaan kita mau

bangun pabrik otomotif atau pesawat terbang, kalau listriknya byar pet.



ahmadsyarwat



[Non-text portions of this message have been removed]




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions..yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke