Assalamu'alaikum wr wb,

Bahaya Taqlid (Membebek) dan Fanatisme Golongan (Ashobiyyah)
Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah (Al Qur’an), dan 
sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad (Hadits), sedangkan 
seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan 
adalah bid'ah, dan tiap bid'ah adalah sesat, dan tiap kesesatan menjurus ke 
neraka. (HR. Muslim)
Kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal 
dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu 
ikut memasukinya. Para sahabat lantas bertanya, "Siapa 'mereka' yang baginda 
maksudkan itu, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang-orang Yahudi dan 
Nasrani." (HR. Bukhari)
Dalam hadits riwayat Ibnu Mas'ud r.a., ia berkata, "Suatu hari, Rasulullah saw. 
membuat garis lurus di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, 'Ini adalah 
jalan Allah.' Setelah itu, beliau menggaris beberapa garis di samping kiri dan 
samping kanan garis yang pertama tadi, dan bersabda, 'Jalan-jalan ini (adalah 
selain jalan Allah), masing-masing didukung oleh setan yang menggoda manusia 
untuk mengikuti jalan itu.' selanjutnya, beliau membaca ayat, "Dan, bahwa (yang 
Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia...." 
(al-An'aam:153) [HR Imam Ahmad dan Al Hakim]
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan 
cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang 
Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim 
mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara 
kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah 
kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu 
menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak 
memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah 
orang-orang yang kafir.” [Al Maa-idah:44]
Ayat Al Qur’an dan Hadits di atas memberi petunjuk pada kita bahwa pedoman kita 
adalah Al Qur’an dan Hadits. Orang yang tidak memutuskan menurut apa yang 
diturunkan Allah (Al Qur’an), maka dia adalah orang-orang yang kafir.
Para ulama harus melarang perkataan bohong dan memakan yang haram:
Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka 
mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk 
apa yang telah mereka kerjakan itu. “ [Al Maa-idah:63]
 “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan 
selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal 
mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak 
disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. “ [At 
Taubah:31]
Nabi menjelaskan bahwa memperTuhankan ulama itu adalah mematuhi ajaran ulama 
dengan membabi buta, biarpun ulama itu menyuruh membuat maksiat atau 
mengharamkan yang halal. 
Maraknya aliran sesat tak lepas dari sikap murid yang mempertuhankan gurunya. 
Pada awalnya mungkin ajaran gurunya biasa saja. Namun lambat laun terus 
menyimpang sedikit-sedikit hingga akhirnya menyimpang jauh/sesat. 
Meski ajaran gurunya tidak berdasarkan Al Qur’an dan Hadits atau bahkan 
menyimpang dari itu, murid tersebut mengikutinya. Bahkan ada aliran sesat yang 
melarang murid mengkritik gurunya meski bertentangan dengan Al Qur’an dan 
Hadits. Alasannya gurunya itu pintar. Ini adalah sikap yang tidak sesuai dengan 
ajaran Islam.
Ada yang mengaku Nabi, ada yang mengajarkan shalat beda dengan yang diajarkan 
Nabi, bahkan ada pula yang mengajarkan shalat cukup 1 kali dalam sehari. Orang 
yang mempertuhankan ulama seperti itu akan terjerumus dalam kesesatan. 
Seharusnya dia tetap berpedoman pada Al Qur’an dan Hadits. Jika gurunya 
menyimpang jauh dari itu, hendaknya dia meninggalkannya..
Dalam Islam kita dilarang Allah untuk membebek (taqlid) tanpa tahu ilmu atau 
dalil dari Al Qur’an dan Hadits:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan 
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan 
diminta pertanggungan jawabnya.” [Al Israa’:36]
Dalam Islam, kita harus saling nasehat-menasehati dan melakukan amar ma’ruf 
nahi munkar. Jika ada ulama/pemimpin yang keliru, kita wajib mengkoreksinya.
Abu bakar Shiddiq ketika ditetapkan sebagai khalifah. Pertama ia mengakui 
kekurangannya secara jujur tanpa mempertimbangkan harga diri dan kewibawaannya. 
Hal ini dapat dipahami dari pidato beliau ketika itu. "Saya telah diberi 
kekuasaan (tauliyah) atas kalian," kata Abu Bakar, "Padahal saya bukan yang 
terbaik di antara kalian. Apabila saya benar, dukunglah kepemimpinan saya. Tapi 
bila salah atau menyimpang, luruskanlah saya. Taatilah sepanjang saya mentaati 
Allah dalam memimpin kalian. Tapi bila saya berbuat ma'shiyat, maka kalian 
wajib tidak mentaatinya."
Pada waktu 'Umar terpilih menjadi khalifah yang kedua, maka isi pidato 
"pengukuhannya" antara lain seperti berikut: "Sekiranya saya ketahui ada yang 
lebih cakap dan lebih baik dari saya, maka demi Allah saya tidak akan memangku 
jabatan ini."
Namun pidato pengukuhannya itu diinterupsi,  disanggah oleh seorang asysyabab, 
pemuda dengan hunusan pedang. Yaitu pada waktu 'Umar berucap: "Apabila tindakan 
saya benar, ikutlah saya dan apabila saya menyimpang luruskanlah saya."
Asysyabab itu menghunus pedangnya dan dengan suara lantang ia berkata: "Hai 
'Umar, apabila engkau menyimpang, akan saya luruskan engkau dengan pedang saya 
ini." 
Lalu bagaimana reaksi 'Umar? Dengan senyum 'Umar berkata: "AlhamduliLlah, puji 
bagi Allah yang telah memberikan keberanian kepada seorang hambaNya, seorang 
asysyabab, yang bersedia meluruskan 'Umar dengan pedangnya." Itulah sikap Islam 
yang terbuka dengan kritik dan tidak diracuni oleh taqlid.
Ketika Shalat, seorang Imam harus mengerjakan shalat sesuai dengan aturan/rukun 
yang telah ditetapkan Allah. Jika menyimpang, makmum tidak boleh 
mendiamkan/membiarkannya. Jika tidak, maka semuanya tidak sah shalatnya. Makmum 
harus menegur Imam dengan bacaan tasbih. Jika ada ayat yang keliru, makmum 
harus membacakan yang benar kepada Imam.
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang 
beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati 
kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” [Al ‘Ashr:2-3]
Jadi ummat Islam itu harus selalu saling taushiyah tanpa memandang ulama/bukan 
karena pada dasarnya Islam tidak mengenal sistem Kependetaan.
Ummat Islam harus senantiasa menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. 
Tidak taqlid begitu saja:
Hendaklah kamu beramar ma'ruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi mungkar 
(melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu 
orang-orang yang paling jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang 
baik-baik di antara kamu berdo'a dan tidak dikabulkan (do'a mereka).. (HR. Abu 
Zar)
Wahai segenap manusia, menyerulah kepada yang ma'ruf dan cegahlah dari yang 
mungkar sebelum kamu berdo'a kepada Allah dan tidak dikabulkan serta sebelum 
kamu memohon ampunan dan tidak diampuni. Amar ma'ruf tidak mendekatkan ajal. 
Sesungguhnya para robi Yahudi dan rahib Nasrani ketika mereka meninggalkan amar 
ma'ruf dan nahi mungkar, dilaknat oleh Allah melalui ucapan nabi-nabi mereka. 
Mereka juga ditimpa bencana dan malapetaka. (HR. Ath-Thabrani)
Jika kita taqlid saja dan tidak melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, niscaya 
doa kita tidak dikabulkan oleh Allah dan mendapat laknat serta bencana. 
Barangsiapa melihat suatu kemungkaran hendalah ia merobah dengan tangannya. 
Apabila tidak mampu, hendaklah dengan lidahnya (ucapan), dan apabila tidak 
mampu juga hendaklah dengan hatinya dan itulah keimanan yang paling lemah. (HR. 
Muslim)
Orang yang tidak melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar bukanlah dari golongan 
Islam:
Bukanlah dari golongan kami orang yang tidak mengasihi dan menyayangi yang 
lebih muda, tidak menghormati orang yang lebih tua, dan tidak beramar ma'ruf 
dan nahi mungkar. (HR. Tirmidzi)
Sesungguhnya Allah 'Azza wajalla tidak menyiksa orang awam karena perbuatan 
dosa orang-orang yang khusus sehingga mereka melihat mungkar di hadapan mereka 
dan mereka mampu mencegahnya, tetapi mereka tidak mencegahnya (menentangnya). 
Kalau mereka berbuat demikian maka Allah menyiksa yang khusus dan yang awam 
(seluruhnya). (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)
Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat ialah yang 
paling banyak berkeliling di muka bumi dengan bernasihat kepada manusia 
(makhluk Allah). (HR. Ath-Thahawi)
Pada suatu hari Rasulullah Saw bersabda kepada para sahabatnya: "Kamu kini 
jelas atas petunjuk dari Robbmu, menyuruh kepada yang ma'ruf, mencegah dari 
yang mungkar dan berjihad di jalan Allah. Kemudian muncul di kalangan kamu dua 
hal yang memabukkan, yaitu kemewahan hidup (lupa diri) dan kebodohan. Kamu 
beralih kesitu dan berjangkit di kalangan kamu cinta dunia. Kalau terjadi yang 
demikian kamu tidak akan lagi beramar ma'ruf, nahi mungkar dan berjihad di 
jalan Allah. Di kala itu yang menegakkan Al Qur'an dan sunnah, baik dengan 
sembunyi maupun terang-terangan tergolong orang-orang terdahulu dan yang 
pertama-tama masuk Islam. (HR. Al Hakim dan Tirmidzi)
Dalam Al Qur’an ada ayat yang muhkamaat (jelas) artinya tanpa perlu ditafsirkan 
lagi. Itulah pokok Al Qur’an yang harus kita amalkan. Sebaliknya ayat-ayat Al 
Qur’an yang tidak jelas janganlah kita takwilkan (cari-cari/gotak/gatuk 
sehingga berlawanan dengan makna sebenarnya) sehingga akhirnya timbul 
perselisihan dengan yang lain:
 “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya 
ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain 
(ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong 
kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang 
mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari 
ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan 
orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang 
mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil 
pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. “ [Ali ‘Imran:7]
Sering orang terjebak dalam fanatisme golongan/kelompok (Ashobiyah) sehingga 
tetap membela kelompoknya meski Muslim yang lain mengatakan itu salah. Jika 
ummat Islam yang lain menasehatinya, tidak diterimanya hanya karena dianggap 
bukan kelompoknya:
Ka'ab bin 'Iyadh Ra bertanya, "Ya Rasulullah, apabila seorang mencintai 
kaumnya, apakah itu tergolong fanatisme?" Nabi Saw menjawab, "Tidak, fanatisme 
(Ashabiyah) ialah bila seorang mendukung (membantu) kaumnya atas suatu 
kezaliman." (HR. Ahmad)
Bukan termasuk umatku siapa saja yang menyeru orang pada ‘ashabiyah (HR Abu 
Dawud).
Dalam hadits yang lain Nabi mengatakan bahwa orang yang mati dalam keadaan 
ashobiyah (membela kelompoknya, bukan Islam), maka dia masuk neraka.
Dalam Islam dilarang ashobiyah/fanatisme kelompok dan membangga-banggakan 
kelompoknya karena Islam itu adalah satu..
“yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa 
golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan 
mereka.” [Ar Ruum:32]
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi 
bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya 
urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan 
memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” [Al An’aam:159]
Ummat Islam itu adalah satu. Yang harus kita jaga adalah ukhuwah Islamiyyah, 
bukan ukhuwah ashobiyyah:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu 
bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu 
(masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu 
menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu 
telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. 
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat 
petunjuk.” [Ali ‘Imran:103]
Orang-orang yang beriman itu bersaudara:
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara...” [Al Hujuraat:10]
Yang harus kita ikuti adalah Allah. Bukan pemimpin yang menyimpang dari firman 
Allah (Al Qur’an):
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu 
mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya (yang tidak menjalankan Al Qur’an dan 
Hadits) [Al A’raaf:3]
Mengikuti pemimpin yang sesat akan menyeret kita ke neraka:
“Allah berfirman: "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin 
dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk ke dalam 
neraka, dia mengutuk pemimpinnya yang menyesatkannya; sehingga apabila mereka 
masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka 
kepada orang-orang yang masuk terdahulu: "Ya Tuhan kami, mereka telah 
menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat 
ganda dari neraka." Allah berfirman: "Masing-masing mendapat siksaan yang 
berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui." [Al A’raaf:38]
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: 
"Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat kepada Rasul."
Dan mereka berkata;:"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati 
pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari 
jalan yang benar.” [Al Ahzab:66-67]
Mengikuti pemimpin selama sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits adalah satu 
kewajiban.. Namun jika menyimpang dan kita mengikutinya, niscaya muka kita 
dibolak-balikan Allah di dalam neraka.
“Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): 
"Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dan kanan” [Ash Shaaffaat:28]
Ayat di atas menjelaskan pemimpin yang menyesatkan ummatnya dengan berbagai 
dalih yang meski kelihatan masuk, namun menyimpang dari Al Qur’an dan Hadits.
“Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan 
pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.” [Al Qashash:41]  
Hati-hatilah pada pemimpin yang menyeru kita ke neraka. Tetaplah berpegang pada 
Al Qur’an dan Hadits.
Nabi Muhammad bersabda:
Yang aku takuti terhadap umatku ialah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. (HR. 
Abu Dawud)
Yang aku takuti terhadap umatku ada tiga perbuatan, yaitu kesalahan seorang 
ulama, hukum yang zalim, dan hawa nafsu yang diperturutkan. (HR. Asysyihaab)
Celaka atas umatku dari ulama yang buruk. (HR. Al Hakim)
Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang 
Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat. (HR. Al-Baihaqi)
Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah 
bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami)
Seorang ulama yang tanpa amalan seperti lampu membakar dirinya sendiri (Berarti 
amal perbuatan harus sesuai dengan ajaran-ajarannya). (HR. Ad-Dailami)
Hendaknya kita berhati-hati terhadap ulama seperti di atas. Sebaliknya 
hendaknya kita mengikuti para ulama yang ajarannya sesuai dengan Al Qur’an dan 
Hadits.
Referensi:
Hadits Web3 – www.media-islam.or.id
http://www.nabble.com/Seri-055-dan-Seri-057-p17483130.html
http://pcinu-mesir.tripod.com/ilmiah/pusaka/ispustaka/buku07/024.htm



===
Ayo Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits
http://media-islam.or.id
Info untuk Indonesia lebih baik: www.infoindonesia.wordpress.com
Belajar Islam via SMS: REG SI ke 3252 Berhenti ketik:UNREG SI Hanya dari 
Telkomsel


      Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang 
Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke