Assalamualaikum
Wr Wb

 

Bismillahirrohmaanirrohiim



 

QS.
Al-Baqarah (2) ayat 269. yang artinya “Allah menganugrahkan al hikmah
(kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunah) kepada siapa yang Dia
kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah
dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang
dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”.

 

QS.Al-Imran
(3) ayat 7. yang artinya “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an)
kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah
pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun
orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti
sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk
mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan
Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada
ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari isi Tuhan kami." Dan tidak
dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”.

 

Apa
yang membedakan manusia dengan mahluk ciptaan Allah lainnya, pasti orang akan
mengatan, “a k a l”. 

 

Manusia
diberi akal oleh Allah SWT, sedangkan mahluk lain tidak, Itulah sebabnya manusia
dapat mengklaim dirinya sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, bila
dibanding makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya.

 

Dengan
akalnya manusia dapat melakukan banyak hal, khususnya untuk kebaikan dan hal
hal yang berguna bagi sesama, dan sangat disayangkan apabila akal yang telah
Allah berikan kepada kita, hanya 
digunakan untuk “mengakal – akali “ saja.

 

Maka
dari itu untuk dan agar akal yang telah Allah SWT berikan kepada kita tidak
untuk mengakal-akali saja, Allah SWT juga melengkapi pada kita seluruh umat
manusia dibekali dengan yang disebut “ H a t i , untuk mengibangi
kecerdasan akalnya agar kita menjadi manusia yang arif dan bijak sana.

 

Allah
SWT membekali kita dengan hati agar kita sebagai makhluk ciptaan Allah menjadi
yang disebut “sempurna”, kita diberi tuntunan dan petunjuk bagi
umat Islam yang disebut “Al-Qur’anul Karim”

 

Dalam falsafah hidup dan
kehidupan kita sehari hari, Allah SWT banyak memberikan contoh dan sebagai
bahan renungan dimuka bumi ini, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat 
Al-Imran (3)
ayat 191 yang artinya : 

 

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri
atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah
Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami
dari siksa neraka”.

 

Terlalu
banyak contoh contoh yang telah Allah berikan pada kita baik yang ada pada
tubuh kita maupun yang ada diluar kita, yang ada di luar tubuh kita bisa hewan
bisa alam sekitar kita dan lain lain, sejanak mari kita merenung dan
membuktikan akan kebesaran ciptaan Allah SWT yang biasa kita sebut “ KURA
KURA “.

 

Seekor
kura-kura bila hendak berjalan pastilah akan mengeluarkan kepalanya dari dalam
tempurungnya, demikian sebaliknya bila berhenti kura kura akan menarik
kepalanya dan menenggelamkan kedalam tempurungnya.

 

Apa
maksud Allah SWT, menciptakan kura kura dan dan membuat sedemikian rupa, bila
berjalan sang kura kura mengeluarkan kepalanya dari tempurungnya, demikian
sebaliknya bila berhenti sang kura kura menenggelamkan kepalanya dalam
tempurungnya.

 

Setelah
kita hayati SUBHANNALLOH, Allah SWT, ternyata hendak memberikan nilai pelajaran
yang sangat berharga kepada manusia, agar jangan selalu mengandalkan kepala yang
berisikan otak dan akal pikiran saja melainkan, sesekali kita menarik kepala
yang berisikan akal dan pikiran tersebut, serta mendekatkan kedalam tempurung
yang berisikan “hati dan nurani”.

 

Tanpa
kepala kita tidak bisa membangun suatu hasil karya cipta apapun, karena
kepalalah pusat segala kekuatan kreatif imajinatif yang bisa membangun
peradaban dan membantu menusia menghasilkan berbagai macam penemuan.

 

Apalah
jadinya bila kepala yang berisikan otak dan akal berjalan sendirian, semua
hasil pemikiran kita hanya akan menjadi sebatas proses eksplorasi dan
eksploitasi atas keuntungan, kemudahan, kenikmatan diri sendiri tanpa
mempertimbangkan, apakah mengganggu orang lain, atau tidak, akal tidak
terlampau perduli, karena fungsi utamanya adalah untuk membuat hidup kita lebih
mudah dan indah. 

 

Itulah
sebabnya, mengapa banyak orang yang bergaul tanpa memperdulikan moral,
lingkungan, atau kepentingan orang lain, orang lain bagi mereka adalah lahan
untuk dieksploitasi, dan dibuat sebagai kelinci percobaan dan atau sebagai sapi
perahan untuk kepentingan pribadi dan atau kepentingan kelompoknya. 

 

Demikian
juga apa bila hati berjalan sendiri tanpa otak, tanpa akal, manusia tersebut
akan menjadi orang baik, akan tetapi kurang produktif.

 

Jadi
jelaslah bahwa bila seseorang berjalan hanya menggunakan akalnya saja, maka
orang tersebut akan menjadi orang kompetitif yang sangat destruktif atau
senantiasa melakukan gerakan gerakan yang bertentangan dengan syari’at. 

 

Lain
halnya apa bila seseorang yang berjalan dengan menggunakan akal dan hati dalam
sebuah perpaduan yang harmoni, akal dan hati itu adalah seperti dua sisi keping
mata uang yang tidak bisa dipisahkan, dan dengan akal dan hati seseorang
tersebut dapat dipastikan menjadi orang yang berprestasi tinggi yang selalu 
menjunjung
tinggi nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.

 

Pantaslah bila Allah SWT
berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2) ayat 10. yang artnya “Dalam hati mereka
ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang
pedih, disebabkan mereka berdusta”.

 

Karena
hanya dengan hati nuranilah manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana
yang tidak baik, mana yang harus diucapkan dan mana yang harus diam, mana yang
harus dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan.

 

QS. Al-Anfal (8) ayat 49. yang artinya “(Ingatlah), ketika
orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata:
"Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya". (Allah
berfirman): "Barang siapa yang tawakal kepada Allah, maka sesungguhnya
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".

 

QS. Muhammad (47) ayat 29. Atau apakah orang-orang yang ada
penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian
mereka?

 

Maka
hanya dengan akal dan hatilah manusia dapat memetik hikmah dan pelajaran setiap
apa apa yang ia lihat , ia rasakan dan ia alami, serta yang akan ia lakukan,
sebagaimana firman Allah yang telah saya sebutkan dalam QS, dan ayat tersebut
diatas diawal pembukaan.

 

Demikianlah
sebuah pelajaran dan nasehat dari seekor kura kura, makhluk ciptaan Allah yang
selama ini kita anggap tiada berguna, akan tetapi Subhannalloh, dengan falsafah
kura kura, kita dapat memetik hikmah yang sangat luar biasa.  

 

Dan
semoga kita menjadi manusia yang berguna.

 

 

Wassalammualaikum
Wr Wb

 

 

 

Mujiarto
Karuk






      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke