Dari milis sebelah:

Keteladanan (*uswah*, *qudwah*) barangkali merupakan salah satu barang
berharga yang makin langka bagi umat saat ini. Setelah Rasulullah saw. yang
dinyatakan sebagai teladan terbaik (*uswah hasanah*), disusul generasi para
Sahabat yang disebut Baginda Nabi saw. laksana bintang-gemintang (*ka
an-nujûm*), disusul lagi oleh generasi *tâbi’în* dan kemudian generasi *tâbi’
at-tabi’în* yang masih masuk dalam kategori generasi terbaik (*khayr qûrûn*),
generasi umat saat ini semakin kehilangan orang-orang yang layak diteladani.
Ulama memang bejibun. Para ustad begitu melimpah. Para da’i dan mubalig
makin lama makin tak terhitung. Namun, tentu tidak semua ulama, ustad, da’i
dan mubalig sukses menjadi teladan bagi umatnya; baik dalam hal kualitas
keimanan, ketakwaan, akhlakul karimah, kezuhudan, kewaraan, ketawadukan
maupun dalam ketekunannya dalam ibadah; dalam keikhlasan, kesungguhan,
kesabaran, ketabahan maupun dalam keistiqamahannya di medan dakwah; dalam
hal tilawah al-Quran, salat berjamaah, salat malam, bersedekah maupun dalam
menolong sesama; dalam hal berkata benar, menepati janji maupun menjaga
amanah; dalam hal menghormati yang lebih tua, menghargai yang lebih muda,
senantiasa berbaik sangka maupun dalam menjauhi buruk sangka; dll.

Padahal tidak diragukan lagi, para ulama, ustad, da’i dan mubaliglah yang
paling banyak dan paling sering bicara tentang semua itu. Ya, umat sering
menyaksikan semua itu meluncur dari mulut-mulut mereka, tetapi tidak selalu
semua itu tercermin dalam perilaku mereka. Tidak jarang, ada ulama, ustad,
da’i dan mubalig meminta agar jamaahnya selalu taat kepada Allah, ikhlas dan
sabar dalam menghadapi ujian hidup. Namun, mereka sendiri acapkali berharap
’amplop’ habis ceramah, dan ’lemas’ saat yang ia terima ternyata tak
seberapa. Istri dan anak gadis mereka pun tidak menutup aurat yang berarti
tidak taat kepada Allah Swt. Mereka juga tidak jarang berkeluh-kesah dalam
menghadapi kesulitan hidup.

Di antara mereka ada yang sering mendorong *mad-û*-nya agar selalu hidup
wara’ dan zuhud. Namun, mereka sendiri cenderung ’cinta dunia’ dan
menganggap enteng dosa. Mereka sering menganjurkan para *mustami’*-nya agar
banyak bersedekah. Namun, mereka sendiri selalu berharap diberi sedekah,
karena merasa sebagai pejuang di jalan Allah Swt. Tidak jarang pula, mereka
memotivasi jamaahnya agar sering shalat malam, banyak membaca al-Quran dan
melakukan ibadah-ibadah sunnah. Namun, mereka sendiri shalat subuhnya sering
terlambat, baca al-Qurannya jarang-jarang dan ibadah-ibadah wajibnya pun
sering terlalaikan.

Walhasil, memang banyak di antara mereka yang sukses menjadi orator,
motivator atau tutor. Namun, banyak pula yang kemudian gagal menjadi
inspirator, motor dan terutama teladan yang bisa menggerakkan umat agar
menjadi yang terbaik (*khayr ummah*).

Terkait dengan semua ini, hendaknya setiap diri pengemban dakwah takut
dengan celaan dan ancaman Allah Swt. (yang artinya): *Hai orang-orang yang
beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan? Amat besar
kebencian di sisi Allah karena kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan*!
(QS ash-Shaff [61]: 2-3).

  *****

Dalam kitabnya, *Haml ad-Da’wah Wâjibât wa Shifât*, Mahmud A. Lathif
Uwaidhah menegaskan pentingnya keteladanan dan contoh (*qudwah wa al-mitsâl*)
dari para pengemban dakwah. Mereka harus menjadi ’Islam yang berjalan’.
Mereka haruslah menjadi pionir yang senantiasa berbicara dengan bahasa
Islam, berperilaku dengan perilaku Islam, dan berakhlak dengan akhlak Islam.
Meski semua itu sebetulnya harus direpresentasikan oleh kaum Muslim secara
umum, pada diri para pengemban dakwah semua itu harusnya lebih dominan dan
menonjol; bukan sama, apalagi lebih buruk keadaannya daripada kaum Muslim
secara umum. Sebab, jika demikian tentu mereka tak pantas disebut pendakwah.
Mereka malah lebih layak untuk didakwahi.

Seorang guru idealnya lebih pintar daripada muridnya. Seorang pimpinan
harusnya lebih memiliki keunggulan atas yang dipimpinnya. Seorang komandan
sejatinya memiliki kelebihan ilmu dan pengalaman daripada bawahannya.
Seorang ulama, ustad, da’i atau mubalig idealnya tentu lebih beriman dan
bertakwa kepada Allah Swt.; lebih berilmu dan lebih banyak amal salihnya;
lebih ikhlas dan sabar; lebih banyak bersedekah dan berkorban; lebih amanah,
jujur dan menepati janji; lebih banyak membaca al-Quran dan menunaikan
ibadah-ibadah sunnah, dll; dibandingkan dengan obyek dakwahnya. Itulah yang
selalu tercermin dalam diri Baginda Rasulullah saw., para Sahabat ra., dan
generasi *shalafush-shalih* terdahulu. Perilaku mereka selalu merupakan
perwujudan dari seruan dakwah mereka. Tindakan mereka tak pernah mendustakan
ucapan mereka; selalu seiring dan sejalan. Sebab, mereka tentu sangat
memahami, bahwa berdusta adalah dosa dan merupakan salah satu sifat orang
munafik. Mereka sangat malu dan takut dengan sindiran sekaligus ancaman
Allah Swt. (yang artinya): *Mengapa kalian menyuruh manusia berbuat
kebaikan, tetapi kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian
membaca al-Kitab? Tidakkah kalian berakal?* (QS al-Baqarah [2]: 44).

Mengutip Ibn Abbas dan Ibn Juraih, dalam kitab tafsirnya, Imam al-Qurthubi
menyatakan, ayat ini terkait dengan perilaku para ulama Yahudi di Madinah.
Mereka menyuruh umatnya untuk mengikuti mereka dalam mengamalkan Taurat,
tetapi mereka sendiri mengingkarinya, terutama ketika mereka mengingkari
sifat-sifat Muhammad saw. yang digambarkan dalam Taurat itu. Mereka selalu
mendorong umatnya untuk senantiasa menaati Allah Swt., namun mereka sendiri
sering terjatuh ke dalam kemaksiatan kepada-Nya. Mereka pun sering
memerintahkan umatnya bersedekah, tetapi mereka sendiri sangat bakhil
terhadap harta. Terkait dengan perilaku demikian, Abu Umamah menuturkan
bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, *“Sesungguhnya orang-orang yang biasa
menyuruh manusia berbuat baik, tetapi mereka melupakan diri mereka sendiri
(tidak melakukannya), akan dilemparkan ke dalam Neraka Jahanam.* *Mereka
lalu ditanya, ’Siapa kalian?’ Mereka menjawab, ’Kami adalah orang-orang yang
saat di dunia banyak menyuruh manusia berbuat baik, tetapi kami sendiri
tidak melakukannya.’”* (Al-Qurthubi, *Tafsîr al-Qurthubi*, I/365).
*Nastaghfirullâh wa natûbu ilayh*…!

Sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2009/07/04/keteladanan/

--
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar;
merekalah orang-orang yang beruntung."

(TQS: Surat ALI IMRAN, 104)




------------------------------------

===
Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits? Silahkan klik:
http://www.media-islam.or.id

Ingin belajar Islam via milis? Kirim email ke 
[email protected]

Dapatkan buku-buku Islami di DemiMasa Online Bookstore 
http://www.demimasa.co.idYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke