http://www.republik a.co.id/berita/ 66181/Metode_ Al_Bayan_ Terobosan_ 
Baru_dalam_ Belajar_Baca_ Alquran


Metode Al-Bayan, Terobosan Baru dalam Belajar Baca Alquran

JAKARTA--Belajar membaca Alquran sering kali harus berhadapan dengan rasa malu, 
malas dan gengsi, belum lagi panjangnya waktu pengajaran dan tingkat kesulitan 
metode pengajaran yang sering tak teratasi oleh sang guru, semua ini merupakan 
kendala yang selama ini dihadapi oleh mereka yang ingin bisa membaca Alquran 
dengan baik dan benar. Berbagai metode telah ditawarkan guna menghilangkan 
stigma tersebut. KH Otong Surasman adalah salah satu Sarjana Alquran yang 
menawarkan terobosan baru dalam belajar membaca Alquran.

Berangkat dari hasil penelitiannya saat menempuh kuliah pascasarjana di 
Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta, Otong berhasil menemukan sebuah 
cara belajar baca Alquran dengan metode ilmiah dan sistematis.

Metode yang dia sebut Al-Bayan ini memungkinkan pelajar dengan cepat dapat baca 
Alquran. Jika metode lain membutuhkan waktu paling cepat setahun, metode 
Al-Bayan mampu mempersingkat waktu menjadi tiga bulan saja. "Dengan rentang 
pengajaran antara 16-18 pertemuan, siswa bisa dengan lancar baca Alquran, 
termasuk pemahamam ilmu tajwid yang paling pokok," ujar dia kepada Republika 
Online di Jakarta, Jumat (31/7).

Menurut Otong, penguasaan ilmu tajwid merupakan suatu keniscayaan untuk dapat 
membaca  Alquran dengan baik dan benar. Hal ini, kata dia, berdasarkan Firman 
Allah yang artinya, "Bacalah Alquran itu dengan tartil (perlahan-lahan) ." 
Jadi, Alquran harus dibaca dengan baik dan benar, panjang dan pendeknya, jelas 
dan dengungnya serta perenungan isi kandungannya. Otong mengakui kebanyakan 
metode selama ini belum memaknai hal ini secara utuh. Membaca Alquran bukanlah 
asal bunyi tapi ada aturannya. Bagi beberapa metode, masih menurut dia, 
menganggap tajwid sebagai kendala siswa dalam mempelajari Alquran dengan cepat, 
karenanya mereka cenderung tidak menganggap penting arti tajwid ini. Metode 
Al-Bayan menghadirkan ilmu tajwid dengan sangat mudah dan praktis, sehingga 
tidak akan menggagu kecepatan siswa dalam kemampuannya baca Alquran.

Hal terpenting yang diajarkan metode Al-Bayan, masyarakat dapat mengetahui 
riwayat tata baca Alquran. Selama ini, kata dia, pengenalan riwayat baca 
Alquran belum begitu mendalam. Banyak metode malah terkesan mencampuraduk 
riwayat pembacaan Alquran. Metode Al-Bayan secara jelas mengacu pada riwayat 
Imam Hafs 'an 'Ashim Tariq Asy-Syatibiyaah di mana setiap materi yang diberikan 
berdasarkan contoh-contoh langsung dari Alquran. "Jadi tak heran, seusai 
diberikan materi, murid dapat dengan lancar membaca Alquran," tegasnya.

Kelebihan lain, metode Al-Bayan mengacu pada mushaf rasm al-Ustmani, banyak 
kemudahan yang dinilai ustadz Otong pada mushaf ini, dengan hanya melihat tanda 
saja dapat diketahui mana yang harus dibaca panjang dan mana yang harus dibaca 
pendek atau mana yang harus dibaca dengung atau jelas. "Intinya, metode ini 
mempermudah murid untuk mencerna apa yang diberikan. Mengingat setelah bisa 
membaca, banyak pr yang harus dikerjakan seperti tafsir Alquran misalnya," 
tukas dia.

Selama 14 tahun, metode Al-Bayan terus mengalami perkembangan. Pertama kali 
muncul diberi nama "Kunci Prakatis Membaca Alquran dengan Baik dan Benar". 
Metode ini diajarkan pertama kali di TKA/TPA. Kemudian berubah nama menjadi 
"Kunci Prkatis Membaca Alquran dengan Baik dan Benar, Bacaan Alquran Riwayat 
Hafsh 'an 'Ashim Thariq Syathibiyyah." Metode ini mulai diterapkan pada jamaah 
ibu-ibu dan remaja putri di Bekasi. Otong juga sempat mengajarkan metode ini 
melalui salah satu Radio di Bekasi dan pembelajaran interakatif melalui telepon 
dengan dipandu secara langsung oleh Otong. Waktu berselang, namanya diubah 
menjadi "Metode Insani Kunci Praktis Membaca Alquran Baik dan Benar" dan 
terakhir diberi nama "Metode Al-Bayan."

Meskipun metode ini belum menyebar ke seluruh Indonesia, metode yang terus 
dikembangkan Otong ini telah dikenal di beberapa wilayah Jawa, Sumatera dan 
Sulawesi. Berbagai seminar dan pengadaan pengajian pun rutin dilakukan Otong 
guna memasyarakatkan metode ini. Karena menurut Otong, tak ada kata terlambat 
untuk terus mempelajari Alquran. Sekarang, bukan hanya umat Islam yang menggali 
Alquran, masyarakat Barat juga sudah memulai untuk terus mengkaji kandungan 
Alquran. Maka dari itu, dirinya berharap dengan memulai belajar membaca dengan 
baik dan benar menjadi awal guna mendalami rahasia demi rahasia Alquran. cr2/taq


















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke