"JIKA ada agama yang sanggup memberikan kepuasan intelektual dan
spiritual kepada saya, agama itu adalah agama Islam. Saya berani
mengatakan demikian karena saya punya pengalaman memeluk banyak agama
dan bahkan pernah tidak beragama, dalam pengertian hanya percaya pada
adanya Tuhan Yang Mahakuasa!" ujar penyair Rendra, Senin malam (17/9)
membuka percakapannya dengan penulis di Hotel Setiabudi, Jln. Setiabudhi
Bandung. 

Malam itu Rendra yang terlahir dengan nama Willibrordus Surendra Broto
Rendra tampak berseri-seri, sehat, dan awet muda. Daya humornya cukup
tinggi. Ia datang ke Bandung atas undangan Fakultas Pendidikan Bahasa
dan Seni (FPBS) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung bekerja sama dengan HU Pikiran Rakyat
Bandung untuk sebuah acara diskusi dan baca puisi, yang digelar Selasa
pagi (18/9) di universitas tersebut.

"Islam itu agama yang sempurna. Secara teologis kepuasaan saya terhadap
agama Islam itu; saya temukan dalam surah Al-Ikhlas. 

Apa sebab saya berkata demikian? Sebab hanya agama Islamlah yang dengan
tegas mengatakan bahwa Allah SWT itu Maha Esa tidak beranak dan tidak
pula diperanakkan. 

Keyakinan saya tentang ini tidak bisa ditawar lagi. Saya ikhlas memeluk
agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Saya bersyukur kepada
Allah SWT yang telah memberikan hidayah, rahmat, dan karunia-Nya kepada
saya untuk memeluk agama Islam," tutur Rendra, yang pada bulan Oktober
2007 mendatang bakal menerima gelar doktor honoris causa (HC) dari
Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta untuk bidang sastra. 

Menyinggung soal sastra, dalam hal ini kesusastraan, Rendra mengatakan
bahwa kesusastraan adalah ekspresi yang mengungkapkan rahasia liku-liku
pikiran, batin, dan naluri manusia. Sejak Solon berkuasa di Athena,
beberapa abad sebelum Tarikh Masehi, orang Yunani purba menganggap bahwa
menguasai pemahaman kesusastraan berarti memiliki keunggulan pemahaman
manusia di dalam percaturan kepentingan dengan bangsa-bangsa lain. 

"Kesadaran pendidikan bangsa seperti itu diadopsi oleh orang-orang
Romawi dan seterusnya oleh orang-orang Eropa di zaman awal pembentukan
kerajaan-kerajaan di Eropa. Bahkan, sampai saat ini dalam sistem
pendidikan Liberal Arts di dunia Anglo Saxon, kesusastraan menjadi inti
mata pelajaran," jelas penulis lakon "Panembahan Reso," sebuah lakon
drama yang berbicara tentang suksesi kekuasaan. Lakon ini pada zaman
Orde Baru nyaris tidak mendapat izin untuk dipentaskan, karena dinilai
menyinggung kekuasaan Presiden Soeharto, yang tumbang oleh gerakan
reformasi pada tahun 1998 lalu. 

Di Tiongkok, kata Rendra lebih lanjut, sejak zaman dinasti Han di abad
kedua sebelum Tarikh Masehi, kesusastraan menjadi sumber pengetahuan
bangsa yang utama. Recruitment untuk birokrasi kerajaan diselenggarakan
melewati ujian pengetahuan para calon dalam bidang kesusastraan.
Kemudian tradisi ini diadopsi oleh Jepang dan Korea sejak zaman purba.

"Nah, bangsa-bangsa yang mengalami pendidikan kesusasteraan di dalam
pendidikan formal dan elementer, ternyata selalu unggul di dalam
percaturan kepentingan di dunia. Bangsa kita memang sudah mampu
melahirkan karya sastra tulis yang unggul sejak abad ke-10 Masehi.
Berarti lebih dulu dari beberapa bangsa di Eropa. Sayangnya, pendekatan
pemahaman ilmiah-analitis terhadap karya-karya kesusastraan terlambat
dikenal oleh bangsa kita. Sedangkan transfer budaya pemahaman karya
sastra secara modern itu terbata-bata, karena sistem penjajahan. Bangsa
kita dijajah oleh pemerintah Hindia Belanda yang tidak peduli mendirikan
pendidikan tinggi untuk ilmu sastra. Apa sebab? Karena mereka takut
bangsa yang tengah dijajahnya itu menjadi bangsa yang pintar dalam
berbagai bidang kehidupan," jelas Rendra yang pada 1964-1967 tinggal di
Amerika Serikat untuk belajar di American Academy of Dramatical Arts di
New York, sebuah sekolah drama terkenal hingga kini.

Sepulangnya dari Amerika Serikat, Rendra mendirikan Bengkel Teater di
Yogyakarta. Kelompok teater yang dikelolanya ini menjadi terkenal di
Indonesia dan bahkan ke mancanegara, karena apa yang dikreasinya pada
saat itu memunculkan idiom-idiom baru seperti yang diperlihatkannya
dalam pertunjukan teater "Bip-Bop" yang menggemparkan di awal tahun
1970-an. 

Di bawah ini petikan percakapan "PR" dengan Rendra, baik mengenai
ketertarikannya terhadap agama Islam, sastra, maupun pendidikan seni.
Selain itu, saat ini ia telah menyiapkan kumpulan puisi terbarunya yang
diberi judul "Penabur Benih".

Sejak kapan Anda tertarik dengan agama Islam?

Sejak saya belajar drama di Amerika Serikat. Saya mengenal agama Islam
pada awalnya dari leaflet yang dibagi-bagikan oleh orang-orang black
Moslem. Saat itu saya baca surah Al-Ikhlas yang menggetarkan hati saya
secara teologis. Iman saya terguncang saat membaca surah tersebut.
Kegelisahan saya memuncak apalagi setelah saya membaca surah lainnya
seperti surah Al-Ma'un.

Surah Al-Ma'un?

Ya. Surah ini sungguh luar biasa, tidak hanya mengungkap soal hubungan
manusia dengan Tuhannya yang diekspresikan dalam ibadah salat, tetapi
juga berbicara soal pentingnya memerhatikan anak-anak yatim dan orang
miskin. Orang yang salat pun akan celaka bukan hanya karena ia lalai
dengan salatnya, tetapi juga karena ia menghardik anak yatim dan
melupakan orang-orang miskin. 

Dalam konteks yang demikian itu manusia tidak hanya membangun hubungan
dirinya dengan Tuhannya, tetapi juga dengan sesama manusia.

Tentu saja surah-surah yang saya baca itu bukan dalam huruf Arab, tetapi
dalam terjemahan bahasa Inggris. Dengan adanya keyakinan bahwa Allah SWT
itu Esa, sebagaimana yang diungkap dalam surah Al-Ikhlas, seketika itu
saya meragukan agama yang saya anut dan memang sejak kanak-kanak saya
sudah meragukan agama yang saya anut. Jadi, dengan keraguan semacam itu
sesungguhnya saya tidak beragama, namun demikian saya tetap yakin akan
adanya Tuhan Yang Mahakuasa. Itulah yang saya maksud dengan tidak
beragama itu, sebelum saya memeluk Islam, meski getarnya sudah
mengguncang hati saya. Dalam keadaan kekosongan spiritual itulah saya
masih sempat memeluk agama lainnya di luar agama Islam dan Kristen
Katolik. Saya pernah memeluk agama Hindu dan Buddha, tetapi batin saya
tetap resah, tidak terpuaskan. 

Begitu saya mantap dengan Islam, alhamdulillah jiwa saya semakin tenang.
Dalam konteks inilah saya menemukan kepuasaan baik secara intelektual
maupun secara spiritual.

Surah lainnya yang menggetarkan Anda ketika di Amerika, surah apa?

Surah Al-'Asr, surah ke-103. Dalam surah tersebut kita dihadapkan pada
soal pengelolaan waktu. Orang-orang yang merugi adalah orang yang tidak
bisa mengelola waktu dalam hidupnya di jalan kebaikan. Jalan kebaikan
saja tidak cukup. Ia ternyata harus beriman, beramal saleh, mengerjakan
kebajikan, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati
untuk kesabaran. 

Jadi, lewat surah-surah yang saya sebutkan tadi, sekali lagi saya
tegaskan bahwa Islam datang kepada saya lewat pemahaman intelektual dan
spiritual. 

Pertanyaan-pertanyaan filsafat yang saya ajukan selama ini terjawab
sudah. Subhanallah, saya tidak menyangka bisa sampai pada kenikmatan
hidup seperti sekarang ini. Sekarang masalahnya adalah tinggal bagaimana
saya mengucap rasa syukur saya kepada Allah SWT. Ini persoalan lainnya
yang harus saya aktualisasikan.

Apakah kegelisahan semacam itu terekspresikan dalam karya sastra yang
Anda tulis?

Ya. Pengembaraan intelektual dan spiritual yang saya rasakan hingga saya
puas dengan agama Islam itu, saya ekspresikan dalam sebuah puisi yang
saya beri judul "Suto Mencari Bapa". Puisi itu merupakan biografi saya.
Dalam larik penutup puisi tersebut saya cantumkan surah Al-Ikhlas.

Lepas dari soal agama Islam. Apa yang Anda lihat atas menurunnya minat
masyarakat dalam memperdalam seni tradisional di perguruan-perguruan
tinggi seni saat ini?

Dari sisi ekonomi hal itu sangat mudah kita lihat. Sekolah tinggi seni
kita hingga saat ini, diakui atau tidak, belum bisa menghasilkan uang.
Artinya, bila seseorang lulus sekolah teater atau tari, ketika terjun ke
lapangan ia belum bisa mendayagunakan apa yang dikuasainya itu bisa jadi
uang. Biaya produksi itu lebih besar daripada pendapatan yang dihasilkan
dari pementasan.

Nah, berkait dengan itu ada baiknya sekolah-sekolah tinggi seni tersebut
bila ingin tetap diminati masyarakat -- maka pemerintah harus
menggratiskan pendidikan seni bagi masyarakat yang meminatinya. Bahkan,
kalau mungkin kasih beasiswa hingga melanjutkan ke jenjang lebih tinggi
bila orang yang berminat memperdalam pendidikan seni tersebut hingga ke
luar negeri. Bengkel Teater tidak memungut biaya sepeser pun bagi mereka
yang ingin memperdalam ilmu teater di Bengkel Teater. Seharusnya sekolah
tinggi seni itu seperti itu.

Selain itu, tentu saja dewasa ini tantangan di dunia hiburan cukup
beragam, ketat, dan masing-masing memperlihatkan daya pesonanya. Orang
menggeluti seni tradisi dengan demikian harus mampu melahirkan
konsep-konsep seni baru sehingga apa yang dikreasinya itu bisa tetap
menawarkan daya pesona untuk diapresiasi. Di Jawa misalnya saat ini, apa
yang dikreasi oleh Slamet Gendono dengan pertunjukan wayang suket itu,
merupakan hasil dari daya kreasi Jawa Baru. Jadi, daya kreatif semacam
itulah yang dibutuhkan saat ini agar orang-orang tetap tertarik dengan
seni tradisi yang terus memperbarui darinya dari zaman ke zaman. (Soni
Farid Maulana)***

 

 

http://swaramuslim.net/islam/more.php?id=5693_0_4_0_M48

 

The information contained in this email (including any attachments) is
strictly intended for the use of the person(s) for whom it is addressed,
as it may  be confidential and contain legally privileged information.
If you are not the intended recipient you are hereby notified that any
perusal, use, distribution, copying or disclosure is strictly
prohibited. The views and opinions expressed herewith are the author's
and may not reflect the views and opinions of Rumah Sakit Pondok Indah
Group qq. PT Binara Guna Mediktama and we disclaim all liability for any
such statements. If you have received this email in error, please
immediately advise us by return mail and delete the email document. 

Rumah Sakit Pondok Indah Group qq. PT Binara Guna Mediktama accept no
liability for any loss or damage arising from the use of this E-Mail or
attachments.

 

 

 

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke