Siapakah Ulil Amri Minkum Yang Sebenarnya?

Oleh Ihsan Tandjung.

Minggu, 12/07/2009 14:34 WIB

Di dalam Al-Qur’an terdapat sebuah ayat yang sangat sering dikutip oleh para
politisi Partai Islam terutama di musim kampanye menjelang Pemilu.

Namun yang kita sayangkan ialah umumnya mereka mengutip ayat tersebut secara
tidak lengkap alias sepotong saja. Lengkapnya ayat tersebut berbunyi sebagai
berikut:



íóÇ ÃóíõøåóÇ ÇáóøÐöíäó ÂóãóäõæÇ ÃóØöíÚõæÇ Çááóøåó æóÃóØöíÚõæÇ ÇáÑóøÓõæáó
æóÃõæáöí ÇáúÃóãúÑö ãöäúßõãú

 ÝóÅöäú ÊóäóÇÒóÚúÊõãú Ýöí ÔóíúÁò ÝóÑõÏõøæåõ Åöáóì Çááóøåö æóÇáÑóøÓõæáö

Åöäú ßõäúÊõãú ÊõÄúãöäõæäó ÈöÇááóøåö æóÇáúíóæúãö ÇáúÂóÎöÑö Ðóáößó ÎóíúÑñ
æóÃóÍúÓóäõ ÊóÃúæöíáðÇ



”*Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya),
dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul
(sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.**” (QS
An-Nisa ayat 59)*



Mengapa ayat ini begitu populer dikumandangkan para jurkam di musim
kampanye? Karena di dalamnya terkandung perintah Allah agar ummat taat
kepada *Ulil Amri Minkum* (para pemimpin di antara kalian atau para pemimpin
di antara orang-orang beriman). Sedangkan para politisi partai tadi meyakini
jika diri mereka terpilih menjadi wakil rakyat atau pemimpin sosial berarti
mereka dengan segera akan diperlakukan sebagai bagian dari *Ulil Amri
Minkum. *Dan hal itu akan menyebabkan mereka memiliki keistimewaan untuk
ditaati oleh para konstituen. Selain orang-orang yang sibuk menghamba kepada
Allah semata, mana ada manusia yang tidak suka dirinya mendapatkan ketaatan
ummat?  Itulah sebabnya ayat ini sering dikutip di musim kampanye. Namun
sayang, mereka umumnya hanya mengutip sebaian saja yaitu:



íóÇ ÃóíõøåóÇ ÇáóøÐöíäó ÂóãóäõæÇ ÃóØöíÚõæÇ Çááóøåó æóÃóØöíÚõæÇ ÇáÑóøÓõæáó
æóÃõæáöí ÇáúÃóãúÑö ãöäúßõã



”*Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya),
dan ulil amri di antara kamu.**” (QS An-Nisa ayat 59)*



Mereka biasanya hanya membacakan ayat tersebut hingga kata-kata *Ulil Amri
Minkum. *Bagian sesudahnya jarang dikutip. Padahal justru bagian selanjutnya
yang sangat penting. Mengapa? Karena justru bagian itulah yang menjelaskan
ciri-ciri utama *Ulil Amri Minkum*. Bagian itulah yang menjadikan kita
memahami siapa yang sebenarnya *Ulil Amri Minkum* dan siapa yang bukan.
Bagian itulah yang akan menentukan apakah fulan-fulan yang berkampanye
tersebut pantas atau tidak memperoleh ketaatan ummat.



Dalam bagian selanjutnya Allah berfirman:



ÝóÅöäú ÊóäóÇÒóÚúÊõãú Ýöí ÔóíúÁò ÝóÑõÏõøæåõ Åöáóì Çááóøåö æóÇáÑóøÓõæáö

Åöäú ßõäúÊõãú ÊõÄúãöäõæäó ÈöÇááóøåö æóÇáúíóæúãö ÇáúÂóÎöÑö Ðóáößó ÎóíúÑñ
æóÃóÍúÓóäõ ÊóÃúæöíáðÇ



”*Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah
ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar
beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama
(bagimu) dan lebih baik akibatnya.**” (QS An-Nisa ayat 59)*



Allah menjelaskan bahwa ciri-ciri utama *Ulil Amri Minkum* yang sebenarnya
ialah komitmen untuk selalu mengembalikan segenap urusan yang
diperselisihkan kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya). Para
pemimpin sejati di antara orang-orang beriman tidak mungkin akan rela
menyelesaikan berbagai urusan kepada selain Al-Qur’an dan Sunnah Ar-Rasul.
Sebab mereka sangat faham dan meyakini pesan Allah:



íóÇ ÃóíõøåóÇ ÇáóøÐöíäó ÂóãóäõæÇ áóÇ ÊõÞóÏöøãõæÇ Èóíúäó íóÏóíö Çááóøåö

 æóÑóÓõæáöåö æóÇÊóøÞõæÇ Çááóøåó Åöäóø Çááóøåó ÓóãöíÚñ Úóáöíãñ



”*Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan
Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui.**” (QS Al-Hujurat ayat 1)*



Sehingga kita jumpai dalam catatan sejarah bagaimana seorang Khalifah Umar
bin Khattab *radhiyallahu ’anhu *di masa paceklik mengeluarkan sebuah
kebijakan *ijtihadi *berupa larangan bagi kaum wanita beriman untuk meminta
mahar yang memberatkan kaum pria beriman yang mau menikah. Tiba-tiba seorang
wanita beriman mengangkat suaranya mengkritik kebijakan Khalifah seraya
mengutip firman Allah yang mengizinkan kaum mu’minat untuk menentukan mahar
sesuka hati mereka. Maka Amirul Mu’minin langsung ber-*istighfar* dan
berkata: ”*Wanita itu benar dan Umar salah. Maka dengan ini kebijakan
tersebut saya cabut kembali...!”* *Subhanallah*, demikianlah komitmen para
pendahulu kita dalam hal mentaati Allah dan RasulNya dalam segenap perkara
yang diperselisihkan.



Adapun dalam kehidupan kita dewasa ini segenap sistem hidup yang
diberlakukan di berbagai negara –baik negara Muslim maupun Kafir- ialah
mengembalikan segenap urusan yang diperselisihkan kepada selain Allah (Al
Qur'an) dan Rasul (sunnahnya). Tidak kita jumpai satupun tatanan kehidupan
modern yang jelas-jelas menyebutkan bahwa ideologi yang diberlakukan ialah
ideologi Islam yang intinya ialah mendahulukan berbagai ketetapan Allah dan
RasulNya sebelum yang lainnya. Malah sebaliknya, kita temukan semua negara
modern yang eksis dewasa ini memiliki konstitusi buatan manusia, selain
Al-Qur’an dan AsSunnah An-Nabawiyyah, yang menjadi rujukan utama kehidupan
berbangsa dan bernegara. Seolah manusia mampu merumuskan konstitusi yang
lebih baik dan lebih benar daripada sumber utama konstitusi yang datang dari
Allah *subhaanahu wa ta’aala.*



Bila demikian keadaannya, berarti tidak ada satupun pemimpin negeri di
negara manapun yang ada dewasa ini layak disebut sebagai *Ulil Amri
Minkum *yang
sebenarnya. Pantaslah bilamana mereka dijuluki sebagai *Mulkan
Jabbriyyan*sebagaimana Nabi
*shollallahu ’alaih wa sallam* sebutkan dalam hadits beliau. Mulkan
Jabbriyyan artinya para penguasa yang memaksakan kehendaknya seraya tentunya
mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya.  Adapun masyarakat luas yang
mentaati mereka berarti telah menjadikan para pemimpin tersebut sebagai para
*Thoghut*, yaitu fihak selain Allah yang memiliki sedikit otoritas namun
berlaku melampaui batas sehingga menuntut ketaatan ummat sebagaimana
layaknya mentaati Allah. *Na’udzubillahi min dzaalika*.



Keadaan ini mengingatkan kita akan peringatan Allah mengenai kaum munafik
yang mengaku beriman namun tidak kunjung meninggalkan ketaatan kepada
Thoghut. Padahal Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk meninggalkan
para Thoghut bila benar imannya.



Ãóáóãú ÊóÑó Åöáóì ÇáóøÐöíäó íóÒúÚõãõæäó Ãóäóøåõãú ÂóãóäõæÇ ÈöãóÇ ÃõäúÒöáó
Åöáóíúßó

 æóãóÇ ÃõäúÒöáó ãöäú ÞóÈúáößó íõÑöíÏõæäó Ãóäú íóÊóÍóÇßóãõæÇ Åöáóì
ÇáØóøÇÛõæÊö

 æóÞóÏú ÃõãöÑõæÇ Ãóäú íóßúÝõÑõæÇ Èöåö æóíõÑöíÏõ ÇáÔóøíúØóÇäõ Ãóäú
íõÖöáóøåõãú ÖóáóÇáðÇ ÈóÚöíÏðÇ



”*Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah
beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan
sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah
diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka
(dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya**.” (QS An-Nisa ayat 60)*



Sungguh dalam kelak nanti di neraka penyesalan mereka yang telah mentaati
para pembesar dan pemimpin yang tidak menjadikan Allah dan RasulNya sebagai
tempat kembali dalam menyelesaikan segenap perkara kehidupan.

íóæúãó ÊõÞóáóøÈõ æõÌõæåõåõãú Ýöí ÇáäóøÇÑö íóÞõæáõæäó íóÇ áóíúÊóäóÇ ÃóØóÚúäóÇ
Çááóøåó æóÃóØóÚúäóÇ ÇáÑóøÓõæáóÇ

 æóÞóÇáõæÇ ÑóÈóøäóÇ ÅöäóøÇ ÃóØóÚúäóÇ ÓóÇÏóÊóäóÇ æóßõÈóÑóÇÁóäóÇ ÝóÃóÖóáõøæäóÇ
ÇáÓóøÈöíáóÇ

 ÑóÈóøäóÇ ÂóÊöåöãú ÖöÚúÝóíúäö ãöäó ÇáúÚóÐóÇÈö æóÇáúÚóäúåõãú áóÚúäðÇ ßóÈöíÑðÇ





”*Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka
berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami ta`at kepada Allah dan ta`at
(pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami
telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka
menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada
mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar**".
(QS Al-Ahzab ayat 66-68)*



 *
http://eramuslim.com/suara-langit/penetrasi-ideologi/siapakah-ulil-amri-minkum-yang-sebenarnya.htm
*


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

===
Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits? Silahkan klik:
http://www.media-islam.or.id

Ingin belajar Islam via milis? Kirim email ke 
[email protected]

Bagi yang ingin membantu dakwah milis Syiar Islam dan situs Media Islam bisa 
transfer ke: Rekening BCA Wisma GKBI 0061947069 a/n A Nizami

Nama (jika tak ingin disebut tulis Hamba Allah) dan besar sumbangan bisa 
dikonfirmasikan melalui email ke: [email protected]! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke