Kamis, 05/03/2009 23:01 WIB Cetak <javascript:print();> |
Kirim<http://www.eramuslim.com/suara-langit/penetrasi-ideologi/send/dahulukan-bendera-la-ilaha-ill-allah-bukan-panji-moralisme>
|
RSS <http://www.eramuslim.com/suara-langit/penetrasi-ideologi/rss>

Dalam bab kedua buku Petunjuk Jalan yang berjudul *Wujud Metode Al-Qur’an*,
Sayyid Quthb menganalisa mengapa Allah mengharuskan Nabi Muhammad *shollallahu
’alaih wa sallam* mengibarkan bendera *La ilaha ill-Allah*  bukan bendera
lainnya. Padahal dengan mengibarkan bendera *La ilaha ill-Allah*  bangsa
Arab bukan saja enggan menerima seruan tersebut, tetapi bahkan menentang
dengan keras sampai ke tingkat mengusir dan memerangi Nabi *shollallahu
’alaih wa sallam* dan para sahabat.



Tidakkah ada pilihan strategi lain yang lebih memperkecil resiko dan
mengandung maslahat lebih besar? Misalnya, mengapa Nabi *shollallahu ’alaih
wa sallam  *tidak diarahkan Allah untuk mengibarkan panji Moralisme yang
lebih solutif menghadapi problema perilaku bangsa Arab yang saat itu sarat
diwarnai kerusakan dan kebejatan? Bila bendera Moralisme yang dikibarkan
sejak hari pertama sangat mungkin menghasilkan penerimaan kaum pejuang
susila dari kalangan bangsa Arab yang sudah muak menyaksikan tersebarnya
kerusakan moral. Perhatikanlahlah tulisan Sayyid Quthb berikut ini:



*Pada waktu Rasulullah s.a.w. diutus, tingkat kesusilaan di Semenanjung Arab
berada dalam titik yang amat rendah **dalam banyak seginya, di samping
hal-hal yang mulia yang **asli baduwi (di perkampungan dan bukan di kota,
pent) **yang masih ada dalam masyarakat.*

*Ketidakadilan merajalela dalam masyarakat, tergambar **dalam kata-kata
penyair Zuhair bin Abi Salma :*

*"Siapa yang tidak  mempertahankan  kolam airnya de**ngan senjatanya akan
diruntuhkan dan siapa yang tidak **menganiaya manusia akan dianiaya."*

*Hal itu digambarkan juga oleh perkataan yang terkenal di zaman jahiliyah:
"Tolonglah saudaramu baik ia menganiaya **atau dianiaya."*

*Minuman yang memabukkan dan perjudian telah menjadi **tradisi masyarakat
yang tersebar luas. Dan menjadi suatu hal yang dibangga-banggakan. *

*Pelacuran dengan segala bentuknya telah menjadi tanda dari masyarakat ini,
sebagaimana keadaannya dalam setiap **masyarakat jahiliyah, baik yang kuno
maupun yang modern.*

*          Barangkali ada yang mengatakan : Sesungguhnya adalah **dalam
kekuasaan Muhammad s.a.w. untuk mengumumkan **suatu da'wah reforrnasi yang
menyangkut dengan perbaikan **budi pekerti, pembersihan masyararakat dan
pensucian diri.  *

*         **Barangkali ada yang mengatakan : Sesungguhnya Muhammad
shollollahu alaihi wa sallam pada waktu itu dapat menjumpai jiwa-jiwa yang
baik yang merasa sakit melihat kekotoran ini, sebagaimana dijumpai oleh
setiap reformis susila di setiap lingkungan. Jiwa-jiwa ini dipengaruhi oleh
keluhuran dan keinginan untuk memperkenankan seruan reformasi dan
pembersihan.*

*          Barangkali ada orang yang berkata : Seandainya hal itu diperbuat
oleh Rasulullah s.a.w. semenjak dari pertama kali tentulah ia akan
diperkenankan oleh sejumlah orang yang **baik, yang bersih budi pekertinya,
yang suci jiwa mereka, sehingga mereka itu lebih dekat untuk menerima dan
memikul **aqidah, dan tidak perlu lagi mengobarkan seruan La ilaha ill**a-llah
yang menimbulkan opposisi yang kuat semenjak permulaan jalan.*



Jelas sekali bahwa saat Nabi Muhammad *shollallahu ’alaih wa
sallam*diperintahkan Allah untuk berda’wah di Mekkah beliau menghadapi
problema
kebangkrutan moral di tengah masyarakat. Adalah sangat wajar bila orang
mengusulkan agar Nabi *shollallahu ’alaih wa sallam* mengawali da’wahnya
dengan mengibarkan bendera Moralisme. Artinya bisa saja Nabi *shollallahu
’alaih wa sallam* menyerukan suatu gerakan reformasi moral, apalagi beliau
sendiri terkenal berakhlak mulia.

Jika ini dijadikan *entry point* beliau dalam mengawali da’wah Islam
tentulah akan begitu banyak pendukung berbaris di belakang beliau. Bukankah
ini jauh lebih kondusif daripada mengibarkan bendera *La Ilaha
ill-Allah*yang hanya menimbulkan kegoncangan dan perlawanan dari
kebanyakan bangsa
Arab?  Lalu mengapa bukan jalan ini yang ditempuh Nabi *shollallahu ’alaih
wa sallam*? Mengapa beliau malah menempuh jalan yang susah-payah
menghasilkan begitu banyak rintangan bahkan repons balik yang keras?
Simaklah penjelasan Sayyid Quthb selanjutnya:



*Tetapi Allah Yang Mahasuci mengetahui bahwa bukan itu jalannya. la
mengetahui bahwa akhlak hanya dapat berdiri di atas dasar suatu aqidah yang
meletakkan ukuran dan **menetapkan  nilai : sebagaimana juga menetapkan
kekuasaan **yang akan menjadi sandaran ukuran dan nilai ini dan pembalas**an
yang dimiliki kekuasaan ini, dan memberikannya baik ke­**pada  yang
mematuhi  maupun  kepada yang melanggar. Se**belum  aqidah  yang seperti
ini  ditetapkan,  dan  kekuasaan **yang  seperti   ini   ditentukan  maka
seluruh  nilai-nilai   akan **tetap terombang- ambing, dan kesusilaan yang
berdiri di atasnya akan tetap terombang-ambing juga, tanpa
pengendalian, **tanpa
kekuasaan dan tanpa sanksi.*



Islam merupakan ajaran yang memposisikan aqidah sebagai fondasi sedangkan
akhlak sebagai bangunan yang berdiri di atas fondasi tersebut. Itulah
sebabnya Nabi *shollallahu ’alaih wa sallam* diperintahkan untuk mengibarkan
bendera *La ilaha ill-Allah* terlebih dahulu bukan panji Akhlak atau
Moralisme. Sebab bendera *La ilaha ill-Allah*  yang mencerminkan penancapan
fondasi aqidah haruslah didahulukan sebelum berharap masyarakat dapat
merubah atau memperbaiki akhlaknya. Sehingga jelas dan tegas Sayyid Quthb
menyatakan: *” Sebelum  aqidah  yang seperti   ini  ditetapkan,  dan
kekuasaan yang  seperti   ini   ditentukan  maka  seluruh  nilai-nilai
akan tetap terombang- ambing, dan kesusilaan yang berdiri di atasnya akan
tetap terombang-ambing juga, tanpa pengendalian, tanpa kekuasaan dan tanpa
sanksi.”  *



Bilamana aqidah telah tertancap dengan benar dan lengkap dalam suatu
masyarakat maka mereka akan memiliki motivasi yang tidak terkait dengan
kepentingan duniawi apapun ketika menegakkan segenap tuntutan aqidah
tersebut. Mereka akan menjadikan sesuatu di luar dunia sebagai pendorong
utama mereka dalam mewujudkan kelengkapan bangunan Islam di atas fondasi
aqidah kokoh tadi. Motivasi tersebut berupa cita-cita menikmati janji Allah
di akhirat, yakni: *Surga. *Hal inilah yang menyebabkan mereka sejak awal
rela bersusah-payah mengibarkan bendera *La Ilaha ill-Allah* walaupun
berakibat derita dan permusuhan dari keluarga dan masyarakat mereka sendiri.
Inilah yang ditulis Sayyid Quthb selanjutnya:



*Untuk mendirikan agama ini mereka telah **mendapat  satu janji,   di  mana
kemenangan dan  kekuasaan **tidak   ikut  serta   dan   bahkan juga
tidak   bagi  agama yang berada  di  tangan  mereka  ini, suatu janji yang
tidak berhubungan   dengan  sesuatupun  dalam  kehidupan  dunia  ini,  se**buah
janji, yaitu: sorga. Inilah hanya yang dijanjikan kepada **mereka  atas
perjuangan  yang  penuh derita dan penderitaan **yang pahit, dan terus
berda'wah dan menghadapi  kejahiliyahan **dengan sesuatu hal yang dibenci
oleh mereka yang berkuasa **di tiap zaman dan di tiap tempat : yaitu: La
ilaha illa-llah.*



Para sahabat tatkala diajak kepada seruan aqidah tidak dijanjikan oleh Nabi
 suatu kepentingan duniawi apapun. Mereka tidak dijanjikan apapun selain
surga di akhirat. Mereka tidak dijanjikan bakal mendapat perbaikan nasib
berupa gaji besar atau kedudukan prestisius berupa jabatan formal di tengah
masyarakat. Maka pantaslah bilamana istri Nabi *shollallahu ’alaih wa sallam
*, yaitu Aisyah *radhiyallahu 'anha* melontarkan kalimat sebagai berikut:

áæ Ãä Ãæá ãÇ äÒá ãä ÇáÞÑÂä áÇ ÊÔÑ龂 ÇáÎãÑ áÞÇáæÇ áÇ æÇááå áÇ äÊÑß ÇáÎãÑ
ÃÈÏÇ æ áæ ßÇä Ãæá ãÇ äÒá ãä ÇáÞÑÂä áÇ ÊÒäæÇ áÞÇáæ áÇ æ Çááå áÇ äÊÑß ÇáÒäÇ
ÃÈÏÇ æ áßä ßÇä Ãæá ãÇ äÒá ãä ÇáÞÑÂä  ÇáãÝÕá ÝíåÇ ÐßÑ ÇáÌäÉ æ ÇáäÇÑ ÍÊì
ËÇÈÊ ÇáÞáæÈ Åáì ÑÈåÇ Ëã äÒá ÇáÍáÇá æ ÇáÍÑÇã

*“Andaikan awal yang diturunkan dari Al-Qur’an adalah jangan minum khamr,
niscaya mereka berkata “Demi Allah kami takkan meninggalkan khamr”. Andaikan
awal yang diturunkan dari Al-Qur’an adalah jangan berzina, niscaya mereka
berkata “Demi Allah kami takkan meninggalkan zina”. Akan tetapi awal yang
diturunkan ialah surah-2 detail mengenai surga dan neraka, sehingga hati
menjadi teguh mengingat Allah. Barulah kemudian (lambat-laun) diturunkan
(daftar perkara) halal dan haram.” *

* *

Saudaraku, inilah barangkali pokok pangkal masalah di negeri kita dan banyak
negeri muslim lainnya. Banyak orang tahu bahwa ada kebangkrutan moral yang
berkembang dimana-mana dewasa ini. Namun kita tidak secara konsisten
membenahi masalah dari akarnya, yakni *pembinaan aqidah*. Kita mengira bahwa
kerusakan moral dapat diselesaikan hanya dengan mengibarkan bendera *gerakan
reformasi moral* dengan penuh semangat. Kita menyangka bahwa urusan
perbaikan moral tidak ada kaitannya dengan urusan aqidah serta *ideologi*.
Kita tidak sadar bahwa manusia tidak mungkin disuruh mentaati suatu perintah
atau menjauhi suatu larangan bila di dalam dirinya belum ada fondasi aqidah
serta keyakinan kokoh terhadap fihak yang menjadi sumber perintah dan
larangan tersebut.



Di sinilah kita lihat mengapa Nabi Muhammad *shollallahu ’alaih wa
sallam*secara konsisten di bawah bimbingan wahyu Allah terus
mendahulukan
pengibaran   bendera *La ilaha ill-Allah* sebelum pengibaran  panji
Moralisme. Padahal beliau sangat faham bahwa kebangkrutan moral sedang
merajalela di tengah masyarakat. Padahal beliau adalah seorang manusia yang
dikenal luas memiliki akhlak mulia yang dapat menjadi teladan dalam bidang
pembenahan moral dan akhlak. Padahal beliau sangat faham bahwa langkah
pengibaran   bendera *La ilaha ill-Allah* merupakan pilihan yang tidak
populer di tengah masyarakatnya. Padahal beliau sangat faham bahwa
pengibaran panji Moralisme sangat mugkin mendulang simpati masyarakat luas.



Saudaraku, prioritas utama da’wah Islam bukanlah memperbanyak pendukung atau
konstituen. Walaupun tentunya selaku aktivis da’wah kita pastilah akan
sangat gembira bila melihat da’wah Islam memperoleh dukungan banyak orang.
Tetapi itu bukanlah prioritas utama.



Prioritas utama da’wah Islam ialah memastikan gerakannya berada di atas
jalan yang diridhai Allah,  jalan yang telah ditempuh oleh teladan utama
kita bersama, yaitu jalan Nabi Muhammad *shollallahu ’alaih wa sallam*.
Memang idealnya ialah gerakan da’wah Islam berada di atas jalan yang
diridhai Allah sambil memperoleh dukungan banyak orang. Tetapi belajar dari
teladan utama kita Nabi Muhammad *shollallahu ’alaih wa sallam* tidaklah
demikian keadaannya. Setidaknya tidaklah demikian keadaannya saat da’wah
berada dalam tahap awal perjuangannya menghadapi kejahiliyahan masyarakat
yang masih begitu dominan. *Wallahu a’lam bish-showwaab.-*



*Ya Allah, curahkanlah kepada kami rahmat dan ridhaMu selalu. Bimbinglah
kami selalu agar berada di atas jalanMu yang benar, jalan NabiMu
Muhammad* *shollallahu
’alaih wa sallam. Ya Allah, janganlah dunia menjadi pertimbangan utama kami
saat berjuang di atas jalan da’wahMu. Ya Allah, kami mohon kepadaMu surgaMu
dan segenap ucapan serta perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya. Ya
Allah, kami berlindung kepadaMu dari nerakaMu dan segenap ucapan serta
perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya.*





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

===
Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits? Silahkan klik:
http://www.media-islam.or.id

Ingin belajar Islam via milis? Kirim email ke 
[email protected]

Bagi yang ingin membantu dakwah milis Syiar Islam dan situs Media Islam bisa 
transfer ke: Rekening BCA Wisma GKBI 0061947069 a/n A Nizami

Nama (jika tak ingin disebut tulis Hamba Allah) dan besar sumbangan bisa 
dikonfirmasikan melalui email ke: [email protected]! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke