salam,
dari milis sebelah ... semoga berkenan.
satriyo
--
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang.
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest.
N'est-ce point par l'évocation d'Allah que se tranquillisent les coeurs.
im Gedenken Allahs ist's, daß Herzen Trost finden können.
>> al-Ra'd [13]: 28
---------- Forwarded message ----------
*Hadist munkar: khutbah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang
berbagai keutamaan bulan Ramadhan*
*عن سلمان قال : خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في آخر يوم من شعبان فقال
: « أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم ، شهر مبارك ، شهر فيه ليلة خير من ألف شهر ،
جعل الله صيامه فريضة ، وقيام ليله تطوعا ، من تقرب فيه بخصلة من الخير ، كان
كمن أدى فريضة فيما سواه ، ومن أدى فيه فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما
سواه ، وهو شهر الصبر ، والصبر ثوابه الجنة ، وشهر المواساة ، وشهر يزداد فيه
رزق المؤمن ، من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار ، وكان له
مثل أجره من غير أن ينتقص من أجره شيء » ، قالوا : ليس كلنا نجد ما يفطر الصائم
، فقال : « يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على تمرة ، أو شربة ماء ، أو
مذقة لبن ، وهو شهر أوله رحمة ، وأوسطه مغفرة ، وآخره عتق من النار ، من خفف عن
مملوكه غفر الله له ، وأعتقه من النار ، واستكثروا فيه من أربع خصال (1) :
خصلتين (2) ترضون بهما ربكم ، وخصلتين لا غنى بكم عنهما ، فأما الخصلتان اللتان
ترضون بهما ربكم : فشهادة أن لا إله إلا الله ، وتستغفرونه ، وأما اللتان لا
غنى بكم عنهما : فتسألون الله الجنة ، وتعوذون به من النار ، ومن أشبع فيه
صائما سقاه الله من حوضي شربة لا يظمأ حتى يدخل الجنة »*
Dari Salman, dia berkata: “Rasulullah khutbah di depan kita pada akhir bulan
Sya’ban, katanya: “Wahai manusia, telah menaungi kalian bulan agung, bulan
penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari
seribu bulan. Allah menjadikan puasanya fardhu, shalat malamnya adalah
sunnah. Barangsiapa yang mendekatkan diri kepadaNya dengan kebaikan, maka ia
bagaikan menjalankan kewajiban pada selain bulan tersebut. *Barangsiapa yang
menjalankan kewajiban ia laksana menjalankan tujuh puluh kewajiban pada
selain bulan itu. *Dia adalah bulan kesabaran, dan kesabaran ganjarannya
adalah surga. Bulan kesantunan, dan bulan ditambahkannya rezeki bagi orang
mu’min. Barangsiapa yang memberi buka orang yang berpuasa maka ia mendapat
ampunan dari dosa-dosanya dan pembebasan dari api neraka dan baginya pahala
sebagaimana pahala orang yang diberinya buka tanpa mengurangi pahala
mereka.” Para sahabat bertanya: “Tidak semua kami mampu memberi makan
berbuka puasa.” Rasulullah menjawab: “Allah memberikan pahala kepada siapa
saja yang memberi makan berupa korma, air putih, atau susu yang dicampur
dengan air. *Bulan itu, awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah
maghfirah, dan akhirnya adalah dibebaskan dari api neraka.* Barang siapa
meringankan budaknya maka dia akan diampuni dan dibebaskan dari api neraka.
Perbanyaklah empat hal; dua hal sangat diridhai Tuhan kalian, dua hal lain
kalian tidak akan merasa cukup dengannya. Ada pun dua hal yang Tuhan sangat
ridha adalah mengucapkan syahadat Laa Ilaha Illallah dan istighfar
kepadaNya. Sedangkan dua hal yang kalian tidak akan merasa cukup adalah
permintaan kalian terhadap surga kepada Allah, dan kalian minta perlindungan
kepadaNya dari neraka. Barangsiapa yang mengenyangkan orang puasa maka Allah
akan mengenyangkannya dengan sekali minum di telaga yang tidak akan merasa
haus selamanya, hingga ia masuk ke surga.” *(HR. Ibnu Khuzaimah, Juz.7,
Hal. 115, No hadits. 1780)*
Hadits ini sangat terkenal dan sering dibaca ketika bulan
Ramadhan. Padahal hadits ini *munkar.* Di dalam sanadnya ada perawi bernama
*Ali bin Zaid bin Jud’an.*
* Imam Sufyan bin Uyainah* men*dha’if*kannya. Begitu
pula*Imam Ahmad bin Hambal
*. Sedangkan* Imam Musa bin Isma’il *mengatakan bahwa dia tidak terjaga
hafalannya. Sementara *Imam Hammad bin Zaid* mengatakan bahwa dia
meriwayatkan hadits-hadits yang terbalik. Sedangkan *Yazid bin
Zari’*mengatakan bahwa
* Ali bin Zaid bin Jud’an* adalah seorang *rafidhi* (syi’ah). *Imam Yahya
bin Ma’in* mengatakan bahwa dia tidak kuat hafalannya dan bukan apa-apa.
Sementara *Imam Ahmad al ‘Ijili* mengatakan bahwa dia *tasyayyu’ *(condong
ke syi’ah) dan tidak kuat hafalannya. *Imam Bukhari *dan *Imam Abu Hatim ar
Razi* mengatakan: dia tidak bisa dijadikan hujjah (dalil). *Imam Ibnu
Khuzaimah* sendiri mengatakan bahwa Ali bin Zaid bin Jud’an ini tidak bisa
dijadikan hujjah karena buruk hafalannya. *(Lihat semua dalam kitab Mizanul
I’tidal, Imam Adz Dzahabi, Juz. 3 hal. 127)*
* *Dalam Kitab *Al Jarh wat Ta’dil *disebutkan bahwa *Imam
Yahya bin Ma’in* mengatakan Ali bin Zaid bin Jud’an tidaklah bisa dijadikan
hujjah.* Imam Abu Zur’ah *mengatakan bahwa dia tidak kuat hafalannya. *(Imam
Abu Hatim ar Razi, Al Jarh wat Ta’dil, Juz. 6 Hal. 187)*
* Al ‘Allamah Muhamamd Nashiruddin al Albany**
Rahimahullah*mengatakan bahwa hadits ini
*munkar*. *(Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 2 Hal. 370, No hadits. 871)*.
Demikian
[Non-text portions of this message have been removed]