Ramadhan 1430 H sebentar lagi datang. Orang Mukmin manapun tentu sangat gembira 
menyambut datangnya bulan Ramadhan. Betapa tidak, Ramadhan adalah bulan agung, 
penuh berkah dan kemuliaan. Di dalamnya, secara khusus Allah SWT mewajibkan 
orang Mukmin berpuasa agar menjadi orang yang bertakwa. Tentu kegembiraan 
seorang Mukmin dalam menyambut Ramadhan dilandasi oleh hasrat untuk meraih 
segala keagungan, kemuliaan dan keberkahannya; juga dilandasi oleh kerinduan 
untuk memproses diri menjadi orang yang bertakwa demi meraih surga-Nya yang 
penuh dengan kenikmatan yang memang telah disiapkan untuk orang-orang yang 
bertakwa.

Rasul menyatakan bahwa orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan:

    
«لِلصَّائِمِ 
فَرْحَتَانٍ 
يَفْرَحُهُمَا:
 إِذَا 
أَفْطَرَ 
فَرِحَ، 
وَإِذَا 
لَقِيَ 
رَبَّهُ 
فَرِحَ 
بِصَوْمِهِ»

    Orang yang berpuasa berhak mendapatkan dua kegembiraan: jika berbuka, ia 
bergembira; jika bertemu Rabb-nya, ia juga bergembira karena puasanya (HR 
al-Bukhari, Muslim, Ibn Majah, an-Nasa'i dan Ahmad).

Kegembiraan menyambut Ramadhan ibaratnya hanyalah pembuka untuk lebih merasakan 
kegembiraan di bulan Ramadhan dan menyambut kegembiraan yang hakiki di akhirat 
kelak. Kegembiraan menyambut Ramadhan hakikatnya adalah gembira karena bisa 
segera berpuasa. Dengan puasa itu orang Mukmin berpeluang mendapatkan keutamaan 
yang terkandung di dalamnya dan pahala sangat yang besar dari amalan puasa itu 
sendiri. Rasulullah saw. bersabda:

    «كُلُّ 
عَمَلِ ابْنِ 
آدَمَ 
يُضَاعَفُ، 
اَلْحَسَنَةُ
 عَشْرُ 
أَمْثَالِهَا
 إِلَى 
سَبْعِمِائَةِ
 ضِعْفٍ، 
قَالَ اللهُ 
عَزَّ 
وَجَلَّ: 
إِلاَّ 
الصَّوْمَ 
فَإِنَّهُ 
لِيْ، 
وَأَنَا 
أَجْزِيْ 
بِهِ»

    Setiap amal anak Adam dilipatgandakan; satu kebaikan dibalas dengan sepuluh 
kebaikan yang serupa sampai tujuh ratus kali. Allah `Azza wa Jalla berfirman, 
"Kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang 
membalasnya… (HR Muslim, an-Nasai, ad-Darimi dan al-Baihaqi).

Selain itu, dengan puasa Ramadhan seorang Mukmin juga berpeluang mendapat 
ampunan atas dosanya yang di masa lalu. Rasulullah saw. bersabda:

    مَنْ صَامَ 
رَمَضَانَ 
إِيْمَاناً 
وَاِحْتِسَاباً
 غُفِرَ لَهُ 
مَا 
تَقَدَّمَ 
مِنْ 
ذَنْبِهِ

    Siapa saja yang berpuasa Ramadhan dengan dilandasi iman dan 
bersungguh-sungguh mencari ridha Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang 
terdahulu (HR al-Bukhari, an-Nasai, Ahmad, Ibn Majah dan Ibn Hibban).

Namun, semua keutamaan di bulan Ramadhan itu belum tentu bisa kita raih secara 
optimal. Ramadhan itu ibarat proses; output (hasil)-nya akan sangat dipengaruhi 
oleh input (masukan)-nya dan proses yang berlangsung. Untuk meraih kesuksesan 
pada bulan Ramadhan kita harus memperhatikan dan menyiapkan input dan proses 
selama Ramadhan. Dari sisi persiapan, ada tiga hal yang perlu dipersiapkan. 
Pertama: persiapan ilmu. Walaupun puasa Ramadhan sudah kita jalani setiap 
tahun, kita perlu mengkaji kembali hukum-hukum, ketentuan puasa dan semua amal 
yang terkait. Kajian kembali terhadap semuanya itu bisa saja mendatangkan 
pemahaman yang lebih dalam dan lebih kuat, sehingga kita bisa menjalankan puasa 
dan amal-amal Ramadhan itu secara lebih mantap. Lebih dari itu, pengkajian 
kembali itu akan menciptakan kesadaran baru atau memperbarui kesadaran untuk 
melaksanakan puasa. Dengan begitu, puasa Ramadhan dan seluruh amal yang ada di 
dalamnya tidak akan dijalani sekadar ritual rutin tahunan, karena hakikat puasa 
adalah penghambaan dan pengorbanan untuk Allah. Dengan bekal ilmu itu, kita 
akan lebih berhati-hati menjalani puasa dan semua amal lain, disertai kesadaran 
sedang menjalankan ibadah kepada Allah. Dengan begitu kita akan senantiasa 
merasa berhubungan dengan Allah SWT.

Kedua: persiapan aspek ruhiah dan upaya "memperbarui" keimanan. Ini perlu agar 
kita memasuki bulan Ramadhan betul-betul dengan sepenuh keimanan dan kesadaran 
melaksanakan perintah Allah; penuh dengan kesungguhan untuk menggapai 
keridhaan-Nya serta berharap betul untuk mendapatkan ampunan-Nya. Sebab, 
keberhasilan proses selama Ramadhan itu memang bergantung pada landasan iman 
dan niat semata-mata untuk mencari ridha Allah. Allah sendiri menyerukan 
kewajiban berpuasa itu kepada orang-orang yang beriman (QS al-Baqarah [2]: 
183). Artinya, hanya mereka yang menjalani puasa dengan landasan iman —juga 
yang selama berpuasa Ramadhan dan melaksanakan amal-amal di dalamnya diliputi 
oleh suasana keimanan saja— yang akan berhasil meraih output sebagai insan 
takwa. Hal itu juga ditegaskan dalam hadis Rasul di atas.

Ketiga: perencanaan proses. Kita perlu menyiapkan program Ramadhan dan apa saja 
yang akan kita kerjakan selama bulan Ramadhan. Dengan begitu, tidak ada 
kesempatan yang terabaikan dan Ramadhan bisa kita jalani secara maksimal. Bagus 
kiranya dibuat rencana, jadwal dan programnya; juga tolok ukur dan pengawasan 
atas capaiannya serta solusi-solusi alternatifnya. Dengan begitu amal ibadah 
dan peningkatannya akan lebih disiplin. Sebab, sekecil apapun suatu aktivitas 
—apalagi amal besar— jika dijalankan secara langgeng dan disiplin, hasilnya 
tentu akan luar biasa. Dalam bahasa hadis, amal yang kontinu (terus-menerus), 
sekalipun kecil, adalah amal yang terbaik dan dicintai Allah.

Inti dari amalan-amalan Ramadhan itu adalah taqarrub (mendekatkan diri) kepada 
Allah. Bisa jadi banyak dari kaum Muslim yang memahami taqarrub itu hanya 
terkait dengan amal ibadah ritual saja, atau bahkan hanya terkait dengan 
ibadah-ibadah sunnah saja. Hal itu bisa jadi karena keawaman dan kekurangilmuan 
mereka; bisa jadi pula karena paham Sekularisme —pemisahan agama (Islam) dari 
kehidupan— yang tanpa disadari telah tertanam dalam diri mereka. Bahkan 
Sekularisme itu tanpa disadari telah dijadikan dasar untuk memahami ajaran 
Islam.

Kesuksesan menjalani proses selama Ramadhan hanya akan bisa kita raih jika 
pemahaman tentang Sekularisme itu kita tanggalkan dan kita tinggalkan, kemudian 
kita mengambil Islam secara utuh sebagai sebuah sistem kehidupan.

Taqarrub kepada Allah sebagai inti dari amalan Ramadhan banyak bentuknya. 
Amalan pokoknya selama Ramadhan tentu saja adalah puasa itu sendiri. Namun, di 
luar itu banyak kegiatan taqarrub lainnya yang mesti dilakukan selama Ramadhan. 
Rasulullah saw. bersabda:

    « … وَمَا 
تَقَرَّبَ 
إِلَىَّ 
عَبْدِى 
بِشَىْءٍ 
أَحَبَّ 
إِلَىَّ 
مِمَّا 
افْتَرَضْتُ 
عَلَيْهِ، 
وَمَا 
يَزَالُ 
عَبْدِى 
يَتَقَرَّبُ 
إِلَىَّ 
بِالنَّوَافِلِ
 حَتَّى 
أُحِبَّهُ، 
فَإِذَا 
أَحْبَبْتُهُ
 كُنْتُ 
سَمْعَهُ 
الَّذِى 
يَسْمَعُ 
بِهِ، 
وَبَصَرَهُ 
الَّذِى 
يُبْصِرُ 
بِهِ، 
وَيَدَهُ 
الَّتِى 
يَبْطُشُ 
بِهَا 
وَرِجْلَهُ 
الَّتِى 
يَمْشِى 
بِهَا، 
وَإِنْ 
سَأَلَنِى 
لأُعْطِيَنَّهُ،
 وَلَئِنِ 
اسْتَعَاذَنِى
 
لأُعِيذَنَّهُ
 … »

    Tiadalah seorang hamba bertaqarrub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku 
cintai daripada apa yang aku fardhukan atasnya. Tiadalah hamba-Ku terus-menerus 
bertaqarrub kepada-Ku dengan amal-amal sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku 
mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar; 
menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat; menjadi tangannya yang 
dia gunakan untuk memegang dengan kuat; dan menjadi kakinya yang dia gunakan 
untuk melangkah. Jika ia meminta kepada-Ku, niscaya dia Aku beri; jika ia 
meminta perlindungan-Ku, niscaya dia Aku lindungi… (HR al-Bukhari).

Jadi, ber-taqarrub kepada Allah sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas 
adalah dengan melaksanakan semua yang difardhukan oleh Allah dan menambahnya 
dengan senantiasa berupaya melaksanakan amal-amal sunnah. Tentu kita tidak 
boleh keliru dengan lebih mengedepankan amal-amal sunnah dan menilainya sebagai 
taqarrub yang mesti diutamakan seraya mengabaikan amal-amal yang wajib.

Jelas sekali, aktivitas taqarrub yang paling dicintai oleh Allah adalah semua 
aktivitas yang difardhukan kepada kita, yang tentu tidak terbatas hanya 
aktivitas ibadah saja. Justru aktivitas fardhu di luar ibadah jauh lebih banyak 
jumlahnya.

Semua yang difardhukan itu meliputi seluruh kewajiban yang telah ditetapkan 
dalam Islam. Agar semua itu bisa terlaksana dengan sempurna, kuncinya adalah 
dengan menerapkan syariah Islam yang dijalankan oleh kekuasaan yang menjadikan 
kedaulatan hanya di tangan syariah. Dengan kata lain, wajib bagi seorang imam 
atau khalifah yang dibaiat oleh kaum Muslim untuk menerapkan syariah Islam dan 
mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia. Adanya imam atau khalifah yang 
dibaiat umat merupakan kewajiban yang dibebankan di atas pundak kita. Sebab, 
Rasul saw. telah menggambarkan siapa saja yang mati, sedangkan di pundaknya 
tidak terdapat baiat kepada imam/khalifah, maka matinya seperti mati Jahiliah. 
Adanya imam atau khalifah inilah yang menentukan kesempurnaan pelaksanaan semua 
kewajiban di dalam agama ini. Karena itu, sungguh tepat jika para ulama menilai 
kewajiban mengangkat seorang imam/khalifah merupakan salah satu kewajiban 
paling agung di dalam agama ini.

Amal-amal Ramadhan, khususnya puasa, sejatinya membangkitkan dan menumbuhkan 
kesadaran untuk menghambakan diri hanya kepada Allah SWT. Kesadaran ini begitu 
kuat dibangun selama Ramadhan dan harus terus dihidupkan usai Ramadhan sebagai 
bukti keberhasilan proses selama Ramadhan itu.

Orang yang berpuasa dan tetap berupaya menjaga puasanya semata-mata karena 
mengharap keridhaan Allah, biasanya tidak bergantung pada kehadiran siapapun 
kecuali kesadaran selalu diawasi oleh Allah SWT. Spirit yang dibentuk oleh 
puasa ini tentu akan menjadi modal sangat berharga untuk mewujudkan penghambaan 
diri hanya kepada Allah di luar aktivitas puasa, yaitu dalam bentuk amal 
keseharian di tengah-tengah masyarakat. Dalam hal ini penerapan syariah untuk 
mengatur segala aspek kehidupan di masyarakat sejatinya merupakan wujud 
penghambaan kepada Allah secara nyata dan kolektif.

Karena itu, perjuangan mewujudkan penerapan syariah secara kaffah merupakan 
perhargaan terhadap proses dan capaian pada bulan Ramadhan sekaligus upaya 
untuk menjadikannya tetap hidup pasca Ramadhan. Selain itu dakwah dan 
perjuangan mewujudkan penerapan syariah dan Khilafah merupakan bagian dari 
aktivitas taqarrub yang paling utama dan agung.

Karena itu, aktivitas perjuangan dakwah untuk mewujudkan penerapan syariah 
secara kaffah merupakan aktivitas yang wajib ada di dalam daftar aktivitas 
Ramadhan, bahkan selayaknya menjadi aktivitas utama selama Ramadhan.
Wahai Kaum Muslim:

Sudah saatnya kita mempersiapkan dan mejalani Ramadhan dan puasa di dalamnya 
tidak seperti biasanya yang sudah lalu, yaitu dengan menjalankan berbagai 
aktivitas taqarrub yang utama dan agung itu. Itulah aktiviats untuk menegakkan 
syariah dan Khilafah. Aktivitas itu pulalah yang bisa menjadikan Ramadhan tahun 
ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya; mengokohkan posisi kita mulia di 
hadapan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin; sekaligus akan dicatat dengan 
tinta emas dalam lembaran sejarah. []

Kirim email ke